
Mereka semua masuk ke ruang tersebut. Alangkah terbelalaknya mata mereka melihat siapa yang tengah berbaring di atas brangkar, sambil memainkan ponsel. Mata pasien tersebut pun membesar melihat siapa yang datang membezuk. Tangannya langsung menunjuk dengan mata membesar pada dua gadis yang terlihat kaget itu.
"Kaliaan?"
Stella menutup mulut dengan kedua tangannya, tak percaya bahwa Om Mesum adalah rekan kerja orang tuanya. Sementara Aura juga terheran, saat menyadari seorang yang menjadi rekan kerja papa Stella adalah Om Mesum.
Dalam pikirannya terus merangkai teka-teki identitas pria ini sebenarnya. Dia begini karena Mas Marcell beberapa waktu lalu kan? Aduh, kasihan sekali dia. Jadi dia lah rekan kerja kedua orang tua Stella? Apakah dia yang menjadi pimpinan Harmony Grup? Lalu pria yang waktu itu siapa?
"Apa kalian sudah saling mengenal Pak Reza?" tanya ayah Stella yang biasa dipanggil Mr. Lee.
'Pak Reza? Dia lah orangnya? Reza Firto Adijaya?' batin Aura. Aaah, padahal dia sedang sakit begini. Malah membuat dia makin terpuruk. Aura semakin merasa bersalah.
"Dia ini Om Mesum Appa," celetuk Stella.
Kening ayah Stella berkerut, "Kenapa Kamu bilang dia Om Mesum? Dia ini masih muda."
"Ekheem, saya masih muda! Bukan orang mesum juga! Menikah saja belum, jangan panggil saya Om-om!"
Seorang ibu setengah baya, terus memperhatikan mereka sedari tadi. Dia adalah ibu sang tuang muda, Reza. Memperhatikan anaknya yang terus memandang gadis berambut panjang. Tatapan Reza agak sedikit berbeda dibanding melihat yang lain.
'Siapa gadis ini?' batinnya.
Dari arah luar, muncul pria paruh baya. Pria itu terkejut melihat dua mahasiswanya telah berada di ruang rawat inap anaknya. Wajah pria itu berubah menjadi sedikit ramah kepada gadis berambut panjang.
"Pak Barrack?" sambut gadis berambut panjang.
"Kalian juga saling mengenal?" tanya Reza.
"Mereka ini mahasiswa Papa," ucap dosen tersebut berjalan ke samping brangkar, tempat Reza tengah bersandar.
'Walaaah, kacau ini, kacau banget.' batin Aura.
"Gadis berambut panjang ini yang mengantar Papa ke rumah sakit tempo hari itu lho?" ucap Pak Barrack.
Kening Reza sedikit berkerut, dia memang sempat melihat gadis mie instan berjalan dari arah rumah sakit universitas. Kembali menatap gadis berambut panjang itu. Aura yang merasa tatapan Reza sedikit aneh, mencoba membuang pandangannya ke tempat lain. Namun, malah melihat wanita paruh baya yang sedari tadi juga memperhatikannya. Aura menganggukan kepalanya. Wanita itu tersenyum, dan menurut Aura wanita itu terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Anda saat ini Pak Reza?" Mr. Lee kembali menanyakan, karena tidak mendapat jawaban sedari tadi.
"Oh, lumayan lah dibanding tadi pagi," ucap Reza. Tadi pagi kondisinya sempat d**own karena mendapat berita bisnis tradding yang dimilikinya anjlok.
"Saya turut prihatin atas segala yang menimpa Pak Reza. Namun, pribadi saya yakin bahwa perusahaan yang Anda pimpin tidak mungkin melakukan penyelewengan seperti apa yang telah dituduhkan kepada Anda. Perusahaan pusat kami sangat memercayai Harmony Grup. Semoga peretas tersebut bisa ditangkap dengan segera," ucap Mr. Lee.
Aura menelan salivanya melihat kondisi Om Mesum yang mengenaskan. Segala rasa tengah bercampur aduk. Jantungnya berdegup cepat karena takut ketahuan. Diliriknya Reza yang sedari tadi terus memandangnya, seakan mencoba membaca sesuatu pada dirinya.
"Seperti biasa Mr. Lee. Dalam dunia bisnis, pasti selalu ada masanya untuk naik, dan ada pula masanya untuk turun. Bisa dikatakan kali ini perusahaan kami sedang mengalami pasang surut. Hal ini sudah lumrah bukan?" ucap Reza berbesar hati. Namun masih menatap Aura dengan nanar.
"Ekhem, segitu amat melihat Auranya, Om?" celetuk Stella.
'Tumben sekali, untuk pertama kali kulihat dia berwibawa seperti ini.' batin Aura.
"Benar sekali Pak Reza. Setiap perusahaan akan mengalami masa berat dalam perjalanan usahanya. Tergantung bagaimana sikap pimpinan dalam menghadapi setiap masalah yang terjadi dalam perusahaannya." Mr. Lee juga menatap Reza dengan perasaan kagum, sesekali ikut melirik Aura. Dia mencoba-coba membaca pikiran Reza.
