CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
56. Terbongkarnya Tuan Sistem


__ADS_3

Tampak Reza mengotak-atik ponselnya. Dia menunggu beberapa saat, "Kantor polisi, saya melaporkan orang yang bertanggung jawab atas kehancuran perusahaan saya! Saya tunggu di gedung perkantoran kami, di Harmony Grup."


"Jangan libatkan dia! Aku mohon!" Aura mendekati Reza, mengguncang tubuh Reza.


Aksa yang tak rela melihat gadis yang dicintainya sampai memohon begitu kepada pria lain, bergerak untuk menarik gadis itu. Aura sudah berada di dalam pelukannya.


"Kamu tak perlu memohon begitu kepadanya. Bagiku tak apa jika aku yang dipenjara, asal kamu tetap bisa bebas menikmati udara bebas di luar ini."


Aura sesegukan di dalam pelukan Aksa, setelah itu mendorongnya dan berlari dan berlutut pada Reza. "Oom, aku mohon. Dia tak ada hubungannya sama sekali dengan ini semua. Jika Kau ingin memenjarakan seseorang, aku lah orang yang pantas menerima itu! Bukan dia!"


Reza melihat drama yang membuatnya hatinya semakin iri pada Aksa. Melihat pria yang jauh lebih muda ini, menarik gadis yang tadi bertekuk berlutut padanya. Aksa melangkahkan kaki berada di depan Aura.


"Jangan! Biar aku saja!"


Aura kembali menarik cowok itu mengambil posisi semakin de depan. Kembali berlutut menangkupkan kedua tangannya. "Aku mohon! Kamu jangan lakukan apa pun kepadanya! Biar aku, aku saja yang melakukan semuanya untukmu. Asal Kamu tidak memenjarakan dia! Aku, aku rela melakukan apa pun itu."


Reza menyunggingkan senyum sinisnya. "Kau berjanji akan lakukan semuanya?"


"Iya, aku janji."


"Mau mengembalikan semua data milikku yang hilang saat ini juga?"


Aura berpikir sejenak. Dia tidak tahu harus menghubungi Sistem dengan cara apa. Ponselnya untuk berkomunikasi dengan Sistem masih berada di tangan Reza.


"Aku akan berusaha! Tapi tolong kamu batalkan panggilan polisi itu! Beri waktu aku sejenak memegang ponselku yang Kamu sita!"


Aksa mendelik, menatap pria yang ada di hadapan mereka ini dengan tajam. Tadi seingatnya, Aura mengatakan bahwa dia jadi korban jambret. Semalaman gadis ini hilang tanpa kabar. Aksa bergerak mendekat, merarik kerah hem yang dikenakan oleh Reza itu.


"Jadi Kau lah yang menculik dan mengurung dia semalaman?"


Kembali senyum sinis terukir di bibir Reza, menepis kedua tangan milik Aksa yang tiba-tiba saja menantangnya dengan nyata. "Jika iya, kenapa?"


Aksa naik pitam ingin melanjutkan untuk menghajar Reza. Aura dengan gerak cepat menengahi keadaan, khawatir jika pacarnya ini tersulut emosi yang semakin tinggi.


"Jangan, Bang! Kita harus hati-hati! Nanti dia akan memiliki alasan lain untuk memenjarakan kita berdua!"

__ADS_1


Aksa merangkul gadis itu untuk mundur beberapa langkah. "Kamu tidak apa-apa kan?"


Aura mengangguk, "Jangan khawatirkan aku!"


"Hei Nona Hacker!" ucap Reza dengan ketus, membuat Aura menatap Reza dengan nanar.


"Aku punya satu cara lagi, agar kalian berdua sama-sama bebas. Semua akan aku anggap lunas, dan aku tak akan pernah menuntut kalian kembali." Reza bergerak menuju jendela, sambil melirik sepasang merpati itu di ujung matanya.


"Apa itu, akan aku lakukan!" Aura hendak bergerak mendekati Reza, namun ditahan oleh Aksa.


"Seperti yang sudah aku katakan tadi pagi. Menikah lah denganku! Putuskan hubunganmu dengan dia! Jangan pernah menemui dia lagi!"


Aksa refleks kembali mendekap Aura. "Jadi ini semua hanya akal-akalanmu? Ternyata Kau gunakan permainan ini untuk menjebak kami," ucapnya.


"Apa aku boleh mengambil ponselku kembali?" tanya Aura tertunduk. "Aku janji, jika aku tak bisa mengembalikan data itu malam ini, maka aku rela untuk menikah denganmu," ucapnya semakin sayu.


Aksa mendekap kedua lengan Aura. Gadis itu membuang mukanya. "Ra! Lihat aku! Kamu rela mempertaruhkan hubungan kita? Bahkan kita pacaran baru beberapa waktu."


