CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
73. Keputusan tepat


__ADS_3

Hari Seniiiin, ayoooh bagi VOTE nya yaaa ... Bantu Othor agar cerita ini naik ke Beranda. Huhu, popularitasnya masih kecil euy ... Jangan lupa bagi Bunga atau Kopi juga yaaa ... Terima kasih.


"Maksud Mama apa sih? Aku ini perkasa!" ucapnya, lalu tampak gadis calon istrinya berjalan perlahan. "Ma, Pa, aku boleh nyicil dulu ga? Siapa tau aku bisa menembus rekor?"


"Maksud Kamu apa haah?" Ayahnya melemparkan sapu tangan yang ada di atas meja.


Aura tepat berdiri di sisi mereka. "Pak Barack, Mamanya Om, Adiknya Om, saya minta maaf atas kelancangan saya tadi," ucapnya tertunduk memijit-mijit jemarinya.


"Saya tadi hanya becanda," tambahnya.


Barack bangkit dan mendekati gadis itu. "Kamu jangan panggil Papa dengan sapaan 'Pak' lagi! Sebentar lagi Kamu akan menjadi anak kami juga. Panggil Kami dengan Papa, Mama, dan Rezi. Oh ya, jangan panggil calon suamimu dengan Om lagi! Panggilah dengan sapaan yang membuat kalian semakin dekat!"


Aura mengangguk. Ayah mertua menarik Aura untuk duduk di bangku sebelah Reza. Reza bangkit menyambut Aura dengan menarik bangku agar gadis itu bisa duduk dengan nyaman. Setelah itu, Reza kembali duduk di kursi miliknya.


"Kalau begitu, setelah ini kita pesan makanan terlebih dahulu," ucap papa Barack dan semua setuju.


Akibat ide konyolnya itu, Aura tidak berani mengangkat wajahnya. Apalagi melihat wajah calon ibu mertua. Saat ini dia merasakan malu yang luar biasa. Padahal tadi rencananya cukup bertemu sekali saja. Namun, setelah penjelasan Reza, maka dia harus bertemu dengan wanita yang melahirkan pria itu dalam setiap kesempatan.


Reza membisikan sesuatu kepada gadis itu, "Sudah sering aku bilang, cobalah mulai memanggilku dengan Kanda. Biar Kau dan aku menjadi semakin dekat!"


Aura semakin membenamkan wajahnya. Merasa semua orang yang ada di meja itu memperhatikannya. Membuatnya tidak bisa menikmati makanan dengan baik, hingga acara makan malam itu selesai.


"Papa, Mama, dah hmm, Rezi, saya kembali dulu ke rumah kos yang saya tempati. Sekali lagi maafkan segala ketidaksopanan saya hari ini." Gadis itu masih belum sanggup mengangkat wajahnya.


Reza menggandeng lengan Aura meninggalkan calon keluarga barunya itu. Sementara keluarga Reza terus memperhatikan kerusuhan yang terjadi antara kedua orang itu. Reza terus ingin menggandeng Aura. Namun gadis itu terus melepaskan. Ayah Reza hanya menggeleng atas apa yang mereka lihat.


"Untung dia mahasiswa Papa. Kalau tidak, Mama sudah jadi orang pertama menolak kehadirannya," gumam Nyonya Besar itu, Kanjeng Kirana Brotoasmoro.


"Papa sudah bilang, dia itu anak baik kok. Mungkin karena suatu hal dia jadi berbuat seperti tadi. Kita hormati keputusan Reza akan pilihan hidupnya. Kamu harus bisa menyayangi dia seperti perlakuanmu kepada Reza juga!"

__ADS_1


💖


"Kemana lagi Nona Hacker itu? Sudah seharian pesan dikirim, tetapi belum masuk juga. Apa terjadi masalah atau sengaja menghindar?"


Marcell mulai mencoba melacak dengan hacking selulernya. Namun, ponsel gadis itu masih belum aktif juga. Akhirnya dia memilih untuk menuju kosan gadis itu kembali. Setelah tadi pagi belum ketemu juga.


Aksa tengah mengakses email, menunggu balasan dari lamaran pekerjaan mengenai bidang IT yang dia kuasai. Namun, entah kenapa sebuah email dari Badan Riset dan Teknologi Organisasi BOS mengirim email kepadanya.


Pesan tersebut berisi mengenai ajakan untuk bergabung bersama organisasi BOS sebagai ahli IT. Bisa bekerja secara jarak jauh di bawah nama Organisasi BOS. Jika dia tertarik, sebuah link untuk pendaftaran sudah tertera di laman email tersebut.


