Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Menurunkan Ego!


__ADS_3

Hari ini Brayu nampak tak baik-baik saja, lelaki itu terlihat sedikit kusut, wajahnya juga terlihat sangat datar. Pikirannya pun sudah sangat kacau, hingga ke putus asa di dalam hatinya menjadi pelengkap dalam penderitaannya saat ini. Ia meminta untuk bertemu dengan Bella bukan tanpa alasan. Brayu ingin bertanya tentang isi hati Bella yang sesungguhnya terhadap dirinya, jika Bella memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya, ia masih akan bertahan, tetapi, jika jawabannya masih sama saja, Brayu memilih untuk menyerah.


"Lo ngapain malem-malem ke rumah gue?" tanya Bella masih dengan wajah juteknya.


Tersenyum tipis. "Main aja."


Bella hanya manggut-manggut, gadis itu hanya mengamati penampilan Brayu dari atas hingga bawah. "Lo sakit?" tanyanya, dengan tangan menyentuh kening lelaki tersebut.


Menggeleng pelan, mata sayu-nya menatap Bella dengan penuh penderitaan. "Gue sehat kok."


"Tapi muka lo, kaya nggak sehat." Bella masih mengamati secara detail penampilan Brayu malam ini.


"Hidup gue bener-bener udah kacau," ucap Brayu, dengan membuang napasnya secara kasar.


"Kacau," ucap Bella pelan, dengan mengulangi perkataan lelaki tersebut.


Lagi dan lagi, Brayu hanya bisa tersenyum. Namun senyum itu terlihat tidak seperti biasanya, senyum yang di paksakan karena tak ingin melihat gadis yang di cintai-nya bertanya-tanya akan hal yang baru saja ia ucapkan. "Nggak papa, nggak terlalu penting."


"Elo ada masalah?" tanya Bella dengan kening berkeriput, gadis itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ia terus berpikir tentang apa yeng sebenarnya terjadi kepada Brayu.


Brayu tak menjawabnya, ia justru meraih kedua tangan Bella dengan pelan. "Gue kesini cuma mau mastiin, gimana perasaan lo ke gue Bel."


"Lo kenapa sih? Setiap ketemu gue, yang lo bahas itu muluk. Nggak ada topik lain apa?" Bella segera menarik tangannya, membuang wajahnya ke sembarang arah.


"Enggak ada topik lain. Karena gue pengen tahu perasaan elo, ke gue itu kaya gimana?"


"Maksa banget sih! Lagian apa pentingnya juga, lo, tau perasaan gue kaya gimana?" Gadis itu rada sensi jika mengungkit prihal isi hatinya.


"Itu penting banget buat gue Bel," ucapnya dengan wajah tertunduk.


Bella terdiam dan engan menjawabnya, memainkan jari-jari tangannya dengan sesekali menghela napas. "Jawaban gue, masih tetap sama Bray, dan itu nggak akan pernah berubah."


Brayu memaksakan senyumnya kembali, menelan kenyataan pahit yang harus di terimanya. Lelaki itu menatap langit-langit ruangan dengan kegelisahan yang kian membuatnya semakin kalut.


"Kenapa lo diem? Biasanya lo paling cerewet, paling agresif?" tanyanya dengan menatap lurus ke arah lelaki tersebut.


Mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut Bella, lelaki itu langsung membenarkan posisi duduknya, kini ia menatap ke arah gadis yang sangat ia cintai itu. "Thanks Bel, lo udah ngajarin gue. Gimana caranya bersabar, meskipun yang gue tunggu itu nggak pasti. Dan gue harap lo bisa temuin laki-laki yang tepat, yang bisa bikin hati elo selalu bahagia." Brayu meraih kedua tangan Bella, wajahnya terlihat sayu namun ia tetap mengembangkan senyumnya meskipun hanya terpaksa.


"Elo kenapa?" tanyanya sekali lagi, Bella merasa aneh, dengan sikap Brayu yang tak seperti biasanya. Bahkan mendengar kata-katanya tadi, membuatnya semakin kebingungan. 'Ada apa sebenarnya?' pertanyaan itu terus melintas di dalam otak kecilnya.


"Gue nggak papa. Gue cuma berharap, elo bisa dapat cowok, sesuai dengan apa yang lo inginin. Karena gue nggak mau kalau elo sampai kecewa," katanya yang langsung mengacak rambut Bella dengan gemasnya.


"Gue makin nggak ngerti, sama ucapan elo barusan?" tanya Bella


"Gue nyerah Bel, mulai detik ini. Gue nggak akan ganggu elo lagi."

__ADS_1


"Maksud elo? Elo udah nggak mau lagi temenan sama gue?"


