CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
80. Kembalinya barang sitaan


__ADS_3

Gadis itu mengeluarkan ponselnya. Memperlihatkan komik yang dibacanya. Mata Aksa terbelalak melihat komik bacaan gadis ini yang mengandung unsur dua satu ples. Aksa hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata otak gadis ini telah terkontaminasi.


"Bijak lah memilih bacaan yang cocok untuk usia Kamu! Kamu itu masih sangat muda teracun oleh cerita-cerita seperti itu." Aksa seperti teringat akan rencana awalnya, membeli nomor kontak yang baru.


"Kalau Kamu sudah selesai sekolah, langsung pulang ke rumah! Abang mau menemui pacar Abang dulu." Aksa bangkit dan meninggalkan gadis yang masih tidak diketahui namanya.


Gadis itu memanyunkan bibirnya, menghentakan kedua kaki karena kesal. Memandang Babang mahasiswa itu hingga hilang dari tatapannya. "Esok, harus lebih gencar lagi. Aku harus dapatkan Babang ganteng itu!" Gadis itu bangkit, dan segera meninggalkan bangku tersebut.


💖


Reza membawa Aura ke mansion miliknya. Gadis itu merasa heran dan aneh dibawa ke sini. Reza yang memahami arti tatapan itu, menyuruh Bibi asisten mengantarkan Aura mencari pakaiannya yang sudah tertata rapi di dalam lemari di kamar.


Aura kembali memasuki kamar ini, kamar tempat dia ditahan selama beberapa jam. Bibi asisten membuka lemari yang dikhususkan untuknya nanti. Ternyata lemari itu sudah penuh berisi pakaian pas dengan ukuran tubuhnya.


"Ini semua siapa yang beli, Bi?"


Bibi itu terkekeh memahami keheranan gadis muda ini. "Ini semua dibeli sendiri oleh Tuan Muda, Nona."


"Dasar mesuuum. Sampai menyiapkan ini semua dari luaran hingga dalaman. Bahkan ukuran pun sangat pas untukku," desisnya.


"Tidak apa-apa, Nona. Nanti kalian berdua akan hidup bersama juga. Jadi tak akan ada lagi yang dirahasiakan. Bahkan nanti, Nona lah yang membeli perlengkapan dari luar hingga yang terdalam. Atau mungkin sebaliknya, bisa jadi dia lah yang akan membelikan pembalut untuk Nona bila datang tamu bulanan. Jika sudah hidup berumah tangga, semua akan menjadi serba wajar," terang Bibi yang sudah sangat berpengalaman.


"Itu kan buat yang sudah menikah, Bi. Ini kami belum lho?"


Tiba-tiba Aura teringat sesuatu. "Bi, sudah berapa wanita yang dibawanya ke sini?"


Bibi itu terkekeh. "Nona ngomong apaan sih? Sebelumnya dia tidak pernah bawa wanita ke sini. Nona lah satu-satunya yang langsung dibawa beramai-ramai ke sini waktu malam itu lho? Jadi kala itu pakaian Nona kotor dan sangat bau. Maka saya diperintah menggantikan pakaian Nona."


Aura terperangah mendengar cerita itu. Dia mengira Om Mesum lah yang menggantikan semua pakaian miliknya. "Huuufftt, lega. Untung bukan dia. Terus dia tidak apa-apain aku saat itu kan, Bi?"


Bibi kembali terkekeh. "Dia tidur di kamar sebelah, Non. Kenapa Nona beranggapan begitu?"

__ADS_1


"Habis, pagi-pagi dia muncul cuma pakao handuk. Jadi aku pikir---"


Bibi asisten langsung menyela, "Tuan Muda itu sebenarnya orang baik kok Non. Bibi sudah mengikuti pertumbuhannya semenjak dia kecil."


Aura hanya mengedikan bahu. Yang dia tahu bahwa Reza adalah orang aneh berotak mesum. Bahkan, banyak jenis lingerie yang tergantung di dalam lemari itu.


"Mungkin Nona menganggap Tuan Muda seorang yang memiliki banyak kekasih ya?" Aura mengangguk, karena itu lah yang dia lihat sebelumnya.


"Itu kata orang semacam perubahan akibat trauma saja, Non. Dulu semasa sekolah dia dihina oleh gadis yang dia suka akibat sering pingsan tiba-tiba. Jadinya semenjak berkuliah dia memacari semua wanita yang dianggap masuk kriterianya."


"Tuan Muda memiliki kelainan jantung semenjak lahir. Oleh sebab itu, hingga saat dia masih mencari jantung baru untuk mengganti jantungnya yang sekarang."


"Sudah ada yang cocok?"


