CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
79. Kemunculan Reza versi perempuan


__ADS_3

Namun, kaki Stella tak bisa melangkah. Setiap akan melangkah, dia memilih untuk mundur kembali. Akan melangkah lagi, dia mundur kembali. Sementara Devan sudah jauh berjalan meninggalkan dia sendiri.


"Kak," mulutnya tercekat memanggil Devan. Dia cukup takut bila yang tidur di bawah sana terbangun mendengar suaranya.


Sementara Devan yang ternyata tengah asik membanggakan sendiri, baru menyadari tak ada yang mengikutinya. Tampak gadis itu tengah melambaikan tangan. Devan berjalan kembali ke arahnya.


"Kenapa tidak ikut?"


Stella sedikit menyengir. "A-aku ternyata tak bisa berjalan ke sana."


"Kenapa?"


"Hanya tak bisa saja." Stella masih nyengir salah tingkah. "Kita mau ke pemakaman siapa?"


"Apakah aku belum cerita bahwa aku memiliki seorang kembaran bernama Deval?" Stella menggeleng.


"Oh, ternyata belum? Hari ini tepat peringatan sepuluh tahun meninggalnya saudara kembarku. Makanya sekalian aku ajak ke sini."


"Oooh, ooohh ..." Stella langsung menjadi speechless. "Semoga dia mendapat tempat indah di atas sana."


Devan menarik Stella agar mengikuti langkah kakinya. "Deval adalah saudara kembarku yang meninggal karena menyelamatkan gadis yang dicintainya. Padahal aku sudah mengikhlaskan dia menyukai gadis yang sebenarnya lebih menyukaiku. Namun, dia malah pergi dengan cara tragis seperti ini."


"Waaah, Kakak pasti keren banget semenjak dulu ya? Sehingga banyak sekali yang menyukai Kakak?"


Devan tercekat, tak menyangka ada yang memercayai perkataannya. "Oh, hemmm, tentu ... Kamu lihat sendiri kan aku ini tampan?"


Stella kembali menilik pria ini dengan seksama. "Iyah, Kakak itu tamvan sekaleeee. Ada foto kembarannya ngga?"


"Tunggu-tunggu!" Devan mengeluarkan ponselnya. Memperlihatkan foto saudara kembarnya. Stella mulai membandingkan antara dirinya dan kembarannya.


"Waaah, kook yang ini murem terus wajahnya?"


"Oh, dia memang lebih tenang dan kalem sih orangnya."


"Semoga dia bahagia di alam sana," doa Stella.


Mata Devan terlihat sedikit berkaca-kaca. "Amin. Terima kasih."


Lalu mereka membersihkan sedikit rumput yang ada pada makam itu. Berdoa sejenak lalu pergi. Stella terkesima akan perilaku Devan barusan. Baginya, Devan sangat dewasa.

__ADS_1


"Kak, I Love Yooou," ucap Stella mengejar Devan.


"Oh, tentu saja semua orang pasti menyukaiku. Aku kan tampan semenjak dalam kandungan," ucapnya dengan pede setinggi langit.


💖


Aksa masih merenungkan alasan mengapa Aura tadi berteriak. Dia ingin menghubungi kembali, tetapi Cakra sudah tidak ada di tempat. Hal ini membuat Aksa berniat membeli kartu seluler yang baru.


Karena saat ini adalah waktu week end, banyak sekali pasangan berjalan hilir mudik di sekitarnya. Meski hanya sesaat, dia kembali membayangkan saat berdua bersama Aura. Memegang lengannya yang selalu dirangkul oleh gadis itu.


...bruughh...


Dia tidak melihat arah jalan dengan baik. Sehingga, Aksa bertumburan dengan seorang siswa sekolah berpakaian pramuka. "Maaf, Dek. Tadi Abang tidak memperhatikan jalan."


Siswi yang masih duduk bangku sekolah itu melongo melihat Aksa. Matanya berbinar melihat Aksa yang sangat tampan. "Tidak apa Bang... Senggol lagi dong Bang?" ucap siswi itu.


Aksa hanya menggeleng heran, langsung beranjak. Namun, ternyata siswa sekolah itu terus mengikutinya. "Bang, Bang, Bang ...." Aksa melirik kembali ke arah gadis itu. "Godain aku dung Bang!" ulangnya.


"Kamu tidak ke sekolah?" tanya Aksa.


"Udah pulang dong Bang? Sabtu gini kan cuma pengembangan diri dan pramuka aja. Ayo dong godain aku!" ucap gadis terus mengikuti Aksa.


