CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
21. Mahasiswa vs Pekerja


__ADS_3

Maaf ya teman-teman readers... Ada masalah Real Life yang membuat Othor telat Update. 🙏🙏✌


😇


💖


"KAMU!!!" Suara dosen itu menggelegar ke seluruh isi ruangan. Membuat seluruh mahasiswa tersentak mengeluarkan keringat dingin. Tetapi orang yang dimaksud malah tidak sadar bahwa dia tengah diperhatikan oleh pria paruh baya nyaris tua ini.


Sang Dosen yang sadar, orang yang dimaksud tak menyadarkan diri juga dari lamunannya. Dosen tersebut memilih membuka catatannya kembali. Dia selalu mencatat nama-nama mahasiswanya yang dianggap cukup menonjol. Nama orang itu adalah, "Saudari Aurora Safitri!"


Ketika namanya dipanggil oleh dosen tersebut, Aura yang sedari tadi kepalanya terus miring melihat Aksa langsung gelagapan dan berdiri dengan refleks. "Sa-saya Pak," tanyanya gugup.


"Apa yang dimaksud dengan BOND SINGKING FUNDS!"


"Bond singking funds adalah dana yang sengaja disisihkan oleh satu perusahaan untuk membayar obligasi, Pak." Jawab Aura dengan cepat.


"Bagus! Selanjutnya, jelaskan mengenai materi penarikan obligasi yang telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya!" Dosen Killer itu tak henti menghajar Aura dengan serentetan pertanyaan mengenai mata kuliah ini.


"Baik Pak, saya akan mencoba menjelaskan materi yang Bapak minta." Aura kembali memikirkan materi minggu lalu yang belum sempat diulangnya


"Ekhem, tak perlu basa-basi! Silakan lakukan sesuai perintah!" Titah dosen killer tersebut dengan suara baritonnyo.


"Pertama, sebuah perusahaan dapat menarik obligasinya sebelum jatuh tempo."


"Kedua, penarikan obligasi, dilakukan pada suku bunga pasar mengalami penurunan yang signifikan setelah obligasi itu diterbitkan."


"Ketiga, sebuah perusahaan akan menarik obligasinya pada harga yang berbeda pada nilai buku dari obligasi tersebut."


"Keempat--"


"Cukup!" Dosen tersebut menyela dan menghentikan penjelasan dari Aura, kepalanya mengangguk. "Anda boleh duduk kembali!"


Sekarang pandangan dosen tersebut beralih ke arah lelaki muda yang ada di samping Aura. "Sekarang kamu!"

__ADS_1


'Waduuuh, gawat! Bang Aksa ikutan kena,' batin Aura panik.


Aksa pun berdiri. Semua mahasiswa yang ada dalam kelas itu akhirnya melihat ke arah Aksa dengan heran. Mereka semua saling bertanya siapa cowok yang terlihat sangat tidak familiar itu?


"Silahkan jawab pertanyaan saya berikut ini. Jika Anda tidak bisa menjawabnya, Anda boleh keluar dari kelas saya. Jika memang tertarik mengikuti perkuliahan saya, Anda harus menjawab dengan benar!"


'Apa ini berarti Beliau tahu Bang Aksa bukan mahasiswa sini?'


Aksa mengangguk dengan teguh, meski kerongkongannya tercekak, dia berusaha untuk setenang mungkin. "Baik Pak, saya akan berusaha."


"Ekhem," sang Dosen bersiap menyemburkan serangannya. "Apakah yang dimaksud dengan number of interest charge earned?" Aksa terdiam cukup lama. "Ayo jawab!" Ulang dosen tersebut.


"Number of interest charge earned adalah rasio yang digunakan untuk mengetahui frekuensi perusahaan membayar bunga dari obligasi." Aksa menjawabnya dengan tenang. Mata Aura berbinar melihat Aksa yang mampu menjawabnya meski membutuhkan waktu untuk menjawabnya.


"Baik lah, kalau begitu Anda boleh duduk kembali!" Ucap dosen yang bernama Barack Adijaya tersebut. Dia adalah guru besar di kampus tersebut, ayah Reza Firto Adijaya.


Aksa mengulas senyum tipisnya pada Aura. Sementara Stella ikut tercengang mendengar jawaban yang dia sendiri lupa. Aura mengacungkan dua jempolnya pada Aksa. Aksa menulis catatan kecil, lalu diberikan pada Aura.


*Sepertinya beliau tahu aku bukan mahasiswa kelas ini. Makanya aku akan diusir jika tidak mampu menjawab pertanyaannya.*


💖


Reza dan Abizar tengah berada di sebuah restoran western yang lumayan terkenal sebagai arena pertemuan di luar perkantoran. Pihak Mitra mereka adalah WNA yang memang berasal dari luar negeri. Namun, telah lama berada di negeri ini. Dia diangkat sebagai perwakilan dari perusahaan pusat mereka yang berasal dari negeri gingseng.


