CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
87. PDKT sama adik ipar


__ADS_3

Reza yang merasa terusik akan keributan keluarga ini, hanya bisa ngamuk kesal tak jelas dalam sarungnya. Dia menghentakan tubuhnya yang besar itu. Membuat dipan tua yang berkerangka besi itu berdecit. Merasa heran akan bunyi-bunyian dipan terssebut, dia kembali menghentakan tubuh pada dipan tersebut. Suara decitan kembali terdengar.


Aura mendengar suara aneh dari kamar Angga, segera menengok apa yang terjadi di dalam sana. Ternyata pria itu terlihat asik memainkan dipan itu yang terus berdecit yang membuat perasaan Aura menjadi geli. Akhirnya Aura menepuk mayat dalam sarung tersebut.


Merasakan sebuah tangan yang menepuk lengannya, Reza menurunkan sarung yang sudah membungkus dirinya hingga kepala. Tampak sang calon istri berkacak satu pinggang, dan satu tangan lagi memegang tangkai sapu.


"Berisik!" rutuknya.


Reza segera bangkit untuk duduk. "Kalian yang berisik! Bukan kah biasanya Kamu males-malesan kalau liburan begini?"


"Kalau tinggal sendiri, tentu beda dengan saat tinggal dengan orang tua. Bangun cepat! Jangan malas-malasan! Katanya mau nikah esok, ini masih nyantai aja?"


"Uni ... Uni ... Aulia udah memasangkan pakaian Aurel juga." Adik nomor tiganya kembali muncul menggandeng si bungsu. Melihat ada orang asing tidur di atas dipan milik abangnya, Aulia mengajak Aurel mundur.


"Uni, Om itu siapa?"


Reza masih bingung dengan keadaan rumah ini. Kenapa banyak sekali warga di dalamnya yang masih bocah. "Uni itu apa?" tanyanya.


"Uni itu, artinya kakak perempuan. Sama kayak Mbak, Teteh, atau Mpok. Ini dua adikku yang lain. Ayo, Kamu harus pinter mengambil hati mereka!"


Reza menurunkan kakinya ke lantai. Setelah itu, berdiri, dan berjalan mendekati dua bocah yang terus berjalan dengan mundur. Akhirnya Reza berjongkok, menyamaratakan tingginya pada adik-adik yang cukup pantas jadi anaknya.


"Haaay!" sapa pria itu mencoba bersikap ramah.


Tapi para adik hanya melihat dengan bengong, dan tidak menjawab sapaan pria ini. Reza kembali menoleh pada Aura. "Kalau di sini panggilan kakak ipar, apa ya?"


"Biasanya sih panggil 'Uda' tapi sekarang udah jarang dipakai sama yang kecil-kecil kayak mereka. Masa ini orang tua lebih suka mengajarkan memanggil dengan 'Abang'!"


"Kira-kira mereka mau tidak ya, memanggilku dengan 'Mas'? Seperti yang digunakan oleh dua adikku. Biar sama aja panggilannya."

__ADS_1


Aura hanya mengedikan bahu. "Coba sendiri sana, suruh panggil 'Mas'!"


"Halo, tadi yang mana namanya Aulia?" Adik nomor tiga mengangkat tangannya. "Jadi yang kecil ini Aurel?" Yang bungsu mengangguk tetapi membisu.


"Aku ini kakak ipar kalian lhooo. Calon suami Uni kalian. Nanti bakalan ngasih kalian keponakan. Kalian tau apa itu keponakan?"


Dua adik Aura menggeleng bingung menatap kakaknya. Aura langsung memukul kepala pria itu. Mengatakan hal yang kurang pantas pada bocah yang masih sangat di bawah umur.


"Jadi, semacam adek bayi. Tapi nanti dari perut Uni kalian ini lho?"


Kedua anak itu membulatkan mata. Melihat Aura dan Reza secara bergantian. "Uni mau punya dedek bayi?" tanya si bungsu Aurel.


"Nanti Aulia yang bantu ngasuhnya saat Uni lagi belajar," ucap yang nomor tiga.


Aura mencubit lengan pria itu. Reza mengernyitkan wajahnya sambil nyengir mengelus bekas cubitan. Kedua tangannya menyuruh kedua bocah tersebut mendekat. "Kalian nanti panggil aku dengan 'Mas' ya?!"


