CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
160. Cukup pandang aku saja


__ADS_3

*Maaf cerita kali ini agak sedikit gaje.. Soalnya nulis dalam perjalanan panjang, 17 jam di atas bus lintas provinsi ... Jadi mohon maafkeun 🙏* 😅😅😅


Lalu panggilan masuk kembali pada ponsel Aura dari Reza. "Kamu sekarang ada di mana? Aku sudah ada di rumah!"


Aura masih merasa kesal, dia hanya menutup panggilan tersebut dan melanjutkan jalan bersama dengan Stella. Panggilan dari Reza masuk kembali secara bertubi-tubi, akhirnya dia memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hmmm ...." jawabnya dengan malas.


"Kenapa jawabnya lama?"


"Kenapa?"


"Dih, malah balik nanya lagi?"


"Lalu?"


"Jawab pertanyaanku! Sekarang kamu di mana? Katanya mau pulang?"


"Di kampus."


"Kenapa gak bilang?"


"Hmmm ...."


"Aku ke sana."


"Katanya sibuk?"


"Tunggu aku! Aku mau ganti style juga."


Aura mengerutkan keningnya. Dia membayangkan sang suami bergaya mahasiswa, dia terkekeh sendiri. Lalu Aura masuk kelas kuliah hari ini meski tidak membawa apa pun untuk perkuliahan. Dia menggunakan perekam pada aplikasi ponsel untuk menangkap materi hari ini.


Reza memberitahukan bahwa dia sudah berada di kampus. Aura hanya memberi pesan singkat, ada kuliah 3 SKS saat ini.


Setelah menunggu selama 150 menit, akhirnya Reza menemukan wajah istrinya yang masih terlihat pucat. Reza langsung menarik Aura dari sisi Stella.


"Aku bawa dulu ya?"


Stella hanya menjawab dengan wajah cemberutnya. Arga melihat siapa yang baru saja membawa Aura. Setelah itu Arga berjalan mendekat ke arah Aura.


"Bukan kah dia orang yang beberapa waktu lalu?" tanya Arga. Stella mengangguk.


"Apakah dia yang menjadi suami Aura?" Stella kembali mengangguk.

__ADS_1


"Berarti sekarang benar-benar tak ada kesempatan lagi buatku?"


Stella kembali menganggukan kepalanya. Arga balik kanan dengan wajah tertunduk. Stella melihat hal tersebut dengan bersidekap dada menggelengkan kepala.


"Kasihaaaan ..." celetuk Stella mirip irama bocah kembar dari Malaysia.


Aura menarik tangannya yang terus ditarik oleh Reza. "Kenapa sih? Sakit tau nggak?"


"Kamu ini yang kenapa? Bikin kesel aja tau nggak? Udah nyuruh-nyuruh aku mengusap kepala Aksa, kamu tanpa rasa segannya menatap wajah mantan. Apa kamu belum berhasil membuat dia hilang dari pikiranmu?"


Aura memutar tubuh bersidekap dada. "Sudah berapa kali aku bilang, ini bukan keinginan aku. Itu kemauan anak kamu."


"Bohong! Setelah itu malah pergi ke kampus diam-diam tanpa mengatakan apa-apa padaku." Aura hanya diam menghembuskan nafas dari mulutnya.


"Dinda, kamu itu istri aku. Semua kegiatan tentu harus dikasih tahu kepadaku. Biar aku tidak merasa khawatir." Aura masih diam tak berkata apa pun, memasang wajah cemberut.


"Apa kamu marah kepadaku? Seharusnya aku yang marah tau nggak? Kenapa harus Aksa? Kan ada Abizar atau pegawai lainnya yang bisa dengan leluasa aku usap! Bahkan mau diapakan malah suka-suka aku."


"Sudah lah! Aku capek berdebat. Sejuta kali pun aku mengatakan bahwa ini kemauan anak kamu, kamu tak akan percaya." Aura mulai melangkahkan kakinya.


Reza dengan cepat menarik istrinya masuk ke dalam pelukan. "Kamu jangan main kabur gitu. Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut."


"Lalu, kamu mau aku bagaimana?"


"Aku tu mau kamu hanya memandang aku seorang saja. Aku ini adalah pasangan halal kamu. Mau berapa kali pun kamu lihat, aku tak akan pernah berpaling."


"Kenapa kamu tidak mau menatap mataku seperti melihat Aksa tadi?"


Aura menggelengkan kepalanya. "Ya udah, maaf. Nanti biar kan saja anakmu ileran kalau udah lahir. Jangan salahkan aku jika itu semua terjadi."


