CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
72. Nyicil


__ADS_3

"REZAAA, APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN?" teriak ayahnya.


"Hupp, huuup ...." Sang ibu merasa ngap karena terus disodori minuman-minuman tersebut oleh dua makhluk tak ada akhlak ini.


"Sudah! Sudah!" ucap ibu itu setengah memohon.


"Reza, Aura? Apa kalian tidak mendengar apa yang saya ucapkan?" Kembali suara bariton milik Barack Adijaya menggema di antara alunan musik klasik di restoran mewah tersebut.


"Oh-oooh, Kami sedang berakting bertemu dengan calon mertua Pa. Jadi bagaimana menurut Papa akting kami berdua?" ucap Reza mengarang alasan.


"Hentikan! Kasian Mama yang merasa shock melihat kelakuan kalian berdua!"


Sementara Aura semakin kegirangan melihat kemarahan dari ayah Reza ini. "Ayo, Ma. Habiskan dulu jus nya? Setelah itu aku suapkan ...." Mata gadis itu belum menemukan satu pun makanan. Mereka semua baru memesan minuman.


Aura menyandarkan kepalanya pada pundak calon ibu mertua. "Mama mertua cantik sekali. Aku sangat iri melihat Mama masih terlihat cantik meski udah setua ini ...."


"Apa? Kamu bilang saya tua?"


Aura masih menyandarkan kepalanya pada pundak calon ibu mertua tersebut. Mengelus-elus wajahnya. "Meski sudah dipenuhi oleh kerutan, Mama tetap terlihat sangat cantik. Apa rahasianya Ma?"


"Ekheeemm ...." Ibu kandung calon suaminya itu semakin marah dan dongkol. Dia teringat segala treatmen perawatan mahal yang telah dilakukan demi menghapus kerutan. Gadis ini malah mengatakan hal yang paling membuatnya sensi.


Reza melihat suasana hati ibunya yang semakin berubah, menarik kepala gadis itu dan menyandarkan pada pundaknya. Mengacak rambut gadis itu dengan geram. "Kamu pinter sekali bercanda, Dinda?"


...uhuuukk...


Kembali Rezi tersedak mendengar panggilan kakaknya terhadap calon kakak ipar. Aura menegakan kepala, kembali akan merebahkan pada pundak calon mertua. Namun, Reza langsung menarik kepala itu untuk bersandar pada dirinya. Mendekap pundak gadis itu agar tidak macam-macam lagi kepada ibunya.


"Apa yang Kamu lakukan, Dinda? Mama sudah merasa cukup bahagia dengan keberadaan kita. Tidak memerlukan pujian-pujian itu lagi. Jadi sekarang Kamu mau makan apa?"


Mata Aura masih liar mencoba merusak suasana makan malam ini. Matanya tertuju pada wanita muda yang tepat berhadapan dengannya. Dia segera berdiri tanpa permisi melewati orang tua Reza. Reza hanya bisa menepuk jidat melihat usaha gadis ini agar ditolak oleh kedua orang tuanya.


"Ekhem ...." Pak Barack berdehem agar semua duduk dengan tenang. Namun, Aura tetap memasang aksi pura-pura tidak mendengar.


"Halo Kakak Ipar, salam kenal ...," ucap Aura memeluk gadis yang sedari tadi hanya menjadi penonton.

__ADS_1


Salah satu alis Rezi terangkat. 'Kakak ipar?' rutuknya di dalam hati.


Reza kembali mengejar dan menarik Aura dari posisinya yang memeluk Rezi. "Dia itu adik bungsuku, Dinda. Jadi meski usianya lebih tua darimu, statusnya tetap lah adik ipar," jelas Reza.


"Oooh, adik ipar ternyata? Cupucupucupucu ...." Aura menarik kedua pipi Rezi.


Rezi melirik Reza yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan gusar. Akhirnya Reza menarik gadis itu dengan kasar. Meski merasa sakit karena tarikan kasar itu, senyum kemenangan menghiasi bibirnya. Reza menarik Aura nenuju pojok dekat toilet yang agak sepi.


"Apa mau mu?" bentaknya pada Aura.


"Apa masih perlu kujelaskan?" Suara gadis itu tak kalah lantang.


"Bukan kah Kamu sudah berjanji untuk menikah denganku? Atau Kamu mau membatalkan perjanjian kita ini? Jika memang begitu aku akan segera memenjarakan pacarmu itu, saat ini juga!"


Aura membulatkan mulutnya, menggeleng dengan cepat, dan merangkul lengan Reza dengan patuh. "Maaf. Tapi jika orang tuamu yang menolakku, bukan salah aku lagi bukan?" ucapnya lalu mengapitkan kedua bibir.


