
Di kelas Brayu nampak kesal mendengar setiap celotehan Dilan dan Aldy yang terus mengusik pikirannya, padahal ia sudah belajar sabar, pikirnya menghindari kedua makhluk itu adalah hal yang tepat, nyatanya mereka justru mengikutinya hingga ke kelas.
"Lo mau kemana lagi bray?" tanya Dilan saat Brayu sudah berada di ambang pintu.
"Nyari udara segar, yang nggak ada makhluk kaya kalian berdua! Otak gue mulai pusing dengerin kalian ngoceh," balasnya dengan hati yang menggondok.
"Ya.... kita kan cuma ngingetin lo bray, lo jangan marah gitu," sahut Aldy.
Brayu mulai malas menanggapinya, ia memilih berlalu lalang begitu saja, tanpa pamit terlebih dahulu. Brayu sudah sangat kesal melihat atau pun mendengar celotehan dari kedua makhluk yang terus mengompori-nya.
"Kalian berdua mending pergi dah... gue pusing dengerin kalian dari tadi ngoceh muluk, jadi kompor bleduk kok nggak ada habis-habisnya," sindir Arska.
"Iye... iye kita pergi, gue lupa kalau kalian berdua kan sama-sama sensinya," ucap Aldy yang sudah berdiri terlebih dahulu, di ikuti oleh Dilan yang menyusul di belakangnya.
"Elo sih dy!" Dilan tiba-tiba menyikut lengan Aldy saat sudah di luar kelas.
"Lah.... kok lo jadi nyalahin gue juga sih lan, tadi kan lo juga ngikut ngomporin Brayu," Aldy merasa tak terima jika dirinya hanya di salahkan seorang diri.
"Ya tapi sumber kompornya itu di elo dy, kalau lo nggak mulai duluan mana ada gue ngikut."
"Ya....ya... emang gue serba salah, puas lo!"
Dilan cekikikan tanpa dosa, hingga matanya mengarah ke suatu kerumunan orang yang sedang melerai perkelahian.
"Brayu..." ucapnya kompak saat mengetahui siapa yang sedang berkelahi.
Dilan dan Aldy segera berlari ke sana, mereka tak menyangka jika Brayu akan nekat menghampiri Leon dan Bella. Mereka pikir kepergian Brayu hanya sekilas info karena malas mendengarkan celotehan yang mereka ciptakan.
"Tahan emosi lo bray, ini masih di lingkungan kampus, bisa berabe urusannya kalau dosen sampai ngeliat lo kaya gini," kata Dilan masih memegangi lengan Brayu dengan kuat, ia tak mau jika Brayu berbuat lebih nekat lagi.
Lain halnya Aldy yang sekarang sibuk menghalangi Leon yang akan membalas tindakan Brayu karena telah memukulnya secara tiba-tiba.
"Lepasin gue! Gue bakalan bales lo!" kata Leon yang masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Aldy.
"Gue udah peringatin lo buat lepasin tangan Bella! Tapi lo masih kekeh dan itu akibatnya karena lo nggak dengerin perintah gue," balas Brayu dengan berteriak, nafasnya sedikit tersengal.
"Apa hak lo ngelarang gue! Lo bukan cowoknya kan!" Leon kembali memberontak, ia berteriak cukup keras.
"Ck..." Brayu berdecak kesal karena memang dia belom menjadi siapa-siapa bagi Bella, ia semakin kesal akan ucapan Leon.
Bella sudah muak dengan sikap kedua cowok yang terlalu kekanak-kanakan di hadapannya ini, sudah kesal karena perlakuan Leon yang memaksanya untuk terus mengekor di belakangnya, sekarang ia harus melihat Brayu yang sedang kebakaran jenggot karena tak terima melihat dirinya dengan cowok lain.
"Bel, apa lo cuma mau diem aja? Bantuin kita kek, ini orang udah kaya orang kesetanan gara-gara lo," teriak Dilan.
"Ck.... gue nggak nyuruh mereka buat berantem! Mereka-nya aja yang kaya anak kecil."
"Bella... turunin ego lo dikit aja, buat pisahin mereka berdua."
"Mereka udah gede! Mereka bisa mikir sendiri."
"Gue nggak kuat nahan Leon, sebaiknya kalian berdua berhenti buat berdebat." Aldy masih mencoba menahan Leon dengan sia-sia tenaga yang ia miliki.