Brayu tersenyum. "Gue balik dulu ya, kasihan kak Jasmin di rumah sendirian," ucapnya seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Lo, belum jawab pertanyaan gue Bray," teriak Bella.


Lelaki itu terus berjalan, tanpa menghiraukan ucapan Bella. Gadis itu merasa kesal dengan tindakan Brayu. "Enggak, nggak, pikiran elo nggak boleh sampai ke sana. Mungkin aja Brayu baru ada masalah, makanya di ngomong kaya gitu." Bella terus mendumel tanpa henti, tangannya memukul kepalanya pelan. "Pasti dia cuma bercanda kan?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Gadis itu mulai gelisah, bahkan tingkahnya sudah tak karuan, ia menutupi kepalanya menggunakan bantal yang ada di sofa. Kakinya menendang-nendang udara, nampaknya ia mulai kesal dengan sikap egoisnya. "Kenapa lo keras kepala sih Bel," gumamnya lagi.


Semua penghuni rumah napak terkejut melihat sikap anak majikannya yang begitu membingungkan, bahkan tindakannya seperti anak kecil yang meminta permen. Rasanya sikap tegasnya mulai memudar, apa mungkin bella mengalami bucin yang berlebihan, setelah mengenal Brayu lebih mendalam. Gadis itu masih beruntung, karena Ranita sedang tidak ada di rumah. Jika wanita setengah baya itu ada di rumah, habislah dia dengan ucapan Mommy-nya yang begitu pedas.


Lelaki itu nampak berjalan dengan kaki yang setengah melemas, ia harus mengakhiri perjuangannya dengan begitu cepat karena ulah Ridwan dan Jeny. Hatinya begitu sakit mendapati kenyataan pahit jika ia harus menerima kekalahan terhadap Papa tirinya itu. Meskipun ia masih ingin bertahan, rasanya juga tidak mungkin, karena ia tak pernah mengikhlaskan sang kakak dan rumah jatuh di tangan orang yang salah, biarlah kali ini ia yang berkorban demi kakaknya.


"Ternyata lebih capat dari yang gue pikirin, gue pikir dulu gue bakalan bertahan lama, nggak taunya. Gue harus nyerah secapat ini," gumam Brayu sambil menatap langit.


Seulas senyum masih ia perlihatkan, meskipun wajahnya masih terlihat sayu dan tak terima. Menoleh sesaat, melihat rumah megah yang selalu ia kunjungi hampir setiap hari. "Selamat tinggal Bel, gue pasti bakalan rindu banget sama elo," ucapnya sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh lagi.


...•°•Cinta Untuk Fella°•°...


Seminggu sudah, Brayu tak menampakan diri di hadapan Bella. Entah mengapa kehidupannya kini banyak berubah. Sepi yang ia rasakan saat ini, lelaki itu selalu membuatnya jengkel namun di balik itu semua, sisi lembut Brayu selalu dapat ia liat saat Bella benar-benar tak mampu mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tak pantas ia ucapkan.


"Ini anak beneran menghindar dari gue? Beneran mau ngelupain gue?" tanya Bella pada dirinya sendiri. Ia mengambil ponselnya, melihat apakan ada chat dari Brayu atau tidak. Gadis itu hanya melihat chat terakhir mereka.


Beberapa detik kemudian, bukan suara Brayu yang terdengar namun suara operator ya begitu mengesalkan yang justru ia dengar. 'Nomor yang ada tuju, sedang mencari pasangan lain! cobalah untuk move on dan mencari pasangan baru. Jika memerlukan bantuan lain, silahkan anda menghubungi nomor XXX'.


Bella langsung menarik ponselnya. "Ya ampun operator aja sampai ngehina gue! Bener-bener rese. Awas aja lo Bray! Gue bakalan bikin perhitungan sama lo!" Bella memegang erat ponselnya, dan melempar ponselnya ke sembarang arah, merasa cukup kesal dengan tindakan yang di ambil oleh Brayu. Kini Bella masih belum beranjak dari sofanya. Pikirannya benar-benar kacau beberapa hari ini.


"Telpon kak Jasmin," ucapnya seraya mengambil ponselnya kembali.


Mencari nomor Jasmin dan menekan tombol hijau, menunggu beberapa detik. 'Maaf! mantan calon kakak ipar anda, sedang tidak ingin di ganggu! Cobalah untuk menghubunginya kembali, lain waktu.'


"Operator rese, dari tadi sindiran muluk yang gue dapatin," teriak Bella sambil melempar ponselnya kembali.


Pikiran Bella kali ini benar-benar kacau. Di dalam pikiran dan pendengarannya selalu sindiran yang ia rasa.


Ranita yang melihat perubahan pada sikap anaknya beberapa hari ini, merasa khawatir. Wanita paruh baya itu segera menghampiri Bella.


