CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
61. Kontrak Nikah bukan Nikah Kontrak


__ADS_3

Mata kedua orang ini saling bertemu, dengan tatapan nanar dan benci.


"Heh, bocah! Diajarin tata krama nggak?" Suara bas milik Reza memecah keheningan di antara mereka.


Reza kembali melihat gadis yang belum mandi itu dari atas hingga ke bawah. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya. "Bisa nggak, kalau ketemu saya itu mandi dulu?"


Aura mendekat, menaikan kakinya kanannya di salah satu kursi yang ada di hadapan meja kerja Reza. "Lebih baik kamu penjarakan saya sekarang juga!"


Senyuman sinis mulai mengembang di bibirnya. "Jadi benar Kamu tidak bisa mengembalikan data milik perusahaan kami?"


"Cepat telepon saja polisi yang Kau panggil kemarin!"


Reza mulai bangkit dari kursi kerja, mendekati gadis itu. Mendorong kaki yang tidak sopan itu untuk kembali ke asalnya. "Sepertinya untuk memenjarakanmu, bukan lah sesuatu yang menarik. Kita kembali ke sepakatan awal! Jika Kamu tidak ingin dia dipenjara, Kamu harus menikah dengan saya!"


Aura menghempaskan dirinya pada kursi yang tadi dia injak. Bersidekap dada sembari memanyunkan bibirnya. "Saya masih ingin melanjutkan kuliah!"


"Kuliah? Oh, tentu! Itu tidak masalah! Malah saya sangat menyukai wanita yang berpendidikan!" ucap Reza duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Saya masih ingin mendapatkan beasiswa itu!"


Reza menyandarkan diri pada sofa. "Tanpa beasiswa pun aku sanggup membiayai kuliahmu. Itu hanya masalah kecil bagiku!"


"Aku bilang aku masih mau kuliah, dengan beasiswa itu!" Dengan nada tinggi.


"Jadi apa yang Kamu inginkan?" Reza beridekap dada, menyilangkan salah satu kakinya.


"Aku tak mau ada yang tahu aku sudah menikah! Agar aliran beasiswaku tetap lancar. Apa kata orang jika aku sudah menikah? Apalagi orangnya itu Kamu?"


Reza menurunkan kakinya kembali, duduk dengan lurus. "Emang menurutmu aku seperti apa?"


"Apa lagi kalau bukan buaya mata keranjang? Kau pasti telah meniduri banyak wanita bukan? Bahkan, ada banyak pakaian aneh di dalam lemari pakaianmu!"


Reza kembali tergelak mendengar ucapan gadis itu. "Kau sendiri merasa suci hah? Setiap kali pacarmu berada di sini, kalian selalu menginap di hotel. Nanti Kau harus mencoba semuanya juga denganku."


Kedua alis Aura bertaut. Dia mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh laki-laki ini. "Apa maksudmu?"


"Pakai nanya lagi! Jika menikmati segalanya dengannya, Kau harus mencobanya juga denganku. Apalagi setelah ini kau akan kumiliki seutuhnya."


Tiba-tiba Aura memutar otaknya kembali. "Jika aku kotor, kenapa Kau masih menginginkanku? Mending Kau kurung aku di dalam tahanan!"


"Ya, aku akan menahanmu, di rumahku! Sebagai budakku. Kita akan membuat kontrak pernikahan!" ucap Reza dengan tegas.Reza bangkit mendekat pada gadis itu.


"Apa Kau telah mengakhiri hubunganmu dengannya?"


"Bukan urusanmu!" bentak Aura.


"Sekarang ini akan menjadi urusanku. Kita akan meni--"


"Tunggu!" sela Aura.


"Apalagi? Kita harus membuat kontrak pernikahan secepatnya! Yang pertama Kamu tidak boleh menemui pacarmu lagi! Jadi aku harus memastikan hubungan kalian benar-benar sudah berakhir!"


Reza melihat raut wajah gadis itu yang tiba-tiba berubah. "Sepertinya aku sudah tahu jawabannya."


"Apa yang membuatmu yakin untuk menikah denganku? Bahkan keluargaku pun belum Kau kenal. Bagaimana jika aku tidak diterima oleh keluargamu?"


Reza kembali tergelak sejenak. "Bagiku tak masalah. Asal Kau sudah ada di sisiku, itu sudah cukup."


Aura memandang Reza dengan nanar. "Cepat buat surat kontrak nikahnya sekarang juga! Atau aku yang akan menulisnya sendiri? Isinya yang pertama Kamar kita harus terpisah!" ucapnya dengan suara lantang.


Reza mengerutkan keningnya. "Ogah! Pernikahan apaan itu kamar terpisah? Ini mau nikah beneran lho! Bukan nikah main-main!"


