
Abizar menggebrak pintu ruang kerja Reza. Sang big boss terperenjat karena kaget. "Kamu mau membuat saya kena serangan jantung lagi?"
"Apa maksud Anda, Boss? Tadi katanya disuruh bagi sama yang lain. Pas udah habis malah minta lagi?"
"Udah habis aja? Kan belum cukup lima menit yang lalu saya bilangnya?" Reza menyandarkan dirinya pada kursi.
Ponsel bergetar, itu panggilan dari Aura. Dengan semangat dia menarik tombol hijau dan langsung menjawab panggilan tersebut. "Haloo, Sayang." Reza memberi kode ayunan tangan agar Abizar pergi meninggalkannya sendiri.
"Kanda, aku ... aku ...."
"Ada apa?"
"Aku menginginkan sesuatu. Tapi maunya sekarang."
Secara refleks senyuman tersungging di bibir Reza. Dia teringat apa yang dikatakan oleh Abizar. "Kamu mau apa, Sayang? Biar nanti Abizar yang mengantarkan."
"Tidak mau, aku maunya Kanda yang ke sini?"
Reza melihat tumpukan berkas yang harus dia selesaikan hari ini. Yang dia periksa belum cukup seperempat dari jumlah yang ada. "Bagaimana kalau kamu saja yang ke sini? Nanti kita beli sebentar, kita nikmati barengan."
"Tapi aku bukan lagi pengen makan sesuatu."
"Kamu mau apa?"
"Kanda jangan marah ya?"
π
π
Wajah Reza terlihat datar, sebuah tangan sedang mengelus pipinya. Sementara tangannya mengelus kepala seseorang. Aura duduk terpisah di antara dua orang tersebut. Wajah kedua pria tersebut menyiratkan permusuhan, antara Reza dan Aksa.
Via tengah duduk santai menyaksikan kedua pria itu saling usap satu sama lain. Makin lama, Reza mengusap rambut Aksa tampak semakin kasar. Begitu juga, dengan Aksa mengusap pipi Reza semakin keras, membuat kulit pucat Reza menjadi merah padam.
"Udah belum?" tanya Reza memelas. Aksa tak bisa berkata banyak, hanya bisa terus mengusap pipi Reza.
"Belum, anakmu belum puas."
Reza mendelit membuang muka dari Aksa. Dia memandang sang istri yang tak henti melihat Aksa mengusap pipinya. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa, karena ini ngidam aneh dari sang istri.
"Bilang saja ini hanya akal-akalanmu." Reza terus mengacak rambut Aksa. Aksa melirik Aura yang terus memandangnya dengan cengiran puas.
"Kalau Kanda nggak mau ya udah, biar anaknya sendiri yang tahu kalau ayahnya tidak sayang padanya." Mata Aura masih tetap menatap Aksa tanpa rasa sungkan.
"Mesti ya melihat seperti itu?"
__ADS_1
"Ini keinginan anakmu."
"Seharusnya anakku tak mau melihat dia. Dia kan rival ayahnya. Masa iya mau membuat ayahnya sedih begitu?"
Aura hanya mengedikan bahu. Dia terus melihat Aksa yang sudah susah payah untuk tidak melirik dan berkomentar. Akhirnya Aksa memutuskan menyudahi pemenuhan keinginan dari idaman mantannya yang hamil ini.
"Sudah ya." Aksa bergerak meninggalkan ruangan itu.
"Kamu sengaja ya?" tanya Reza dengan nada datar.
"Ini semua keinginan anakmu."
"Bohong!"
"Aku ini tadi lagi demam. Kanda lihat sendiri kan? Terus aku buka-buka laptop nonton drakor. Ada adegan ini antara pasangan. Aku jadi pengen juga, tapi maunya Kanda sama Bang Aksa," terang
"Alasan!"
"Ya udah kalau tidak percaya. Aku keluar." Aura bangkit dan keluar dari ruangan dengan perasaan kesal.
Reza yang juga merasa kesal memilih tidak memedulikan sikap konyol istrinya. Dia melanjutkan pekerjaan yang masih terbengkalai semenjak tadi.
Sedangkan Aura, dia baru mengingat akan satu hal. Bahwa dia melupakan perkuliahan. Sudah beberapa hari kuliahnya terbengkalai karena masalah dalam keluarga. Lalu dia meminta Jono untuk mengantarkannya ke kampus.
π
Dia tidak menemukan apa pun yang bisa dijadikan senjata. Bahkan saat makan, dia hanya diberikan nasi kotak yang diberi sendok plastik. Mereka semua tahu, Marcell mampu mengubah apa pun benda menjadi senjata. Ini bukan pertama kali dia mendekam di ruang isolasi. Namun, dia berhasil kabur dengan menikamkan sendok yang dibentuknya menjadi benda tajam layaknya belati.
