
Reza berpikir sejenak. Baginya apa yang dikatakan oleh gadis ini, tak ada yang masuk akal. "Kamu hanya mengarang-ngarang cerita agar aku menjadi simpatik kan?"
"Huuuh, buat apa coba aku menjelaskan panjang kali lebar, ujung-ujungnya Kamu tidak percaya. Terserah lah!" Aura melemparkan batu ke arah danau.
"Kamu tahu, sebenarnya batu-batu ini ingin aku lempar langsung kepadamu?" tambahnya lagi. Kembali melemparkan batu ke danau dengan perasaan kesal.
...kruucuuukkk...
Terdengar suara perut dari gadis itu. Dengan rasa malu, dia pura-pura tidak terjadi apa-apa. Suara nyanyian perut yang keras itu terdengar sangat jelas oleh pria di sampingnya ini. Dengan wajah sok cool dia hanya menggelengkan kepala.
"Makan dulu sana!"
"Gak mau, aku tak lapar! Udah kenyang karena kesal melihatmu!" Masih sibuk melemparkan batu ke arah danau tersebut.
...kruuucuuukkk...
Reza mendengar suara itu semakin keras. Akhirnya dia bangkit. Menarik bagian belakang baju kaos gadis itu.
"Eh, emangnya aku kucing apa? Pergi aja sendiri sanah! Maksa-maksa nikah, bilang orang cari simpati. Simpati apa? Orang gak kenal istilah itu saat ini! Sekarang istilahnya caper tauk! Udah gitu giliran orang jujur malah tak percaya!"
Dia meronta melepaskan diri. Mendorong pria itu terlalu kuat daaaann ...
...byyyuuuurrr...
Reza tercebur masuk ke danau. Aura menunggu agar pria itu keluar. Sudah sekian detik berlalu, Reza belum juga muncul. Menit pun berlalu, Aura mulai panik. Tiba-tiba dia teringat ada mitos-mitos mengerikan tentang danau ini. Apalagi ada yang sengaja bundir menenggelamkan diri di dasar danau ini.
"Toolooong!" Aura melirik kanan dan kiri, namun suasana sedang sepi.
Tanpa berpikir panjang, akhirnya gadis itu menceburkan diri ke dasar danau tersebut. Menemukan pria itu tengah memencet hidungnya berenang di dalam air. Melihat keberadaannya diketahui gadis itu, Reza segera berenang menuju ke permukaan.
Namun nahas, Aura yang kemampuan berenangnya sangat minim, terus tersedot ke dasar. Kedua kakinya terikat oleh lumpur tebal yang ada di dasar danau tersebut. Aura mulai kehabisan nafas, menggapai-gapai memberi aba-aba pada Reza.
Reza yang menunggu Aura, mulai heran karena gadis itu belum juga muncul ke permukaan. Dia kembali masuk ke dalam air. Air di dasar danau terlihat mulai keruh. Reza segera mencari gadis itu semakin dekat ke dasar. Saat berhasil menemukan Aura, Reza segera menarik gadis itu yang sudah mulai tak sadarkan diri.
Cukup sulit menarik Aura, karena lumpur tersebut melekat dengan erat. Reza terus menarik dan akhirnya sepatu Aura terlepas dari kakinya. Dengan cepat, Reza segera menarik Aura menuju permukaan. Berenang membawa gadis itu ke tepian danau.
Wajah gadis itu memutih bagai kunti. Dengan segera Reza mengangkatnya menuju daratan. Reza kembali melihat ke arah danau yang katanya cuma sedalam 1,65 meter itu. Namun, yang dia rasakan kedalaman danau tersebut hingga mencapai empat meter.
__ADS_1
"Dinda, Dinda ...." Reza menepuk pipi Aura. Telinga ditempelkan di d*da gadis itu, masih terdengar detakan dari jantungnya. Lalu dia lakukan CPR, penanganan darurat bagi korban tenggelam. Menekan-nekan bagian pernapasan dengan cepat. Lalu memberikan napas buatan. Hal itu dilakukan secara berulang.
Aura terlihat terbatuk-batuk. Reza segera memiringkan posisi tubuh Aura. Akhirnya gadis itu menumpahkan air danau yang tak sengaja masuk ke dalam saluran pernapasannya.
"Uuhuuk ... huk ... hoeeekk ..."
Tidak hanya di mulut, air tersebut juga keluar dari rongga hidung. Reza menepuk-nepuk punggung gadis itu hingga tak ada lagi yang bisa dikeluarkan.
"Maaf, gara-gara aku, Kamu jadi begini," sesal Reza.