"Itu hanya mitos. Lagian ileran itu jika ngidamnya dalam bentuk makanan. Bukan ngidam aneh seperti itu." Aura masih membuang muka memalingkan wajahnya.


Reza menarik sang istri kembali merasuki netra milik Aura. "Kali ini, untuk yang terakhir! Aku maafkan." Aura kembali memutar bola matanya.


"Masih ada kuliah?" Aura menggelengkan kepala.


"Kalau begitu, ayo temani aku. Dari tadi aku pengen banget makan sesuatu." Aura menganggukan kepala tanpa memberi sahutan.


Beberapa waktu kemudian, mereka berdua telah berada di outlet pizza. Ini adalah pan kedua Rezza menikmati pizzanya. Dia mengunyahnya dengan sangat lahap. Sementara Aura benar-benar kehilangan selera melihat makanan asal Italia tersebut.


"Ayo, Sayang. Makan dulu. Kamu pasti belum makan kan? Kasihan anak kita yang kamu ajak diet mulu."


Aura menggeleng, dia kehilangan selera melihat suaminya makan sudah seperti orang tidak makan selama sebulan. "Apa aku pernah mengatakan, bahwa aku tidak suka sama pizza?"

__ADS_1


"Ini, baru tahu aku. Ooohh, kalau aku doyang banget junk food ala-ala western ini. Terus kamu doyan apa? Apa kamu tidak mau makan ini itu gitu? Biasanya hamil muda itu suka minta yang aneh kan?"


Aura mengedikan bahunya. "Aku pengen apa ya?"


"Ayo katakan. Aku akan merasa sangat senang jika bisa memenuhi keinginan istriku saat ngidam."


Aura tampak mengawang. Dia terlihat memikir kan sesuatu. Sesaat kemudian tampak sudah memutuskan, namun dia kembali berpikir lagi.


"Ayo katakan, kamu mau apa!"


Aura menggelengkan kepalanya. "Gak usah, terlalu jauh. Tidak ada yang bisa membuatkannya untukku, di sini."


"Ayo katakan! Ayo kita berpetualang mencarinya. Pasti seru banget," desak Reza.


"Sudah aku bilang, tidak ada di sini."


"Emang kamu mau apa?"


"Aku lagi kangen masakan ibuku."


"Hmmmm ...???"


💖


💖


Pukul delapan malam Aura dan Reza menginjakan kakinya pada sebuah rumah yang sama sekali tak dikenal. "Berdasarkan posisinya memang seharusnya di sini." Aura kembali keluar dari pekarangan.


Dia mematut-matut mempertimbangkan sesuatu. "Emang harusnya di sini, tapi rumah ayah dan ibu tak terlihat sama sekali."


Reza menarik tangan istrinya menuju rumah yang sangat bagus. Rumah orang tua Aura yang jauh berbeda dari sebelumnya. Rumah kali ini sangat besar dan asri. Reza menekan bel rumah tersebut. Aura merangkulkan dirinya pada lengan Reza.


Tak beberapa lama, pintu dibuka oleh Angga, adik Aura. "Waah, Uni pulang?" sorak Angga.


Aura dan Reza langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah baru menggantikan rumah yang dulu hanya semi permanen dan sangat sempit. Tak lama seluruh anggota keluarga mereka telah berkumpul. Sementara Aura bercengkrama dengan ibunya di dapur.


"Kenapa kamu tidak mengatakan akan datang ke sini?" tanya sang ibu memasak makanan untuk Aura.


"Ini juga mendadak, Bu. Suami aku mengatakan ingin memenuhi keinginanku saat ngidam. Aku bilang kangen masakan ibu, dia malah langsung memesan tiket ke sini. Aku sendiri tidak menduga sama sekali."


Ibu tersenyum mendengar cerita Aura. "Syukur lah, ibu juga merasa bahagia saat kamu mendapat suami yang sangat memperhatikanmu."


Aura mengangguk. "Katanya dia akan memenuhi semua kebutuhan dan keinginanku jika mau hamil secepatnya. Dan saat ini aku sudah hamil."

__ADS_1


Ibu membalikan makanan yang sudah mateng di bagian bawah. "Sekarang ibu tidak perlu mengkhawatirkan nasib rumah tangga kalian. Reza menyayangimu seperti ini saja rasanya sudah cukup.


Kamu harus menjaga suamimu itu dengan baik. Sekarang banyak banget lho, wanita muda dengan sengaja menggaet pria yang sudah berumah tangga. Kayak si Tini, yang rumahnya di ujung jalan. Suaminya diambil oleh mahasiswi. Ada yang mengatakan apa itu namanya, su-sugar baby."


__ADS_2