
Ooh, sekarang sudah mulai terang-terangan mengganggu gue ternyata?
Reza merencanakan sesuatu. Namun dia memilih untuk membersihkan diri, agar bisa berpikir dengan jernih. Hendak merencanakan apa. Sebelumnya, Reza meminta Abizar untuk membawa laptop miliknya yang terletak di kantor. Itu adalah alat perang andalan yang tak terganti, baginya.
💖
Saking berhati-hati pada identitasnya, Aura benar-benar menutup celah dirinya agar tidak terdeteksi oleh siapa pun. Bahkan untuk sekedar ke pasar pun, ia menggunakan hodie, masker, dan kacamata. Merasa menjadi buronan, seperti anime manusia karet yang dia tonton.
Untung saja pasar tradisional berada tidak terlalu jauh dari sana. Cukup dengan berjalan kaki, dia sudah bisa ke tempat yang bisa memenuhi kebutuhannya berdua dengan Reza. Setelah dirasa cukup, dia kembali dengan secepatnya.
Saat kembali, ternyata sang suami sudah tidak berada di dalam kamar. Terdengar suara siulan dari arah kamar mandi, menandakan orangnya sedang mandi. Aura segera menyiapkan semuanya dengan cekatan. Untuk pertama kali memasak sebagai seorang istri.
Reza tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Hmmm, wangi sekali. Pasti masakan istriku ini sangat lezat."
"Kanda udah selesai mandi? Tunggu bentar, semua akan siap dalam beberapa saat!"
Reza mengangguk dan mengacak rambut Aura. Dia duduk di salah satu bangku meja makan. Membaca pesan dari Abizar yang mengatakan bahwa dia sudah menuju ke appartemen membawakan laptop milik sang big boss.
...deeegh...
Tiba-tiba dadanya terasa sakit kembali. Dia mengintip sang istri masih asik bermain dengan peralatan dapur. Dia berpindah menuju kamar, dan meringkuk menahan sakit. Reza meminta kontak milik Aksa pada Abizar.
Tak lama setelah Abizar memberikan kontak Aksa, dia segera melakukan panggilan bersembunyi di dalam kamar mandi. Beberapa waktu panggilan belum diangkat.
Apakah dia mengenal kontak ini? Bukan kah aku belum pernah menghubunginya?
Reza mencoba menghubungi kembali, ketika hampir putus asa, akhirnya Aksa menjawab panggilan itu.
"Halo, maaf tadi saya agak sedikit repot. Kalau boleh tahu saya bicara dengan siapa?" jawab Aksa di seberang.
"Apakah Kamu benar-benar mencintai Aura?" tanya Reza langsung.
Aksa terdiam, seakan langsung tahu siapa orang yang meneleponnya ini. "Apa maksud Anda?"
Reza membicarakan hal penting mengenai apa yang sedang terjadi di antara mereka. Sementara, Aura yang menyudahi acara masak-memasaknya, mulai mencari Reza. Di segala sisi telah dicari, tetapi wajah sang suami tak tampak juga. Akhirnya dia mengetuk pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar.
__ADS_1
tok ... tok ... tok
"Ekheeem." Terdengar deheman Reza dari dalam.
"Aku tunggu di meja makan ya?" ucap Aura.
"Hmmm," jawab Reza. Setelah menyelesaikan obrolan, Reza segera duduk hendak menikmati makanan yang dibuat oleh Aura. Matanya terbelalak. Gadis ini memasak semua menu yang ada di rumah makan padang. Semua menu ada sentuhan sambelnya.
"Kamu mau buka warung nasi, Sayang?"
"Ooh, aku hanya mencoba memasak menu yang aku bisa. Sebelumnya, aku tak pernah memasak sendiri selama ngekos."
💖
Apa yang baru saja dikatakannya?
Aksa yang masih berada di kampus, meski sudah masuk waktu liburan, membuatnya ingin segera kembali ke rumah indekos yang dia tempati. Meski tadi sempat menolak, akhirnya dia mau menjalankan misi yang diberi oleh orang itu. Dia masih terikat kontrak kerja dengan Harmony Grup.
Setiap akan memasuki area kos-kosan, Aksa selalu merasa was-was. Merasa khawatir, tiba-tiba muncul gadis berseragam yang susah diajak bicara dengan baik-baik. Dia menengok jam sudah masuk pada waktu istirahat siang.
