CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
54. Tak bisa membencinya


__ADS_3

"Oh ya udah! Terima kasih." Aura tidak jadi masuk ke kamar kosnya. Memilih memutar arah dan mengejar kekasihnya.


...bbrrraaaakk...


Terdengar suara benturan keras dari arah jalan raya depan gang menuju kosannya. Aura berlari sekencangnya melihat kejadian tersebut. Dia khawatir jika drama sinetron televisi juga terjadi pada Aksa. Suasana ramai dan hiruk pikuk terjadi di sekitar sana, karena banyak warga turut untuk melihat kecelakaan tersebut. Sebuah angkutan kota ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil sport.


Mata Aura terbelalak mendapati pemilik kendaraan pribadi itu. Namun ada rasa syukur, korbannya bukan Aksa. Pengendara mobil sport tersebut adalah orang menyebalkan yang meninggalkannya di sebuah hotel beberapa waktu lalu. Supir angkot keluar dari tempatnya dengan wajah masam. Berjalan ke arah pengendara mobil sport tersebut.


"Keluar!" bentak supir itu. Penumpang angkutan umum yang ditabrak juga ikutan keluar hendak turut melabrak pria ini.


Melihat kecelakaan yang tidak penting baginya, Aura memilih untuk melanjutkan pencarian. Dia melangkahkan kaki kembali untuk mencari seseorang yang sudah dirindukan. Mata gadis itu liar melihat ke segala sisi di sekitar sana. Tak menunggu dengan lama, kakinya kembali bergerak mencari Aksa ke tempat lain.


Sementara, netra pengendara mobil sport tersebut menangkap sosok yang tidak memedulikan keberadaannya. Tujuannya ke tempat ini memang untuk memantau kondisi gadis itu. Dengan tiba-tiba dia kehilangan kontak Aura, dan signal GPS-nya pun ikut menghilang.


Demi mempersingkat masalah --tanpa mengatakan apa-apa-- Marcell mengeluarkan isi dari dalam dompet miliknya. Pria ini, menyerahkan uang tersebut kepada supir dan penumpang yang hendak mengeluarkan jurus marah-marah. Sehingga mulut mereka bungkam dan terbelalak melihat uang yang berada di tangan mereka.


Marcell segera mencari gadis hacker-nya itu. Dia mencoba mengikuti kemana arah Aura tadi melangkah. Namun, bayangannya sudah tak tampak lagi.


"Mau main-main denganku, Nona?" desisnya. Kembali masuk ke dalam mobilnya yang sudah reot.


Di rumah sakit, Reza merasa sepi setelah ditinggal oleh gadis tadi. Tangannya merasa enggan untuk menghubungi keluarganya. Dia memeriksa notis yang kembali masuk pada ponselnya. Masih beberapa email pembatalan kontrak kerja sama dengan perusahaannya. Amarah kembali muncul dalam hatinya.


"Seharusnya mereka berdua kupenjarakan dengan segera. Namun, melihat wajahnya ..., aaakhh, kenapa harus kepadanya? Bahkan pacar-pacarku yang lain, lebih pantas untuk dicinta," rutuknya.


Namun, matany memandang bangku kosong yang tadi diduduki oleh gadis mie instan. Membayangkan segala macam ekspressi yang dilihatnya sedari pagi. Melihat jemarinya yang digenggam beberapa saat oleh tangan gadis itu. Menaruhnya di dada, dekat jantungnya.


"Sepertinya, aku tidak bisa membencinya."


💖


💖


💖


Aura masih bergerak ke sana ke mari mencari sosok Aksa. Pria yang disukainya semenjak duduk di bangku SMA. Namun, dia tidak memiliki alat untuk menghubungi Aksa. Dia teringat, masih memiliki telepon genggam yang bisa digunakan. Namun, kartu SIM kontak miliknya sudah dipindah pada ponsel yang baru.


