
"BELLA!"
Bella menutup kupingnya kerena terkejut dengan suara nyaring Faya begitu memasuki ruang kelas pagi ini. Sahabatnya itu langsung berdiri dan memaksanya untuk melepas tas ranselnya.
"Ada apa, nih?" tanya Bella heran ketika merasa tubuhnya di putar paksa oleh Fella, kemudian di dudukan dengan paksa.
"Denger-denger kemarin elo lengket banget ya sama Brayu, hayo ada apa sama elo dan Brayu? Ngaku lo," ucap Faya menyelidik.
"Idih... siapa juga yang lengket, orang gue cuma bantuin ngobatin luka dia doang nggak lebih," balas Bella dengan ekspresi datarnya, nada bicaranya rada meninggi.
"Aduh... kenapa gue nggak liat moments langka di mana Bella mesra-mesraan sama Brayu," celoteh Faya.
Bella mengernyitkan keningnya. "Siapa yang bilang, kalau gue mesra-mesraan sama Brayu, jangan asal ngomong gue nggak suka."
Faya langsung melirik ke arah Fella, seraya menggigit bibir bawahnya. Ia lupa akan kata-kata Fella yang tidak boleh langsung bertanya kepada Bella akan apa yang tadi sudah mereka bicarakan pagi ini.
"Sorry fel, nggak bisa ngerem," ucap Faya pelan, Faya mulai menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kebiasaan lo, untung aja gue kalau punya rahasia nggak cerita sama elo," cetus Fella.
"Ya... Fella jangan ngambek dong, masak elo tega sama sahabat elo yang imut kaya telur puyuh ini."
"Kenapa nggak tega, elo aja tega terus sama gue, masak gue nggak boleh."
"S T O P .... jangan pada ribut dong, ini masih pagi!" seru Bella mengingatkan. "Jangan bikin mood gue rusak dong."
"Iya bel, kita minta maaf," ujar mereka berdua kompak.
"Jangan ngambek lagi ya bel," ucap Faya dengan tak tahu malunya.
"Sorry ya bel, gue nggak seharusnya ngasih tau ini orang, nyatanya dia nggak bisa jaga rahasia," sahut Fella.
Bella tak menanggapi celotehan dari kedua sahabatnya, ia masih terdiam dengan posisi yang sama. "Gue masih ngantuk, kalian jangan ganggu gue dulu, lima belas menit masih cukup buat gue tidur," ucapnya dengan menguap.
Kedua sahabatnya hanya bisa geleng-geleng kepala ketika mendengar perkataan Bella yang mungkin sedikit menyebalkan jika terlalu di dengarkan dengan serius.
...°•°©inta Untuk Fella°•°...
Suasana kantin yang tak begitu ramai, membuat Fella dan kedua sahabatnya leluasa untuk memilih makanan yang akan mejadi menu makam siang bagi mereka.
"Tumben kantin sepi gini? Yang lain pada kemana?" tanya Bella dengan membawa semangkuk Bakso jumbo dan es campur.
"Tau ah... yang penting gue bisa milih tanpa harus mengantri," balas Faya dangan senyum centilnya.
"Idih nggak ada manis-manisnya," kata Bella dengan menaikan satu alisnya.
"Ya elah bel, sekali-kali kek puji gue cantik apa imut gitu, biar gue semangat terus, jangan cuma hinaan aja yang lo kasih ke gue."
Bella tak membalas perkataan Faya, ia hanya menganggap perkataan Faya hanyalah sebagai angin lalu. Bella segera menghampiri meja Fella dan Salsa. Terlihat dari wajah mereka yang sedang menikmati makanan sambil terus bercanda entah mereka sedang membahas apa?.
"Kalian ngomongin apaan sih? Gue penasaran banget, pengen denger juga," ucap Bella saat sudah berada di meja dan duduk tepat di hadapan Salsa.
"Rahasia..." balas Salsa dengan cepat.
