
Sepulang kampus hari sebelumnya, Stella mengajak Aura mengunjungi dokter kandungan, untuk memastikan praduga akan kehamilannya. Saat diperiksa, usia kehamilan Aura berdasarkan masa periode terakhir telah memasuki usia enam minggu.
Aura memandang kepergian suaminya hingga terus menghilang. Dengan perasaan sendu, dia mengelus perut hendak kembali masuk ke kamar untuk mempersiapkan diri ke kampus.
"Hmmm, enak nih pagi-pagi dapat tontonan syuuuurr di depan kosan. Kenapa tidak sekalian sosor-sosorannya?"
Langkah Aura terhenti mendengar ucapan seseorang yang baru saja berdiri di belakangnya. Aura memutar tubuhnya menantang kembali orang yang terus saja menyebarkan rumor di kosan ini.
"Jadi dugaan kami semua benar ya? Kamu jadi simpanan mas-mas yang tadi? Terus ketahuan sama bininya?"
Aura bersidekap dada menatap dia yang belum kapok mencari masalah dengannya. Aura memperhatikan semua mata menadangnya remeh. Aura ingin mengetahui, apa yang telah mereka pikirkan tentang dirinya.
"Jika iya, kenapa?"
Wajah orang-orang tersebut tampak sedikit tersentak. Mereka tak menyangka Aura sama sekali tak gentar meski hanya sendirian di sana.
"Jika bukan, juga kenapa? Apa itu semua mengganggu kalian semua? Ada yang bisa bantu aku untuk menjelaskan, mengganggu kalian di bagian mana?"
Orang-orang itu terlihat bingung. Yang ada Aura hanya mengurung diri saat kembali ke rumah indekos ini. Bahkan mereka seperti tak menyadari ada orang di dalam kamarnya yang hanya sunyi.
"Kalau sudah menemukan jawaban, kalian boleh mengetuk pintu kamarku untuk mengutarakan langsung kepadaku. Namun, jika memang tak ada jawaban, pliiiss! Jangan usik aku! Aku tak akan segan pada orang yang berani mengganggu ketenanganku!"
Para penonton tampak sedikit tergidik karena ketakutan. Mereka melihat sendiri bagaimana ganasnya gadis ini. Aura kembali ke kamar mempersiapkan diri untuk kuliah pagi.
Reza kembali menuju kendaraannya yang tengah terparkir. Seseorang melihat langkahnya terus menjauh dari area itu. Dia bergantian memandang ke arah rumah kos, di mana posisi Nona Hacker tersebut bersembunyi selama ini.
Cerdas kali kau Nona, di saat tempat itu tak terpikirkan lagi, ternyata kamu malah kembali ke sini. Aaah, kamu tak perlu kembali padanya!
Sepanjang perjalanan menuju ke kantornya, Reza terus memikirkan Aura. Wajah istrinya terlihat sangat sayu, tubuhnya semakin kurus bagai daun yang mengering. Ditambah morning sickness yang melandanya.
Reza memikirkan kembali apa yang diucapkan Aura, tadi. Membuka ponselnya mencari pesan yang dimaksud oleh sang istri. Cukup banyak pesan yang harus dilewatinya hingga menemukan pesan yang tidak terbaca menuju pesan bulan lalu.
"Lhoh? Ternyata dia mengirim pesan?"
Reza membaca isi pesan dari korban Aura. Gigi Reza bergemeletuk merasa kesal membaca isi pesan yang telah membuat istrinya salah paham. Namun, ada sedikit hal yang membuatnya bersyukur. Dia mengetahui bahwa Aura cemburu karena pesan itu.
__ADS_1
"Jadi, ini lah yang telah membuat kami terpisah?"
Reza memulas senyuman di bibirnya. Tiba-tiba dia memiliki sebuah rencana demi kelanjutan kisah mereka. Setelah itu, Reza menekan layar di ponsel segera menghubungi Abizar.
"Tolong gantikan saya hari ini. Jika ada jadwal meeting, cancel aja! Saya akan menyelesaikan urusan dengan Dinda."
Reza menatap Jono yang masih serius menyetir. "Jo, kita balik ke rumah!"
"Ke rumah tuan? Baik lah, saya akan segera berbalik arah."