"Bahkan, aku tidak memiliki uang untuk membeli kartu perdana yang baru," ringisnya karena kesal.


Aura berlari kembali menuju rumah kos-nya. Mobil yang bertabrakan tadi, sudah tidak ditemukan lagi. Aura melanjutkan lari memasuki gang rumah indekosnya berada. Dia baru menyadari bahwa kunci kamar pun tidak ada. Pemilik rumah kos ini berada di tempat yang jauh. Hal ini memaksanya untuk mencongkel jendela, mempraktikan ilmu maling yang dia pelajari dari Marni, Detektif Muda. Saat Aura mencongkel jendela kamar, membuatnya menjadi perhatian beberapa penghuni di sana.


"Siapa itu?" hardik salah satu yang melihat dari jauh.


Aura melengok sembari mengembangkan cengiran di bibirnya. "Ini aku Kak Fan!"


"Lhooo? Kenapa? Kok mencongkel jendela?"


Aura menegakan tubuhnya. Berjalan ke arah penghuni kos yang dipanggil dengan Kak Fan itu. "Kemarin aku dijambret Kak. Tas-ku dibawa kabur. Semuanya dibawa oleh maling itu, termasuk kunci kamar ini."


Kak Fan menganggukan kepalanya. "Kalau dicongkel-congkel gak jelas begitu, ya nggak bisa! Aku akan ambil peralatan yang cocok untuk aksi pura-pura jadi maling ini. Kamu tunggu sebentar yaaa!"


Aura mengangguk dan mencoba mencongkel-congkel kembali. Tak lama Kak Fan muncul dengan membawa peralatan linggis dan palu. Netra Aura tampak membesar melihat peralatan tersebut.


"Kalau jadi maling, harus all out sekalian!"


Akhirnya mereka berjibaku merusak jendela kamar tersebut. Setelah sepuluh menitan mereka mencongkel, akhirnya jendela itu terbuka dengan lebar. Mereka berdua bersorak dan saling tos.


"Kita sudah bisa mencongkel rumah orang kaya yang lain nih," sorak Aura.


"Huusshh!" kata Kak Fan tak setuju.

__ADS_1


"Canda kok Kak. Makasi yaa udah nolongin aku."


"Terus nanti keluar masuknya bagaimana?" tanya Kak Fan.


"Itu kita pikirkan nanti saja Kak! Sekarang, aku ingin mengambil benda-benda yang sangat penting yang ada di dalam sana. Ini menyangkut hidup dan matiku." Aura mulai memanjat jendela tersebut.


"Jiiiaahh, lebaay ... Ati-ati aja pas naik dan turunnya! Takutnya malah disangka maling beneran sama tetangga."


"Oke, Kak. Aku mau masuk dan membersihkan diri dulu yah? Sekali lagi terima kasih yaaa ...." Aura telah berada di dalam kamarnya, melambaikan tangan kepada Kak Fan, lalu mengunci kembali jendela tersebut. Mencari ponsel jadul miliknya dulu. Namun, kebiasaan buruk saat ada yang baru, dia lalai akan benda yang dianggap sudah tidak berguna. Ponsel monophone tersebut tidak berhasil ditemukan.


💖


Di rumah sakit, Reza mengotak-atik ponselnya. Tiba-tiba dia merencanakan sesuatu untuk membuat gadis hacker tersebut tunduk padanya. Reza mennghubungi Abizar.


"Kamu sudah menghubungi orang yang bernama Aksara itu Zar?"


"Belum Boss, ada apa Boss?"


"Jika kamu sudah berhasil menghubunginya, Kamu harus segera menghubungiku. Ada hal penting yang ingin aku katakan padanya. Sebentar lagi aku akan ke kantor!"


"Baik Boss!"


Reza segera melepaskan alat-alat yang melekat pada tubuhnya. Bergerak turun dari brangkar, meski ada sedikit nyeri yang tersisa di dadanya. Tak lama, terdengar getaran yang datang dari ponsel yang terletak di atas nakas. Panggilan tersebut kembali datang dari Abizar. Dia segera menjawab panggilan tersebut.