"Woy..... kalian denger gue ngomong nggak sih! Ini anak makin jadi, gue nggak sanggup nahan dia lebih lama lagi," teriak Aldy yang kini sudah melepaskan lengan Leon karena tenaganya sudah tak mampu menahan lagi.
Bug...
__ADS_1
Bug...
Bug ...
Tiga pukulan mendarat di tubuh Brayu yang masih di tahan oleh Dilan. "Lepasin gue lan!" seru Brayu yang nampak meringis kesakitan.
"Kenapa lo lepasin Leon dy?" tanya Dilan dengan berteriak.
"Gue udah nggak sanggup nahan dia lagi lan, tangan gue keram."
Saat Leon akan mengarahkan satu pukulan lagi, tangan Belle terlebih dahulu menepisnya. "Gue paling nggak suka ngeliat kelakuan kalian yang kaya anak kecil." Bella sudah sangat kesal melihat sikap mereka yang tak mau mengalah, tapi pikirannya masih saja peduli dengan keadaan Brayu.
Bella menarik pergelangan tangan Brayu dan mengajaknya pergi dari tempat yang sudah terlalu banyak orang berkerumun itu.
"Anjir... Brayu pakai pelet apa, bisa bikin Bella simpatik kaya gitu," ucap Aldy saat sudah berada di dekat Dilan.
"Tau... tuh anak, gue juga heran. Tuh anak hatinya pasti girang banget saat ini, badannya boleh babak belur, tapi dapet perhatian dari Bella, gue yakin pasti dia nggak nyesel udah bonyok kaya gitu."
"Kalau gue sih... ogah badan bonyok gitu, mana ada yang ngelirik," kata Aldy mencebirkan bibirnya.
"Anjir lo..... sempet-sempet nya mikir di lirik orang, ingat loh... masih ada Faya yang perlu lo perjuangin, salah-salah cewek lo bisa kecantol sama cowok lain. Baru mampus lo."
Leon yang merasa tak di anggap ada oleh kedua mahluk yang berada di hadapannya saat ini pun merasa kesal. Ia membuang nafasnya dengan kasar, betapa sialnya ia hari ini, sudah mendapat pukulan secara tiba-tiba, di tambah dua mahluk yang tak henti-hentinya terus berdebat. Dengan kasar ia menabrakkan tubuhnya ke arah Dilan dan Aldy sehingga kedua mahluk itu terpisah, tanpa sepatah kata pun ia lontarkan. Dilan dan Aldy menelan saliva-nya masing-masing, mereka lupa akan keberadaan Leon yang sejak tadi berada di belakangnya.
"Kenapa lo nggak bilang, kalau masih ada dia disini?" Dilan merasa tak enak hati.
"Gue lupa kalau masih ada manusia lain di sini, kirain dia udah out dari tadi."
"Ah... masa bodoh lah, gue pusing mikirin-nya." Dilan mulai meninggalkan Aldy seorang diri di taman belakang kampus.
...°•°©inta Untuk Fella°•°...
Bella menarik tangan Baryu hingga ke bangku taman. Muka datarnya sangat terlihat jelas, oleh Brayu yang tak hentinya menatap wajah gadis itu.
"Kenapa kaya anak kecil sih, anak kecil aja gampang kok di atur-nya, kenapa lo susah." Bella mulai mengomel.
"Maaf...gue nggak bisa ngontrol emosi, waktu ngeliat lo sama cowok itu." Brayu menundukkan wajahnya.
"Ck....kekanak-kanakan." Bella beralih duduk dengan bersedekap dada, melihat sekilas penampilan Brayu yang sudah tak karuan, wajah tampannya sudah babak beluk karena ulah Leon.
"Kenapa? Ngeliatin gue sampai segitunya?" Brayu kini ikut duduk di sebelah Bella tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Sakit?" tanya Bella dengan mata menyipit.
Brayu sedikit mengangkat kepalanya, ia mengangguk pelan seraya memasang tampang memelas. Berharap jika Bella akan simpatik dengan luka lebam yang ada di wajahnya saat ini.
"Sukurin." Masih dengan ekspresi cuek, Bella pura-pura tak peduli, ia memilih membuang wajahnya ke sembarang arah.
"Yah.... berharap luka gue ada yang merhatiin, nyatanya gue cuma mau di angurin," kata Brayu yang kembali menundukkan kepalanya, menatap ke arah rumput yang ia injak saat ini.
