CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
167. Pengorbanan


__ADS_3

"Ma-Marcell?"


Pria itu kembali bangkit, bergerak mendekati Aura, di tangannya kembali memegang suntik tadi. Aura berjalan mundur. Hingga membentur monitor yang menunjukan aktifitas gerakan jantung suaminya.


"Kau mau apa?"


Mata Aura mulai liar mencari benda yang bisa ditariknya untuk dilemparkan ke arah Marcell yang terus mendekat. Karena keadaannya, dia tidak bisa mengeluarkan kemampuan bela diri karena keadaannya yang terbatas.


Alat suntik itu beralih diarahkan kepadanya. "Kau tahu ini isinya apa? Ini adalah cairan yang bisa membuatmu meregang nyawa dalam waktu hitungan detik."


Marcell kembali menyeringai. Dia menikmati wajah ketakutan milik Aura. Marcell menghadapkan jarum tersebut kepada Aura. Dari balakang, pintu ruangan tersebut dibuka oleh seseorang dari luar.


Pakaian Marcell langsung ditarik oleh pria yang tak lain adalah Aksa. Setelah ditarik, Aksa mendorong Marcell keluar dari ruangan tersebut dan langsung menghajarnya. Aksa melayangkan tendangannya tepat di dada Marcell.


bughhh ... bughh ...


"Kau pria yang jadi petugas kebersihan tadi, bukan? Kali ini, kau jadi dokter?" Aksa menarik kerah jas yang dikenakan oleh Marcell.


Belum sempat melayangkan tinjunya, Marcell lebih dulu memberikan tendangan pada dada Aksa, lalu salto hingga lepas dari genggaman Aksa. Aksa pun terjatuh setelah mendapatkan hantaman. Marcell melepas jas putih tersebut dan dilemparkan tepat ke wajah Aksa.


Tampak security datang berpatroli lalu Marcell lari pontang panting dari tempat itu. Aksa melempar jas yang dilempar Marcell dan bangkit untuk segera mengejar pen jahat itu.


"Pak, bantu saya untuk menangkapnya!" sorak Aksa berlari mengejar Marcell.


Marcell berlari di antara pertugas berpakaian putih yang berlalu lalang sedang melaksanakan kewajibannya. Aksa mengejar diikuti barisan security yang semakin lama menjadi semakin banyak ikut mengejar.


Aksa mempeecepat langkahnya meski terus terhalang oleh petugas, dan pengunjung rumah sakit. Sementara Marcell telah berhasil keluar dari lorong panjang tersebut. Aksa pun berhasil keluar dan segera mengejar Marcell.


Aksi kejar-kejaran terus terjadi hingga berada di trotoar jalanan yang sangat ramai. Aksa berlari cepat dengan kakinya yang panjang, sehingga berhasil menangkap pakaian bagian belakang Marcell menghempaskan kepalanya pada bagian belakang kepala Marcell.


"Aaaaahhhggg!"


Marcell melenguh karena sakit luar biasa di bagian belakang kepalanya. Kapalanya menjadi terasa sangat pusing dan memegangi bagian belakang kepala tersebut. Aksa menarik kerah oblong Marcell.


"Kau mau apa pada mereka?"


buuuggghhh


Kepalan tinju melayang pada dagu Marcell. Aksa masih menggenggam pakaian Marcell. Marcell melayangkan kakinya dengan asal sehingga membuat Aksa jatuh pada badan jalan dan Marcell yang masih dalam genggaman ikut tertarik bersamanya.


tiiiiiinnnn


Mata mereka nanar melihat sorot lampu kendaraan yang melaju ke arah mereka. Sang pengendara yang membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi, langsung menginjakan rem ...


braaaaakkk


Rem terlambat diinjak ...


Dua orang tersebut tertabrak dan terdorong hingga beberapa meter. Pengemudi berhasil menghentikan kendaraan dan segera keluar dari kendaraannya. Melihat aliran da rah segar mengalir di aspal hitam itu.


Aura tengah mondar-mandir menunggu kabar setelah Aksa mengejar Marcell tadi. Lalu dia melihat dua brangkar lewat dan Aura memberikan jalan kepada para perawat yang mendorong brangkar tersebut.