"Ish.... ngeselin," kata Bella menyeringai seraya mengangkat sendok-nya, ingin sekali rasanya Bella melayangkan sendok tersebut ke kepala Salsa.
"Hahaha... kak Bella bisa marah juga ya ternyata," ledek Salsa.
"Dia mah... paling hobi kalau marah sal," sahut Faya.
"Yang bener kak? Aku nggak percaya kalau kak Bella orangnya pemarah."
"Tatap aja terus dianya, paling entar lo cuma jadi santapan makan malamnya," canda Fella.
"E-e enggak mau ah ... kak, aku masih mau hidup," kata Salsa buru-buru menghindari kontak mata dari Bella, tatapan Bella begitu tajam menatap ke arahnya.
"Rese kalian berdua tuh... mana ada sejarahnya gue makan orang," ucap Bella rada sewot.
"Tapi tatapan mata kak Bella beneran kaya mau makan aku," sahut Salsa dengan wajah yang masih berpaling.
"Ck... kalau bukan adiknya Arska udah gue makan beneran elo sal!" ujar Bella mendelik.
"Hahahaha.... bercanda bel, jangan terlalu di masukin ke dalam hati, Salsa pasti juga bercanda nggak ada maksud ngomong kaya gitu," Faya mengibas-gibaskan tangannya di depan wajah Bella.
"Ck... udah diem, kalau kalian diem! Gue bakalan traktir kalian makan sampai puas."
Kompak ketiga gadis itu menutup rapat mulut bibir mereka, hanya senyuman yang terlukis dari bibir mereka. Ucapan Bella benar-benar mujarab untuk membuat mereka terdiam untuk sementara waktu.
__ADS_1
...°•°©inta Untuk Fella°•° ...
Di gerbang sekolah Arska sudah sibuk menunggu kepulangan Fella. Arska sudah tak sabar ingin segera mengajak Fella untuk sekedar makan dan nonton bareng seperti janjinya tempo hari.
Dari kejauhan Arska yang masih di atas motor sportnya memperhatikan Fella dengan senyum kecil. Sepertinya ia semakin jatuh cinta dan tak mau kehilangan kepada sosok. Fella Anantasya Cantika.
Fella mengakhiri percakapannya dengan Bella dan Faya, nampak ia berlari kecil untuk segera menghampiri Arska.
"Kita jadi nonton yang?" tanya Fella dengan senyum mengembang di kedua pipinya.
"Jadi... kamu nggak perlu khawatir karena cuma kita berdua yang nonton sama makan, nggak ada yang lain," jelas Arska. "Kamu bahagia?" lanjutnya.
"Banget...."
Kata-kata itu mengakhiri percakapan singkat Fella dan Arska di depan gerbang. Karena Fella sudah duduk manis di jok belakang Arska sambil memeluk erat perut rata Arska. "Aku udah siap yang buruan jalan," perintah Fella.
Sudut bibir Arska terangkat sesaat, ia nampak bahagia karena Fella tak henti-hentinya mengembankan senyum bahagianya, bahkan gadis itu memeluk perutnya dengan sangat erat sampai ia sedikit sudah bernapas.
Arska melajukan motor sportnya di bawah rata-rata, ia takut jika terlalu kencang mengendari motornya akan ada kejadian yang sama untuk kedua kalinya dan itu bisa membuat mood Fella turun dengan seketika.
"Kamu mau makan dulu, apa mau nonton dulu ay?" tanya Arska dengan suara sedikit berteriak.
"Terserah kamu," balasnya tak kalah keras.
"Kalau terserah aku, berarti nggak jadi nonton sama makan dong," kata Arska meledek.
"Ayang... jahat banget... kan udah janji, nggak bisa dong di batalin gitu aja," ucap Fella sedikit memajukan bibirnya.
"Hahaha... bercanda sayang."
"Bercandanya nggak lucu ngeselin, aku bete."
"Iya sayang maaf ya, nggak di ulangin lagi ini."