Reza mendekatkan wajahnya yang tinggal beberapa mili lagi mengenai Aura. "Jika Kamu macam-macam seperti ini, aku tak akan menunda-nunda lagi memenjarakan kekasihmu itu!"


Aura merangkul lengan pria itu terus menggeleng. "Jangan! Aku mohon!"


Aura melepas dekapannya dari lengan Reza. Dia terduduk tiba-tiba merasa lelah. "Aku pikir jika orang tuamu tidak setuju, Kau akan membatalkan semua ini," ucapnya dengan tertunduk.


Reza segera menarik lengan gadis itu. "Berdiri!"


Aura berdiri sesuai perintah. Namun wajahnya masih tertunduk dengan sejuta rasa yang membuat wajahnya muram. "Kenapa harus aku? Bukan kah aku orang yang telah menghancurkan perusa--"


Reza menarik wajah itu dan membekap mulutnya kembali dengan sebuah kecupan. "Jika Kamu masih banyak bicara, maka bibirmu akan menjadi targetku!"


Reza beranjak beberapa langkah. "Ingat! Jangan banyak tingkah lagi!"


"Dasar bajingan! cuih, cuih, cuih!" Gadis itu kembali mengusap bibirnya dengan kasar. Menepuk bibirnya yang terus saja mendapat c*uman dari Reza.


"Mana gadis itu?" tanya sang ibu saat Reza kembali muncul.


"Dia beres-beres dulu di toilet Ma. Maaf kan dia Ma. Dia memang orang yang selalu bersemangat," ucap Reza duduk di salah satu kursi yang ada di sana.

__ADS_1


"Dari mana Kamu mengenal gadis itu?" tanya Nyonya Besar Adijaya.


"Ya, hanya sebuah kebetulan kecil saja."


"Reza," panggil sang ayah. Reza menoleh pada lelaki yang banyak mengajarkan akan kehidupan sebagai seorang pria. "Bagaimana hubungannya dengan pacarnya yang dulu?"


Reza sedikit merasa terkejut, karena papanya ini, juga mengetahui hubungan Aura dengan lelaki sebelum dirinya. "Hubungan mereka sudah berakhir."


Sejenak sang ayah tampak sedikit terkejut, setelah itu menganggukan kepalanya. "Apa dia mencintaimu?"


"Cinta bisa dipupuk setelah menikah kan Pa? Yang jelas aku cinta padanya."


Aura mendengar ucapan Reza sedari jauh. Meski dia tertegun dengan sejenak, akal logisnya kembali berbicara, "Dia hanya mengutarakan alasan kepada orang tuanya, Ra! Kamu jangan baper! Biar rencananya makin mulus untuk menikah denganmu!" ucapnya pada diri sendiri.


"Jika Kamu benar mencintainya, apa Kamu sanggup melihatnya yang masih mencintai orang lain?"


"Reza, Kamu apaan sih? Jelas dia tidak menyukaimu, kenapa Kamu masih memaksakan untuk menikahinya?" sela sang Ibu.


"Aku yakin, dia akan mencintaiku. Aku hanya memohon restu dari Papa dan Mama. Jangan ikut mencampuri masalah keluargaku nanti. Biarkan Kami mengatur segala urusan rumah tangga Kami berdua. Papa dan Mama cukup bertugas sebagai pemantau dari jauh," ucap Reza.


Barack Adijaya, sang ayah menganggukan kepalanya tanda setuju. "Bagus, Kamu sudah cukup mapan lahir batin ternyata."


"Kok gitu sih Pa? Gadis itu sungguh tidak memiliki tata krama? Bagaimana caranya nanti mendidik anaknya?"


Tiba-tiba sang ibu teringat kembali pada masalah jantung Reza. "Bagaimana Za? Udah menemukan jantung yang cocok?"


Reza menggelengkan kepalanya. "Sampai beberapa waktu lalu masih belum."


Terus bagaimana caranya nanti Kamu bisa memiliki anak? Sedangkan ...." ibunya itu hanya memberi bahasa isyarat.


"Ekheeemmm ...." Sang ayah kembali berdehem.


"Maaf, maksud Mama Reza kan tidak ...."


"Maksud Mama apa sih? Aku ini perkasa!" ucapnya, lalu tampak gadis calon istrinya berjalan perlahan. "Ma, Pa, aku boleh nyicil dulu ga? Siapa tau aku bisa menembus rekor?"

__ADS_1


__ADS_2