CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
152. Obat rindu pada Detektif Muda


__ADS_3

Tak beberapa lama, Devan hadir di hadapan Stella dan Aura. Suasana canggung antara mereka berdua terasa sangat kentara. Aura mencoba memahami kondisi yang sedang terjadi.


"Kak Devan, apa aku boleh minta tolong untuk membantu penyelidikan pada suamiku?"


"Hah? Suami? Kamu sudah menikah?" Devan melirik Stella yang tak pernah mengatakan kelanjutan hubungan Aura dengan mantan klientnya dulu.


Aura menganggukan kepalanya. "Aku sudah menikah dengan orang yang membuatmu menyidiki aku."


"Kenapa dengannya?"


"Dia seperti terjebak pada kondisi yang tidak dia lakukan. Tolong bantu aku untuk menyelidiki kasus suami aku ya Kak?"


Devan tampak memikirkan sesuatu. "Kebetulan aku mendapat kabar, sosok detektif hebat baru aja sembuh dari komanya, semenjak dua tahun lalu. Hmmm ... Dia masih menyelidik nggak ya?"


"Ayo, Kak. Antarkan aku ke sana. Aku akan membayar berapa pun yang akan dia minta, agar dia mau membantuku untuk menemukan siapa pelaku sebenarnya," bujuk Aura.


Devan menganggukan kepalanya. "Baik lah, ayo kita temui dia bersama antek-anteknya."


Aura dan Stella mengikuti arah Devan mengendarai motornya. Devan membawa mereka pada sebuah rumah sakit yang lumayan terkenal. Aura dan Stella saling berpandangan melihat tujuan mereka. Lalu keluar dari mobil yang dikemudikan oleh Stella.


"Kak, kenapa ke sini?" sungut Stella tak menatap Devan sama sekali.


"Kita akan menemui orang tersebut."


"Piuwiiit ..."


"Piuuwwiiitt ..."


Terdengar suitan dari beberapa orang yang saling bersahutan di sekitar rumah sakit itu. Hal ini membuat Aura dan Stella kembali saling berpandangan, merasakan keanehan pada rumah sakit ini.


Seorang pemuda menggunakan seragam kebersihan sedang menggandeng sepasang anak kembar. Devan menarik dan menggendong salah satunya yang perempuan.


"Aduuh, Hyuna ... Kamu mirip banget sama Mommy kamu yaaa ...." Devan mencium Hyuna dengan gemas.


"Huuuaaaa ..." Hyuna menangis dengan sangat kencang karena mendapati ciuman dari pria asing.


"Kenapa Hyuna menangis?" terdengar suara teduh seorang pria dari arah koridor rumah sakit. Tampak sepasang insan yang memperhatikan mereka.


"Mungkin Hyuna sedih melihat wajahku yang sangat mirip dengan seseorang," gumam Devan asal.


Jason mengambil Hyuna kembali. Hyuna merasa tenang saat digendong oleh Jason. "Cup ... cup ... cup ... Anak pinter kayak Mama ya. Tahu saja siapa yang hidung belang." Jason kembali membawa si kembar bermain. Dia bertugas menjaga si kembar. Karena itu merupakan janji sejak dulu saat Via hamil.


Aura dan Stella yang tidak memahami situasi hanya bisa melihat keadaan sedari jauh. Melihat ke arah dua orang yang berjalan mulai mendekat. Seorang wanita memberikan senyuman kepada mereka.


"Halo, apa kabar?" tanya wanita itu ramah.

__ADS_1


"Halo, Mbak ...." jawab Stella bergantian dengan Aura, canggung.


"Ekhemmm." Pria di sebelah dengan rangkulan yang tak lepas dari dekapan si wanita berdehem. Membuat suasana di sana seketika menjadi sepi.


Pria tersebut menyalami Devan, Aura, dan Stella bergantian. Aura bisa menyimpulkan bahwa pria itu adalah orang yang paling disegani di rumah sakit ini.


"Bang Jim, perkenalkan dua teman baikku ini sedang membutuhkan bantuan si nyonya besar."


Jimmy mengerutkan keningnya. Melirik dua wanita muda yang dibawa oleh Devan. Lalu berganti melirik ke arah Via, istrinya.


"Ada apa gerangan?" sela wanita yang tak lepas dari rangkulan Jimmy ini.


"Aura ini adalah istri dari seorang pengusaha. Ceritanya beberapa waktu lalu suaminya diculik oleh seorang hacker. Terus---"


"Ekheemm ..." Aura menyela ingin diberi waktu untuk berbicara.


"Sa-saya butuh bantuan seorang detektif di sini, Mbak. Namun, malah dibawa ke sini."


Wanita yang di hadapannya menatap Devan yang terlihat mengangguk. Diliriknya ke arah Jimmy, suaminya. Namun, Jimmy tampak membuang muka dan terlihat tidak setuju.