"Ow.... iya yang, kamu tau nggak sih? Kalau aku lebih suka kamu boncengin pakai motor, dari pada kamu jemput pakai mobil."
"Tau," jawab Arska singkat.
"Kok udah tau, kan aku belom bilang."
"Ya karena kamu pengen peluk aku aja kan dari belakang, jadi aku langsung tau kalau kamu suka naik motornya."
"Hahaha... tapi aku suka, karena kepedean ku muncul secara instan tanpa mikir kamu takut apa enggaknya, yang penting kamu peluk aku erat, itu udah bikin jantung aku loncat-loncat saking girangnya."
"Hem..."
Fella tak mau menanggapi ucapan Arska lagi, ia tak mau jika kekasihnya itu terus menertawakannya karena mengingat kejadian dulu.
Satu jam kemudian....
Arska menghentikan laju motornya saat memasuki area Plaza Mall, ia memarkirkan motornya seraya menggandeng tangan Fella dengan erat.
"Udah siap buat seneng-seneng ay," ucap Arska saat sudah berada di dalam Mall.
"Siap banget yang, aku udah nggak sabar pengen nonton sama makan berdua sama kamu."
"Padahal ini bukan kali pertamanya kita nonton dan makan berduaan loh ay."
"Karena sekarang adalah tanggal 23," kata Fella mencoba mengingatkan.
"Artinya?" tanya Arska sedikit kebingungan.
"Yah... kamu tuh payah yang, artinya kita udah jalan selama 17 bulan, setahun lebih kita udah bareng-bareng."
Wajah gadis itu nampak begitu sumringah, tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiannya saat ini.
"Itu artinya kita emang di takdir-kan buat selalu bersama," balas Arska seraya merangkul pundak Fella dan membawa gadis di bawah ketiaknya itu keliling mall, ia tak mau terlalu cepat menonton acara bioskop atau makan, karena ia ingin menghabiskan waktunya seharian full bersama gadis yang sudah terlanjur mencuri hatinya.
"Ayang ke sana bentar yuk, aku liat pasang lain juga pada ke sana."
Mata Fella tertuju saat semua pasangan mulai mengantri di depan photo box untuk mengambil giliran berfoto.
"Yah... cuma kaya gitu aja yang, kita mah juga bisa selfi pakai ponsel sendiri."
"Beda sayang," rengek Fella sudah seperti anak kecil yang meminta permen.
"Antriannya itu loh yang, panjang banget."
__ADS_1
"Kamu nggak mau berjuang buat aku, cuma gara-gara antrian yang nggak seberapa itu," Fella memasang wajah cemberutnya.
"Iya sayang... kita ke sana," dengan pasrah Arska menuruti permintaan Fella, sejujurnya ia malas karena tatapan cewek-cewek yang mengantri di sana terus mengarah kepadanya, Tapi Arska tak mau melihat Fella bersedih karena keinginannya tak terpenuhi.
Fella menatap ke arah gadis-gadis yang terus melirik ke arah Arska, sesekali Fella mengamati Arska dan gadis-gadis itu secara bergantian.
Fella semakin mempererat gandengannya, membuat Arska meringis kesakitan.
"Ay... ada dendam apa kamu sama aku, tangan aku sakit, kamu kecil-kecil tenaganya kuat juga," protes Arska dengan wajah memelas, alisnya terpaut dan hampir menyatu.
"Ganjen!" ucap Fella melepaskan genggaman tangannya dan kini ia bersedekap dada dengan tampang cemberutnya.
"Siapa?" tanya Arska dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Kamu."
Arska menunjuk dirinya sendiri. "Tadi kamu yang ngajakin kesini, sekarang kamu juga yang ngambek," protes Arska.
Fella masih terdiam dengan wajah tertekuk, Arska menarik sudut bibirnya saat mengetahui gadis-gadis di depannya sedang melirik ke arahnya. "Ow... Aya cemburu, ngeliat aku jadi pusat perhatian cewek-cewek ini," batin Arska sejenak setelah mengamati sekelilingnya.