Mata Aura nyalang saat melihat sosok pria yang pernah lama dicinta dipenuhi lumuran darah tengah dipasang alat bantu nafas. Aura segera mengikuti brangkar tersebut dan melirik brangkar satu lagi yang telah ditutup sepenuhnya dengan kain putih.


"Apa yang terjadi?" Aura terus mengikuti brangkar tersebut.

__ADS_1


"Mereka berdua baru saja mengalami kecelakaan, Mba. Tidak jauh dari lokasi rumah sakit ini."


"Bang, Abang ... Abang ..." Air mata Aura kembali terjatuh, dia mengikuti hingga perawat melarang langkahnya untuk ikut masuk memeriksa kondisi Aksa.


"Tuhan, kenapa Engkau begitu kejam kepadaku? Kenapa harus mereka berdua, Tuhan? Kenapa bukan aku saja?"


Aura terduduk seakan seluruh tubuhnya tak memiliki tulang lagi. Dia pun tak sadarkan diri.


***


Aura berada di sebuah taman memperhatikan Reza dengan seorang anak laki-laki sedang bermain bola. Mereka berdua melambaikan tangan kepada Aura. Aura dengan senyumannya juga melambaikan tangan kepada mereka berdua.


Aura melihat ke sisi lain, tampak pria yang sedang merenung sendirian. Aura melangkah kan kakinya kepada pria tersebut. Ikut duduk di sampingnya.



"Bang, kenapa duduk menyendiri seperti itu?"


Aksa menatapnya dengan senyuman di bibir. "Bagaimana dengan mereka? Mereka adalah masa depanmu," ucapnya.


Aura kembali memperhatikan dua orang tersebut bermain. Aksa bangkit dan mulai bergerak menjauh.


"Abang mau ke mana?"


Aksa berdiri dengan jarak beberapa meter. Dia terlihat memegang dadanya. "Jika aku tak bisa langsung membahagiakanmu dengan tubuhku, boleh kah aku menumpang hidup pada dirinya?"


Wajah Aura terlihat bingung. Dia sedikit menggelengkan kepala. "Apa maksudnya, Bang?"


Kembali sebuah senyuman tulus terulas di bibir Aksa. "Aku akan memberikan kehidupanku kepada dia. Aku ingin melihat kembali senyuman di wajahmu itu. Kamu sangat cantik saat tersenyum."


"Maukah kamu mengizinkan aku untuk memilikimu, meski bukan dengan ragaku?"


Aksa terus berjalan tanpa menghentikan langkah. Dia terus menjauh seakan terus naik ke atas awan.


"Bang ... mau ke mana? Bang ... Bang?"


Aura terbangun dari tidurnya. Di sampingnya tampak sang mama mertua tengah menunduk dengan wajah khawatir. "Kamu tidak apa?"


Aura sedikit memiringkan tubuhnya. Setelah itu mencoba bangkit menjadi posisi duduk. Aura memandang seluruh bagian ruangan. Dia tengah berada di salah satu ruang rawat di rumah sakit.


"Apa yang terjadi denganku, Ma?" Aura segera bangkit dan menurunkan kakinya.


"Kamu mau ke mana? Kamu istirahat saja."


"Kanda, Ma ... Kanda ... Aku harus segera menemani Kanda."


Mama Kinanti menahan gerakan Aura. Aura disuruh duduk kembali dengan tenang. "Kamu tunggu di sini saja. Suami kamu sedang melakukan operasi transplatansi jantung."


Mata Aura membulat. "Jantung? Apakah ada jantung untuk Kanda?"


Mama Kinanti menganggukan kepalanya. "Tadi malam ada yang kecelakaan. Kata dokter, pria tersebut berpesan, jika dia meninggal, jantungnya diserahkan kepada pasien bernama Reza Firto Adijaya."


Air jernih seketika berderai memenuhi pipi Aura. Dia teringat pada mimpinya baru saja bertemu dengan Aksa. Aksa yang telah pergi ke langit meninggalkannya. Pria yang pernah mengisi hatinya dalam kurun waktu yang lama.


