
Reza hanya diam tidak memberitahukan kepada istrinya apa yang telah terjadi. Dengan status buronan ini, lingkup Aura otomatis terbatas. Tidak mungkin dia menyerahkan wanita yang dicintainya ini kepada Marcell.
Dalam diamnya, Reza memperhatikan Aura yang sedang mengipasi Devan yang dibaringkan beralaskan paha Stella. Reza membatalkan pemanggilan ambulance, dan dia memutuskan untuk mengantarkan Devan dengan mobilnya sendiri.
"Stella, apa Kamu bisa membawa motor milik Devan untuk dibawa pulang?"
Stella menggelengkan kepalanya. Dia cuma bisa membawa motor matic. Jika motor sudah memiliki gear, dia tidak berani lagi untuk mengendarainya, apalagi kalau itu sejenis motor sport milik Devan.
"Aku bisa!" ucap Aura.
Reza mengernyitkan keningnya. "Sejak kapan Kamu bisa bawa motor?"
"Aku udah lama bisa koook. Hanya saja aku tidak punya kesempatan mengendarainya kembali." Mencoba menaiki motor tersebut. Namun, kakinya tidak sampai menyentuh tanah.
"Tenang! Kalo dah jalan ini aman!" ucap Aura lagi dengan percaya diri.
"Nggak usah! Ditinggal aja! Malah mengkhawatirkan melihatmu mengendarai ini!" Reza menarik Aura. Lalu mengendarainya hingga masuk ke pekarangan rumah tadi.
"Nanti sempit-sempitan aja di dalam mobil!"
Jadi lah susunannya satu bangku diisi dua orang. Stella duduk sambil mendekap Devan yang pingsan. Aura dipangku oleh Reza yang menjadi supir.
"Kanda, mobil gede yang kemarin mana?"
"Udah dijual," ucapnya singkat masih meski susah payah mengendarai dengan posisi aneh seperti ini.
__ADS_1
"Seharusnya mobil ini yang dijual! Ngapain mahal-mahal cuma buat dua orang. Mending beli yang murah dan bisa muat banyak!"
"Oke, ide yang bagus! Untuk memperluas jaringan dan cabang."
"Ekhem!" Stella yang sedari tadi diam akhirnya berdehem memecah suasana mereka yang hanya bagai milik berdua.
"Jadi, tolong ceritakan, kapan kalian menikah?"
Aura mulai berpikir kembali. "Sejak usai ujian akhir semester lalu kayaknya."
"Jadi sudah lebih dua bulan nikah, Kamu tidak mengatakan kepadaku sama sekali? Waktu Kamu nginap di rumahku itu juga udah nikah?"
Aura menganggukan kepalanya. "Maaf, aku hanya belum siap menceritakan semua."
"Kamu tega ya, Ra? Jadi, Kamu anggap aku ini teman baikmu apa bukan sih? Bahkan hari terpentingmu saja, tidak Kau ceritakan."
Aura menatap Stella yang masih sempit-sempitan mendekap Devan. "Maaf, La. Waktu itu aku belum menerima diriku sendiri yang sudah menikah. Aku tak tahu harus menceritakan ini mulai dari mana. Yang jelas, waktu itu aku terpaksa---"
"Ekheeem!" Terdengar deheman kasar dari Reza. Raut wajah sang suami terlihat berubah. Aura menjepit bibirnya, sadar telah mengatakan sesuatu yang salah.
Suasana hening menemani perjalanan menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Aura yang hendak keluar, didorong agar tetap duduk di dalam. Reza menolong Devan naik ke brangkar hingga masuk ke bagian IGD. Setelah itu, dia kembali ke parkiran.
Reza membuka bagasi mobilnya dan membawa topi beserta masker, dan diserahkan kepada sang istri meski dia tetap diam. Aura langsung mengenakan dan segera menemani Stella yang masih marah atas sikapnya yang dianggap tak mau berbagi cerita.
Akhirnya, menjelang pagi Devan bangun juga. Meski sedikit meringis, kondisi Devan cukup terlihat stabil dan diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Aura berusaha mengajak Stella untuk berbicara, tetapi dia tetap diam. Akhirnya Stella memilih taksi online untuk mengantar Devan pulang. Aura tertunduk melihat kepergian mereka yang tak mengatakan sepatah kata pun semenjak tadi.
__ADS_1
Reza yang sedari tadi hanya memperhatikan, dalam diam menariknya agar menuju ke kendaraan mereka. Sepanjang perjalanan, Reza hanya membisu. Sedangkan Aura, hanya sibuk dengan pikiran sendiri tanpa menyadari tujuan mereka kali ini. Mereka menuju mansion di mana tempat yang seharusnya jadi rumah mereka.
Aura membulatkan matanya. Saat akan keluar, Reza mendorongnya kembali masuk ke dalam mobil. Dia masuk ke kamar mengeluarkan koper yang cukup besar mengambil perlengkapan pakaian mereka seadanya. Tak lama, Reza muncul kembali dan masih membisu terhadap istrinya.
Aura yang mulai heran atas sikap Reza, akhirnya membuka suara. "Kanda, kita mau ke mana?"
Reza hanya melirik sekilas, tetap melajukan kendaraannya. Akhirnya Aura bersidekap dada memandang keluar memperhatikan perjalanan panjang mereka. Menjelang masuk gerbang tol, tampak polisi berpatroli mengecek penumpang yang akan keluar kota.
"Pakai kembali masker dan kaca mata hitam itu!" titahnya dingin.
"Untuk apa?"
"Pakai saja!" bentaknya.
Dengan murung, akhirnya Aura memakai benda yang diperintahkan oleh Reza. Hingga akhirnya sampai giliran pemeriksaan pada kendaraan mereka.
"Selamat pagi, Pak?" ucap Polisi patroli.
"Selamat pagi," jawab Reza.
"Boleh tunjukan kartu identitas dan kelengkapan berkendaraan, Anda?"
Reza mengangguk, menyerahkan semua yang diminta. Setelah semua usai, mereka diizinkan melanjutkan perjalanan. Reza melirik Aura yang hanya diam memainkan kuku-kukunya tertunduk. Ekspresi wajahnya tak terlihat karena tertutup dengan sempurna oleh masker dan kaca mata hitam tersebut.
Perjalanan panjang mereka lanjutkan hingga akhirnya mereka sampai di sebuah villa. Villa keluarga Reza yang didatangi pada waktu libur bersama. Kali ini digunakan sebagai tempat persembunyian sang istri. Reza mengangkat koper tadi keluar menuju villa tersebut. Membuka kunci dan dia langsung terbatuk oleh sambutan yang diberikan villa tersebut
__ADS_1