Aura belum bisa mengatakan apa-apa. Dia hanya mencoba mengatur ritme napasnya dengan baik. "Tadi itu aku pikir, Kamu itu mau mati tau nggak. Aah, Tuhan, kenapa tiap ketemu dia aku selalu sial begini?"
"Tadi hanya ingin mengerjaimu. Aku tuh yang lebih sial ketemu dan kenal sama Kamu. Emangnya enak apa, perusahaan yang dibangun susah payah malah hancur dalam sekejap?"
"Salah kan Sistem dong. Jangan salah kan aku! Oh, bagaimana kalau Kamu penjarakan aku saja? Biar Sistem tidak bisa lagi menghubungi aku?"
"Ooohh, tidak bissaa! Kamu itu saat ini jadi tawananku!"
"Cuuuiiihh! Wani piro?" Aura berpikir sejenak, ada hal yang mengganjal di hatinya. Ngomong-ngomong, orang jantungan seperti Kamu bisa berenang juga ternyata?"
"Tentu saja. Renang adalah olah raga yang aku tekuni semenjak kecil. Kata dokter, renang itu sangat baik untuk jantungku." Reza memperhatikan gadis itu kembali.
"Gara-gara Kamu, aku hampir saja mati," rutuknya."
"Jangan mati dulu, gak lucu jika aku menduda sebelum nganu."
Aura hanya membelalakan mata sambil mencoba bangkit. "Nganu eyangmu?" rutuknya. "Kau pasti sudah banyak pengalaman?" Menatap tajam pada pria itu.
Reza tak memedulikan ucapan Aura memilih berjongkok di hadapannya. "Naik lah! Ini bentuk permintaan maafku!"
"Apaan sih? Orang punya kaki juga?"
"Ayo naik!"
"Nggak usah! Nanti aku digrepe-***** lagi!"
Reza bangkit, dan berjalan duluan. "Padahal tadi udah dic*um berkali-kali malah pasrah aja," ucapnya.
__ADS_1
"Apaaaa?" Aura mengejar hendak memukul, tetapi Reza berlari kabur dan langsung menaiki kendaraannya.
"Huh, basah gini, apalagi yang akan mereka katakan tentangku?" gerutunya ikut naik ke mobil tersebut.
"Ada apa dengan teman-teman kosmu?" Reza mengeringkan tubuhnya dengan tisue yang ada.
"Gara-gara Kamu nih, tiap hari main ke kosanku. Aku jadi bahan gibah kan? Masa aku dibilang menjual diri?"
Reza menatap lekat pada Aura. "Kamu memang menjual diri kok!"
...sreet...
Sebuah kepalan tepat berada di depan wajahnya. "Bilang sekali lagi, jangan salahkan aku jika hidungmu keluar darah!"
"Toh Kamu memang jual dirimu padaku. Agar selamat dari hukuman penjara."
Aura hanya menatap pria itu dengan tajam. Akhirnya membenarkan sendiri apa yang dikatakan oleh Reza. Gadis itu ikut mengeringkan dirinya dengan tisue-tisue itu.
💖
Stella dengan perasaan bercampur aduk tengah menanti seorang cowok yang membuatnya ketar-ketir akhir-akhir ini. Dia janjian bertemu dengan Devan. Saat ini dia berada di area parkiran sebuah pemakaman umum.
"Mana Kak Devan sih? Kenapa malah ngajak bertemu di sini?" Stella mulai mengipaskan diri dengan lima jarinya. Namun, tak ada satu pun angin yang menghalau rasa gerah pada dirinya.
Beberapa waktu kemudian sebuah sedan berhenti tepat di sebelah mobil milik Stella. Gadis itu hanya melirik sejenak, lalu matanya kembali liar melihat ke segala sisi. Setelah itu dia melirik ke arah pintu kendaraan yang dibuka oleh pengendaranya. Tampak pria berkaca mata hitam, berpakaian serba hitam keluar dari mobil tersebut.
"Kak Devan?" Stella berlari kecil mengejar dia, yang terlihat sedikit cool saat mengenakan serba hitam.
"Ternyata Kamu beneran hadir di sini," ucapnya.
"Iya doong, Stella gitu. Para pecinta cowok tamvan yang ada di dunia."
"Waah, apakah Kamu adalah takdirku? Karena aku adalah seorang pecinta wanita?"
"Hihihi, candanya boleh juga Kak. Ya iya lah pecinta wanita. Atau mau berubah haluan menjadi pecinta makhluk jadi-jadian yang bawa krincingan?"
Devan melepaakan kacamatanya. Stella bagai terkena ritme slow motion melihat aksi Devan yang tengah menebar pesonanya. "Uwooowww."
__ADS_1
"Came on baby, ikut aku!" Devan berjalan memasuki area pemakaman.