"Halo, bagaimana?"


"Wah, kebetulan orangnya sedang tidak jauh dari sini Boss. Katanya akan segera mampir."


"Wah kebetulan sekali. Bagus lah, kalau begitu. Saya bisa berbicara langsung dengannya."


"Mau bicarakan apa Boss?"


"Bukan urusanmu!" Reza segera menutup panggilan itu. Tanpa berpikir lagi, dia segera mengganti pakaiannya.


💖


Gadis itu menyelesaikan semua urusan yang ada di hari yang sama. Menutup akun tabungan yang lama, membuka tabungan baru, dan saat ini sudah memegang ATM yang baru. Tidak hanya itu, di tangannya sudah ada kartu kredit yang ditawarkan oleh CS bank, karena melihat saldo Aura yang cukup besar.


"Berasa jadi orang kaya saat memegang benda ini," ucapnya dengan wajah sumringah.


Berhubung masih berada di bank, Aura segera mengirimkan 75% dana yang dia miliki kepada orang tuanya. Dia sengaja tidak memberitahukan kepada mereka, agar tidak memperpanjang pertanyaan dari orang tuanya. Tidak hanya itu, dia mengambil sejumlah uang untuk membeli ponsel yang baru.


Ternyata begini rasanya jika punya banyak duit. Jika hilang, tinggal beli yang baru. Biar aja lah benda sitaan itu untuk Om Mesum saja. Anggap sebagai ganti rugi untuk sementara. Sebelum berhasil meminta data-data tersebut pada Tuan Sistem.


Aura segera menghubungi Aksa. Kontak lelaki itu sudah hapal di luar kepala. Namun, entah kenapa cowok tersebut belum juga menjawab panggilan darinya. Lalu gadis itu mengirim pesan pada Aksa, memberitahukan bahwa ini adalah kontaknya yang baru. Tak lama, langsung masuk panggilan dari Aksa.


Aura menggeser tanda hijau dan langsung menjawabnya, "Hallo Bang."


"Wah, Ra ... Akhirnya Kamu menghubungi juga. Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja kan?" Suara orang di seberang terdengar penuh kekhawatiran.


"Sebenarnya ada sesuatu yang terjadi. Namun saat ini semuanya baik-baik saja. Sekarang kamu ada dimana?"


"Kamu tahu, aku sudah mencarimu hingga ke rumah kosmu. Tidak hanya itu, aku juga sudah berkeliling nyari Kamu kemana-mana tau nggak?"


"Iya, maaf. Kejadian itu di luar kendaliku. Sekarang kirim lokasimu! Biar aku segera menyusulmu ke sana."


"Tunggu sebentar, pihak Harmony menghubungiku. Berhubung tidak terlalu jauh, aku mampir dulu ya? Nanti akum hubungi kembali."


"Mereka memanggilmu?"

__ADS_1


"Iya, katanya ada hal penting yang harus dibicarakan. Jadi biar aku mampir ke sana sekalian."


"Jangan! Tak usah ke sana!"


"Kenapa?"


"Pokoknya tidak usah!"


"Tapi aku sudah berada tepat di lobi kantor ini. Sayang sekali jika masih menunda-nunda urusan ini kan?"


"Tapi Bang---"


"Nanti aku hubungi lagi. Yang penting saat ini Kamu baik-baik saja. Itu sudah membuatku lega. Daah!"


Panggilan telah ditutup begitu saja. Aura teringat pada pria di rumah sakit tadi. Aura memesan ojek online untuk segera kembali ke rumah sakit. Dia sudah menduga, hal ini pasti mengenai pembicaraan tadi pagi.


"Bang, ayo ngebuut!" Gadis itu menepuk-nepuk lengan driver ojol karena gemas.


"Bah! Sabar dikit lah!"


