CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
57. Maling teriak maling


__ADS_3

Aksa sedang berdiri di luar jendela, menunggu Aura mengambil peralatan perangnya. Laptop diserahkan kepada Aksa, dan dia kembali memanjat jendela.


"Wooi! Ngapain lu pade? Maling ya?" hardik seorang berbadan tambun yang kebetulan lewat. Dia melihat aksi gadis itu keluar masuk salah satu kamar di rumah indekos tersebut.


"Bukan! Bukan!" elak Aksa, menyambut Aura yang akan turun.


Orang tadi berjalan dengan langkah garang mendekati mereka. Merebut laptop yang ada di tangan Aksa. "Ini apa hah?" hardiknya.


Aura merebut kembali dari tangan pria bertubuh tambun berwajah seperti preman. "Ini punya saya!" bentaknya tak kalah garang, dengan mata mendelik.


"Heh, cewek! Lu berani juga jadi maling siang bolong di sini!" Dengan suara bariton miliknya.


"Heh, Om? Kalau nuduh itu kudu ada bukti dulu! Ini main nyalahin orang seenak aja? Ini punya saya! Saya beli sendiri! Sedangkan jendela ini, adalah jendela kamar kosan yang saya sewa!"


Orang tersebut merebut kembali laptop itu, "Hah, alasan lu aja! Biar saya lihat dulu!" Laptop tersebut ditilik bolak balik. Dia jalan mundur dengan perlahan menjauh dari mereka. Lalu membalikan badan dan laptop tersebut dibawa kabur.


Kedua orang tadi masih bingung dengan apa yang terjadi. Terjeda beberapa detik, baru mereka sadar apa yang terjadi. Langsung berlari mengejar orang tadi yang membawa kabur laptop milik gadis itu.


"Woooii, maling teriak maling yaaa!" teriak Aura sambil mengejar orang tersebut. Kaki Aura yang pendek, membuat dia jauh tertinggal dari yang lain. Sementara Aksa telah berhasil menyusul tepat berada di belakang maling tersebut. Tubuh ringan dan kaki yang panjang membuat dia mampu berlari dengan cepat. Aksa mencoba menjangkau maling yang terus berlari dengan kencang.


Aksa melihat ada sebongkah kayu yang tergeletak di pinggir jalan. Dia berhenti sejenak mengambil benda itu. Melempar kayu tersebut ke arah kakinya. Membuat maling tersebut tersungkur jatuh bersama laptop yang ada di tangannya.


Aksa menepuk jidat menyadari kesalahan dalam perhitungannya. Dia segera mengambil laptop tersebut. Memeriksa benda yang tadi ikut jatuh tertimpa oleh maling. Aksa menarik orang itu dan mendorongnya berjalan di depan.


Akhirnya Aura sampai, mengambil laptop yang ada di tangan Aksa. Pacarnya jadi leluasa untuk memutar tangan maling itu ke belakang. Aura membolak-balikan laptop tersebut yang sudah terlihat banyak goresan.


"Ini kenapa Bang?"


"Tadi orang ini jatuh! Laptopnya ikutan terjatuh," jelas Aksa, melompati alasan mengapa pria ini terjatuh.


"Lalu dia mau diapain?"


"Ya kita kasih ke pos polisi saja."

__ADS_1


Aura menghentikan langkahnya. Menatap laki-laki yang sedang dikunci oleh Aksa dari atas hingga ke bawah. Aura menarik lengan Aksa dari belakang. Cowok itu pun menoleh, gadis ini menggelengkan kepala.


"Nggak usah. Lepasin aja! Waktu kita mepet untuk mengurus yang lain. Lebih baik kita cek benda ini dulu. Apakah masih berfungsi atau tidak."


Aksa mendorong maling tadi, dan dia langsung lari tunggang langgang. Aksa hanya menggelengkan kepala atas modus yang dilakukan oleh pria tambun tersebut. Aksa melihat sebuah toko bangunan, dan menarik Aura menuju tempat itu.


"Buat apa?" tanya Aura heran.


"Lihat aja!"


Ternyata Aksa membeli beberapa peralatan seperti linggis, sepasang handle pintu, beberapa peralatan lainnya. Aksa menggandeng tangan Aura menuju ke rumah kos tersebut.


"Kamarmu yang mana?" Setelah ditunjukan, Aksa mengganti gagang pintu tersebut. Dengan cekatan cowok itu menyelesaikan semua dengan cepat.


"Nah, setelah ini Kamu tak perlu lagi keluar masuk lewat jendela seperti tadi."


