
Aura memandang Reza, ternyata dia benar-benar serius mau memberikan nama itu kepada anak mereka. Ibu Aksa memandang wajah mungil tersebut, meski sama sekali tak mirip dengan anaknya, dia memeluk Aksa kecil dengan meneteskan air mata.
"Tante nginap di sini dulu. Esok kita ke sana, menemuinya." ucap Aura ikut memeluk ibu Aksa.
💖
"Sa, kenapa kamu berakhir di sini? hiks ... Bahkan untuk menemuimu saat terakhir kali pun Mama tak bisa. Pantas saja akhir-akhir ini Mama selalu mimpi kamu. Jika Mama tahu akan begini, Mama tak akan pernah mengizinkanmu untuk kuliah jauh dari kami."
Tubuh Ibu Aksa terguncang hebat, dan tangisannya terdengar sangat memilukan. Di sampingnya, ayah Aksa menepuk pundak menenangkan istri yang kehilangan sosok yang selalu dibanggakannya kepada seluruh orang yang mereka kenal.
"Ikhlas, Ma. Jika kamu menangis seperti ini, maka dia tak akan tenang di alam penantiannya."
Tubuh sang ibu masih bergetar hebat. Menggenggam tanah yang masih basah, menimbun putra hebatnya di bawah sana. Aura yang sedari tadi tertunduk, tak henti meneteskan air mata dalam diamnya. Semua kenangan bersama Aksa kembali terlintas dalam pikirannya.
Meski ragamu tidak lagi ada di sini, namun dirimu tetap hidup bersamaku. Terima kasih, Bang. Aku adalah wanita yang paling beruntung bisa mengenal dan pernah memilikimu, meski hanya untuk sesaat.
Beberapa waktu mereka berada di pusara, akhirnya mereka pergi meninggalkan tempat itu. Tak ada yang bisa dikatakan lagi oleh Aura. Semua hanya bisa melebur menjadi air mata.
Ibu Aksa mendatangi kosan Aksa yang ada di dekat kampusnya. Semua teman satu kos Aksa turut berduka cita atas kepergian Aksa yang sangat tiba-tiba. Yang mereka tahu, Aksa mendadak cuti dari kuliah untuk menangani masalah pekerjaan. Namun, setelah mendapat kabar duka tersebut, membuat semuanya menaruh setangkai bunga di depan pintu kamar Aksa.
Sang ibu melihat foto Aksa yang bersama Aura. Matanya nyalang mendapati beberapa benda Aksa tertempel fotonya bersama wanita yang beberapa waktu lalu bersamanya. Hal ini membuatnya terbakar amarah. Sehingga mengira bahwa Aura lah penyebab semua masalah ini.
"Jangan-jangan dia lah penyebab kepergian anak kita ini?"
"Sudah, sudah! Dia sudah tenang di alam sana. Kamu jangan membuatnya bersedih di alam penantian!"
"Tapi, Pa? Kenapa dia tidak mengatakan kepada kita, bahwa mereka sempat memiliki hubungan?"
__ADS_1
"Biar lah ... Mama jangan mengungkit segala hal yang telah berlalu. Saat ini dia sudah jadi istri orang lain. Biarkan mereka bahagia, dengan Aksara kecil yang ada bersama mereka."
Ibu Aksa menangis tersedu di atas ranjang yang biasa ditempati oleh Aksa. Ayah Aksa mengusap punggung sang istri tanpa berkata apa-apa lagi.
"Baaang, Abaang ganteng? Abaaang ganteng."
Terdengar sebuah suara tangisan dari seorang perempuan yang berasal dari arah luar. Beberapa anggota kos yang ada di sana melaporkan kepada orang tua Aksa. Bahwa gadis itu adalah gadis yang mengejar-ngejar Aksa akhir-akhir ini. Lalu orang tua Aksa menuju ke sana.
"Aaabaaang ... huhuhu ... kenapa Abang pergi tidak ajak-ajak Keken?" tangisnya berjongkok memainkan rumput di halaman kosan tersebut.
"Kamu kenal dengan Aksa?" Ibu Aksa mendekat ke arah gadis muda itu.
"Keken hampir jadi pacarnya," ucapnya spontan. Lalu dia bangkit melihat dua orang paruh baya yang ada di hadapanya.