"Bang ... Bang ... kenapa jadi begini, Bang?"

__ADS_1


Mama Kinanti memeluk Aura. Mengusap punggungnya dalam beberapa waktu. "Terima kasih, kamu telah membuktikan bahwa kamu sungguh mencintai Reza, anak Mama. Maafkan kelakuan Mama yang terlalu keras kepadamu, Aura."


Aura membalas pelukan mertuanya itu. Dia merasakan kosong, saat mengetahui bahwa Aksa telah pergi untuk selamanya.


Maafkan aku yang hanya bisa menyakitimu, Bang. Bang, terima kasih atas semua yang kamu berikan. Bahkan untuk kebahagiaanku, kamu mengorbankan diri seperti ini.


💖


Dia cantik sekali ...


Seorang pria berseragam putih abu-abu sedang memandang siswi adik kelasnya yang bernama Aurora Safitri.


💖


💖


Kuiyyy..yuukk.. hadir di karya temen Author.


napen: Ocybasoacy


judul: Beauty Cloads


blurbs:


"Apa rencana kamu Ody? Kenapa kamu bilang akan melapor polisi? Apa nggak ada cara agar masalah ini tidak melebar kemana-mana?" tanya Chandra mewakili Rio.


"Sebenarnya ada cara lain selain melaporkan ke polisi, yaitu dengan dokter Rio mau bertanggung jawab. Namun, nampaknya dokter Rio tidak mau menggunakan cara itu." jawab Ody dengan tersenyum sinis. "Maka pilihan lain, saya akan melapor polisi. Semua bukti sudah saya pegang," imbuh Ody dengan yakin.


"Bukti? Punya bukti apa kamu?" tanya Rio tak kalah sinis.


"Semua bukti ada disini," Ody menunjukan rekaman malam kejadian itu, yang dia dapat dari CCTV, serta menyodorkan map coklat hasil visum.


Rio mengambil alih ponsel dan melihat vidio pelecehan yang ia lakukan pada Ody. Setelah melihat vidio itu, Rio membuka map, dan melihat hasil visum yang Ody telah lakukan, disana terdapat banyak luka yang Rio buat, dan juga keterangan adanya kekerasan seksual yang Rio lakukan pada Ody.


Rio tidak mengira, bahwa Ody sudah menyiapkan semuanya.


"Bukti-bukti itu sudah cukup menguatkan buat membuat laporan ke polisi," jelas Ody.


"Lalu mau kamu apa?" tanya Rio sambil melihat kearah Ody dengan tatapan membunuh.


"Tanggung jawab." jawab ody singkat, padat, dan jelas.


"Kenapa ngotot sekali pengin aku tanggung jawab, apa ada rencana lain yang kamu rancang untuk menjebak aku?" tanya Rio kembali.


"Rencana apa maksud Anda? Apa meminta pertanggung jawaban dari laki-laki yang sudah mengambil kegadisanku harus memerlukan rencana lain?" oceh Ody aneh dengan sikap Rio.


"Mungkin saja, bisa jadi kamu ingin menguasai semua aset yang aku miliki, dengan menikahi aku kamu bisa dengan mudah merubah setatusmu. Banyak bukan diluaran sana yang menginginkan pernikahan dengan laki-laki kaya agar bisa dengan instan menjadi kaya." jawab Rio jutex.


"Sedikit pun saya nggak pernah berpikir seperti itu, tapi kenapa Anda selalu membahas harta. Kalo Anda takut saya akan meminta harta Anda. Maka nikahi saya cukup sebagai tanggung jawab! Masalah kehidupanku biar saya cari nafkah sendiri. Anda tidak usah susah payah memberi nafkah sama saya." jawab Ody dengan geram.


"NIKAH KONTRAK," jawab Rio singkat


semua yang ada di meja pun kaget dengan ucapan Rio.


"Maksud lo apa?" tanya Ody kaget .

__ADS_1


"Kalo loe ngotok gue nikahin, maka ayo nikah kontrak. Kalian sebagai saksi bahwa pernikahan yang gue jalanin hanya sebatas kontrak." Jawab Rio dengan santai.



__ADS_2