"Aku tak mau ada yang tau aku menikah! Nanti kamu menghamiliku bagaimana?"


"Wajar lah kamu hamil, Kamu itu istriku. Yang aneh itu jika kamu istriku, tapi hamilnya anak orang."


Reza menarik Aura untuk duduk di sofa. Menatap gadis itu dengan curiga. "Apa Kamu sedang hamil?"


"Aku hamil?"


"Bukan kah Kamu sudah tidur dengan pacarmu itu?"


"Katakan padaku! Kamu sudah menghamili berapa orang hah?" tanya Aura dengan mata nyalang merasa terhina.


"Apa Kamu khawatir jika anakmu akan memiliki saudara tiri?" Reza kembali menyilangkan kakinya.

__ADS_1


"Terus kenapa menanyakan aku hamil atau tidak? Jika Kamu tidak menggerayangiku malam itu, berarti hingga saat ini aku masih suci!"


"Apa kamu tidak bisa membedakan saat Kamu disentuh atau tidak?"


"Bisa lah! Kata orang ada bedanya. Aku tak merasakan apa-apa. Aku tahu Kau hanya membohongiku. Berarti aku masih suci. Kau sendiri bagaimana?" tantangnya kembali bersidekap dada.


Reza menahan lonjakan di hatinya. Saat mengetahui gadis ini masih belum tersentuh. "Menurutmu sendiri bagaimana?"


"Mana aku tau! Kau punya banyak kekasih! Oh ya, harus adil. Jika aku tidak boleh menemui dia, maka kau pun tak boleh menemui kekasihmu itu. Kau harus adil!"


"Jika aku tak mau?"


"Jangan salah kan aku untuk menemui Bang Aksa juga."


"Tidak boleh!"


"Kalau begitu Kau juga tidak boleh!"


Aura bangkit, mencari-cari sesuatu di meja Reza. Lalu berpindah mencarinya di dalam laci. Menemukan sebuah bungkusan berisi kotak perhiasan dulu. Reza yang melihat, langsung bangkit dan merebutnya kembali.


"Dih, pelit! Kalau ngajak nikah tu kasih yang eksklusif kek! Ini giliran ketemu, bukannya dikasih!" sungutnya.


Reza kembali menyimpan benda itu. "Tentu! Aku akan memberikan yang paling istimewa yang memang khusus untuk kamu. Namun, bukan ini!"


Aura tak mengubris ucapan Reza lalu kembali mencari sesuatu. Membongkar-bongkar laci milik sang presiden direktur. "Aneh amat ni ruangan. Ruang kerja segini gede malah tidak ketemu kertas selembar pun!"


"Makanya kalau nyari sesuatu itu nanya dulu! Ini enak-enak aja main bongkar bikin meja kerja orang berantakan!" Reza merapikan kembali benda-benda yang sudah dikeluarkan oleh Aura.


Setelah itu menekan tombol panggilan cepat, menghubungi Abizar. "Zar, ambil beberapa lembar kertas lalu bawa ke sini dengan segera!"


"Baik, Boss!" jawab yang di seberang.


Reza kembali merapikan peralatan miliknya yang sudah diacak oleh gadis itu. Aura hanya bersidekap dada menyandarkan bahu menatap memandangan di luar jendela. Tak lama terdengar sebuah ketukan pintu.


"Masuk!"


Abizar masuk, dan merasa heran ada Aura yang sudah ada di kantor di pagi ini. "Ada apa, Boss?" bisik Abizar sambil melirik Aura yang tampak tengah merenung dengan wajah kusut.


Reza mengambil lembaran kertas yang dibawa oleh Abizar. "Sebentar lagi kami akan menikah!"


"Keluar dulu sanah! Saya mau membereskan masalah kami terlebih dahulu!"


Abizar menuju pintu sambil melirik Aura. Padahal dia baru saja menghibur Aksa tadi malam. Kenapa tiba-tiba saja pacar Aksa sudah berencana menikah dengan atasannya? Abizar menutup pintu dengan pelan.


"Nah, ini! Mau Kamu apakan?" Menyerahkan kertas tersebut. Aura terlihat mengusap air matanya dengan cepat.


'Masih sempetnya dia nangis?' batin Reza.


Aura mengambil kertas itu dengan kasar. Menulis judul pada lembar itu dengan 'NIKAH KONTRAK,' mata Reza membesar lalu merebut lembaran tersebut. Kertas itu dirobek sedemikian rupa.


"Lhoo, kenapa dirobek sih?" sungut Aura.


"Hei, aku tak ingin nikah kontrak! Yang aku minta buat kontrak nikah untuk dipatuhi selama kita berumah tangga!"


