CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
145. Diculik


__ADS_3

Ketukan pintu itu, membuat Reza menjadi kesal. Dia ingin mengacuhkannya saja, namun ketukan itu kembali terdengar. Sementara dia dan Aura tengah sedang tidak mengenakan sehelai benang pun. Reza segera menutupi tubuh indah itu dengan selimut.


Reza masuk ke dalam kamar mandi, mencari handuk kimono yang tadi digunakan usai mandi. Dengan perasaan kesal, Reza membuka pintu tersebut. Reza melihat seseorang berpakaian pegawai hotel mengenakan masker dan kaca mata sedang menyodorkan sebuah tas.


"Maaf, Pak. Saya sudah mengganggu kenyamanan Anda. Tadi ada tamu yang menitipkan travel bag ini kepada kami. Katanya untuk diserahkan pada pelanggan bernama Reza Firto Adijaya dan istri."


Kening Reza mengerut. Mencoba memikirkan siapa yang mengirimkan travel bag ini. Reza membuka tas tersebut, ternyata berisi pakaian miliknya dan Aura.


"Ke mana orang yang mengantarkannya? Kenapa tidak dia sendiri yang membawakan untuk saya?"


"Oh, hotel kami melarang tamu yang tidak berkepentingan datang berkunjung. Oleh sebab itu, kami menawarkan jasa agar pihak hotel saja yang mengantarkannya langsung pada pelanggan. Jadi, saya lah yang mendapat tugas untuk mengantarkannya langsung." Mata pegawai hotel ini terlihat liar mencari sesuatu yang ada di dalam kamar ini.


"Apa yang kau lihat? Kenapa tidak sopan begitu?" Suara Reza terdengar dingin.


"Maaf, Pak. Silakan lanjutkan kembali dengan apa yang sedang terjadi!"


Pegawai hotel tersebut beranjak dengan senyuman tipis. Sementara di pojok bangunan hotel tersebut tampak sosok Jono meringkuk terikat. Mulutnya dibekap oleh lakban bewarna hitam.


Reza merasakan ada sesuatu yang berdetak dari dalam tas tersebut. Tas tersebut diguncang, namun tak terdengar apa-apa. Aura melihat ekspresi aneh pada wajah suaminya.


"Kanda, Ada apa?"


"Ini tas yang aku pinta untuk dibawakan ke sini. Anehnya tidak dibawakan langsung oleh Jono. Apa benar, ada hotel yang melarang orang untuk mengantarkan sesuatu kepada customer?"


Aura hanya mengedikan bahu. Reza mengeluarkan beberapa lembar pakaian. Pakaian yang disiapkan oleh bibi berupa pakaian formal. Reza juga mengeluarkan gaun yang disiapkan untuk Aura.


"Sepertinya habis ini Bibi nyuruh kita berdansa," gumam Reza menepuk keningnya. Pakaian tersebut diletakan di atas sofa kecil dekat ranjang.


"Ini kita gunakan setelah tempur aja, Sayang." Reza meletakan tas tadi ke dalam lemari. Namun, pintu lemari tidak ditutup dengan sempurna. Reza kembali naik ke atas ranjang dengan kasur empuk, ikut bersembunyi di dalam selimut.


"Sayang, ini kok makin kenceng aja?"


💖


Perkuliahan telah membuat Aksa sibuk dan tidak memikirkan waktu kembali. Dia mendapat tugas istimewa oleh dosen pembimbing sebagai asisten pendamping bagi teman sejawatnya.


Biasanya, waktu yang dihabiskan mulai pagi hingga malam, benar-benar hanyap untuk bekerja. Saat di kosan, pekerjaan dari Harmony harus diselesaikan hingga batas waktu 23.59.59 waktu setempat. Membuatnya bisa melepaskan sejenak segala hal yang dipikirkan tentang Aura.


Panggilan dari Stella masuk saat dia sedang bekerja untuk Harmony. Karena pekerjaannya masih belum selesai, Aksa mengabaikan panggilan tersebut. Beberapa detik kemudian, panggilan dari Stella kembali masuk.


Ada apa ya?

__ADS_1


Aksa mengecek waktu yang sudah hampir tenggat date line untuk operasional sistem yang akan diaktifkan untuk esok hari. Aksa melihat kemajuan aplilasi driver online tampak cukup pesat. Apalagi platform Harmony memberi banyak promo bagi para pengguna layanan.


Sebulan terakhir, perusahaan itu berhasil menggaet kembali driver yang vacum karena masalah yang dibuat oleh Aura dan Sistem. Setelah semua kembali beroperasi dengan baik, aplikasi ini menjadi aplikasi driver online yang paling digemari oleh curtomer dan driver-nya. Ditambah bonus bagi driver pling tinggi dibanding platform lain.


