CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
33. Kejutan


__ADS_3

Aura termangu mendengar nama itu. Dia seperti pernah membaca nama itu di dunia peretasan. 'Mungkin hanya kebetulan. Nama Marcell itu tidak sedikit di dunia ini,' batinnya.


"Apakah dia juga salah satu orang yang mendapat Sistem Kekayaan Hacker sepertiku?"


"Kita anggap saja begitu. Dia dapat andalkan untuk membantu Anda sepenuhnya dalam misi esok. Anda tidak perlu merasa khawatir."


Aura mulai membayangkan apa yang akan dia lakukan keesokan harinya bersama seseorang bernama Marcell. Panggilan dari Aksa masuk. Tetapi Aura masih ingin bertanya lebih lanjut mengenai cara kerja esok hari yang membuat perasaannya berdebar.


Sepanjang berkomunikasi dengan Sistem, sudah terdapat sepuluh panggilan dari Aksa. Akhirnya dia memilih untuk menyudahi pembicaraan mereka. "Tuan Sistem, hari ini sampai di sini dulu."


Tanpa menunggu jawaban dari Sistem, Aura langsung menjawab panggilan dari Aksa.


"Kamu sedang berbicara dengan siapa? Kenapa lama sekali menjawab panggilanku?" tanya yang di seberang dengan dingin.


"Oh, itu Stella. Masih inget kan Bang?" Aura sudah mulai merasa was-was, takut pacarnya marah.


"Stella? Kamu yakin?" Nada suaranya semakin ditekan.


"Iya, sumpah!"


"Kamu tahu, hingga beberapa detik lalu aku bersamanya," ucap pacarnya itu dengan nada suara yang mulai berubah.


"Kenapa Abang bersama dengannya?" Aura ikut mulai meninggikan suaranya.


"Jangan alihkan pembicaraan! Katakan sejujurnya! Apa kamu lagi dekat dengan seseorang?"


Seketika Aura gelagapan. Kebohongannya diketahui oleh Aksa. Perasaannya pun ikut marah karena diam-diam sang pacar menemui sahabatnya.


"Bukan siapa-siapa! Tak usah Kau pikirkan! Sebagaimana Kau bertemu dengan Stella tanpa memikirkanku dan menemuiku terlebih dahulu!"


"Ra, apa benar kamu menyukaiku?" ucap Aksa dengan nada datar.


"Aku tu suka banget sama Kamu tau nggak? Namun, kenapa Kamu begitu? Tidak memikirkan perasaanku? Menemui sahabatku diam-diam?"


"Saat ini aku berdiri di depan gang jalan rumahmu!"


Aura langsung berdiri, melihat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. "Kenapa baru sekarang? Terus sejak tadi kamu tidak ingat aku?"

__ADS_1


"Kamu tak suka? Kalau begitu aku pergi."


"Tunggu! Aku akan ke sana!" Aura segera keluar dan mengunci pintu kamarnya. Berlari secepat yang dia bisa. Tepat di depan gang menuju kosannya, Aksa berdiri tertunduk memegang sekuntum bunga yang terjuntai seolah enggan berada dalam genggamannya, wajahnya terlihat begitu kecewa.


"Bang, ...." Aura kembali berlari ke arah Aksa, berdiri di sisi pria itu. "Katakan padaku! Ada apa ini?"


Aksa melirik di ujung mata, menyerahkan bunga tanpa melihat ke arah gadis itu. "Selamat ulang tahun." Aura menerima bunga itu, lalu tangkainya digenggam dengan sangat erat karena merasa marah.


Aksa berjalan meninggalkan gadis itu. Dengan segera Aura mencegatnya. Menggenggam tangan lebar milik Aksa. Dia marah, tetapi hatinya cinta pada Aksa.


"Bang, kenapa jadi begini? Kenapa tidak langsung menemuiku? Malah menemui Stella? Padahal kamu tahu aku ulang tahun hari ini. Kenapa?"


"Sepertinya aku datang di waktu yang salah." Aksa kembali bergerak.


"Jangan pergi! Jelaskan padaku!"


Aksa menghadap lurus di depan Aura. "Aku rasa tak ada yang perlu dijelaskan."


"Aku itu bahagia jika Kamu ada di sini tau nggak? Kenapa tidak mengatakan padaku bahwa Kamu akan ke sini? Jika aku tahu, aku pasti akan menunggumu di stasiun. Namun, Kamu malah memilih untuk memberitahukan Stella. Kenapa harus Stella? Dia itu sahabat aku. Jika Kamu menyukai dia, kenapa menerima aku jadi pacarmu?" Air mata Aura mulai jatuh tak terbendung.


Sebuah mobil sport melewati mereka. Seseorang yang baru keluar dari Harmony Kafe melihat aksi romantis itu dan sengaja memperlambat laju kendaraannya.