"Hanya beberapa kali, Non. Itu pun tidak banyak. Tetapi karena berbagai macam alasan membuat jantung tersebut tidak jadi diganti. Salah satu contohnya saat ada yang lebih membutuhkan, dia memilih untuk mendahulukan orang tersebut. Ada juga karena rusak saat dalam perjalanan. Setelah itu, hingga saat ini belum ketemu lagi," jelas Bibi sembari menyerahkan pakaian yang sangat cantik pada Aura.


Waaaauuu... Kalau dia meninggal, aku bakalan jadi janda muda yang kaya raya kali ya? Hmmm, membayangkannya aja udah seseneng ini ...


Bibi terlihat mengingat sesuatu. Dengan segera mencarikan pakaian tersebut. Gadis itu segera menggantinya. Melihat Aura memegang pakaian basah, Bibi itu langsung memintanya. Aura tidak mau menyerahkan karena malu ada dalaman juga, tetapi tetap diambil secara paksa.


"Nona akan tinggal di sini juga nantinya kan? Bibi akan menaroh pakaian Nona dalam lemari ini nanti. Tuan Muda sudah menyiapkan ini semua buat calon istrinya."


Aura hanya melongo dan mengangguk. 'Sultan mah bebas. Hmmm, trauma apa yang dialaminya semasa remaja?' Aura menyandarkan dirinya menatap ke arah luar jendela.


Tiba-tiba dia teringat pada ponsel miliknya. Mengecek kembali keadaan ponsel tersebut. Ternyata, ponsel tersebut sudah tidak berfungsi lagi. Dari luar terdengar suara gagang pintu ditarik oleh seseorang. Ternyata Reza yang masuk ke kamar tersebut. Dia melihat Aura menekan-nekan ponsel tersebut dengan gusar.


"Rusak?"


Aura tak menjawab. Reza segera mengecek bend tersebut. "Kelamaan terendam nih. Matot jadinya."


Aura kembali merebut benda tersebut, "Nanti mau ajukan claim garansi aja, siapa tau diganti oleh pihak distributor."

__ADS_1


Reza berjalan ke arah nakas dan segera membuka lacinya. Tampak benda-benda miliknya dulu yang disita oleh Reza. "Kamu mau ini atau aku belikan yang baru saja?" Memperlihatkan ponsel lama miliknya.


Aura melonjak melihat benda tersebut. "Ini aja! Nggak usah beli yang baru, buang-buang duit aja!"


Padahal dia memikirkan hal lain. Di dalam ponsel ini ada banyak kenangan bersama Aksa yang tersimpan. Tentu saja dia lebih memilih benda ini. Aura segera mengambilnya, kening Reza sedikit berkerut mencurigai sesuatu. Aura segera memasukan ponsel tersebut ke dalam kantong celananya.


Mengingat gadis itu hampir mati gara-gara kelaparan, Reza segera menarik tangannya.


"Mau apa lagi?" Aura masih menggunakan jurus memberontak.


"Makan! Bibi udah nyiapin sesuatu untuk kita!"


Gadis itu akhirnya ikut dengan pasrah. Tak dapat dipungkiri, perutnya memang luar biasa kelaparan. Namun, dia melongo melihat menu di atas meja, ternyata yang ditemukan dua cup mie instan. Mie itu adalah varian yang sempat mereka perebutkan dulu.


"Lhooh? Kok?"


"Abis dingin-dingin, enaknya makan yang berkuah dan hangat kan?" Reza menggerakan kedua alisnya. Aura mengangguk, segera duduk. Dia celingak-celinguk mencari sesuatu.


"Cari apa lagi?"


"Mana nasi?"


"Apa tidak cukup mie ini di perutmu?"


Aura memanyunkan bibirnya. "Aku tuh rakyat jelata yang terbiasa makan mie pakai nasi biar kenyangnya dobel. Belum afdol rasanya kalau makan mie kalau gak ada nasi. Beda sama kamu kaum sultan, semua serba enak, dan serba nyaman. Entah apa kata mamamu saat melihat keadaan rumahku nanti."


"Dih, ngakunya terbiasa makan sedikit?" Lalu Reza memanggil Bibi asisten. Tak berlama-lama nasi sudah berada di samping mie gadis itu.


"Apa pun kata Mama, aku tetap akan menikah denganmu!"


Aura seakan tidak memedulikan apa yang baru saja Reza katakan. Pria itu tengah melongo melihat kecepatan makan Aura. Dalam waktu skian menit, dua porsi makanan tersebut telah berpindah masuk ke dalam perutnya. Sementara Reza, belum sempat memakan satu helai pun mie miliknya.

__ADS_1


"Sepertinya, panggilan Nona Mie Instan, memang lebih cocok untukmu!"


__ADS_2