CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
153. Taruhan


__ADS_3

... Bagi vote dan hadiahnya dunk kakak... πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


"Romi? Hacker?"


Aura merasa sangat terkejut mendengar nama itu. Romi adalah salah satu hacker yang diidolakannya. Bahkan Aura memiliki buku yang ditulis oleh pria itu.


Aura beralih pindah menatap ke arah Stella. Kali ini mata Stella sudah berbinar kagum melihat Romi yang juga terlihat tampan. Romi mengedipkan matanya kepada Stella, mengetahui gadis muda itu tak henti menatapnya.


"Ekheeemm, aku laporin pada Sabrina, ya?"


"Ekhem, ini bukan salahku," ucap Romi mendelit. Romi mencari kursi untuk dia bisa duduk dengan tenang.


"Kamu itu Romi yang nulis buku tentang dunia peretasan, bukan?" tanya Aura dengan mata berbinar juga.


"Iya, kok kamu tahu?"


"Waaah, aku punya buku yang kamu tulis lho, Kak? Satu lagi buku yang ditulis oleh seseorang bernama Stevan Rusdi."


"Ekheeemmm," sela Via. Semua itu nama-nama orang yang ada di dekatnya.


Romi mengulum senyumnya di wajah yang dibuat sedemikian cool. "Jadi ada apa?"


"Begini, apa kamu mengenal permainan Sistem Kekayaan Hacker?" tanya Via.


Romi langsung teringat pada permainan itu. Tak jauh berbeda seperti game online yang dibuatnya untuk meraup kekayaan. Namun sistemnya berbeda. Sistem tersebut dibuat untuk mengeksploitasi tenaga yang dianggap bisa dimanfaatkan. Rata-rata, tenaga yang direkrut adalah para anak muda yang ahli di bidang IT.


"Ya, kenapa?"


"Nona yang bernama Aura ini tersandung masalah gara-gara sistem tersebut. Apa kamu mengenal seseorang yang bernama Marcell?"


Romi mengangguk. "Aku sangat mengenalnya. Seorang yang bodoh karena kecerdasan inteligensinya. Dia itu adik angkatku dulu saat kuliah," terangnya lagi.


"Apa kamu bisa membantuku untuk melacak keberadaannya?" tanya Via.


Ponsel Stella terdengar berdering. Dia meminta diri untuk keluar berbicara dengan seseorang yang meneleponnya itu. Aura masih mendengar penjelasan Romi tentang Marcell. Tak lama Stella kembali masuk dan membisikan sesuatu kepada Aura.


"Kak Aksa bersama Mas Abizar akan segera ke sini untuk menjemputmu."

__ADS_1


Mendengar nama Aksa disebut kembali, membuat mata Aura membesar. Dia kembali teringat suaminya, Reza meminta Abizar untuk memanggil mantan kekasihnya itu. Aura kembali duduk pura-pura tenang.


Mereka menyusun rencana untuk penyelidikan demi membuktikan bahwa suaminya, Reza, bukan lah orang yang bersalah. Namun, mereka harus menyusun rencana yang matang agar Marcell tak bisa kabur lagi. Dia orang yang sangat licin bagaikan belut.


"Kapten I Bagus Suska ya? Dia masih saja sama. Sembarangan menangkap orang seperti sepuluh tahun yang lalu," gumam Via menggelengkan kepala. Dia teringat kejadian saat dia masih sekolah.


"Sekarang dia pasti sudah cukup tua," tambahnya lagi.


πŸ’–


πŸ’–


Saat ini, Aura sedang duduk di bagian penumpang karena Abizar dan Aksa menjemputnya langsung ke rumah sakit. Aksa baru saja datang, dia dijemput oleh Abizar di stasiun kereta.


Kali ini Abizar yang merasakan suasana canggung di antara kedua orang yang pernah saling mencintai. Aksa duduk di sebelah Abizar menatap lurus ke depan. Aura terus melihat ke sisi samping jalan. Abizar pun hanya bisa hening merasakan suasana mencekam di dalam kendaraan ini.


Setelah perjalanan singkat yang berasa sangat panjang itu, akhirnya mereka sampai juga di kantor polisi. Dari kejauhan terdengar perdebatan antara Reza dan seseorang dari pihak kepolisian.


"Bagaimana caranya agar saya meyakinkan Anda agar kalian percaya bahwa pelakunya bukan saya. Saat kami meninggalkan mereka, keduanya masih dalam keadaan tertidur!"


"Di sana ada CCTV, kalian boleh mengecek CCTV yang ada di sana!"