"Hahay, bisa juga bocah tengik mie instan seperti itu? Berasa nonton filem India." Setelah melewati jalan itu, Reza kembali mempercepat laju kendaraannya.


"Bang, kenapa ... katakan kenapa ...," ucapnya sesegukan.


"Kenapa?" Aksa mengulang kembali pertanyaan Aura.


"Aku itu sayang sama Kamu. Namun, jika kamu lebih memilih Stella, aku akan mengalah." Aura menyandarkan pipinya di punggung Aksa.


Aksa melepaskan pelukan Aura, memutar tubuhnya, dan menatap gadis itu. "Jika Kamu memang sayang padaku, Kamu pasti akan mendahulukan aku dibanding apa pun. Bahkan banyak hal yang kamu rahasiakan dariku."


Mata Aura berkaca-kaca, masih banyak yang akan terjatuh dari mata beningnya itu. "Bagaimana caranya agar aku bisa meyakinkanmu bahwa aku tu cinta sama Kamu?"


"Kamu ikut aku! Temani aku malam ini! Kita habiskan malam ini bersama!" Dengan kasar Aksa menarik Aura. Gadis itu hanya mengikuti kemana akan dibawa oleh pacarnya.


Mereka berdiri tepat di koridor hotel saat ini. "Bang, apa maksudnya?"

__ADS_1


"Katanya mau membuktikan bahwa kamu bener-bener cinta padaku?" Aksa terus menarik Aura masuk ke dalam lift. Berhenti di lantai lima belas lalu mencari sebuah kamar. Aksa menempelkan kunci pas dan pintu terbuka.


"Bang, emang tadi sempat ke sini?" Aura masih ditarik oleh Aksa.


Saat masuk, alangkah terkejutnya Aura melihat isi di dalam kamar itu. Dilihatnya ada sebuah kue ulang tahun yang sangat cantik. Aura menutup mulutnya karena rasa haru dan terkejut bercampur jadi satu.


Aksa memeluk Aura, "Kejuuutaaan! Selamat ulang tahun Sayang. Bagaimana aktingku tadi?"


Aura membalas pelukan Aksa, "Sejak kapan Kamu menyiapkan ini? Aku pikir kamu benar-benar lupa padaku. Memilih Stella dibanding aku," Gadis itu sesegukan di dalam dada Aksa.


"Sebenarnya aku sampai di sini semenjak pukul lima sore tadi. Stella lah yang membantu dan menemaniku untuk menyiapkan semua ini. Dia juga yang mengantar hingga sampai di depan gang kosanmu. Jadi katakan lah! Tadi kamu teleponan dengan siapa?" Aksa menghapus air mata Aura dengan kedua tangannya, lalu mengelus kedua pipi gadis itu dengan lembut.


"Ta-tadi itu aku--"


Aksa menempelkan telunjuknya pada bibir Aura. Aksa menggelengkan kepalanya. "Lebih baik kita menikmati malam ini menjelang waktu ulang tahunmu habis." Aksa kembali menarik dan menyilakan Aura duduk di kursi yang tersedia.


Aksa menghidupkan lilin yang terdiri dari angka satu dan delapan. Setelah lilin menyala dengan sempurna, " Ayo tiup! Biar aku rekam, untuk kujadikan kenangan saat aku kembali nanti."


Aura pun meniup lilin tersebut dengan perasaan haru. Tiba-tiba dia mencium pipi Aksa. Rasa cintanya pada lelaki itu meningkat berkali lipat. "Aku pikir tadi Kamu bener-bener menghianati aku."


"Emangnya aku laki-laki seperti apa? Perjuangan untuk bersama saja sesusah ini. Masa baru seumur tauge udah aku hianati?"


"Sebenarnya aku sudah lama menyiapkan ini semua. Rencananya aku akan menyatakan perasaanku pada hari ini. Namun, kamunya malah nyuri start duluan menyatakan cinta. Jujur aku senang, tetapi membuatku harus memutar rencana yang awalnya ingin menyatakan perasaan malah jadi drama seperti ini dulu."


"Terima kasih Baaang, jujur aku sendiri lupa bahwa hari ini aku ulang tahun. Bahkan Stella tak mengatakan apa pun padaku. Jadi aku bener-bener lupa. Apalagi akhir-akhir ini aku tengah terjebak dalam sebuah masalah yang membuatku benar-benar pusing."


Aksa mendengarkan dengan seksama. Usai Aura bicara, Aksa berusaha berbicara dengan tenang. "Katakan lah padaku! Masalah apa yang membuatmu menjadi pusing seperti itu?"


"Sebenarnya aku tak sengaja tercemplung ke dalam dunia penjahat."


Mata Aksa menajam terfokus pada Aura, "Maksudnya?"


...*bersambung*...


...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2