
"A-apa maksudmu?" ucap Kapten I Bagus Suska, gugup.
"Kenapa ini sampai terjadi? Bukan kah sudah mengucapkan sumpah tidak melibatkan masyarakat sipil?"
Kapten I Bagus Suska tertunduk. Dia sendiri merasa bingung atas apa yang telah terjadi. "Tapi, saya sungguh serius. Marcell berhasil melarikan diri kembali."
"Anda aja yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Lalu kenapa warga sipil kena imbas atas semua kelalaian ini?"
"Seharusnya tadi dia tidak melawan. Jika dia tenang saja, mungkin semua ini tak akan terjadi." jelas Kapten I Bagus Suska.
Aura bangkit menantang mata kapten tersebut. "Kalian tahu, apa yang kalian lakukan pada suami saya? Jika terjadi apa-apa padanya, itu semua salah kalian! Ternyata kalian dengan mudah main-main dengan nyawa seseorang." Aura menggeleng dengan nanar. Lalu kembali duduk di bangku yang tersedia. Kakinya terasa tidak kuat lagi untuk berdiri.
"Kasus ini layaknya naik ke atasan kalian." Via memberi kode pada antek-antek bagai pengawal yang menemaninya. Mereka semua mengangguk dan meninggalkan tempat.
"Via, apa maksudmu berkata seperti itu?"
Via sedikit menggeleng, dan duduk di samping Aura. Aura terus memandangi kain penutup ruang sempit itu. Sesekali tampak beberapa perawat keluar masuk membawa alat. Via menepuk bahu Aura.
"Kamu jangan lupa berdoa. Serahkan semuanya pada Yang di Atas."
Aura mengangguk. Dia duduk merenung memanjatkan doa. Semoga pria yang dicintainya baik-baik saja, kembali seperti biasanya.
Aksa terus memandang Aura dari jauh. Hatinya merasa tak kuat saat melihat gadis, bukan, wanita itu menangis tersedu. Dia ingin sekali menjadi orang yang ada di sampingnya kali ini. Namun, semua ini bukan lah waktu yang tepat untuk itu.
Ra, aku tahu kamu wanita kuat. Semua ini akan segera berakhir. Aku tahu kamu bisa menghadapinya.
Lalu Aksa membayangkan sosok Reza yang tengah terbaring di dalam sekat itu.
__ADS_1
Kamu yang ada di sana, bangun lah! Jangan biarkan wanita itu terus menangis. Aku rela saat semua milikku kau ambil dengan paksa. Namun, jika dia bahagia saat bersamamu, aku telah mengikhlaskan semuanya. Sekarang jangan kau buat dia menangis seperti ini. Aku tak kuasa menatap air mata itu.
Semua telah lelah menunggu hasil penanganan pada Reza. Namun, sang Dokter belum juga menyelesaikan pemberian tindakan kepada Reza. Tak lama, beberapa pasukan kepolisian berseragam beramai-ramai datang ke tempat yang diselimuti duka itu. Diikuti oleh orang-orang yang menemani Via tadi.
"Kapten I Bagus Suska, kami harap, Anda dan pasukan yang turun hari ini segera mengikuti kami kenghadap komandan." ucap salah satu polisi tersebut setelah bersikap hormat.
Kapten I Bagus Suska membalas sikap hormat tersebut. "Siap, kami semua akan mematuhi peraturan yang ada."
Kapten I Bagus Suska dan rombongan, dikawal oleh pasukan kepolisian berseragam. Aura menatap kepergian mereka dengan nanar dan amarah.
"Penjara saja tak cukup bagi mereka!" rutuk Aura.
"Kamu tahu kepedihanmu. Kamu tenang lah! Semua pasti ada jalan keluarnya."
Setelah satu jam ditangani, akhirnya dokter yang menangani Reza muncul dari ruangan tersebut. "Keluarga pasien Reza?"
Dokter terlihat kusut dan menggelengkan kepala. "Kondisi jantung barunya dalam keadaan tidak baik-baik saja!" ucap dokter dengan penuh penekanan.
"Kenapa dia selalu saja berlaku aneh-aneh? Dia sudah tahu bahwa perawatan dan penggantian jantung yang telah berlalu itu tidak mudah dan mahal. Tapi kenapa dia selalu saja melakukan hal yang membuat keadaannya memburuk?"
