
"Sebenarnya aku tak sengaja tercemplung ke dalam dunia penjahat."
Mata Aksa menajam terfokus pada Aura, "Maksudnya?"
"Sekarang aku ini--"
"Ngomong apaan sih? Lebih baik kita nikmati kue ini!" sela Aksa. "Ini juga sebagai perayaan karena aku berhasil lolos menjadi tim baru Harmony Grup dalam program bisnis barunya."
Mata Aura membesar, "Harmony punya bisnis baru lagi?"
Aksa mengangguk, sambil memotongkan kue untuk Aura dan menyuapkannya pada gadis itu. Wajah Aura yang mendapat perlakuan manis itu kembali merona. "Aku bisa sendiri," ucapnya mengambil kue tersebut dengan tangannya.
"Kamu mau menemaniku malam ini? Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu!"
"Ma-maksudnya?" Aura seketika gugup. Membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Kamu jangan takut!" Aksa mengambil laptop miliknya. "Aku hanya ingin bekerja membuat program baru yang akan aku usulkan pada Harmony Grup nanti." Aksa duduk di atas kasur dan membuka laptopnya.
Aura menikmati kue tart yang jarang sekali dicobanya selama ini. Ini kali pertama merasakan ulang tahun selama hidupnya. Sebelumnya, dia tidak pernah merayakan ulang tahun sama sekali. Makanya dia tidak pernah mengingat sama sekali hari istimewa itu. Ternyata, kali ini sangat berbeda. Merayakan ulang tahun bersama pria yang disayanginya, di dalam kamar hotel. Ini tak pernah ada dalam bayangannya sama sekali.
Aksa tengah asik dengan laptopnya. Aura pindah duduk di atas kasur di sebelah Aksa. Melihat apa yang tengah dilakukan pacarnya itu. Matanya membesar, melihat Aksa tengah membuka sistem DOS, mengetik dan memasukan rumus ciptaannya untuk program yang sedang dibuatnya.
"Jadi aku diajak ke sini hanya untuk melihatmu mengerjakan ini?" Mencubit pipi kekasihnya itu dengan gemas.
"Soalnya batas pengiriman surel ini, tengah malam ini. Tadi aku belum sempat mengerjakannya. Tak mungkin aku mengerjakannya saat di kereta kan? Lalu waktu pun habis untuk membuat persiapan kejutan ini." Aksa masih fokus mengetik rumus-rumus ciptaannya.
"Hmmm, kalau tahu begini aku pasti membawa ponselku. Bermain sosmed hingga aku ketiduran."
__ADS_1
Aksa mengangkat kepalanya, "Oh iya. Aku baru mengecek sosmedku. Kamu bikin akun yang baru? Aku lihat tanpa keterangan dan tanpa foto sama sekali. Aku cari yang lama sudah nggak ada. Kenapa dihapus?"
"Oooh, itu. Aku hanya berhati-hati saja. Semakin ke sini aku semakin memahami bahwa informasi pribadi tidak boleh kita umbar di laman sosial media. Hal ini sangat rawan, apalagi jika ada yang melakukan penyelewengan pada akun kita tersebut. Akhir-akhir ini sering sekali hacker tidak beradap memanipulasi informasi dan foto milik pengguna laman sosial media kan?" jelas Aura.
Aksa merangkul bahu Aura. Lalu nenarik kepala Aura untuk bersandar di bahunya. "Anak pinter. Walau sebenarnya aku lebih senang memperhatikan gambar-gambarmu yang ada di sana sih. Namun, apa yang kamu katakan memang tepat sekali. Gak apa lah, meski tidak melihat foto-fotomu lagi. Yang pnting sekarang ini aku bisa melihat orangnya secara langsung bukan?" Kembali mengetik susunan huruf dan angka pada laman DOS tersebut.
"Ternyata sempet juga ya nengok-nengok sosmedku?"
"Yaa, kadang kala saat benar-benar tidak ada yang harus aku lakukan, aku pasti mengecek sosmed. Bertegur sapa dengan kawan-kawan lama di kampung halaman. Membagikan konten-konten bermanfaat, dan mengecek kabar seorang cewek yang selalu aku pikirkan." Mengelus pipi Aura sejenak, lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Oh ya, kalau kamu bosan, kamu mainin ponselku saja!" tambahnya.
"Ya boleh dong. Apa yang enggak sih buat kamu?" Menyerahkan ponselnya, "Paswordnya baru aku ganti jadi tanggal kita jadian kemarin."
Aura langsung terperangah, "Waaau, ternyata Kamu manis banget iih," celetuknya. Aksa hanya menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan pekerjaan.
Hal yang diperiksanya yang pertama kali adalah galeri. Dia ingin melihat kumpulan foto milik cowok itu. Dia terkekeh melihat tangkapan-tangkapan aneh dari cowok itu. Berpindah ke folder lain, berjudul 'Dia.' Hal itu membuat Aura penasaran.
Alangkah terkejutnya gadis itu, menemukan foto-foto masa SMA-nya dulu. Semua foto ditangkap dari posisi yang jauh. Ketika dia masih mengenakan seragam putih abu-abu.
"Bang ...."
"Hmmm," Aksa masih asik dengan pekerjaanya.
__ADS_1
"Diam-diam menangkap poto orang lain itu dipidana lho?"
Aksa langsung melirik ke gadis yang memegang ponselnya. "Terus memeriksa dokumen orang lain tanpa izin tidak ada sanksi?" Merebut ponselnya kembali.
"Pinjam dulu!" rajuknya.
"Habis, Kamu dikasih pinjam malah banyak tingkah? Jangan diperiksa lagi galeriku! Nanti kamu lihat yang aneh-aneh malah protes lagi?" Menyerahkan ponselnya kembali.
"Habis, aku kaget aja. Aku sendiri tidak memiliki foto masa SMA. Kamu malah banyak menyimpannya diam-diam." Kembali diperhatikan foto tersebut. Memegang pipinya, " Ternyata dulu aku seimut ini," celetuknya terkekeh sendiri. Itu poto saat dia masih kelas sepuluh. Aksa dua tingkat di atasnya, duduk di bangku kelas dua belas.
Aksa tak menanggapi masih sibuk dengan pekerjaannya. Lama kelamaan suara Aura semakin tidak terdengar. Aksa benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya, membuat program yang diminta oleh Harmony Grup, berakhir pada pukul 23.59 WIB.
Setelah mengirim surel tersebut ke email milik Harmony Grup, dia melihat gadis itu telah lelap dalam tidurnya. Tangan kekasihnya itu masih memeluk ponsel miliknya.
"Aku bilang tunggu aku, biar kita habiskan waktu bersama!" Aksa menyugar rambut yang menutupi wajah Aura. Diam-diam, dia mengecup bibir gadis itu. Menyelimutinya, dan tidur di sisi lain dibatasi oleh guling.
...💖...
...💖...
...💖...
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
__ADS_1