"Kamu belum terlalu pulih, Sayang."


"Ayo lah Kak, apa kamu tidak kasihan melihat keadaan dia? Kamu tahu sendiri bagaimana rasanya berpisah kan?" ucap Via menangkupkan kedua tangannya di wajah Jimmy.


Jimmy membelai rambut Via sambil sedikit melirik Aura yang tampak kurang sehat. "Bagaimana dengan keadaanmu? Kenapa kamu terlihat sangat pucat?"


"Dia lagi hamil muda, Dok," timpal Stella.


Wajah Via seketika tampak prihatin atas kondisi yang menimpa Aura. "Mari, kita periksa dulu." Via menarik Aura nenuju ruang dokter Vano, sang dokter kandungan.


tok


tok


tok


"Masuk!" ucap pria yang ada di dalam ruangan.


Via membuka pintu ruang kerja milik Vano. Dia mengintip sejenak, dan tampak wajah dokter Vano menyambut kedatangannya. "Bu Direktur? Ada apa? Apakah kali ini ada kabar tentang adik-adik si kembar?" Vano melirik dua perempuan muda yang ada di dekatnya.


Via terkekeh menggelengkan kepalanya. "Kamu kan tahu sendiri bagaimana keadaanku yang tak akan hamil lagi. Ini, aku membawa pasien lain untukmu. Tolong segera periksa keadaannya, karena kami akan ada banyak urusan."


Vano langsung menyiapkan bangku dan memeriksa kondisi Aura. Mengecek kehamilan muda seorang perempuan muda tersebut. "Sekarang usiamu berapa?"


"Hmmm, delapan belas, Dok."

__ADS_1


"Hmmm, kamu menikah di usia yang cukup muda ya? Kenapa tidak kamu tunda kehamilan dulu pada waktu itu?"


Aura memperbaiki posisi setelah melakukan pemeriksaan lewat USG. "Ada apa, Dok? Apakah keadaan bayi saya tidak baik?"


"Oh, bukan begitu. Semua baik saja kok. Hanya saja kamu dan suamimu memutuskan memiliki anak terlalu cepat. Setidaknya mungkin ditunda dulu hingga usias dua puluh tahun kan?"


"Suami saya ingin segera menggendong anak, Dok. Katanya sudah tidak sabar mengasuh."


Dokter mempersilakan kembali Aura duduk di kursi. Dia mencatatkan beberapa resep vitamin untuknya dan kehamilannya. "Kamu banyak istirahat dulu. Jangan terlalu banyak pikiran. Minum vitamin ini sesuai dengan resep yang telah saya berikan."


"Baik, Dok. Terima kasih."


Via yang sedari tadi menanti dengan tenang pun bangkit mengajak Aura untuk mengikutinya. Aura menarik Stella yang tidak bergeming menatap dokter Vano yang sangat tampan. Aura sangat hafal akan sifat sahabatnya ini yang gampang jatuh cinta. Aura menarik Stella yang terus memperhatikan Vano, mengikuti Via menuju ruangannya.


Setelah berada di ruangannya, Via meminta agar Aura menceritakan segala masalah yang tengah dialaminya. Aura pun kembali menceritakan kejadian yang sebenarnya. Hingga Reza, suaminya dijemput paksa oleh pihak kepolisian.


"Reza Firto Adijaya itu suami kamu?" tanya Via dengan heran.


"Iya, kenapa Mbak?"


Via kembali berpikir dengan sejenak. "Aku dulu pernah menemuinya. Dia adalah saudara kakak iparku Rini Dwi Adijaya."


Aura pun tercengang. "Jadi, Mba Via ini adik dari adik iparnya Mba Rini?" Lalu Aura tampak meringis. "Iya, adik suamiku kan adik iparku ya? Meski usianya jauh melebihiku."


"Waaah, ini sungguh-sungguh kebetulan yang luar biasa ya?" Via tampak berpikir kembali. Lalu menekan layar ponselnya dan memghubungi seseorang.


"Rom, ke ruang kerjaku sebentar!"


Via kembali fokus kepada Aura. Dia tidak menyangka bahwa hubungan mereka cukup dekat. Tak lama muncul pria tampan yang cukup kalem.


"Ada apa Bu Dir?"


"Aura, kenalkan, dia adalah Romi. Hacker andalan kami semua."


💖


💖


💖


Hay ... Hay ... Ada yang menyukai cerita fantasi lagi gak ya? Ayo mampir juga pada cerita Romansa Fantasi dibalut aksi oleh adik kita ini. Authornya masih sekolah ini lho ... ayoo diramaikan, agar Authornya jadi semakin semangat.


napen: Lidiawati06


judul: Legenda Sang Dewi Alam Luxia

__ADS_1



__ADS_2