CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
171. Cemburu pada Aksa


__ADS_3

Reza mencium pucuk kepala istrinya. "Ya, pelan-pelan aja. Masih ngilu kalo kena sentuhan."


Aura kembali menatap ke arah bagian jantung Reza. Di mana ada benda itu di dalamnya. Sebuah benda berharga penyambung hidup pria yang menjadi lelaki yang telah beikrar sebagai penjaga dan pelindungnya.


Aura menatap ke tempat di mana Aksa kecil tengah terlelap. Aura melepaskan diri dari pelukan itu. Duduk di atas brangkar, lalu mencium bayi mungil tersebut.


Reza yang merasa heran, karena istrinya hanya mau dipeluk dalam sesaat, ikut mendekar lalu berdiri di samping brangkar. "Ayo, kita pulang saja?"


Aura kembali melihat ke arah bekas jahitan jantung Reza yang tertutup oleh perban. "Apakah sudah tidak apa-apa?"


Reza mengangguk. "Perawatan selanjutnya kita lakukan di rumah saja. Lagian bayi ini tak baik berlama-lama menghirup aroma obat di rumah sakit ini."


Aura menitipkan Aksa kecil untuk sesaat. Lalu mencari informasi pada perawat mengenai syarat kepengurusan kepulangan pasien. Mendengar Reza meminta pulang ke rumah, dokter yang mengatasinya datang dengan tangan berada di pinggang. Di sampingnya berdiri seorang perawat yang membawa peralatan yang akan digunakan.


"Kamu belum boleh pulang!" ucap dokter tersebut dengan suara yang cukup keras.


Reza mengintip ke luar, memastikan istrinya masih belum kembali. Reza menunjuk bayi yang tertidur di atas brangkar. Di mana dia lah yang harusnya berada di sana.


"Dokter lihat sendiri kan? Masa anakku harus ikut menginap di rumah sakit? Izin kan aku pulang, Dok. Aku rindu suasana rumah."


"Hmmmfff, jangan jadikan anak sebagai alasan. Anak kamu ini kan seharusnya sudah diperbolehkan untuk kembali semenjak 24 jam dia lahir."


Reza menangkupkan kedua tangannya dengan memasang tampang memelas. "Ayo lah, Dok. Izin kan aku untuk pulang. Aku ingin melakukan segala perawatan lanjut di rumah saja."


"Ekheeem ..." Dokter berdehem untuk menghentikan rengekan laki-laki yang baru saja menjadi seorang ayah itu.


"Duduk!" titah sang Dokter.


Reza duduk di atas brangkar, lalu dokter mengecek membuka perban melihat perkembangan bekas operasi di dada Reza. Setelah memastikan sesuatu, dokter memasang kembali dengan perban yang baru.


"Bagaimana, Dok? Apakah aku sudah boleh pulang?"


Reza membelai lembut kepala bayi yang tengah tidur dengan pulas di belakangnya. Dokter terlihat ikut mendekati bayi tersebut.

__ADS_1


"Syukur lah bayi kalian ini tidak menurunkan penyakit jantung dari ayahnya. Namun, rasionya masih ada. Bisa jadi akan turun pada anak kalian yang berikutnya. Atau bisa jadi keturunan berikutnya."


Kening Reza berkerut. "Dokter ini pinter banget dalam menjatuhkan suasana hati seseorang ya?"


Dokter tersebut tidak memberi jawaban apa-apa. Dia bersiap untuk pergi, dan perawat yang sekedar figuran mengikuti di belakang.


"Bersiap lah! Kamu boleh pulang, dengan catatan, jangan melakukan aktifitas membuat anak dulu dalam waktu enam bulan ke depan!"


"Aaaaapaa??"


💖


Papa Barack membukakan pintu rumah, sementara Mama Kinanti menggendong baby Aksa diiringi oleh Aura yang membawa peralatan bayinya. Reza terlupakan, masih tertinggal di mobil sendirian karena dunia tiga orang tersebut telah direbut oleh baby Aksa.


"Hmmmfff ...." Reza merasa geram, dan meminta Jono untuk membantunya turun. Jono membantu memapah Reza, disambut tatapan orang tua mereka.


"Oh iya, bapaknya masih ketinggalan ternyata," gumam Mama Kinanti lalu kembali asik memainkan jemari Aksa.