Aura kembali menangis mendengar ucapan dokter tersebut. "Ma-maksudnya, Dok?"
"Jantung suami kamu itu rusak kembali. Beberapa pembuluh yang baru disatukan lepas. Sehingga terjadi pendarahan dalam, dan jantungnya saat ini---" Dokter menggelengkan kepalanya.
"Ke-kenapa dengan jantung barunya, Dok?"
"Sepertinya harus segera kita ganti kambali."
__ADS_1
"Di mana bisa aku temukan orang jual jantung, Dok? Berapa pun itu akan aku bayar. Asalkan nyawa Kanda bisa diselamatkan, Dok."
Tiba-tiba ada yang mengeraskan volume televisi nengenaik kasus CEO Harmony mendapat serangan dari oknum tak bertanggung jawab. Semua driver online milik Harmony turun ke jalan untuk berdemo. Mereka menuntut agar oknum tersebut bukan hanya sekedar dipecat, tetapi juga harus dikurung.
"Pak, Reza ... Cepat sembuh lah ... Kami para driver yang engkau tolong mendoakan agar segera pulih seperti sedia kala. Pak Reza orang baik. Kami sayang Pak Reza ..."
Dari layar televisi tersebut terdengar sorakan. "Selamatkan Pak Reza ... Selamat kan Pak Reza ... Selamatkan Pak Reza ...."
"Jika tak ada jantung untuk Pak Reza, saya bersedia memberikan jantung saya untuk Pak Reza."
Air mata haru jatuh membanjiri pipi Aura. Dia melihat ke arah suaminya yang terbujur dalam keadaan sakit. "Lihat Kanda, mereka semua mendoakanmu untuk segera sembuh. Bangun lah ... Bangun laaah!" Aura menggenggam tangan itu. Tangan yang tidak bisa menggenggamnya kembali.
Setelah dipindahkan ke ruang ICU, Aura tertidur dalam menggenggam tangan Reza. Lalu dia terbangun saat tengah malam. Tiba-tiba dia bangkit, memandang wajah Reza itu.
"Maafkan aku yang hanya bisa menyusahkanmu, Kanda. Sekarang adalah giliranku untuk mencari jantung untukmu. Kanda tunggu lah sejenak. Aku akan mendatangi semua tempat yang memiliki kemungkinan terdapat jantung hasil donor dari manusia berhati mulia."
Aura melangkah perlahan keluar dari ruangan tersebut. Ternyata keluarga suaminya telah hadir di sana. Mama mertua dan adik iparnya menangis saling berpelukan.
"Aura, apa kamu baik-baik saja?" tanya Papa Barack.
Aura hanya menganggukan kepala. Lalu dia pergi dengan membawa beban di dalam rahimnya. Dia segera memanggil Jono untuk menghampirinya. Setelah itu mengajak Jono mendatangi semua rumah sakit dan yayasan yang biasa menerima jantung hasil donor. Namun, hingga pagi hari, tak satu pun tempat yang menyediakan.
Bahkan beberapa pihak rumah sakit menghubungi rumah sakit rekanan yang ada di luar negeri. Namun hasilnya masih harus menunggu. Aura terduduk di salah satu bangku, dia merasa lelah. Namun, teringat wajah Reza yang putih pucat, dia berusaha menguatkan diri untuk kembali berpindah tempat.
Sementara di rumah sakit tempat Reza dirawat, dua bule yang tadinya masih mencari Aura, kini mencarinya ke rumah sakit. Aksa pun meladeni mereka. Dia meminta waktu kepada pihak perusahaan asing tersebut untuk memberikan waktu kepada mereka. Aksa berjanji akan menyelesaikan masalah perusahaam tersebut, asal pihak perusahaan Perancis itu membebaskan Aura dari segala tuntutan.
Aksa menandatangani pernyataan di atas matrai, jika tidak berhasil melakukan pemulihan pada data perusahaan tersebut, dia bersedia untuk mendapatkan hukuman dari pihak perusahaan tersebut. Setelah itu, dua orang bule tadi meninggalkan tempat dengan sendirinya.
__ADS_1
Marcell yang melihat kondisi Reza lewat televisi menyunggingkan senyum tipisnya. Dia datang menyamar menjadi petugas kebersihan rumah sakit.