"Kamu kenapa sayang? Mommy lihat akhir-akhir ini kamu banyak marah-marahnya?" tanya Ranita saat ia sudah berada di sebelah putrinya.


"Apa Bella terlalu egois ya Mom?" tanyanya dengan ekor mata melirik ke arah Ranita.


"Egois dalam bentuk apa dulu?" tanyanya dengan santai.


"Dulu Bella selalu ngerasa, kalau Brayu itu cuma pengganggu yang selau bikin Bella kesel tiap kali ngeliat dia mom. Tapi akhir-akhir ini Bella baru ngerasaain sepi waktu Brayu nggak lagi gangguin Bella," ucap gadis itu terang-terangan. Bella memang tak pernah menutupi rahasia kepada Ranita, yang gadis itu tau meluapkan segala kekesalannya dengan bercerita kepada sang Mommy membuat hatinya sedikit lega.

__ADS_1


"Itu namanya kamu ngerasa kehilangan. Kamu mulai jatuh cinta sama Brayu," ucap Ranita sambil menyentil kening Bella pelan.


"Aw... Mommy, sakit tau! Kenapa harus nyentil Bella sih Mom." protes Bella, dengan tangan mengusap pelan keningnya.


"Itu biar kamu ngerti, gimana caranya menurunkan ego kamu yang selangit itu."


"Siapa yang egois sih Mom?"


"Kamu! Kamu begitu takut kehilangan Brayu. Sampai kamu nggak pernah jujur tentang perasaan kamu yang sebenarnya ke dia."


"Bella mana ada rasa Mom sama Brayu," gadis itu masih saja mengelak.


"Yakin nggak ada rasa sama Brayu?"


Bella mengangguk dengan cepat. "Bella yakin seyakin-yakinnya Mom."


"Tapi Mommy nggak percaya." Ranita menatap lurus ke arah Bella tanpa sedikit pun berkedip.


"Dari segi apa? Yang ngebuat Mommy nggak percaya kalau Bella emang nggak ada rasa sama Brayu?"


"Mata kamu nggak bisa bohong sayang, keliatan banget kok, kamu kelihatan gelisah banget waktu Brayu nggak kasih kabar kamu. Kamu baru ngerasain sepi kan?"


Gadis itu hanya terdiam sesaat, setiap ucapan Ranita selalu saja benar. Apa mungkin memang ia sudah memiliki perasaan terhadap lelaki itu.


"Turunin ego kamu sayang, ego kamu terlalu tinggi. Nyatain perasaan kamu ke Brayu, jangan karena masalah Ferdy kamu larut dengan kesedihan sampai menutup hati kamu untuk laki-laki lain. Kejar Brayu sebelum kamu nyesel nanti."


Bella masih terdiam dengan posisi menundukkan kepalanya, jantungnya berdetak sangat kencang. Kata-kata Ranita masuk dalam segi bentuk apa pun, tak bisa di pungkiri lagi. Kalau dirinya memang memiliki rasa terhadap Brayu.


"Mom, jangan salahin tindakan bodoh anak mu, kali ini, karena apa? Karena yang Mommy ucapin semuanya benar, Bella nggak mau kehilangan orang yang Bella sayang untuk kedua kalinya," ucapnya seraya berdiri.


"Kamu mau kemana sayang? Ini udah malam."


"Mengejar Brayu sebelum terlambat Mom," kata Bella yang langsung meraih jaketnya dan berlari keluar.


"Ck.... bahkan, di saat seperti ini pun, di lupa akan caranya berpamitan sama orang tua," gumam Ranita.


Gadis itu menoleh sekilas, karena mendengar suara Ranita yang sudah seperti kumbang tersebut. "Bella denger Mommy ngomong apa? Bella berangkat Mom. Assalamualaikum," ucapnya dengan berteriak.


Ranita menjawab salam sang anak dengan kepala menggeleng pelan. "Anak zaman sekarang, ada-ada aja kelakuannya," ucapnya pada diri sendiri, wanita separuh baya itu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.


Di dalam mobil, Bella mengigit ibu jarinya. Hatinya begitu bimbang, entah apa yang akan Brayu katakan jika dirinya benar-benar mengungkapkan isi hatinya kepada laki-laki itu, mungkin pikiran Braya akan mengoloknya jika dia terlalu pelin-plan atau entah lah, Bella hanya mengira-ngira saja.


"Pasang muka tebal aja Bel, biarin aja Brayu mau mikir apa tentang elo. Yang penting elo beneran sayang kan sama dia," ucap Bella pada dirinya sendiri.


Bella langsung menambah kecepatan mobil, untuk segera sampai ke rumah Brayu.

__ADS_1


__ADS_2