CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
Ex. P12


__ADS_3

Mendengar suara bersin, pria yang tadinya menjadi target penangkapan kabur, menyadari ada yang mengawasi gerak-geriknya.


"Devan? Dia jadi kabur kan?"


"Maaf, Pak. Hidung saya geli," terang Devan.


Devan yang bekerja sama dengan kawanan kepolisian mulai mengejar tersangka kasuh pem bu nu han seorang gadis. Ja sad kor ban di temukan di rawa dengan keadaan yang sudah tidak berbentuk. (skiip dulu, kisah kita bukan fokus ke penyidikan seperti Detektif Muda 🤣)


Stella menengok waktu sudah menuju malam. Seharian ini dia belum juga mendapat kabar dari sang kekasih. Devan sudah menjelaskan, jika ponselnya tidak bisa dihubungi, itu menandakan bahwa dia sedang bertugas.


Terkadang dia tugas single, kadang dia bekerja sama dengan instansi lain. Hanya saja pada awalnya dia tidak menyangka bahwa kekasihnya itu adalah seorang detektif swasta.


Jika yakin dia sebagai pendampingku, maka aku harus mempercayai dia sepenuhnya.


Stella kembali memperhatikan dua orang tua muda ini. Reza terlihat jauh berubah dibanding dulu pertama kali mereka bertemu. Reza yang saat ini, adalah sosok telah berhasil merebut hati pembaca semua. Sebagai sosok pria idaman 🤣


Tak menyangka aja, ternyata Om Mesum sangat perhatian begini. Kalau tahu begini, mungkin aku terima tawaran Appa untuk menjodohkanku dengannya.


Stella seakan tersadar akan sesuatu. Lalu menggelengkan kepalanya. Memukul kepala hingga pasutri yang saling menguatkan tersebut melihatnya dengan heran.


"La, kamu kenapa? Pusing? Capek?" tanya Aura.


"Engga, hanya saja Kak Devan belum bisa dihubungi juga," celetuk Stella mengiri pada pasangan tersebut.


"Yaaa, sabar. Dia kan seorang yang bekerja di lapangan. Ada kalanya dia seperti tidak punya waktu. Ada kalanya juga dia seperti tidak memiliki kerjaan." ucap Reza dengan sangat diplomatis.


Stella mengangguk pasrah. "Iya, Kak. Aku sudah siap dengan risiko sebagai calon istri orang yang lebih sibuk dibanding Presiden Direktur," cibirnya.


"Diiih, aku ini sibuk. Tapi beda tempat. Dia menangani kasus dalam kurun waktu 24 jam. Kalau aku ya cukup di kantor saja. Kalau tidak selesai, tinggal serahkan kepada sang sekretaris."

__ADS_1


Stella mendelik mendengar penjelasan Reza. Dia kembali menengok jam tangan. "Aku balik aja dulu ya? Aku harus menjemput mobil yang ada di kampus. Tadi aku tinggalkan di kampus."


Aura jadi merasa bersalah telah membuat sahabatnya ini repot. Lalu memberi kode agar Reza mengantarkannya ke kampus supaya lebih aman di jalan.


"Tidak usah, Ra. Kamu lebih membutuhkan dia. Aku ke sana bisa naik taksi online saja."


"Maaf ya, La?"


Stella mengangguk dan melambaikan tangannya kepada dua orang tersebut. Setelah itu, dia berpamitan kepada pak dosen, mertua sahabatnya beserta istri. Lalu dia melangkah lunglai menusuri lorong rumah sakit. Dia merasa sepi sendiri, ada perasaan kecewa dan ragu bercampur menjadi satu. Antara yakin dan tak yakin akan pilihan terhadap Devan.


Saat keluar dari koridor, ponselnya bergetar. Akhirnya orang yang ditunggu menghubunginya juga.


"Haloo, Kak. Bagaimana dengan pekerjaannya?"


"Maaf ya, Sayang. Aku terlambat menghubungimu. Tadi harus kejar-kejaran dulu dengan target."


"Berhasil ditangkap, gak?"


"Apaan sih Kak? Gaje amat?"


"Hehe, aku becanda doang ah ... Kamu masih di rumah sakit?"


"Iya, nih. Aku mau jemput mobil yang masih tertinggal di kampus."


"Kalau begitu aku jemput ya? Aku tak jauh dari rumah sakit kok."


"Oke."


Wajah Stella kembali cerah setelah kekawatirannya akan satu hal hilang dengan seketika. Dia duduk pada bangku yang tersedia di sana. Dia melihat suasana rumah sakit tersebut begitu ramai. Bermacam orang lalu lalang tengah melakukan satu hal atau sekedar lewat.

__ADS_1


"Aneh, kenapa banyak banget yang pakai baju putih," celetuknya asal.


Lalu dia menoleh memainkan ponselnya sejenak. Tiba-tiba seseorang yang ditunggu telah duduk di sampingnya menggunakan pakaian putih dari atas hingga ke bawah. Pria itu tampak lebih muda dari biasa tengah mengulam senyum tipis kepadanya.


"Kak, kapan datangnya?" Pria itu tidak menjawab, hanya menengadahkan wajah pada langit-langit rumah sakit.


"Kenapa diam aja?" tanya Stella memperhatikan wajah Devan yang terlihat selayaknya pria remaja yang masih SMA.


"Kamu baik-baik dengannya. Percaya lah bahwa saat ini dia sedang berubah menjadi lebih baik, untukmu. Aku tahu kamu begitu tulus mencintainya. Dia pun tulus mencintaimu."


Stella teekekeh mendengar ucapan Devan yang mengenakan pakaian serba putih itu Wajahnya tampak putih bercahaya. "Kakak ngomong apa sih? Ngomongin diri sendiri seperti ngomongin orang lain saja?"


Pria itu tertunduk dengan wajah kaku. Stella merasa heran dengan tingkah Devan yang terasa berbeda dari biasanya. Pria ini terasa lebih tenang dan tidak seheboh biasanya.


"Ada apa, Kak? Apakah terjadi sesuatu dengan pekerjaannya?"


Pria di sampingnya ini menggeleng tipis. "Sesaat lagi, dia akan datang. Aku berharap kalian bisa hidup rukun hingga tua nanti, bersama saudara kembarku, Devan."


"Sayang!"


Sebuah suara yang dia kenal membuat Stella menoleh ke arah panggilan itu secara refleks. Tampak pria yang mirip dengan pria yang berpakaian putih duduk di sampingnya.


"Kakak?" Kening Stella berkerut, dan dia kembali menoleh ke arah pria yang mengajaknya bicara tadi. Bangku itu telah kosong. Seluruh bulu roma Stella langsung berdiri dan merinding.


"Lama menunggu?"


💖


YUK... Gabung di IG Othor ... 😇😇

__ADS_1



__ADS_2