
Aura membesarkan matanya, karena upah harian yang dia dapat menjelang misi selesai hanya dua juta rupiah. Aura melemparkan pisau yang ada di tangannya karena merasa kesal. Pisau itu menancap pada bantal di atas brangkar.
"Kurang ajar, Sistem keparat!"
Reza yang kaget, mengangkat kedua kakinya, seperti akan kabur dari sisi sang istri. Setelah itu, Reza memperbaiki posisi lalu menertawakan kekesalan istrinya itu. Aura baru menyadari dirinya telah ditipu mentah-mentah oleh seseorang yang menjadi Tuan Sistem tersebut.
"Hahaha, gimana rasanya jadi hacker karena ngikuti perintah orang lain? Kamu itu sudah diperdaya tau nggak?" Reza kembali tertawa melihat nasib yang menimpa sang istri. Padahal dia sendiri mengalami kerugian yang sangat besar.
"Apa Kamu tidak marah, sudah jadi korban peretasanku?"
Reza menyenjajarkan posisinya dengan sang istri. "Awalnya aku sangat marah. Namun, karena hal demikian aku akan berterima kasih padanya."
Aura melirik Reza kembali. "Kenapa?"
Reza hanya tersenyum simpul. Hal itu lah yang membuat Aura mengenakan cincin pernikahan darinya saat ini. Reza menarik satu tangan Aura, ditautkan dalam jemarinya. Awalnya Aura merasa canggung, dan ingin melepaskan genggaman itu. Namun, tangan Reza menggenggam dengan begitu erat, tak mau lepas.
"Tenang aja! Setiap sentuhan dengan suami itu pahala buatmu!"
Aura hanya mendengkus. "Giliran ada maunya aja bilang pahala, sholat nya kagak!"
"Itu bukan salahku lhoh? Itu salah Othornya yang gak bikin kita sholat jemaahan. Othornya bilang biar novelnya dibaca semua khalangan." (dan othornya pun ngakak)
"Tadi kamu menanyakan kenapa aku berterima kasih? Hal itu karena dia telah membantuku memilikimu." Reza memaksa kepala Aura bersandar di bahunya.
Tangan Aura yang masih bertaut dengannya, terangkat saat Reza ingin merangkulnya. Lalu Aura semakin menempel pada tubuhnya. Satu tangan yang bebas digunakan membelai pipi Aura.
"Nanti aku jerawatan!"
"Tidak apa! Tetap cantik kok!"
__ADS_1
"Kenapa akhir-akhir ini kamu jadi romantis banget?" Aura menengadahkan wajah melihat sang suami.
"Aku aslinya romantis, hanya saja kemarin itu tertutup oleh awan cumulus nimbus, jadi menunggu hujan dulu baru kelihatan romantisnya."
"Sekarang urusanmu udah beres belum dengn Tuan Sistem itu?"
Aura menggeleng. Entah berapa lama, dia meninggalkan dunia peretasan. Apalagi Tuan Sistem baru saja memberikan laptop keren untuk melancarkan serangannya. Tuan Sistem pasti sangat marah padanya.
"Bagaimana kita menjebak Tuan Sistemmu itu? Kita akan memenjarankannya," usul Reza.
Aura langsung bangkit, namun masih terikat dalam dekapan suami. "Emangnya bisa?"
"Selagi dia seorang manusia, tentu saja bisa. Nanti setelah keadaanku membaik, aku akan menyusun programnya untukmu. Sementara, Kamu menghindar saja. Kalau bisa, Kamu menutup identitas kemana pun Kamu melangkah. Atau, apa perlu kita pakai jasa bodyguard? Biar keamananmu lebih terjamin?"
Aura menggelengkan kepala. Dia pasti akan merasa sangat canggung jika harus menggunakan jasa bodyguard. "Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku hanya butuh latihan saja. Aku sudah tidak lama latihan pencak silatnya."
Reza teringat beberapa waktu lalu bahwa Aura memang sering menghajarnya. Hal ini membuatnya senyum sendiri. Banyak hal yang telah mereka lalui sebagai musuh. Jika tidak menikah seperti sekarang pun, mereka masih musuhan. Sungguh susah menakhlukan hati Nona Mie Instan ini.
"Maksudnya?" Aura menarik telinga Reza yang terkekeh membayangkan yang ******.
💖
Aksa berjalan dengan langkah kuyu. Dia baru saja keluar dari kereta. Semua ucapan Aura masih terngiang-ngiang dalam telinganya. Dia menggelengkan kepala, merasa keukeuh dengan pendiriannya untuk bertahan. Dia masih merasakan, bahwa Aura akan bersamanya suatu hari nanti.