Aksa melirik ke segala sisi, dan memang belum tampak satu pun siswa sekolah yang pulang. Aksa segera mempercepat langkah kakinya. Berasa Neng Kunti mengintai di setiap waktu.
Akhirnya Aksa menginjak halaman rumah indekosnya, dan terdengar suara yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Aaabaaaang ... I'm comming!"
Gadis yang tidak diketahui namanya itu benar-benar hadir. Suara gadis itu pun terdengar sangat lantang menggema hingga ke dalam rumah yang dihuni oleh kaum adam tersebut. Aksa berencana ingin mengabaikannya saja dan terus masuk menuju kamar yang dia sewa.
"Aaabaaang ganteeeng!"
Suara gadis itu terus bersorak memanggil dia. Tampak Udin yang dulu sempat jadi bulan-bulanan Aksa mengernyitkan keningnya. Dia kembali melirik Aksa dari jauh.
Kenapa para gadis selalu ingin dekat dengan dia? Padahal wajahnya biasa aja. Gantengan gue juga kemana-mana.
Aksa seperti tampak benar-benar mengacuhkan gadis itu. Karena dia memiliki misi yang diberi oleh rival cintanya. Untuk membebaskan jerat hacker yang membelenggu Aura.
__ADS_1
"Aaabaaaang!" Teriakan gadis itu masih terdengar.
"Sa, itu cewek Lu ya?"
"Bukan!"
"Tapi dia manggil-manggil Lu tuh?" ucap seseorang yang menginap di kamar depan Aksa.
"Mungkin yang lain," jawab Aksa sekenanya.
"Soalnya semua orang tahu, panggilan Abang ganteng itu cuma Elu di sini. Yang lain mah panggilannya Aa, Mas, Kang, Kakak," tekannya.
Aksa hanya menggeleng sejenak, lalu balik lagi keluar menengok gadis yang sudah mirip tarzan yang teriak-teriak tak jelas. Melihat Aksa keluar lagi, gadis itu tampak melonjak dan berlari kecil mengejar Aksa.
"Akhirnya Abang ganteng keluar juga."
"Ada apa? Aku sedang sibuk. Kamu mainnya sama anak seumuran Kamu aja sanah! Aku mau menelepon pacarku dulu." Kembali Aksa menggunakan alasan pacar agar gadis itu menjauh.
"Udah, Abang jangan bohong terus. Kalau memang nggak punya pacar mah, jangan ngaku-ngakun atuh, Bang. Keken mau kok jadi pacar Abang."
Aksa menggelengkan kepalanya. Mengeluarkan foto saat berkencan dengan Aura dulu. Lalu memperlihatkan foto tersebut kepada gadis itu. "Kalau Kamu tidak percaya, Kamu boleh melihatnya sendiri!"
Gadis itu melihat foto-foto yang memamerkan kemesraan cowok yang ada di hadapannya dengan seorang gadis. "Bang, yakin ini pacarnya? Kayaknya cantikan aku, deh?"
Gadis itu terus membuka galeri hingga melihat, gadis yang diakui sebagai pacarnya ini sedang terlelap di atas kasur. Matanya membesar. Saat digeser lagi, tampak Aksa mengambil foto posisi mereka tidur di atas kasur yang sama. Mata gadis itu terlihat membulat.
"Ka-kalian udah tidur bersama?"
"Iya, dia juga lagi hamil anakku saat ini," ucapnya kembali berbohong.
Gadis SMA itu menyerahkan ponsel milik Aksa. "Huh, ternyata tampang memang gak bisa jadi patokan. Aku tu ngejar-ngejar Kamu gara-gara terlihat alim dan baik. Ternyata sama saja! Dasar Kadal!" rutuknya pergi meninggalkan cowok itu yang sedari tadi mengulum senyumnya.
"Maafkan aku, Ra. Tapi ini bener-bener manjur buat ngusir ulat bulu ternyata."
Aksa kembali melangkahkan kakinya memasuki kamar. Sebelumnya dia mencuci mukanya terlebih dahulu. Melemaskan segala persendiannya, sambil menatap foto yang sama, dia mulai membuat program. Reza memintanya untuk berkolaborasi membebaskan Aura dari Sistem yang terus mengusik mereka.
__ADS_1
Aura dalam bahaya, bagaimana pun juga, aku akan ikut membantunya menyelesaikan masalah tersebut. Meski harus bekerja sama dengan rival sendiri.