CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
117. Tuan Sistem bertopeng


__ADS_3

*Sedikit curcol dari Othor ya readers.. Maaf banget ya? Akhir-akhir ini Othor kayak yang males update ya? Hehehe, soalnya Othor merasa sedikit kecewa. Level Othor kagak naik. Padahal bulan lalu usahanya Othor untuk update udah maksimal banget. Level Detektif Muda malah turun. Berasa dikhianati oleh pacar sendiri jadinya. Apa karena Othor ga pinter nulis ya? Sehingga readers Othor ga banyak yang baca karya sampai epispde yang terbaru? πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Setelah mendapat panggilan dari Reza, Aksa menyiapkan peralatan untuk mencari Aura. Seorang yang masih manis duduk dalam hati dan pikirannya. Seperti apa yang telah dikatakannya, dia akan bertahan untuk mencintai Aura. Meski, Aura telah belajar untuk melupakannya.


Aksa mencoba menghubungi kembali suami dari kekasih hatinya itu. Beberapa waktu terakhir, hubungan mereka berdua semakin membaik. Reza meminta dia untuk memperbaiki sistem yang telah dirusak oleh seseorang yang dikatakan Tuan Sistem oleh Aura.


Beberapa program berhasil diperbaikinya. Namun, ada yang tidak berhasil dikarena kan ada data penting yang hilang. Data yang diambil oleh Aura saat perang virus dulu dengannya dan anggota Tim Protektor lainnya.


Aksa melihat waktu telah menunjukan pukul sebelas malam. Namun, perut lelaki muda ini terasa sangat lapar. Dia baru sadar, dia belum makan malam karena semenjak siang sibuk membuat program dan memperbaiki progam yang telah rusak.


Aksa mengambil jaket dan segera keluar dari rumah kos, bergerak mencari makanan. Ternyata ada seseorang yang duduk berjongkok memainkan rumput di pekarangan rumah kos tersebut. Aksa menundukan kepala, mencari tahu siapa gerangan yang berjongkok tengah malam begini di tempat ini.


Seorang yang berjongkok tersebut, menegakan kepalanya. Matanya sembab dan wajahnya terlihat sayu dalam tangisan. Mata Aksa terbelalak saat menyadari siapa yang tengah berjongkok tersebut.


"Kamu?"


Gadis yang bernama Keken tersebut tegak hendak memeluk Aksa. Aksa segera mengelak dan mundur beberapa langkah. "Apa yang Kamu lakukan malam-malam begini di sini?"


Mata Keken terlihat berkaca-kaca. "Bang, setelah beberapa lama aku renungkan. Sepertinya aku lebih rela menjadi orang ketiga antara Abang dan kekasihmu yang ha mil itu. Aku juga rela bila Kamu menyentuhku hingga ha mil juga. Ayo, Bang? Ha mili aku, Bang!"


"Sinting!" Aksa memilih menahan lapar kembali masuk ke rumah indekosnya.


πŸ’–


Di sebuah gudang yang lain, pria bertopeng yang diduga sebagai Tuan Sistem terlihat memukul-mukul dinding karena ia terlihat sangat kesal.


Aura menatap pria itu dengan tatapan penuh kebencian. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya hanya bisa marah di dalam hati.

__ADS_1


Gerak-gerik pria itu terlihat jelas menggambarkan gestur kegusaran. Semua benda untuk meraup keuntungan yang dimilikinya, telah disita oleh polisi.


"Ini semua gara-gara Reza, CEO Harmony Grup itu!" Pria bertopeng menatap Aura. Matanya tajam menatap wanita yang terus memperhatikannya sedari tadi.


"Siapa Kau?" Penyumbat mulut gadis itu telah dibuka. Matanya tidak pernah putus terus nanar menatap pria bertopeng itu.


Pria bertopeng bergerak mengintari gadis ini. Mata Aura kembali menatapnya dengan tajam. Setiap ketukan langkah manusia bertopeng itu, maka setiap itu pula kutukan yang terlontar di dalam hati Aura.


"Kenapa Anda melarikan diri dari Sistem, Nona?" Akhirnya pria bertopeng itu membuka suara. Cara bicaranya persis sama ketika menjadi pemandu dalam proses hacking berlangsung.


"Apakah Kamu yang biasa meneleponku, berpura-pura menjadi Tuan Sistem?"


Pria bertopeng itu, mengambil bangku dan duduk tepat di hadapan Aura. Dia menyibak rambut panjang gadis itu, yang sudah kusut tak menentu. Matanya melihat sesuatu yang membuat tubuhnya merasa geli.


Pria bertopang itu mengangkat dagu Aura cukup tinggi. Dia ingin melihat tanda-tanda aneh itu yang sebelumnya tidak ada. Namun, Aura menarik kembali wajahnya, karena dia merasa dilecehkan oleh pria yang tidak dikenal ini.