Panggilan ketiga dari Stella membuat Aksa akhirnya menjawab panggilan tersebut.


"Iya, La? Ada apa? Tumben menelepon?"


"Enggak, aku hanya bingung mau nelpon siapa."


"Bukan kah Kamu udah punya pacar?"


"Iya, tapi ... hmmmm ..."


"Ada masalah?"


"Ya, aku menganggap hubungan kami telah berakhir. Walau belum ada pernyataan secara langsung akhirnya sih. Aku bingung bagaimana cara mengakhirinya."


"Apa kamu masih cinta dengannya?"


"Entah lah, aku juga merasa ragu. Kakak sendiri dulu bagaimana rasanya saat semua berakhir dengan Aura?"


"Ekheeemmm." Aksa tersedak mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Stella.


"Uhuk-huk-huk ... sepertinya kita pikirkan cerita lain saja."


💖


Aura dan Reza baru saja menyelesaikan hajat setelah satu bulan lebih berpuasanya. Mereka berencana akan makan malam di restoran hotel. Pakaian yang diberikan ternyata sangat cocok dengan yang disiapkan oleh Bibi.


Meski pakaian yang dikenakan sangat cantik, Aura tak memoles wajahnya sedikit pun. "Kenapa tidak dandan, Sayang?"


"Aku tak membawa peralatan." Aura hanya menyisir rambut basahnya dengan jemari.


"Siapa tau Bibi menyelipkan sisir dan make up punya kamu di dalam tas tadi ya?" Reza mendekati lemari di mana travel bag tadi diletakan.


Semakin mendekat arah lemari, semakin tercium aroma yang tidak mengenakan. Saat lemari dibuka, tampak kepulan asap putih memutar dan masuk ke rongga pernapasan Reza. Seketika kepalanya pusing.


"Dinda, keluar lah! Jangan mendekat!" teriaknya.


bruugghh

__ADS_1


Reza jatuh terkulai tak sadarkan diri. Aura berlari mengejar Reza.


"Kanda!"


Aura mengguncang tubuh Reza. Aroma helium yang sangat kuat berasal dari dalam lemari ikut terhirup olehnya. Aura pun ikut jatuh tak sadarkan diri.


Seseorang melihat waktu pada jam tangannya. Lalu mengeluarkan sebuah kartu tanda kunci pass keluar masuk kamar customer yang dimiliki oleh karyawan hotel.


"Kamu, bawa trolley itu!"


Seseorang mengikutinya di belakang membawa troli pengangkut makanan. Mereka berjalan perlahan menuju kamar di mana dua orang pingsan tadi berada. Salah satu dari mereka menempelkan kunci pass dan pintu bisa dibuka dengan mudah.


Dari dalam troley tadi, salah satunya mengeluarkan kipas angin portabel. Kipas tersebut digunakan untuk mengusir gas helium yang mulai memenuhi ruangan. Setelah melihat dua orang tadi, salah satunya menarik kaki Reza. Diikat untuk dimasukan ke kolong troley yang ditutupi oleh kain.


Sementara yang satunya lagi, menulis sebuah surat. Surat tersebut diletakan di atas perut Aura lalu mereka bersiap untuk pergi.


"Tunggu!" ucap salah satu dari mereka.


"Apa lagi?"


Jendra bergerak memindahkan Aura ke tempat yang memiliki udara yang bersih. "Nanti dia bisa mati jika dibiarkan terus menghirup gas helium itu!" ujar Jendra lalu mendorong troley di mana Reza disembunyikan.


Marcell tersenyum tipis melihat Aura yang masih tak sadarkan diri. Lalu mengikuti langkah Jendra yang mendorong troley pengangkut makanan bagi tamu hotel tersebut.


Pintu ditutup kembali dan mereka membawa Reza pergi. Membiarkan Aura sendirian dalam keadaan tak sadarkan diri.


Jika cara menculikmu tidak berhasil, mungkin dengan cara ini akan membuatmu luluh ....


Marcell membawa Reza ke persembunyiannya yang baru. Mereka mengikat sang big boss muda itu. Lalu menunggu pria tersebut sadar dari tidurnya. Setelah beberapa jam, Reza mulai membuka mata secara perlahan. Mendapati dirinya yang terikat di ruang gelap.



💖


💖


💖


Kuuuuyyy... mampir lagi ya Kak


napen: Asyfa

__ADS_1


judul: Aku di Antara Mereka



__ADS_2