Bella memutar bola matanya, sedikit merasa kasihan akan cowok yang ada di sampingnya saat ini. "Gue narik lo kesini bukan tanpa alasan, gue juga mau bersihin luka lo, ya meskipun gue nggak ada alat buat ngebersihinya."
Tanpa menunggu lama, Brayu sudah mengangkat kepalanya, ia melihat ke arah Bella dengan senyum mengembang.
"Lo serius, mau bersihin luka gue?" tanya Brayu dengan girangnya.
__ADS_1
"Hem....." gumam Bella seraya mengeluarkan tisu dari saku bajunya, menuang minuman yang sejak tadi di bawanya.
Bella mulai membersihkan sedikit luka yang mengeluarkan darah di kening dan sudut bibir Brayu dengan alat seadanya. Brayu meringis dengan apa yang di lakukan Bella, benar-benar perih yang ia rasakan saat ini.
"Tahan dong, katanya cowok."
Brayu tak membalas ucapan Bella, mata ekornya hanya melihat ekspresi wajah gadis itu dengan tatapan penuh harapan.
"Nggak usah ngeliatin gue sampai segitunya," kata Bella mencoba memperingatkan.
"Kenapa sikap lo cuek banget sih bel? Padahal kalau gue liat-liat lo aslinya nggak kaya gitu, lo tuh orang pengertian."
Bella melebarkan matanya, sambil menekan luka Brayu cukup keras, hingga Brayu meringis karena ulah gadis itu.
"Lo sengaja mau nyiksa gue ya?"
"Lo bisa diem nggak! Gue kesel denger lo ngoceh terus kaya gini."
"Ya sorry, gue cuma terbawa suasana aja."
"Dasar play boy baperan."
"Gue udah tobat bel."
"Nggak nanya."
"Gue cuma ngasih tau."
"Gue nggak mau tau!"
"Please kasih gue harapan bel, agar gue tetap bertahan."
"Kalau lo bertahan, artinya lo beneran serius sama gue! Tapi kalau lo nyerah duluan, artinya lo masih aja sama kaya yang dulu."
Kali ini Brayu meraih kedua tangan Bella, meyakinkan gadis itu agar percaya dengan ucapannya.
"Gue serius sama lo, gue nggak pernah ngerasa seperti ini waktu sama cewek lain, lo bisa kan rasain detak jantung gue ketika lo ada di dekat gue," ucap Brayu yang kini meletakan tangan Bella di dadanya.
Bella mengernyitkan kening, ia masih berusaha tenang agar tak membuat Brayu semakin menjadi-jadi karena tindakannya.
"Lo bisa rasain kan? Gimana seriusnya gue sama lo!" Brayu mencoba menekankan kata-katanya agar Bella lebih percaya.
Gadis itu menarik kedua tangannya dengan cepat, ia tak mau begitu saja luluh dengan ucapan Brayu.
"Luka lo udah gue bersihin, sisanya lo urus sendiri. Gue balik duluan buat ngumpulin tugas," jelas Bella seraya berdiri.
Brayu mengangguk pelan, ia mengerti akan hal yang katakan. Ia tak mau jika gadis itu mendapatkan hukuman dari senior jika terlambat mengumpulkan tugasnya.
Sebelum beranjak Bella menoleh ke arah Brayu sekali lagi. "Buang sikap kekanak-kanakan lo, karena gue nggak suka! Itu pun kalau lo masih mau jadi calon pacar gue!" seru Bella.
Brayu melebarkan kedua matanya, senyumnya kembali merekah saat Bella masih memberinya harapan.
"Jangan terlalu seneng, karena gue bisa berubah pikiran dalam hitungan menit," ucapnya seraya berlalu lalang.
Brayu sedikit mengerucutkan bibirnya. "Gini amat sih mau serius sama satu cewek, ngasih harapan setinggi langit, abis itu di jatuhin sampai remuk. Nasib-nasib." Brayu menggaruk kepalanya yang terasa gatal saat ini, sambil terus memandangi kepergian Bella yang kian menjauh dari pandangannya.
__ADS_1
Perlahan cowok itu mulai mengembangkan senyumnya kembali, berfikir jernih atas ucapan Bella yang kembali membuatnya bersemangat. Ia akan berusaha untuk mengambil hati Bella seutuhnya, hingga tak ada ruang yang tersisa untuk orang lain menetap di hati gadis itu selain dirinya.