Arska segera mengerakkan tangan dan jari-jarinya untuk menyentuh lengan Fella, manarik gadis itu hingga tepat berada di sampingnya sampai tubuh mereka menempel. Mata Fella membulat sempurna, ia terkejut dengan tindakan Arska yang secara tiba-tiba menariknya dengan paksa. Kini wajah Arska mulai menunduk, mendekat dan cup, satu kecupan manis mendarat di pucuk rambut Fella, dan itu membuat gadis tersebut merasa malu sampai ke ubun-ubun karena tatapan cewek-cewek itu terus mengarah kepadanya dan Arska. Fella mulai membalikkan badannya dan bersembunyi di balik jaket Arska.
"Apa-apaan sih kamu yang? Aku malu di liatin mereka," tanya Fella dengan wajah yang semakin terbenam di dada bidang Arska.
"Aku liat kesayangan aku ini cemburu, karena aku jadi pusat perhatian cewek-cewek yang ada di depan kita saat ini. Dari pada ngambek terus mending aku inisiatif sendiri," bisik Arska masih dengan posisi menundukkan kepalanya, ia kembali menatap ke depan dengan senyum menawannya seraya mengacak pelan rambut Fella.
"Ngerasa iri aku, ngeliat mereka mesra kaya gitu."
"Yang, kamu harunya perhatian juga kek, kaya cowok ganteng itu."
"Sayang banget udah punya cewek."
"Aduh... nggak bisa tidur nyenyak ini pasti kepikiran terus. kenapa aku ini jomblo sih."
"Nasibnya jomblo ngenes gini."
Terdengar beberapa gadis di hadap mereka terus berceloteh karena melihat kemesraan Fella dan Arska yang di tunjukan secara terang-terangan di depan umum.
"Kamu bikin aku malu," gumam Fella masih dengan posisi yang sama.
"Justru aku suka ngeliat kamu yang kaya gini, makin gemes," balas Arska dengan mengusap pelan pucuk kepala rambut Fella.
"Maunya...." protes Fella yang kini menjauhkan tubuhnya dari Arska, ia mencoba mengontrol jantungnya yang sudah terlalu over.
Senyum kecil lagi-lagi menghiasi wajah tampannya. Ada-ada saja niat isengnya untuk membuat Fella tersipu malu seperti saat ini.
Lima belas menit kemudian, akhirnya giliran Arska dan Fella melakukan foto bersama.
"Geser dikit, tempatnya terlalu sempit," protes Fella saat sudah berada di dalam photo box.
"Nggak mau... maunya nempel terus," ucap Arska sengaja menggoda.
Fella mendengus mendengar perkataan Arska yang sengaja menggodanya. Sedangkan, Arska tampak sangat tenang, seolah tak terjadi apa-apa padahal, tanpa sepengetahuan Fella, Arska tengah memuaskan diri menatap Fella terang-terangan.
Lebih maju, ka. Lebih maju.
Entah itu suara hatinya sendiri, apa pikiran Arska, ia semakin mendekatkan diri kepada gadis yang ada di hadapannya. Arska perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Fella. Ia semakin menahan napas. Sementara itu, dalam hati ia berhitung. Ia akan memberikan waktu lima detik untuk Fella membuka suara, Arska sengaja memanfaatkan posisinya yang begitu dekat.
Satu detik.
Fella menyadari pergerakan aneh Arska.
Dua detik.
Dan, ini tentu menimbulkan perang batin dalam dirinya.
Tiga detik.
Ia melirik bibir itu penuh minat.
Empat detik.
Jaraknya semakin dekat.
Lima detik.
Fella memejamkan matanya.
__ADS_1
Teori lima detik itu ternya berguna juga bagi Arska, kesempatan manis bisa mencium Fella saat di tempat seperti ini.