"Organisas BOS ini pernah beberapa saat bernaung di negara ini kan? Namun karena kekacauan akibat mafia dulu, membuat izin Organisasi tersebut dicabut. Hmmm, masuk nggak ya? Gajinya dollar, angka-angkanya pun lumayan." Aksa terus menimbang-nimbang undangan tersebut.


Sementara Stella yang berhasil mendapatkan kontak Devan, mengira cowok itu adalah mahasiswa dalam bidang jurnalistik. Dia memutuskan untuk melancarkan pendekatan kepada Devan. Dia seperti tergila-gila pada sosok Devan yang kiyowo. Untuk pertama dia mencoba jalur chat terlebih dahulu. Ternyata, pesan darinya langsung dibalas oleh Devan dengan tak kalah cepat. Mulai saat itu, mereka saling berbalas pesan, berbagi info-info penting, bahkan menceritakan sesuatu yang bisa dikatakan tak penting.


Aura dan Reza dalam perjalanan menuju rumah indekos gadis itu. "Jono, jangan langsung pulang. Saya ingin singgah ke suatu tempat dulu."


"Mau ke Kafe Harmony dulu. Tadi ada yang tidak menikmati makanan dengan baik. Kayaknya ada yang perlu mengisi ulang energi dengan makanan yang baru." Reza menoleh pada orang yang dibicarakan.


"Maksud Kamu aku?" Aura memastikan pernyataan Reza ini terlebih dahulu.


"Bukan kah tadi baru makan sedikit?"


"Oh, aku biasa makan sedikit. Tidak usah pikirkan aku! Mas Jono, kita pulang ke rumah kos aku saja!"


"Ekhem, Saya!" ralat Reza menyuruh Aura berbicara secara formal kepada sang supir.


"Ponselku kehabisan batrai--" Siapa tahu Tuan Sistem sedang mencariku, lanjutnya di dalam hati.


"Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku memiliki pengisi daya cadangan yang selalu standby. Masa seorang penjahat sepertimu tidak memiliki pengisi daya cadangan?"

__ADS_1


Aura hanya menggelengkan kepalanya. Karena memang tak pernah terpikirkan sama sekali olehnya untuk memiliki benda seperti itu. Reza mengeluarkan salah satu ponsel yang biasa digunakan untuk mengakses segala hal mengenai perkantoran Harmony. Ponsel tersebut digeser, lalu dilipatnya.


"Kalau Nona Hacker bersamaku, selalu dipastikan tak ada hal aneh terjadi pada perusahaanku. Ternyata keputusan yang sangat tepat untuk menikahimu dengan secepatnya. Apa Kamu siap minggu depan kita menikah?"


"Minggu depan? Kenapa cepat sekali? Bahkan aku masih belum memiliki perasaan apa-apa kepadamu!"


Reza menyunggingkan senyum dan tergelak. "Bagiku itu sudah terlalu lama untuk membiarkanmu lepas seperti ini. Kamu akan mencintaiku sesaat setelah kita menikah."


Reza menyerahkan powerbank yang masih full kepada Aura. "Isi lah daya ponselmu. Siapa tau ada orang penting yang mengirim pesan terhadapmu."


Aura menerima pengisi daya tersebut. Dengan segera menyambungkan pada ponsel miliknya. Setelah terisi sebesar sepuluh persen, Aura menyalakan ponselnya itu.


"Cepet amat idupinnya?" gumam Reza.


Aura tidak mengubris ucapan Om Mesum itu. Dia terus mengakses chat dan mendapatkan beberapa notif dari beberapa kontak. Termasuk kontak milik Tuan Sistem.


Aura membalas pesan tersebut. Mengatakan bahwa ponselnya tengah kehabisan batrai. Tak lama setelah itu ponselnya langsung berdering dengan kontak yang tidak tertera seperti biasanya.


Sebelum sempat diangkat oleh Aura, Reza pun merebut ponsel milik Aura. Dia merasa curiga bila yang melakukan panggilan adalah Aksa, mantan dari kekasihnya ini. Reza segera mengankat pangiilan tersebut, mencoba mendengar secara langsung siapa yang ada di balik panggilan ini.


"Selamat malam Nona Aurora Safitri."


Kening Reza berkerut mendengar sapaan asing tersebut. "Halo ini siapa?" tanya Reza dengan ketus karena merasa marah ada yang telah menelepon calon istrinya malam-malam begini.


"Anda siapa? Apa yang Anda lakukan pada ponsel Nona Aurora Safitri?"


Reza terus menggempur penelepon gelap tersebut dengan tajam. "Katakan pada saya! Siapa Anda? Mau apa menelepon calon istri saya malam-malam begini?"


"Calon istri?"

__ADS_1


__ADS_2