Reza menyembunyikan senyumannya membayangkan sesuatu rencana yang ada di dalam otaknya. Reza mengganti pakaian kerjanya dengan oblong dilapisi hodie. Wajahnya ditutupi masker dan kacamata, sambil menyandang ransel bergaya selayaknya mahasiswa pada umumnya.
Reza mengeluarkan motor dan melajukan motor tersebut menuju kampus istrinya. Reza segera duduk di bangku-bangku tempat mahasiswa menunggu dosen masuk kelas. Matanya liar melihat ke segala sisi. Mencari sosok perempuan yang tadi tampak sangat kacau dan sangat kurus.
Akhirnya, setelah menunggu setengah jam dia melihat Aura, istrinya yang tercinta. Di belakang, ada seorang pria muda yang terus mengikuti setiap langkahnya. Reza mengernyitkan dahinya berasa ingin menonjok mahasiswa tersebut.
Aura berjalan sendirian seolah tak memedulikan siapa yang ada di belakangnya. Reza mendorong cowok yang mengikuti dia, menggantikan posisi mengikuti sang istri di belakang. Reza ikut duduk masuk ke dalam kelas. Memilih posisi di belakang Aura yang memilih duduk di area belakang.
Stella baru saja memasuki ruang kelas. Matanya liar mencari posisi duduk Aura. Akhirnya dia melihat Aura yang sedang menopangkan kepalanya pada meja yang ada di depannya. Stella menangkap hal aneh pada seseorang yang duduk di belakang Aura.
Seseorang yang ada di belakang, tampak sedang berpantomim ingin memeluk Aura yang tampak tak ada daya. Seorang yang bertubuh tinggi mengenakan hodi, masker, dan kaca mata, sehingga Stella tidak bisa mengetahuo siapa sosok aneh tersebut.
"Hei, Mesum! Kau mau apa hah?"
Reza terkesiap, dan memperbaiki posisi agar orang yang tiba-tiba berada di sisinya, tak melanjutkan kecurigaannya. Reza pura-pura membuka tas, menangkap buku yang asal dibawanya.
Mata Stella semakin nanar melihat benda yang dibuka Reza. Sedangkan orang yang membuka terus melihat Aura menopang kepala terlihat begitu lelah. Satu persatu mahasiswa yang duduk di dekat Reza mulai gaduh melihat benda yang tengah mengembangkan sesuatu yang mengundang.
"Hei, Mesum! Lu ini bego beneran apa pura-pura bego?"
Reza melirik sahabat istrinya ini. Lalu sekitar Stella juga tampak mahasiswa yang fokus melihat ke arah benda yang dipegangnya. Reza pun melihat buku tersebut kaget menyadari bahwa yang dipegangnya adalah majalah dewasa yang dibelinya semenjak Aura menghilang.
Reza segera menyimpan dan mencari sesuatu lain di dalam tas. Sialnya tak ada buku lain yang dibawanya selain benda yang berisi foto mengundang kaum lelaki itu. Reza lalu membuang muka berisdekap dada, menghindari tatapan Stella.
Dosen masuk untuk memulai perkuliahan. Melihat ada yang memasang hodie di dalam kuliah, sang dosen meminta untuk segera menurunkan hodie tersebut. Reza terpaksa menurunkan, membuat Stella semakin heran melihat pria yang mengenakan masker di sampingnya ini.
__ADS_1
"Haattccciimm ..."
"Haaatccciiimmm!"
Reza berpura-pura menggosok hidungnya. Stella menggeser bangkunya agar memberi jarak dengan pria penyakitan yang mesum itu. Perkuliahan membosankan bagi Reza dimulai. Akhirnya dia ikut menopang kepala menunggu waktu perkuliahan usai.
"Ekheeem! Yang menggunakan hodie tadi!" Suara dosen terdengar ditujukan untuk dirinya.
Aura ikut menoleh ke arah belakang, mengerutkan kening. Dia merasa pria yang ada di belakangnya ini sangat mirip dengan sang suami. Namun, Aura yang sedang tidak merasa nyaman, memilih menopang kepalanya lagi tak memedulikan siapa pun itu.
"Tolong jelaskan secara umum mengenai akuntansi anggaran pada materi yang telah kita pelajari pada minggu lalu!"
💖
💖
💖
kuy kakak-kakak, baca karya sobat Author yang kece badai ini juga yaaa ...
Napen: Senja_90
Judul: Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
blurb:
Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga.
Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.
Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.
Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.
Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?
__ADS_1
Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!