Reza membagikan lembaran yang baru. "Kamu buatkan kontrak untukku, dan aku akan membuatkan kontrak untukmu!"


Aura mengangguk menyetujui. Lalu mereka sama-sama menuliskan kontrak pernikahan yang harus dipatuhi oleh pasangannya. Reza lebih dulu menyelesaikan. Sementara Aura masih belum menyelesaikan kontrak yang harus dipatuhi oleh Reza.


Reza merasa heran, kenapa dia terlalu cepat menyelesaikannya. Kontrak untuk Aura pun dibaca kembali dengan seksama, namun dia merasa sudah cukup dengan semua yang ditulisnya. Tampak sekilas, kertas HVS itu sudah penuh hingga ke bawah. Sementara dia hanya dua baris.


"Sudah belum? Lama amat?"


"Tunggu! Dikit lagi!" ucap Aura.


Setelah lima menit Reza menunggu, akhirnya gadis itu menyelesaikan isi kontrak untuk Reza. Mata Reza terbelalak melihat panjangnya isi kontrak yang harus dipatuhinya.


"Ini, baca!" ucap Aura dengan ketus.


Mata Pria itu terbelalak saat membaca isi kontrak tersebut.



Om Mesum harus minta izin langsung kepada orang tua calon istri, yang berada di Padang.


__ADS_1


"Jadi Kamu orang Padang?" Aura hanya mengangguk tipis. "Pacar, hmm, mantanmu Aksa dari sana juga?" Aura hanya memberi kode gerakan alis.



Om Mesum harus memutuskan semua pacarnya yang ada setelah kontrak ini ditanda-tangani.



"Oh, tentu! Kamu bisa menemaniku saat memutuskan mereka satu persatu!" ucap Reza.


"Deal," ucap Aura setuju.



Kita tidur di kamar terpisah hingga istri benar-benar mencintai suami. Begitu juga jika suami benar-benar mencintai istri.



Alis Reza menyatu tidak menyetujui. "Ini harus dihapus! Kapan bisa mencintai jika tidur terpisah gitu?"


"Jangan dihapus! Jika Kamu hapus, pernikahan dibatalkan!" gertak gadis itu.


"Kalau batal, saya akan memenjarakan pacarmu itu!"


"Huh, main ancam aja ni Om Mesum!"


"Eit! Jangan panggil aku dengan itu lagi! Mulai hari ini coba Kamu biasakan memanggilku dengan Mas!"


"Mmmmmmmaaaaassssss," ucap Aura dengan berat. "Lidahku terasa kelu menyebut itu. Kenapa harus itu? Kenapa tidak yang lain?"


"Kamu mau memanggilku dengan apa?"


"Karena aku orang Sumatra, paling enak manggil Abang!"


"Ogah! Kalau begitu aku yang keberatan! Jika dipanggil Abang, aku berasa jadi tukang baso."


"Lalu apa dong?" bentak Aura. "Omes aja?"


"Apa Omes?"


"Om Mesum!"


Reza membelalakan matanya. "Sudah berapa kali kubilang jangan hah? Kalau begitu, Kamu panggil aku Kanda saja!"


"Kanda?"


"Iya, nanti aku panggil Kamu Dinda!"


"Harus ya? Maksain banget tau ngga si?"


"Ya harus laaah, menikah untuk sekali seumur hidup ini! Kamu paham, Dinda?" Reza menekan nada pada panggilan Dinda.


Membuat Aura merasakan sesuatu yang aneh dari perutnya. "Aku merasa mau muntah mendengarnya!"


"Lama-lama Kamu akan terbiasa, Dinda!"


"Huweeekk! Geli tau gak?"


"Dinda, Dinda, Dinda! Sekarang giliran Kamu! Cepat panggil aku Kanda!"


Aura memasang wajah tak rela. "Nanti kita bahas lagi! Kamu belum selesai membaca kontrakku!"


Reza mencoret isi kontrak nomor 3. Tidak memedulikan gadis itu marah atas kelakuannya itu.



Calon Istri tidak ingin orang lain mengetahui bahwa calon istri telah menikah, sama artinya dengan belum ingin memiliki anak.



Reza yang sadar akan keadaannya sendiri, sehingga tidak bisa mengomentari ini. "Jika Kamu tak ingin orang lain tahu, jangan salah kan orang lain juga tidak tahu bahwa aku sudah menikah. Apa kamu yakin tidak akan cemburu padaku?"


"Aku tak peduli!"


...*bersambung*...

__ADS_1


...Ada yang ikhlas membagi Author Gift, Vote dan lainnya? wkwkwk...


__ADS_2