Kapten I Bagus Suska menaikan bibirnya sebelah. Seolah muak atas pembelaan diri Reza. "CCTV itu sudah tidak aktif semenjak 24 jam sebelum peristiwa pem bu nuhan. Saya harap Anda bersikap dengan tenang! Kami hanya memeriksa Anda lebih lanjut."


Reza berdiri berjalan bolak-balik dan berhenti. Satu tangannya berada di pinggang, satu tangannya lagi mengusap dagunya dengan kasar. "Ini bukan pemeriksaan lanjut! Ini sudah menggiring saya untuk menjadi tersang ka!"


Aura menyerobot masuk ke ruangan khusus kepala penyelidik pihak kepolisian. "Kenapa Anda tidak percaya dengan apa yang kami jelaskan semenjak kemarin? Anda ini seolah sengaja berbelit-belit dan terus menyudutkan suami saya!"


"Kami akan membuktikan bahwa dia tidak bersalah! Jika dia tidak bersalah, apa yang akan Anda pertaruhkan?" Aura bersidekap dada mengang⁸kat wajahnya memandang Kapten tersebut dengan dingin.


Pria yang saat ini ditumbuhi brewok sekujur rahangnya itu berdecak. "Kau menantang saya ya? Kau membuatku teringat pada bocah tengil yang dulu mengatakan hal yang sama pada saya."


"Apa maksud Anda itu saya, Kapten?" Seorang wanita dengan percaya diri datang membuka kaca mata. Diiringi oleh beberapa orang yang mengenakan pakaian serba hitam.


"Via? Kamu udah sembuh?" Mata Kapten I Bagus Suska terbuka lebar.


"Saya akan turun tangan mengatasi masalah ini. Saya tadi mendengar ada taruhan di dalam ruangan ini. Jadi keputusannya gimana Kapten? Jika tersangka yang Anda tangkap, salah kembali seperti kasus waktu itu?"

__ADS_1


"Ekheeemm, hhmmm, apa maksudmu?"


Via melangkah semakin mendekat. "Apa boleh kami ditinggalkan untuk berbicara berdua saja?" ucap Via pada semua yang ada di dalam ruang kerja Kapten tersebut. Lalu yang lain keluar meninggalkan detektif Via dan pria arrogant tersebut.


Reza mengenal perempuan itu. Dia adalah adik dari suami Rini, adiknya yang nomor dua. Dia sempat menggoda Via dulu, saat keluarga Rini masih di negeri ini. Namun, yang dia dapat hanya sebuah pelintiran dan dikunci dari belakang.


Aura merangkul lengan Reza menenangkan suaminya. Pemandangan itu terus diperhatikan oleh Aksa. Beberapa waktu melihat itu membuat luka yang sempat ia lupakan kembali terbuka. Aksa melangkahkan kakinya keluar mencari angin segar. Aura menatap panjang kepergiannya.


"Kenapa kamu memanggil dia?"


Reza memperhatikan mata Aura yang tak putus memandang Aksa. "Kenapa? Kamu masih cinta sama dia?"


Ucapan Reza membuat Aura langsung menundukan pandangannya. Dia menggelengkan kepala. "Kamu jangan terus menyiksaku seperti ini. Kenapa kamu harus memanggilnya ke sini?"


Reza tidak menjawab, melepas rangkulan tangan Aura memilih duduk di bangku panjang yang tersedia di sana. Aura memilih duduk di bangku berbeda, menyandarkan kepalanya pada dinding di belakang bangku tersebut.


Beberapa pria berpakaian hitam hanya bisa sikut-sikutan tidak memahami situasi. Dino, Dery, dan Jason hanya bisa saling bertanya dan mengedikan bahu. Romi melirik Aura, yang dia ketahui menjadi seorang Hacker dadakan, ikut duduk di sampingnya.


"Kamu tenang saja, meski Via baru saja bangun dari komanya beberapa waktu lalu, saya yakin dia bisa mengatasi masalah yang tengah kalian alami ini."


Reza mengerutkan kening melihat pria yang tidak dikenal duduk di samping Aura, istrinya. Dia bangkit dan menyela duduk di antara mereka. "Ekhem, kalian membicarakan apa bisik-bisik begitu?"


Aura membuang muka, merasa kesal pada Reza. Lalu mereka semua hening kembali. Beberapa waktu kemudian, pintu terbuka, dan Via keluar dari ruangan tersebut.


"Ayooo, kita show time! Romi, kamu lacak pria bernama Marcell itu saat ini juga!"


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


kuy ... ayoo kakak semua mampir juga pada cerita ini. Ceritanya seru banget nii..


Pasti kenal sama penulis ini kaan


__ADS_1


__ADS_2