Penghuni kos yang memperhatikan Aksa, ikut merasa kagum melihat cowok tampan nan cekatan seperti itu. "Ra, dapet dimana ni cowok seperti ini?" celetuk salah satu dari yang menonton.


"Eiits, jangan diliatin terus! Nanti jatuh cinta beneran!" canda Kak Fan yang tadi turut menolong Aura.


Pintu kembali dikunci, Aura mengajak Aksa duduk di teras depan untuk mengecek laptop tadi. Apakah masih bisa beroperasi dengan baik atau tidak. Dia menekan tombol power, menunjukan tanda-tanda menyala. Setelah berada di laman dekstop, sedikit demi sedikit demi sedikit muncul garis horizontal bewarna putih. Makin lama jumlahnya semakin banyak. Sehingga layar LCD pada laptop tersebut menjadi putih semua.


"Yaaah, beneran rusak. Bagaimana caranya agar aku bisa mengeceknya kembali?"


"Kita service aja!" ajak Aksa. "Lagian sudah aku katakan dari dulu. Jangan main-main dengan perusahaan besar. Akhirnya jadi begini kan?"


Aura hanya tertunduk lesu. Nasi sudah menjadi bubur. "Maaf, aku terpaksa."


"Hmmm, aku takut kehilangan Kamu. Bagiku lebih baik jika aku dipenjara, daripada Kamu berakhir dengannya?"


Aura merasa semakin bingung. Harapannya satu-satunya pada benda ini telah pupus. "Biar aku yang dipenjara. Karena aku lah yang memulai semuanya."


Tiba-tiba dia teringat sosok Marcell yang dia abaikan tadi. Menyesali atas tindakan mengacuhkan mantan partner-nya itu. 'Setidaknya, aku bisa meminta dia untuk memberitahukan aku bagaimana cara menghubungi Tuan Sistem.'

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan?" Aksa melambaikan telapak tangannya di hadapan kedua netra milik Aura.


"Aku hanya mulai menyesali segala keteledoran dan ketidakpedulianku akan suatu hal. Seandainya aku berpikir berkali-kali, mungkin semua tak akan seperti ini." Aura menopang dagu pada salah satu tangannya.


Aksa bangkit, mengangkat laptop tersebut, lalu menarik Aura untuk ikut berdiri tegak. "Dari pada menghabiskan waktu, lebih baik kita coba dulu untuk service benda ini. Semoga bisa selesai dengan cepat."


Aura mengangguk mengikuti langkah Aksa. Mereka berdua menuju tempat dimana membeli benda ini. Meski garansinya tidak berlaku pada kerusakan kali ini, setidaknya bisa menemukan LCD yang cocok untuk merek laptop yang sama.


Pegawai yang memperbaiki laptop tersebut, menjanjikan untuk menyelesaikan reparasi laptop milik Aura ini secepatnya. Dia menyuruh agar mereka kembali setelah pukul delapan malam.


"Waah, malam juga? Jadi harus kembali lagi?" tanya Aura.


"Aku tidak akan pulang sebelum semua urusan ini selesai. Kamu tak perlu merasa khawatir. Aku akan menemani hingga semua beres!"


Aura memulas bibirnya dengan senyuman. Merasa bangga memiliki seorang yang bisa diandalkan. Namun, perasaan lapar datang melanda. Hari ini baru mengisi perut dengan sepotong roti. "Bang, udah makan?"


"Oh iya, karena semua masalah ini, kita tak sempat untuk mengisi perut. Ayo, kita cari makan dulu. Anggap aja ini kencan yang tertunda semenjak terakhir kali kita bertemu."


Aura membenarkan apa yang dikatakan pacarnya ini. Namun, suasana hati yang dihadapi tentu berbeda. Kala itu, semua terasa enteng tanpa masalah membuat semuanya terasa menyenangkan. Jika kencan di saat semua masalah datang mendera, tentu rasanya akan berbeda.


"Baik lah, semoga kita bisa menikmatinya. Tapi aku ingin kembali ke kosan sejenak."


Aksa melirik gadis itu, "Kenapa harus balik ke sana dulu? Bukan kah kita bisa menghemat waktu seefisien mungkin, jika langsung berangkat?"


"Ada yang ketinggalan," jawab gadis itu singkat.


Akhirnya Aksa pasrah mengikuti keinginan sang pacar. Saat berjalan di gang sempit menuju kosan, tiba-tiba ada yang menarik Aura dengan kasar.


"Mau lari kemana Kau, Nona?"


Mari mampir juga pada cerita berikut ini, tak kalah seru lhoo


__ADS_1


...*Bersambuang*...


...Jangan lupa tinggalkan jejak yaaahh... Love You All...


__ADS_2