
"Waaahh ... Mama mau kasih apa ya buat cucu Mama ya?" Lalu melirik Aura dengan mata menyipit. "Ini buat cucu Mama ya? Bukan buat kamu."
Yeee eeelaaah, cucu Mama itu anakku kali.
Aura hanya bisa menutup mulutnya dengan rapat. Lalu mencoba untuk duduk manis mendengar petuah dari para leluhurnya Mama Kinanti.
Usai acara makan malam keluarga tersebut, Aura menghela nafas panjang di dalam kendaraan. Aura melirik suaminya yang tak berhenti nyengir semenjak keluar dari rumah tersebut.
"Jadi, Tuan ini bahagia kali lihat aku terus disindir seperti tadi yaaaaa..." Mata Aura mendelik. Dia merasa misi mengambil hati mertuanya masih belum berhasil.
"Setidaknya Rezi sudah mau deket-deket sama kamu."
Aura melengos merasa kesal. "Kalau tau begini, mending aku ikuti kata Stella. Aku beli untuk diriku sendiri. Suamiku aja tidak pernah membelikanku perhiasan."
"Seharusnya kamu beli sekalian aja. Kartunya ada sama kamu, ya suka-suka kamu."
Aura menggelengkan kepalanya. "Melihat angka untuk itu aja, jiwa misqueenku meronta tau ngga? Bisa buat beli yang lebih bermanfaat, itu. Masa iya aku nambah-nambah pengeluaran?"
Reza kembali mendekapnya. "Salah sendiri punya jiwa missqueen." Reza mencium bibir Aura.
"Ekheeemm... ada anak di bawah umur ni Boss," sungut Jono sang supir.
Mereka menuju ke rumah dan beristirahat. Waktu pun melompat di saat usia kandungan Aura telah mencapai tujuh bulan. Ketika semua kawan di kampusnya telah mengetahui Aura, sang jawara kesayangan dosen telah menikah.
Awalnya mereka tidak percaya, mereka masih kekeuh dengan pendapat mereka sendiri bahwa Aura adalah selingkuhan dosen mereka, Barack Adijaya. Namun, Aura tidak mempedulikan tanggapan tersebut. Hingga suatu saat, suaminya datang menjemput Aura saat pulang dari pekerjaannya lengkap dengan setelan eksekutif.
Pakaian tersebut begitu mencocok dibandingkan pakaian mahasiswa lainnya. Bahkan, dosen pun jarang menggunakan pakaian tersebut, kecuali ada acara tertentu.
Kali ini dia menjemput Aura dengan kendaraan miliknya sendiri yang lebih murah dibanding sebelumnya. Meski hanya mobil sedan, setidaknya bisa memuat penumpang, lebih dari dua orang.
Saat Reza melihat sang istri baru menyelesaikan ujian akhir semester, dengan segera dia menarik tas yang disandang oleh sang istri. Dengan percaya diri merangkul Aura dan mengelus perut istrinya yang telah terlihat.
Semua mata yang memandang, seketika kehabisan kata. Stella menyadari hal itu, hanya menyunggingkan senyuman puas, karena kawan-kawannya tidak bisa bicara lagi akan gosip yang mereka buat.
Kali ini Stella memilih jadi penumpang, karena mobil miliknya sedang diservis di tempat langganan. Stella meminta Reza untuk mengantarkannya ke bengkel tersebut, karena dia berencana untuk menjemput kendaraannya itu. Setelah sampai, Stella langsung turun dan mengambil mobilnya.
Sementara Aura dan Reza melanjutkan perjalanan mereka. Reza mengelus perut Aura yang diperkirakan berjenis kelamin laki-laki.
__ADS_1
"Boy, hari ini kamu tidak menyusahkan Bunda, kan?"
"Enggak, Yah. Hari ini aku anteng kali lhooo," jawab Aura dengan mengubah suara menjadi seimut mungkin.
"Hari ini mau makan apa, Boy?" Reza masih membelai perut tersebut.
"Aaahg," rintih Aura. Reza sendiri merasakan tendangan yang cukup kuat atas jawaban dari dalam rahim Aura.
"Udah Ayah bilang, kamu jangan nakal."
"Aaagghh, aduh, aku jadi kebelet pipis." Aura menepuk-nepuk lengan Reza meminta segera mencari toilet secepatnya.
Saat berada di kamar kecil, Aura mendengar perbincangan dua wanita yang sedang berada di depan kaca. Aura tertarik menguping pembicaraan tersebut karena mengarah pada ciri-ciri suaminya, Reza.
"Pria tadi terlihat tajir melintir kan? Tampangnya lumayan juga."
"Lumayan? Buat gue dia tanvan banget tauk!"