Aura dan Stella saling bertatapan. Mereka berdua merasa tidak percaya melihat Om Mesum ternyata seperti ini. Biasanya mereka menilai, Om Mesum hanya lelaki genit yang menyebalkan. Ternyata saat berhadapan dengan mitra bisnis, dia terlihat sangat berbeda.
"Jadi Kafe Harmony itu milik dia?" bisik Stella.
"Pantas saja dia seperti orang yang tidak memiliki pekerjaan tiap hari tepe-tepe di sana," bisik Stella lagi.
Aura teringat ucapan Jay tempo hari saat mengatakan bahwa pemilik kafe memberikan peluang untuknya bekerja paruh waktu di sana. Ada hal yang tersembunyi di balik itu semua.
"Ternyata kalian berdua cukup mengenal anak saya ternyata?" ucap Pak Barrack kembali.
"Oh, kami udah bertemu beberapa kali Pak. Kami tidak menyangka bertemu saat keadaannya seperti ini," jelas Stella.
"Kebetulan saya adalah ayah dari Stella, dan Pak Reza adalah mitra bisnis kami." Mr. Lee merangkul pundak Stella.
"Gadis yang di sebelah Stella adalah Aura, teman dari Stella. Saya tak menyangka hubungan kita satu sama lain jadi sedekat ini," jelas Mr. Lee kembali.
Reza sedari tadi terus memperhatikan Aura. Mencoba mengingat-ingat mata milik Aura. Dia merasa mata itu sangat mirip dengan maling yang mencoba menerobos perusahaannya.
Tidak mungkin gadis ini bukan? Masa mahasiswa Papa yang jadi pencuri itu?
__ADS_1
Antara Aura dan Reza terjadi tatapan panjang. Mereka berdua asik dengan pikiran masing-masing. Semua orang menyadari itu.
"Ekhemmm, masih belum usai saling tatapnya?" ucap Pak Barrack memecah suasana di antara mereka. Membuat dua orang tersebut gelagapan salah tingkah. Diam-diam Reza membidik wajah Aura dengan ponsel yang berada di tangannya. Berpura-pura tengah membaca sesuatu, pada telepon genggamnya itu.
"Sepertinya saya adalah orang yang paling tidak penting berada di sini. Oleh karena itu, lebih baik saya keluar saja. Lagi pula biasanya tidak boleh terlalu ramai saat membesuk orang yang opname bukan?" ucap Aura mundur diri.
"Tunggu!" cegat Reza refleks.
Semua mata memandang ke arahnya. Terheran melihat reaksi pria ini. Reza yang menyadari tatapan aneh semua orang yang melihat ke arahnya ini kembali memikirkan alasan lain.
"Jangan Ra! Ngapain kamu di luar?" Stella menarik tangan Aura.
"Iya, ngapain di luar. Mending di sini saja ngadem," ucap Reza asal.
"Saya merasa tidak enak, bukan kah biasanya dilarang jika ada orang terlalu ramai di ruang perawatan?" ucap Aura melepas tangan Stella.
"Ekheem, Aurora Safitri, mari kita ngobrol di luar saja!" ajak Pak Barrack. Pria berprofesi sebagai dosen tersebut memilih keluar terlebih dahulu. Aura manut mengikuti orang yang dihormatinya keluar. Reza masih memilah-milah wajah Aura dalam ingatannya.
Pak Barrack terus berjalan keluar dari bangunan menuju balkon rumah sakit ini. Mereka tengah berada di lantai tiga. Memandang keadaan di luar rumah sakit, ditemani angin sepoi-sepoi yang menerpa mereka di sana.
"Apa hubunganmu dengan anak saya Reza?"
AYO SINGGAH DI KARYA TEMEN OTHOR YAA 😇
Ayreen Anatasya A'Morra harus kembali dari masa pelatihannya setelah dipanggil sang kakek. Ayree mendapati sang kakek telah terbujur kaku dengan memegang liontin ruby dengan ukiran rumit dan sebuah surat wasiat. Surat wasiat yang berisikan perintah bahwa Ayreen diminta untuk menerima perjodohan yang sudah dibuat sang kakek dengan sahabatnya. Orang tua Ayreen meninggal ketika dia berusia satu bulan. Bayi yang masih polos harus menerima kenyataan pahit itu. Tetapi ada misteri dibalik kematian orang tuanya. Ayreen tumbuh menjadi gadis luar biasa menjadi ratu yang sangat mendominasi. Keano Nataniel Wicaksana, tinggi 182cm.Memiliki temperamen luar biasa. Pria cacat yang harus duduk di korsi roda diakibatkan kecelakaan yang menimpanya.Tuan muda keluarga besar, salah satu dari 5 keluarga besar. Dia adalah pengusaha dunia bisnis dan tertampan namun misterius. Bagaimana bila sang ratu dominan disandingkan dengan Keano? Akankah Ayreen bisa menjalankan perannya dengan baik sesuai wasiat sang kakek?
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
__ADS_1