Sebelumnya Reza menyempatkan diri mengganti pakaiannya yang lebih formal. Mereka sudah duduk bersama dengan Mr. Lee yang datang dengan sekretarisnya. Reza mendapat kabar bahwa sang sekretaris ini adalah istrinya sendiri. Mereka menikah semenjak dua puluh tahun yang lalu.


"Jadi bagaimana rencana kerja sama kedua perusahaan kita ke depannya Mr. Lee?" Reza membuka pertanyaannya kepada WNA yang sudah fasih menggunakan bahasa Indonesia itu.


"Intinya, perusahaan pusat kami di sana sangat tertarik dengan aplikasi-aplikasi yang diusung oleh perusahaan Anda. Akan tetapi, jika kami membeli aplikasi tersebut, maka kami berharap aplikasi tersebut tidak bisa diinstal lagi oleh merek dagang lain, kecuali meminta izin kepada perusahaan kami terlebih dahulu."


Kening Reza berkerut, dilihat ke arah Abizar, sekretarisnya itu hanya menggeleng pelan. "Jadi seperti memonopoli begitu maksud Anda, Mr. Lee?"


"Mungkin akan kami pertimbangkan terlebih dahulu." Reza menaring gagang cangkir yang berisi kopi tanpa gula yang biasa diminumnya. Kopi pahit itu dinikmati dalam kernyitan kecil, lalu masuk tenggorokannya.

__ADS_1


"Maksud Anda bagaimana Pak Reza? Apa Anda keberatan dengan rencana bisnis ini?"


Reza, menaruh kembali cangkir kopi tersebut. "Kalau saya boleh jujur, sebenarnya itu memang benar Mr. Lee. Bagaimana pun perusahaan kami membuat aplikasi-aplikasi tersebut untuk memudahkan masyarakat. Jika dimonopoli oleh merek dagang tertentu, bagaimana dengan masyarakat pengguna merek dagang lain? Tentu mereka tidak bisa menikmati layanan yang sama."


"Jadi Pak Reza hanya mau kerja sama secara lepas seperti platform lain?"


"Yaa, kurang lebih begitu. Karena negara ini yang menjadi pengguna merek dagang yang perusahaan Anda miliki, hanya terdiri dari kalangan tertentu. Jadi, kerja sama namun tidak terikat adalah yang paling cocok untuk saat ini."


Giliran Mr. Lee menarik cangkir kopi miliknya. Sementara, sang istri, wanita paruh baya itu menarik cangkir teh yang dia punya. Usai meneguk sedikit kopi tersebut, Mr. Lee sedikit mengangguk.


"Oh, begitu rupanya. Baik lah Pak Reza, kami menghargai keputusan Anda. Kami akan mengonfirmasi kembali pada pihak pusat, mengenai keputusan Anda dan perusahaan yang Anda miliki. Akan tetapi, jika seandainya kerja sama kita tidak berlanjut, masih bisa berlanjut sebagai kerabat bukan?" Tanya Mr. Lee tersebut.


Reza membesarkan matanya, "Maksud Anda bagaimana Mr. Lee?" Reza mengambil kembali cangkir teh miliknya.


"Begini Mas Reza," sela sekretaris sekaligus istrinya ini. "Kami memiliki seorang putri. Walaupun saat ini dia masih cukup muda, kami yakin beberapa tahun kemudian dia bisa menjadi istri yang baik untukmu."


"Bruuuffttt...." Seketika kopi yang ada di dalam mulut, menyembur dan masuk ke rongga hidungnya. Dia segera menaruh cangkir dan mengambil sapu tangan yang tersedia membersihkan bekas kopi yang mengenai pakaian mahalnya. Memijit hidung yang perih akibat kemasukan kopi tadi.


"Maaf Mas Reza, kami mengagetkan Anda." Raut istri asli Indonesia milik Mr. Lee itu terlihat khawatir.


"Tidak apa-apa Nyonya. Ini sudah biasa bagi saya."


"Pfffttt," Abizar menahan tawanya. Teringat pada hal yang lebih ekstreem waktu mereka kuliah dulu. Reza pernah mengalami tersedak mie. Membuat dia mengeluarkan semua isi di dalam perutnya.


"Bagaimana menurut Mas Reza?" Kembali ke arah pembicaraan tadi. "Apa Mas Reza mau kami kenalkan dengan putri kami satu-satunya?"


"Ekheem," Reza mengendorkan dasinya. Membuka kancing hem yang paling atas. "Sepertinya dia lebih baik mencari seseorang yang tidak terlalu jauh dengan usianya Nyonya," tolaknya secara halus.


"Oh, berarti Pak Reza tidak bersedia kami kenalkan pada putri kami Stella?" tanya Mr. Lee.


Cukup dulu yaaa ... Othor mau lanjut ngasuh anak yang lagi sakit ... 🙏🙏


...*bersambung*...

__ADS_1


...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...


...Terima kasih!...


__ADS_2