"Nona Hacker ... ternyata ini balasanmu kepada orang yang telah memberikan jutaan rupiah padamu." Senyum miring mengulas di bibirnya.
"Padahal, sedikit lagi kita bisa menguasai dunia. Namun, apa yang kau berikan? Sebuah penghianatan yang membuatku kembali masuk ke ruangan ini." Marcell melirik ke segala sisi, namun hanya gelap yang dia dapati.
"Ini belum berakhir."
Suasana berbeda di tempat berbeda yang terlihat Aura berjalan dengan wajahnya yang tampak lesu. Stella yang melihat kehadiran Aura langsung mengejarnya.
"Dooor!"
Aura terkesiap karena terkejut. Hal ini membuat Stella terkekeh merasa lucu. Aura tanpa berkata apa-apa melanjutkan perjalanannya menuju ruang jurusan Akuntansi.
"Kamu kenapa Ra? Kamu sudah tidak masuk dalam beberapa hari. Apa yang terjadi?"
Aura melihat sebuah bangku panjang. Dia menghela nafas panjang. "Ternyata permasalahan dalam keluarga itu begitu rumit."
"Yaaa, sabar. Kamu kan sudah memutuskan untuk menikah. Pasti kamu tahu segala konsekuensi yang harus kamu jalani."
__ADS_1
Sebuah gerakan dari belakang terhenti saat seorang pemuda mendengar kata Aura sudah menikah. "Ra, kamu sudah menikah?"
Stella melirik ke arah Arga, dan menepuk keningnya. Stella menangkupkan kedua tangannya meminta maaf karena sudah keceplosan. Aura menganggukan kepalanya. Dia sudah siap untuk situasi ini. Di saat semua orang tahu saat ini dia bukan lagi seorang wanita single.
"Ya," jawab Aura dengan singkat.
"Kapan kamu menikah? Kenapa tidak mengatakannya sama sekali kepada kami semua?"
Stella menarik Aura untuk menjauh dari Arga. "Sudah! Dia menikah bukan untuk disebarluaskan ke khalayak umum."
Arga melihat kedua perempuan muda itu pergi menjauh, seluruh tubuhnya terasa lesu. Semangatnya yang tadi muncul saat melihat Aura kembali setelah beberapa hari kini telah musnah. Arga melangkah pergi menuju tempat lain untuk menata hati kembali.
"Apa yang terjadi beberapa hari ini, Ra? Aku sudah mencoba menghubungi kamu tapi panggilanku ga masuk-masuk?"
"Ponsel yang itu ilang," ucap Aura asal.
"Ilang lagi?" sorak Stella bingung. "Udah berapa kali hape kamu hilang? Untung suami kaya. Hilang tinggal dikasi lagi."
Aura hanya terkekeh mendengar pernyataan tersebut. Dia pun tak memungkiri karena memiliki suami seorang CEO Harmony, semua kesulitan dia alami dulu hilang seketika. Tak ada lagi makan mie instan setiap hari demi penghematan. Tak ada lagi mesti hacking demi uang yang malah kebanyakan dipotong. Tak ada lagi pusing kalau ponsel hilang atau rusak, tinggal bilang, langsung dapat yang baru.
Apakah bersama Bang Aksa aku akan seperti ini?
"Mana ponselmu? Aku gak hafal nomor kontakmu." Aura menyalin nomor ponsel miliknya dan sebaliknya.
Lalu panggilan masuk kembali pada ponsel Aura dari Reza. "Kamu sekarang ada di mana? Aku di rumah!"
...πππ...
Halooo kak, jangan lupa mampir pada karya teman author yang kece ini juga ya...
napen: Neng Syantik
judul: Pandawa ( Pesona Janda Anak Dua)
blurb:
βAku sudah putuskan. Aku ingin mengakhiri hubungan kita,β Tegas Danu, tunangan Zivanya sang janda yang beranak dua.
βApa maksudmu, Bang?β tanya Zivanya, berharap semua yang ia dengar salah.
βKu rasa, aku tidak perlu mengulang kata-kataku. Semua yang aku katakan sudah cukup jelas, aku ingin kita mengakhiri semuanya,β Lagi, Danu mengulang perkataannya.
βTapi kenapa, Bang?β Air mata Zivanya luruh. Ia tidak dapat menahan tangisnya.
Zivanya, Janda muda yang memiliki dua anak, di putuskan begitu saja oleh tunangannya. Ternyata, alasan yang ada dibalik putusnya hubungan meraka sungguh menyakitkan. Membuat Zivanya berubah menjadi pribadi yang lain.
__ADS_1