CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
123. H*kuman


__ADS_3

*Setelah sekian kali edit, dan banyak yang dihapus, akhirnya lolos juga 🤣🤣🤣 Othor tidak cakap menulis 21+ ternyata*


Aura terbangun dari tidurnya saat suana sudah temaram menuju malam. Dia terbangun karena mendengar suara tooth pada keyboard laptop berdecit karena ditekan dengan cepat oleh seseorang. Dia mendapati pria yang tadi mendiaminya tengah mengerjakan sesuatu pada meja kerja yang ada di kamar mereka.


Aura bangkit, saat ini keadaannya yang sudah terasa lebih baik dari pada tadi pagi. Suaminya melihat dia yang terbangun sejenak, tanpa berkata apa-apa kembali melanjutkan pekerjaan. Aura bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Usai membersihkan diri, Aura hanya melewati Reza yang terus bersikap cuek tanpa mengatakan satu apa pun. tiba-tiba sang suami melayangkan kecupan pada bagian indah di belakangnya.


Reza langsung memeluk dari belakang. Memberikan kecupan demi kecupan tiada henti, sehingga Aura terkesiap mendapatkan s*rangan cinta yang mendadak seperti ini.


"Eh-ah, Kandah kenapah tibah-tibah beginih?"


Reza menarik handuk istrinya itu. Dia kembali menciptakan tanda baru di atas tanda lama yang sudah mulai memudar. "Kamu akan menerima hukuman malam ini juga!" Kembali melanjutkan aktifitasnya.


"Malamh inih? aaah, a-akuh belumh siaph!" Aura tidak bisa berbicara dengan baik karena s*rangan bertubi-tubi dari sang suami.


Reza kembali mencoba mengangkat istrinya. Entah seperti kekuatan dari mana, kali rasa sakit di dadanya seperti menghilang. Reza melanjutkan aksinya, membuktikan bahwa dia seorang lelaki sejati.


"Bagaimana keadaan jahitannya Kanda?"


Reza masih tak menjawab, langsung mem bung kam mu lut Aura dengan c*uman yang d*lam. Beberapa lama menikmatinya, Reza berpindah pada bagian favoritnya.


Hukuman kali ini membuat Aura benar-benar terhanyut. Dia tidak bisa melawan, hanya bisa pasrah. Karena ini sudah masuk ke dalam kontrak yang telah mereka sepakati dulu.

__ADS_1


"Ka-kan-dah ... Kamuh yakinh?" Aura terus meng ge liat saat Reza bermain di bagian pa ha nya.


Reza tak menjawab, hatinya masih merasa panas. Teringat mata Aura yang tak putus memandang Aksa tadi pagi. Hal ini membuat akal sehatnya hilang. Dia mengi-nginkan semua milik Aura menjadi mi-liknya di malam ini juga. Keduanya telah sama-sama p*l*s, Reza ingin berbuka semenjak puasa yang teramat panjang.


"Ingat kata Dokter! Masih beberapa minggu lagi!" Aura terus mencoba untuk menghindar.


Namun ditahan, karena semua otot tu buhnya telah mene gang ingin mele paskan semua. Reza kembali menjadi vampir pada l*her jen jang istrinya. Sedangkan tangannya terus memainkan mi lik Aura. Aura b*rg*tar, dia tak pernah merasakan sen sasi seperti ini sebelumnya.


Reza melihat istrinya sudah merasa siap. Menem pel kan s*njata yang sudah lama merindukan tuan nya. Namun, ponsel Reza berbunyi menandakan ada panggilan. Rahang Reza mengeras karena kesal. Dia tak memedulikan itu. Melanjutkan untuk mene robos rumah yang masih terkunci dan tersegel dengan rapat.


Terdengar lagi panggilan yang sama. Konsentrasinya mulai pecah. "ck" Reza berdecak kesal. Turun dari posisinya yang tadi berada di atas Aura. Namun tangannya masih membe lai benda ke nyal yang ada di da da istrinya.


Suara panggilan berbunyi kembali. Terdengar ketukan dari arah luar.


Mood untuk melanjutkan hukuman benar-benar telah hancur. Reza bangkit menyelimuti istrinya. Dia langsung memakai han duk Aura yang tadi, untuk menu tupi tu buh ba gian ba wah nya.


"Ya, Bi," jawabnya singkat.


Reza mengambil ponsel itu, alisnya terangkat membaca nama yang tak biasa kali ini mencoba menghubunginya. "Detektif Devan?" Dia menatap ke arah Aura.


Aura langsung duduk sembari meme luk selimut. "Stella kan pacaran dengan dia? Coba angkat! Aku tiba-tiba merasa sangat khawatir."


Reza menggeser tombol hijau. "Halo," ucapnya tak sabar.

__ADS_1


"Ekhem, Pak Reza, maaf mengganggu."


Reza melihat wajah cantik istrinya yang berada di dalam selimut. "Ya, syukur lah kalau sadar udah mengganggu di saat genting begini. Ada apa?"


"Oh-oh, maaf Pak. Apa saya boleh meminta nomor kontak hacker yang dulu meretas perusahaan Anda?"


Kening Reza kembali berkerut. Dia teringat, teman-teman istrinya memang tak tahu bahwa dia belum menikah. "Kenapa Kau tanya-tanya dia?"


"Soalnya saya ingat Stella mengatakan kalian sedang pacaran."


Tiba-tiba Reza tersenyum kecut. Melihat pacar cantik yang hampir saja dibuka segelnya. "Kenapa dengan dia?"


"Saya mendapat telepon dari orang tua Stella. Kata mereka, Stella menghilang dan tidak bisa dihubungi seharian ini. Kata orang tuanya, Stella pamit untuk menemui Aura ke kosan."


Kening Reza berkerut. Dia mengubah panggilan mode speaker. Duduk di dekat istrinya, lalu menyugar rambut Aura yang acak-acakan masih dalam keadaan basah.


"Siapa tahu saat ini Stella bersama Aura? Boleh minta kontaknya? Tenang saja! Aura itu bukan tipe saya! Saya tidak akan mengambilnya!"


Aura memandang Reza dengan wajah penuh tanda tanya. "Halo, Kak Devan. Apa yang terjadi dengan Stella?"


"Lhoh? Jadi kalian lagi berduaan? Lalu Stella ke mana ya? Apa Kamu ketemu Stella hari ini?"


Aura menggenggam tangan Reza. Wajahnya masih bertanya pada sang suami atas apa yang tengah terjadi. "Aku seharian ini di rumah. Belum ketemu dengan Stella."

__ADS_1


"Tadi kata orang tuanya, Stella ke kosan kamu lho?"


__ADS_2