Aksa berusaha tidak mengubris siswi berseragam sekolah tersebut. Akal sehatnya berusaha memaklumi tingkah anak sekolah itu. Dia terus mengikuti setiap langkah Aksa. Sehingga malah menginjak kaki Aksa yang hanya beralas sendal.


"Kamu mengapa terus mengikuti saya?"


"Aaah, iya ya?" Dia memasang tampang pura-pura bingung. "Kenapa aku terus mengikuti Abang ya? Apakah di dalam tubuh abang memiliki magnet?"


Aksa menautkan kedua alisnya. Baginya pernyataan anak itu semakin tidak tidak ada hubungan. "Apa hubungannya?"


"Aah, masa Abang tidak paham? Magnet Abang itu, sudah luluh lantah menarik diriku dengan tulang belulang yang tercipta dari besi. Makanya begini, aku pengen nempel terus sama Abang."


Aksa terduduk pasrah di bangku taman kota mendengar recehan anak sekolah tersebut. Aksa kembali mencoba mendengar candaan receh berikutnya, sereceh tulisan otornya.


"Bang, tau tidak, seperti apa wajah Abang di mata Dedek?" Aksa hanya mengedikan bahu.


"Oooh, Babang bagai malaikat tak bersayap, namun mampu membawa Dedek terbang langsung ke langit yang ketujuh."


Aksa hanya menahan senyumnya. Lumayan mendapat hiburan, setelah kebingungan karena tiba-tiba ngejomlo. Aksa menunggu kelanjutan bualan siswa aneh ini.

__ADS_1


"Bang, tau nggak kenapa Abang terlihat sangat tampan di mata Dedek?" Aksa hanya menggelengkan kepala. Dia kembali menunggu jawaban dari gadis itu.


"Itu karena Dedek yakin, Tuhan sudah menakdirkan Babang itu terlahir di dunia ini untuk menemani hidup Dedek yang sepi." ucapnya kembali. Aksa mulai tertawa menggelengkan kepala.


"Aku tak yakin hidupmu sepi."


"Emang kenapa, Bang?"


"Tuh, ngomong sendiri aja udah ramai. Apalagi ngomong beramai-ramai"


Gadi sekolahan itu mulai sumringah. Dia merasa mendapat sambutan hangat olej cowok ganteng ini. "Bang, Bang, Dedek masih ada teka-teki nih. Ikuti aku ya!" ucapnya lagi.


"Bang, Bang ... Tatap mata saya!" Meniru tontonan Ojan sambil pura-pura menjadi peramal. Dengan konyolnya Aksa benar-benar menatap mata gadis itu.


"Nah kan, ternyata di matamu itu ada aku!" ucapnya kembali.


Aksa mulai tertawa dengan lepas. "Hahaha, anak kecil aja udah jago mengatakan hal demikian. Kamu tu belajar dulu! Sekolah dulu dengan bener! Pacarannya sama-sana anak sekolah aja sanah!"


Gadis itu duduk makin mepet pada Aksa. "Kalau saja Babang lamar dedek saat ini juga, Dedek bakalan ucapin selamat tinggal pada buku-buku itu!"


Aksa menggeleng! "Abang ini sudah ada yang punya. Hati Abang tak akan tergoyahkan meski nanti ada bidadari turun dari kayangan pun turun untuk menggoda."


Gadis itu semakin mendekat. "Jika bidadari tak mampu membuat Babang goyah, biar dedek jadi ratu penjahat yang menawan hatimu agar berpindah padaku."


Aksa langsung tertawa ngakak mendengar ucapan gadis sekolahan ini. "Kamu pasti hobi baca novel online ya?"


Mata gadis itu membesar. Merasa sedikit bangga karena berhasil ikut-ikutan menggunakan istilah dunia dewasa. "Kok tau?"


"Yaaa, karena di dalam novel online lagi musim judul 'tawanan cinta,' tetapi Kamu jangan melanjutkan bacaan seperti itu! Bijak lah dalam memilih bacaan. Kamu masih di bawah umur!"


Gadis itu tampak berpikir sejenak. "Jadi aku harus membaca apa?"


"Baca buku pelajaran!"


"Iiih, bosen! Masa buku pelajaran melulu? Buku pelajaran itu jatahnya dibuka saat di sekolah. Kalau di rumah cari yang menghibur juga duunk."


Aksa berpikir sejenak. Dia sejenis wibu yang suka membaca komik dan nonton anime. "Komik juga boleh."


Gadis itu mengeluarkan ponselnya. Memperlihatkan komik yang dibacanya. Mata Aksa terbelalak melihat komik bacaan gadis ini yang mengandung unsur dua satu ples.

__ADS_1


__ADS_2