"Yaaah, lumayan lah. Meski gak sampai kayak Le Min Hoo, tapi boleh lahh. Kita deketin yuk? Siapa tau pulang-pulang bisa membawa dompetnya?"
"Ekheeeemm," Aura keluar dari bilik kecil tersebut lalu mencuci tangan. Tampak dua orang tersebut menyelesaikan pembicaraannya.
Apa Kanda akan berpaling ya, melihatku yang seperti ini? Dua orang tadi tampak begitu seksi.
Aura melihat hasil potret dirinya yang jauh dari kata seksi. Aura perlahan dan mengintip suaminya yang tengah didekati oleh dua wanita tadi. Tampak saling bercerita dan sambutan ramah dari sang suami. Reza melakukan hal ini. Dia ingin mengetes istilah sugar baby dulu.
"Bang, boleh kenal lebih dekat gak? Ini aku ingin kita lanjut ke hubungan masa depan yang siapa tau lebih indah nantinya."
Reza menyandarkan melirik ke segala arah. "Beneran mau kenalan denganku?" Reza menyadari kehadiran Aura yanh semakin mendekat. Dia pura-pura tidak melihatnya.
"Iya doong, siapa tahu hubungan kita mengarah ke jenjang yang lebih serius?"
Reza pura-pura berpikir. "Oh, tunggu-tunggu. Nanti ketahuan sama istriku. Apa kalian keberatan jika aku sudah punya istri?" ucapnya bercanda. Karena dia mengetahui Aura tengah memperhatikan mereka.
"Iih, masa sih sudah menikah? Atau hanya jadi alasan aja ni?" Lalu dua gadis itu sikut-sikutan. Salah satunya menjepit bibirnya dengan gigi.
"Aku bersedia jadi sugar babynya Bang. Kalau sugar dady muda gini aku tak menolak."
__ADS_1
Mata Reza menangkap sosok istrinya. Reza melihat istrinya berjalan dengan wajah merah. Melihat ekspresi seperti itu, Reza berpikir ulang untuk mengerjai sang istri. Apalagi Aura sudah hamil besar begini.
Lalu dia segera mendekati sang istri, dan menggenggam tangan Aura. Reza mengajak istrinya mendekat, dan mengacak rambut Aura.
"Ini istri saya."
Aura menolak tangan yang terus membelainya. Aura mendengkus kesal. Kedua wanita tersebut sadar bahwa yang dikatakan istri pria yang terlihat kaya itu adalah wanita yang tadi berdehem di dalam toilet tadi. Mereka berdua seketika menjadi salah tingkah.
"Oh, oooh-- Kalau begitu kami ke sana dulu." Mereka langsung hilang dalam sekian detik. Mempercepat langkah sambil menutup wajah.
Reza melihat marahan Aura. Dia mulai aksi membujuk sang istri. Reza menggoyang dagu Aura ke kiri dan ke kanan.
"Kamu marah yaaaa?"
"Menurutmu?" dengkusnya kesal. "Apa karena aku makin jelek?"
Reza tersentak, lalu tertawa. Melihat ekspresi lucu sang juwita, yang berhasil dibuatnya cemburu. Reza memeluk Aura dan membisikan sesuatu pada telinga Aura.
"Istriku adalah wanita yang paling cantik di dunia ini. Apalagi saat hamil begini. Kamu terlihat semakin gemoy tau nggak? Aaaaahh, aku ingin segera pulang untuk menerkammu."
Aura menepis tangan itu. "Kamu puasa hingga tahun depan sanah!"
"Haaah? Lama amat? Keburu si Boy gede."
Reza tidak menedulikan amarah istrinya, lalu membukakan pintu kendaraan tersebut. Menunggu Aura terus mendengkus karena kesalnya. Setelah itu giliran dia masuk dan melajukan kendaraan tersebut sampai ke mansion.
Keesokan pagi Aura dan Reza memasang wajah tegang menonton berita bahwa perusahaan yang diretas terakhir kali oleh Aura sedang menuju ke Indonesia. Mereka sudah menemukan identitas sang Nona Hacker yang telah mereka usut beberapa bulan terakhir ini. Aura menjatuhkan sendok yang sedang menyuapi suaminya yang akan berangkat kerja.
"Bagaimana ini, Kanda? Apa mereka berhasil menemukan identitasku?"
Reza memungut kembali sendok tersebut dan meletakannya di atas meja. Mengambil sendok yang baru, bergantian menyuapkan Aura makan."Kamu jangan mengkhawatirkan itu. Tak mungkin mereka secepat itu menemukan istriku. Negara ini kan luas banget."
plok
plok
plok
Reza menepuk tangannya. "Yeeeeeiiyyy, istriku seorang bur*nan yeeeiiii."
__ADS_1