Dialek keras driver ojol tersebut membuat gadis ini terhenyak. Menciut duduk di belakang dengan perasaan kalut. Mulutnya mencabik, karena dongkol dan kesal sendiri.


"Iya, buruan Bang! Saya lagi buru-buru sekali, pliiiss..."


"Ya! Saya sudah berusaha! Kamu diam saja! Jangan membuat kepala saya pusing!" Masih dengan dialeknya yang kental.


Lalu driver ojol tersebut melewati celah-celah kecil yang ada. Menyalip kendaraan lain, dan akhirnya terbebas dari kemacetan. Driver tersebut melesat dengan kilat hingga akhirnya sampai di rumah sakit tujuan.


"Makasih ya Bang!" Aura membayar ongkos beserta tip sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.


Gadis itu berlari melewati koridor rumah sakit itu. Tak lama, security rumah sakit ikut berlari mengejarnya. Melihat dikejar security, gadis itu makin mempercepat larinya.


"Mbak, Mbak! Berhenti!" teriak security tersebut agar gadis ini tidak terus berlari.


Namun teriakan security tersebut tidak terdengar jelas olehnya. Dia terus berlari hingga tepat berada di depan pintu perawatan intensif, tempat dia meninggalkan Om Mesum tadi. Security beehasil mendekati gadis itu.


"Mbak, kenapa larinya malah makin cepat?" Security terengah memegang kedua lututnya.


"Ada apa Pak? Apakah saya melakukan kesalahan, hingga dikejar-kejar seperti ini?"


Security tersebut masih terengah mencoba mengatur pernapasan. Tubuh mereka semua dibanjiri keringat sebesar biji jagung. Beberapa saat kemudian, setelah berhasil mengatur napas, security tersebut membesarkan matanya.


"Apa kamu tidak membaca peraturan yang ada di depan?"


Aura memutar bola matanya, mengira-ngira peraturan seperti apa. "Yang mana ya Pak?" menggaruk pelipisnya, serta menyeka keringat yang terus mengalir di bagian lehernya.


"Dilarang berlarian di koridor, lobi, dan bagian penting rumah sakit lainnya. Hal itu bisa mengganggu kenyamanan pengunjung, dan nakes yang tengah bertugas."


Aura membesarkan mata, dan mulutnya membulat karena menganga. "Maaf Pak, saya lagi buru-buru. Jadinya saya tak sempat membaca peraturan tersebut. Saya pikir tadi apa, kenapa saya dikejar-kejar seperti itu. Makanya saya berlari makin cepat. Maaf ya, Pak" sengir gadis itu.


"Ya udah, kalau begitu kami maafkan! Lain kali jangan pernah berlarian di area pelayanan umum seperti ini." Bersiap meninggalkan gadis itu.


Aura mengangguk, "Baik Pak, sekali lagi saya mohon maaf."


Security itu pergi, dan Aura membuka handle pintu ruang tempat dia meninggalkan Om Mesum tadi. Dia berencana ingin bernegosiasi kembali dengan pria itu. Namun, ternyata ....


"Siiiaaaalll ...." Dia langsung balik kanan dan berlari kembali.


__ADS_1



Liana adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga sederhana, sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan biasa di kantor tempat ia bekerja. suatu hari semua karyawan mendapat undangan untuk menghadiri acara pernikahan bos muda, tanpa terkecuali. Liana adalah salah satu karyawan yang hadir di acara itu. Diacara yang sangat mewah itu tiba-tiba seorang laki-laki yang tidak Liana kenali secara tiba-tiba menariknya secara paksa, hingga tubuh Liana sedikit terseret. Liana yang sebenarnya bisa bela diri memilih untuk tidak melakukan perlawanan karena ia tidak ingin membuat keributan di acara penting bagi bosnya itu. Liana dipaksa untuk menjadi pengganti pengantin wanita yang telah pergi melarikan diri.


__ADS_2