Mungkin kali ini belum. Tapi satu saat nanti, kita akan bersama. Di kala Kamu telah menyerah, Ra.
Aksa terus melangkahkan kakinya, menimati senja yang temaram di kota sejuk ini. Melihat beberapa pasangan bergandeng mesra tengah memadu kasih. Membuat senyum kecut menghiasi bibirnya.
💖
__ADS_1
Seseorang yang terus memantau, belum menemukan seorang yang dicari hingga malam hari. "Kemana dia? Apakah dia pindah tempat tinggal?"
Tiba-tiba, dia teringat tadi ada seorang wanita berambut panjang, mengenakan topi dan masker, lewat di depannya. "Mungkin itu dia. Sudah pintar menyembunyikan diri dia ternyata. Baik lah. Jika memang mau bermain sembunyi-sembunyian, jangan salahkan saya pada apa yang akan kejadian selanjutnya."
Pria itu cabut dan kembali ke kediamannya. Kembali mencari informasi kemana pergi Nona Hacker yang telah direkruitnya. Kali ini dia mencoba mengakses kembali CCTV penjuru kota. Mencocokan lewat jalur wajah. Semua CP yang dia miliki, dikerahkan untuk mencari budak hackernya yang menghilang dan menyembunyikan diri.
CP tersebut dibiarkan bekerja sendiri. Setelah itu, Marcell menelusuri lorong panjang menuju tempat dalam gedung yang tersembunyi. Beberapa waktu menelusuri lorong, dia terhenti di sebuah pintu. Pintu tersebut dipalang dan dikunci oleh gembok yang sangat besar. Terdengar setiap ketukan ketika pintu itu dibuka. Setelah membuka kunci, pintu tersebut didorong.
Di dalam ruangan tersebut, tampak beberapa manusia yang telah beberapa waktu lalu ditangkapnya. Melihat sosok tersebut membuka pintu, beberapa orang perempuan saling berpelukan karena ketakutan. Sementara, beberapa pria menatapnya dengan nanar.
"Kapan kami dibebaskan?" tanya salah satu pria muda yang agak berani.
Pria tersebut melepas masker dan topinya. Dia adalah Marcell, orang yang berada di balik Sistem Kekayaan Hacker. "Kalian mau bebas?"
"Iya, tentu kami semua ingin bebas. Bebas dari tempat ini, bebas dari tugas retas yang tidak berkesudahan yang Kau beri kepada kami. Tentu saja bebas darimu yang mengecoh kami semua, mengaku sebagai Sistem yang membuat kami kaya raya. Tetapi nyata nya?"
Marcell menyunggingkan senyum tipis nan licik dari bibirnya. Mendekat pada tiga orang gadis yang saling berpelukan. Menarik dagu salah satu dari mereka. Menilik wajah gadis itu ke kiri dan ke kanan. Setelah itu menatap satu per satu penghuni ruang pengap tersebut.
"Jika kalian memang ingin bebas dari tempat ini, kalian harus bisa menangkap gadis hacker yang mencoba melarikan diri dariku."
Semua orang yang ada di dalam ruang tersebut menatap Marcell dengan nanar. Mereka adalah budak-budak hacker yang menjalani misi level ketiga. Namun, karena misi level ketiga adalah misi yang paling berat, membuat mereka tidak kunjung usai menyelesaikan semua misi yang diberi.
Akhirnya mereka mulai mencoba untuk melarikan diri. Namun nahas, dengan segala kecanggihan pelacak yang dimiliki Marcell, membuat mereka tertangkap dengan mudah.
"Bukan Kau bisa menangkapnya sendiri? Mengapa harus kami?"
"Kalian pikir kenapa? Dia yang belum menyelesaikan misi level dua saja, udah berani mempermainkan Marcello Aguesta. Sangat menarik bukan? Lebih menarik lagi jika seorang peretas menjalin hubungan dengan korbannya sendiri."
Semua yang ada di dalam ruangan tersebut terus mendengar penjelasan dari hacker buronan insternasional ini. Menjelaskan teknik untuk menangkap Aura.
__ADS_1
"Bagi yang duluan berhasil menangkap, dia akan saya bebaskan dari segala yang berhubungan dengan Sistem Kekayaan Hacker. Namun, bagi orang yang lainnya, siap-siap lah menggali kuburan kalian!"