"Om, Tante ini siapa? Kenapa kenal sama Abang gantengku?"
Tangis Keken semakin pecah. "Om ... Tante ... Keken suka sama Abang ganteng. Tapi abang gantengnya gak mau jadikan Keken sebagai istrinya. Padahal Keken sudah siap diajak nikah sama dia. Namun kenyataannya, selain menolak Keken, dia juga pergi untuk selamanya. Keken mau menyusul Abang genteng juga ..."
Ibu Aksa menarik tangan gadis muda nan belia itu. "Kamu ini masih sangat muda. Jangan karena satu orang pergi membuat kamu mengakhiri hidup. Kamu tahu, betapa pilunya hati orang tua melihat anaknya lebih dulu pergi meninggalkan mereka?"
Keken tampak sesegukan. Ibu Aksa mengusap air mata yang membanjiri pipi gadis muda itu. "Kamu boleh membawa satu benda milik anak kami, untuk menjadi kenangan mengingat dia pernah hadir dalam hidupmu."
Keken mengangguk, dia langsung menuju kamar Aksa. Ternyata dia menemukan foto Aksa dengan sang pacar bernama Aura. Di balik foto tersebut, tertulis nama lengkap Aura, kampus, jurusan, dan tahun angkatan.
Aku akan mencarinya.
Keken menyimpan foto tersebut. Bertekad untuk masuk ke tempat di mana Aura berkuliah juga.
__ADS_1
Setelah berpesan kepada penghuni kos di sana, mereka boleh mengambil benda milik Aksa yang tertinggal, mereka kembali ke kampung halaman, membawa segenggam tanah pusara Aksa, dan benda kenangan yang digunakan putra mereka.
💖
"Oek ... oeekk ... oooeekk ...." Aksara kecil menangis dalam pangkuan Aura. Namun, Aura terlihat tidak merespon seperti tak mendengar tangisan putra kecil mereka tersebut.
"Dinda ...." Aura masih mengawang dalam renungannya.
"Dinda ...?" Kali ini Reza meninggikan volume suaranya, namun masih belum terdengar oleh Aura.
Reza mencari sesuatu, dia menemukan sebuah tisu. Reza menggulung tisu tersebut, dan dilempar tepat mengenai hidung Aura. Dia gelagapan saat tersadar disambut oleh tangisan Aksa kecil. Lalu Aura menimang-nimang bayi mungil tersebut dan memberikan ASI kepada Aksa.
"Habis memikirkan apa? Kamu jadi sering merenung setelah kembali dari makam Aksara."
Aura menggelengkan kepala, pura-pura sibuk bermain dengan Aksa kecil. Setelah bayi mungil itu tertidur kembali, Aura bangkit dan meletakan Aksa di atas brangkar, di sisi kosong samping suaminya. Setelah itu dia memandang suasana di luar jendela.
Reza telah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Tak ada lagi alat yang melekat pada tubuhnya. Sehingga dia bisa lebih leluasa dalam bergerak dan bermain dengan buah hati mereka.
"Boy, kamu buruan besar gih. Masa kamu mulu yang mi mik? Ayah juga pengen, tau nggak?"
Reza mencoel pipi kemerahan putranya. Lalu melihat istrinya kembali merenung menatap pemandangan di luar ruangan tersebut. Reza mencoba bergerak turun, dia melangkahkan kakinya meski tubuh masih terasa berat. Dia langsung memeluk tubuh Aura dari belakang hingga istrinya merasa sangat terkejut.
"Kanda, udah kuat jalan?"
Reza mengangguk terus memeluk istrinya. "Saat kamu pergi ke pemakaman kemarin, dokter menyuruhku untuk mulai melatih otot tubuhku agar tidak kaku. Yaa, untuk ini. Untuk memberikanmu kejutan."
Aura memutar tubuhnya membenamkan wajahnya dalam dada Reza. "Aaagghh ...." ringis Reza masih merasakan ngilu mendapat tekanan pada dadanya.
__ADS_1
"Maaf, Kanda. Aku hanya lagi membutuhkan sebuah pelukan." ucap Aura ikut panik melihat suaminya kesakitan.