Pria bertopeng itu bangkit dan membuka jaket kulit yang membalut tubuhnya. Menarik sesuatu benda terikat yang dijepit di pinggang celana. Dia melepaskan ikatan pada benda yang menggulung itu. Lalu benda itu menjulur panjang hingga ke lantai. Mata Aura membulat melihat cambuk itu dan meronta ingin lepas.


"Aku tak menyangka Kau ini hanya seorang wanita gam pa ngan."


Pria bertopeng melepaskan jepitannya pada dagu Aura dan kembali berdiri dengan tegap. Menyiapkan cambuk tersebut, dengan melibaskan pada dinding yang ada di dekatnya.


...plaaak...


...plaaak...


...plaaak...


Tiga kali tebasan, membuat mata Aura terpicing membayangkan jika benda itu ikut mendarat pada tubuhnya. Aura tidak dapat melihat seringaian yang sedang menyungging di balik topeng tersebut. Hawa tak berperikemanusiaan begitu kental terasa membuat Aura tergidik ketakutan.

__ADS_1


"Ternyata selama Kau menghilang, Kau sibuk men ja ja kan di ri rupanya. Apa uang yang aku beri tak cukup memenuhi kebutuhan hidupmu? Aku rasa apa yang aku beri untuk gadis miskin sepertimu, nilainya sudah sangat fantastis. Namun, nyatanya masih kurang bagimu?"


Mata Aura menajam mendengar pernyataan Tuan Sistem Bertopeng ini. Dia sendiri tak menyangka memiliki status pernikahan di usia muda, dengan lelaki yang dulunya tak diinginkan. Walau akhirnya, perasaan itu berubah 180 derajat setelah terbiasa berada di sisi Reza. Aura telah mencintai korban yang disodorkan oleh Tuan Sistem ini.


"Kenapa Kau hanya diam wa ni ta ja lang?"


"Cuuuh!" Aura menantang Tuan Sistem dengan melemparkan ludah di hadapan pria bertopeng itu.


Pria bertopeng itu mendekat, menarik rambut gadis itu dengan genggaman kasar di jemarinya. Tuan Sistem mengangkat sedikit topeng yang melekat di wajanya. Membisikan sesuatu tepat di telinga gadis ini.


"Kau akan menerima banyak hukuman. Pertama, Kau telah mencoba kabur dari tugasmu. Kedua, ternyata Kau hanya gadis mu ra han yang tidak tahu diri. Ketiga, Kau telah menghancurkan ekspektasiku tentang dirimu selama ini. Oleh karena semua alasan itu, Kamu berhak mendapatkan hukuman!"


Pria bertopeng itu menyiapkan cambuknya. Dari luar bangunan tua itu terdengar jeritan seorang gadis. Suara pecutan dan teriakan terdengar secara serempak.


"Dinda ...." Reza terbangun dari mimpinya. Jantungnya terasa berdebar. Setelah mendengar cerita bahwa orang orang-orang yang dikurung oleh Marcell dirajam oleh cambuk kuda, Reza jadi memimpikan hal yang sama, karena rasa khawatir.


Jantungnya berdetak dengan hebat. Namun, kali ini nafasnya sudah tidak sesak lagi. Reza meletakan tangannya pada dada, sembari memejamkan mata.


"Kanda akan segera menolongmu, Sayang. Bertahan lah!"


Reza turun dan mengangkat laptop yang ikut tertidur dengannya di atas kasur. Tadi tanpa sadar, dia ketiduran saat terus mencari keberadaan Marcell. Kali ini dia meletakan laptopnya di atas meja kerja. Meminta Bibi membuatkan kopi tanpa gula untuk menemaninya begadang hingga menemukan sang istri.


Reza bergerak menuju lemari yang telah lama tidak dibukanya. Dia membuka lemari tersebut, dan mengangkat mainan pada masa bujang dulu. Sebuah pesawat tanpa awak mini, yang kala itu belum banyak dimiliki oleh orang lain.


Reza mencoba mengecek apakah benda ini masih bisa digunakan apa tidak, ternyata drone tersebut telah kehabisan daya. Reza mencoba mengisi daya, tetapi sepertinya batrai drone ini sudah tidak bisa digunakan lagi.


Reza segera mengontak Abizar, beberapa kali panggilannya belum dijawab. Reza tak berputus asa terus melakukan panggilan ulang, dan akhirnya setelah sekian kali melakukan panggilan, terdengar tanda jawaban dengan suara serak.


"Hmmmff, ada apa Boss?"

__ADS_1


"Saat ini juga, cari batrai buat drone milik saya!"



__ADS_2