Kedua bocah itu masih bengong kembali menatap sang kakak. Aura hanya menganggukan kepalanya tanda menyetujui hal itu. Kedua bocah itu mulai nyengir-nyengir malu-malu melihat pria asing ini.


"Om!" ucap Aurel yang masih berumur tujuh tahun.


Aura refleks tertawa mendengar ucapan adiknya. Mengingat dia sendiri hingga saat ini masih belum bisa mengganti panggilan Om, terhadap calon suaminya ini. Reza mengayunkan tangannya agar kedua adik kecil segera mendekat. Namun, dua gadis kecil ini masih belum mau mendekat.


Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Ada satu yang tidak mungkin ditolak oleh anak kecil. Dia merogoh kantong celananya. Mencari sereceh dua receh yang bisa digunakan sebagai pendekatan bagi dua bocah ini. Dan dia menemukan recehan warna hijau sebanyak dua lembar. Reza membuka lipatan uang lalu mengipaskannya.


"Ayo sini, siapa yang mau memanggil 'Mas' nanti bakalan dapat uang!"


Kembali mengipaskan dua lembar uang tersebut. Aura merasa gusar melihat pria ini menggunakan bujukan uang. Takutnya nanti malah menjadi kebiasaan. Hal ini tentu akan menyulitkan kedua orang tuanya yang berpenghasilan minimum.


"Hei! Jangn pakai cara kayak gitu dong! Nanti jadi kebiasaan bagaimana?"

__ADS_1


"Biarin! Biar nanti mereka sayang sama kakak iparnya!"


Reza kembali mendekatkan dirinya kepada dua bocah itu. "Ayo sini! Panggil 'Mas'!"


Aulia mulai menyengir malu. Panggilan itu bukan lah sapaan yang biasa di tempat ini. Sedangkan Aurel mulai ngemut telunjuknya karena bingung. Reza mulai mengubah taktik. Menyimpan kembali uang hijau itu, lalu mengeluarkan dompetnya. Menarik dua lembar bewarna biru.


"Kalau begini bagaimana? Tapi syaratnya masih sama yaaa!"


Aulia kembali melirik Aura. Kali ini Aura menggeleng karena tidak setuju. Reza menyimpan uang biru itu kembali. Lalu mengeluarkan uang merah.


"Mas ... Mas ... Mas ...." ucap Aulia tiba-tiba membuat Reza kaget.


Setelah itu dia terkekeh, menyuruh Aulia mendekat. "Nah, gitu ya! Panggil aku ini dengan 'Mas' karena aku adalah kakak ipar kalian!"


"Maaas," ucap Aulia kembali. Lalu mendekati Aurel. "Ayoo panggil Mas, Dek. Dapat uang buat beli baju baru!" ucapnya denga polos.


"Mas," ucap Aurel sekali ketuk dan mengangguk.


"Nah, sini Aurel! Ayo Mas kasih duit!" Lalu memberikan uang tersebut pada si bungsu yang masih malu-malu itu.


Aura hanya bisa menggelenkan kepalanya. "Kekuatan uang sungguh luar biasa!" cibirnya.


Lalu mereka bersiap-siap untuk rencana esok hari. Memberitahukan beberapa kerabat dekat dan tetangga saja. Pada sore hari, kerabat datang menengok siapa calon menantu rumah ini.


Mereka sangat kagum melihat calon suami Aura. Menilai Aura sangat beruntung mendapat calon suami seperti dia. Padahal Aura sendiri merasa akan masuk neraka setiap memikirkan menjadi istri orang ini.


Sudah dua hari Tuan Sistem kehilangan budak kesayangan. Dia mulai mengecek semua kontak yang pernah dia gunakan untuk menghubungi gadis itu. Akhirnya, Marcell mencoba menghubungi Nona Hackernya menggunakan kontak lama milik gadis itu. Saat dia menghubungi, ternyata panggilan gadis tersebut telah aktif.


"Jadi ponselnya itu telah kembali? Atau digunakan oleh si pencuri?"

__ADS_1


Marcell mencoba menghubungi panggilan itu kembali. Mencoba mendengarkan siapa yang mengangkat panggilan tersebut. Kebetulan, Aura meninggalkan ponsel miliknya. Dia sedang pergi bersama para tante untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan untuk pernikahan.


Ponsel tersebut dilihat oleh Reza. Reza. Melihat panggilan private, yang tidak terdeteksi. Tiba-tiba dia teringat pada Tuan Sistem yang terus merecoki calon istrinya.


__ADS_2