
Setelah acara makan usai, Reza mulai memasang wajah serius. "Kamu tahu di mana lokasi Marcell yang menculikmu itu?"
"Lupa-lupa ingat sih. Kenapa?"
"Ayo kita ke sana! Stella diculik olehnya."
...braaak...
Aura menggebrak meja makan, dan bangkit. "Kenapa tidak bilang sejak tadi? Pakai ngomong muter-muter kayak uler gak jelas, malah menyembunyikan ini."
Aura segera kembali ke kamarnya. Mengganti kembali pakaian yang dirasa lebih cocok digunakan untuk aksinya malam ini. Aura mungikat rambutnya tinggi, mengenakan jaket. Tidak hanya itu, mengambil jaket untuk suaminya juga.
"Kak Devan sudah diberi tahu?"
Reza hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Aura mengambil ponsel yang ada di sebelah piring makan suaminya tadi. Mencari kontak panggilan masuk terakhir, dan segera menghubungi Devan dan meminta untuk segera datang ke alamat yang diberikannya.
"Kamu hati-hati, Ra!" ucap Devan yang udah kedahuluan ditutup oleh orang yang di seberang panggilan.
Padahal aku mau mengatakan bahwa data nya sedang beredar di internet. Bahkan titik alamatnya---
Devan segera mengirim pesan kepada kontak tersebut dan bersiap-siap untuk segera menuju ke tempat yang telah dikatakan oleh Aura.
Aksa tengah mengakses jaringannya untuk perbaikan banner pada laman yang telah dirusak oleh Aura. Namun, ada sebuah notifikasi masuk dalam jaringannya. Foto Aura terpampang di dalam sana.
Aksa membaca isinya, matanya terbelalak marah. Isi data tersebut berisi tentang seluruh data Aura menginformasikan bahwa penyebab segala kerusakan jaringan oleh para pengusaha akhir-akhir ini adalah dia. Bahkan foto Aura terpampang memenuhi layar laptopnya.
Pekerjaan siapa ini?
Aksa mencoba membekukan informasi tersebut, tetapi tak bisa. Dia mencoba menghubungi Reza. Reza yang melihat ada panggilan dari Aksa, melirik ke seseorang di sampingnya. Reza menolak panggilan itu.
"Ah, sial ... Kenapa ditolak?"
Aksa mencoba melakukan panggilan kembali, ternyata ponsel Reza sudah tidak aktif. Aksa menggaruk kepalanya dengan kasar. Tiba-tiba masuk pesan tambahan.
__ADS_1
Nama: Aurora Safitri
Status: Mahasiswa Universitas Negara
Jurusan: Akuntasi
Alamat: Gedung Apartemen Cempaka
Jalan Hilligo, Lantai 9 nomor 909
Kriminal dalam peretasan perusahaan yang akhir-akhir ini terjadi. Jika ada yang menemukamnya, segera laporkan kepada pihak yang berwajib.
Spam ini akan saya hapus sebelum terendus oleh polisi. Jika Kamu menyerahkan diri dan bekerja denganku saat ini juga!
Kening Aksara berkerut. Lalu mulai serius untuk membekukan spam yang akan muncul di setiap awal berpindah aplikasi. Aksara meregangkan jemarinya setelah itu langsung memulai melakukan pembekuan terhadap spam yang dibuat oleh seseorang tersebut.
Sementara Reza mengendarai mobilnya dipandu oleh Aura yang masih lupa-lupa ingat di mana lokasi dia dibekap oleh Tuan Sistem tersebut.
"Udah sampai?" tanya Reza yang memperhatikan wanita di sebelahnya dalam wajah bingung.
"Dikit lagi ke sana!"
Perjalanan dilanjutkan, dan Aura terlihat semakin bingung. Melihat ke arah belakang dengan kening mengerut.
"Stop ... stop! Tunggu! Sepertinya kita udah terlewat!"
...cekiiiit...
Reza menginjak rem sejadinya. Menatap orang disampingnya dengan wajah kesal. Namun, dia masih terlihat kebingungan. Masih ragu dengan lokasi waktu itu. Karena suasana malam, membuat semua tampak sama.
"Di mana?"
__ADS_1
"Mundur dikit! Masuk ke persimpangan sana."
Reza memutar arah dan masuk ke lokasi yang dikatakan Aura. "Kita turun di sini saja!" Aura memastikan masuk ke sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Dia menemlelkan telinga ke pintu tersebut.
Sementara Reza mengirimkan titik lokasi keberadaan mereka kepada Devan. Dia tergelak dan menggelengkan kepala saat memperhatikan aksi sang istri yang dirasanya terlalu berlebihan. Reza mencari sesuatu yang bisa digunakannya sebagai senjata.
Aura melihat apa yang dipegang oleh Reza, ikut mencari benda yang sama. Tak lama, Devan muncul menggunakan motornya yang berisik. Aura menepuk jidat karena kesal atas kecerobohan pacar Stella itu.
Dari dalam rumah itu, terdengar suara kunci dibuka. Mereka semua bergerak untuk bersembunyi. Yang keluar dari rumah tersebut adalah Jendra. Melihat sebuah motor berdiri tepat di depan rumah ini membuat Jendra buru-buru masuk melapor kepada Marcell.
"Sepertinya dia telah datang!"
Sebuah senyum miring tersungging di bibir Marcell. Dia bangkit meninggalkan peperangannya dengaj seseorang yang tidak dikenal dalam jaringan. Masuk ke ruangan, di mana sebelumnya digunakan untuk mengurung Aura.
Kamu tahu, aku sengaja tidak berpindah tempat agar Kau ke sini untuk mencariku kembali.
Di dalam ruangan itu tampak seorang gadis yang meringkuk terikat dan mulut ditutup oleh lakban. Marcell sengaja membuka lakban tersebut.
"Sialan! Siapa Kau? Apa urusanku dengan kalian?" Stella langsung berteriak.
Teriakan itu terdengar sampai ke telinga Aura. Aura langsung ingin bergerak menerobos masuk. Namun, Reza menahan dan menggelengkan kepalanya.
"Ini adalah umpan. Mereka telah mengetahui keberadaan kita. Kamu tidak boleh gegabah!"
Jendra berkeliling mencari keberadaan Aura. Namun, dia mendapat hantaman dari Devan dan langsung menguncinya.
"Di mana Stella? Apa tujuan kalian menculiknya?"
"Ampun Bang! Ampun---"
"Hahaha, ternyata Kamu tidak sendirian Nona? Apa Kamu tidak mengindahkan apa yang aku katakan dalam surat itu?" Marcell membawa Stella dengan sebilah p*sau kecil yang siap memutus urat nafas milik Stella.
Surat?
__ADS_1