Sementara Aura sedang berada di lantai atas, mempersiapkan tempat untuk bayi mereka. Reza dan Aura sepakat untuk tidak memisahkan Aksa tidur di kamar lain. Aksa masih terlalu dini untuk memiliki kamar sendiri. Hanya saja, ranjang khusus bayi telah terletak di samping ranjang mereka.


Setelah semua siap, Aura kembali turun untuk mengambil anaknya. Aura sudah minta izin untuk segera mengambil si kecil dari tangan Mama Kinanti. Namun, sang mertua seolah tak mau mengikuti permintaan Aura.


"Mama masih kangen gendong-gendong bayi kayak gini. Apalagi dia mirip banget sama ayahnya waktu kecil dulu."


"Tapi kata orang nanti dia jadi bau tangan, Ma? Tidak mau ditaroh gimana? Dia minta gendong mulu nanti," terang Aura.


"Aaah, itu cuma mitos. Lagian kalo dia minta gendong mulu, bakalan banyak yang gantian gendongin dia di sini."


Mata Mama Kinanti mulai mendelit menatap Aura. "Jadi kamu melarang Mama untuk menggendong cucu Mama sendiri?"


Aura melambaikan kedua tangannya. "Bukan ... bukan. Hanya saja aku--"


"Sudah, jangan ributin Aksa mulu napa? Aku dari tadi di sini, seperti tak terlihat di mata kalian." Mata Reza menyipit melihat bayi yang ada di tangan mamanya.

__ADS_1


Sementara Aura dan Mama Kinanti saling bertatapan, lalu berganti menatap Reza. "Sepertinya ada yang cemburu sama anak sendiri nih?" gumam Mama Kinanti. Aura mengangguk setuju lalu mereka tertawa.


"Laaah? Kompakan lagi?" rutuk Reza menghadapi dua bidadari yang telah mencampakannya karena kehadiran baby Aksa.


"Sepertinya selama masa pemulihan, kamu tidur di lantai bawah aja, Mas!" ucap Mama Kinanti.


"Lha? Kenapa? Kamar kami ada di atas. Segala persiapan untuk anak kami juga ada di atas." Reza merasa keberatan.


"Biar kamu tidak terlalu mengeluarkan tenaga untuk naik turun di atas sana. Kan jantung kamu harus diistirahatkan selama enam bulan?" jelas Mama.


"Gak mau. Nanti bocah cilik itu memonopoli istriku."


Aura tertawa ngakak mendengar ucapan suaminya ini. "Jadi, Kanda ini beneran cemburu sama anaknya? Kalau cemburu, kenapa cepet-cepet pengen punya anak? Kalau tidak mau berbagi, seharusnya tidak usah punya anak." ucap Aura membelai bayi mungil yang seperti ikut meledek ayahnya.


"Hmmmfff ... ya udah, nanti kita nambah lagi setelah aku pulih ya? Kali ini aku minta yang cewe, biar aku main sama dia aja."


Aura menggelengkan kepalanya. Menyilang kedua tangan tanda dia menolak pernyataan sang suami barusan. "Kamu pikir aku ini mesin pencetak anak apa? Ingat, aku masih ada perkuliahan yang harus aku selesaikan!"


"Aku tidak peduli."


"Aku juga tidak mau. Jika kamu tidak peduli, nanti ja..tahnya aku setop."


"Ekheeemmm." Papa Barack berdehem mendengar obrolan absurd pasutri gaje ini.


Sementara Mama Kinanti tidak memedulikan yang ada di sekitarnya. Beliau sibuk mengajak baby Aksa becanda. Baby Aksa tampak sangat nyaman dalam pelukan Oma-nya itu.


Setelah melewati berbagai pertimbangan, akhirnya Reza terpaksa menerima keputusan bahwa dia harus tidur sendiri di bawah. Di sebelahnya ada kamar Bibi yang bersiap 24 jam jika dibutuhkan. Reza memandang istrinya yang dengan langkah ringan membawa Aksa menaiki anak tangga satu per satu.


"Dadah Aaayaaah ...." ucap Aura melambaikan tangan sambil mencibir.


"Awaas yaaa, enam bulan lagi gak akan aku kasih ampun ..."


Reza mendengkus masuk ke dalam kamar yang biasa digunakam untuk tamu tersebut. Dia sudah terbiasa tidur sambil memeluk istrinya. Sehingga dia tidak bisa tidur di kamar itu sendirian. Entah kenapa, dia merasa ada sosok tak kasat mata ikut tidur di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2