Aura kembali membuang mukanya, menyibak air mata yang menetes satu per satu. "Aku mengharapkan Tuan Sistem mau memberikan data tersebut kepadaku dengan suka rela."


"Aku biasa memanggilnya dengan Tuan Sistem. Aku tak tahu apakah dia beneran murni sebuah program, atau hanya manipulasi dari sosok manusia yang terus mengomandoiku dalam aksi peretasan."


Aura kembali mendekat pada Reza, menengadahkan tangannya. Dalam diam seribu bahasa, Reza membelakangi gadis itu. Kembali menanti kejutan reaksi sang gadis yang nenurutnya sangat unik. Sampai berfantasi tentang sistem yang memaksa dia menjadi hacker.


"Mana hapeku!" Aura kembali menengadahkan tangannya tepat di depan hidung pria yang jauh lebih tinggi darinya ini.


"Kau jangan banyak alasan! Sudah aku bilang! Semua benda itu telah kujadikan sebagai barang sitaan agar kau tidak kabur begitu saja dariku!"


"Aku janji tidak akan kabur. Percaya lah! Aku harus menghubungi Sistem Kekayaan itu. Aku ingin meminta kepadanya secara langsung."


Aura mengeluarkan ponsel barunya. "Ini lihat, aku sudah punya hape baru. Benda-benda itu sudah tidak berguna lagi bagiku. Tapi, aku sangat membutukan kontaknya. Aku ingin segera menghubunginya."


Reza hanya melirik Aura dari ujung matanya. Masih berpikir mengenai sesuatu yang dikatakan oleh gadis itu. Sistem Kekayaan itu sebenarnya berwujud seperti apa? Apakah manipulasi manusia, atau benar-benar sesuatu yang terprogram.


Tapi ini dunia nyata, bukan fantasi seperti di novel-novel-- oh iya, ini nupel juga.

__ADS_1


"Bagaimana Om? Hapeku bisa dikembalikan? Nanti aku berikan kembali kalau urusanku sudah beres dengan Tuan Sistem."


Aksa kembali menarik gadis itu dan menggelengkan kepalanya pelan. Merangkulkan kedua tangannya dari arah belakang, seolah tak ingin berbagi pada Reza. "Kamu jangan begitu, aku bisa terbakar cemburu jika Kamu terus mendekat padanya," bisiknya.


Reza mendengar bisikan tersebut tergelak. "Sepertinya aku tak akan mempercayaimu! Terserah bagaimana caramu untuk untuk mengembalikannya. Yang jelas, malam ini adalah batas akhirnya!" Reza keluar meninggalkan ruangan ini.


Setelah keluar dari ruangannya sendiri, dia mengintip kembali dua sejoli itu, memanyunkan bibirnya. Tingkahnya diikuti oleh Abizar yang tertarik melihat tingkah konyol sang atasan. Ikut penasaran atas apa yang terjadi di dalam sana. Ternyata ada Aura dan Aksa dengan wajah sedih dan kebingungan.


"Boss kenapa sih?" bisiknya tepat di telinga Reza.


Reza merasa geli dan kaget, mendorong wajah Abizar yang berada terlalu dekat dengannya. "Eh, kepo amat!" Reza masuk ke ruang kerja Abizar, duduk di sofa yang ada di sana.


"Boss kenapa? Kenapa jadi semakin aneh?" Reza hanya menjawab dengan mendengkus membuang muka.


"Cemburu? Jadi saat ini Anda suka sama gadis itu?" Abizar tertawa ngakak memegangi perutnya.


"Kali ini bakalan ingat namanya nggak ya?"


Sementara di ruang sebelah, Aura termangu bingung memikirkan bagaimana cara menghubungi Sistem. 'Jika menggunakan chace dari virus yang dikirim kemarin bisa ngga ya?'


Aksa memutar tubuh Aura, memegang kedua lengan Aura, membungkukan badannya agar sejajar dengan gadis itu. "Ra, aku apa maksud semua ini? Jadi, saat ini Kamu benar-benar menjadi seorang hacker?!"


Tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu, Aura menarik tangan Aksa. Mengajaknya untuk segera meninggalkan tempat ini. Reza dan Abizar mengintip dua orang tersebut, yang terus menghilang masuk lift.


"Boss, segitu amat melihatnya?" canda Abizar yang tak putus melihat ke arah lift tersebut.


"Sabar Boss! Kalau jodoh enggak kemana! Syaratnya cuma satu! Tidak lupa nama pasangannya!" Abizar kembali terkekeh melihat wajah Reza yang ngenes tak jelas.


Sang Big Boss hanya melihat ke arah ponsel. Mengingat hasil tipuan pura-pura menelepon polisi tadi. Dia memiliki rencana lain.


Jangan lupa mampir juga pada cerita berikut ini yaa



...*Bersambuang*...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak yaaahh... Love You All...


__ADS_2