Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Ketakutan!!


__ADS_3

Teng... Teng... Teng...


Bel sekolah telah berbunyi tanda pelajaran hari ini telah usai.


Derap langkah kaki dan suara keluh kesah setiap pelajaran yang riuh mengalahkan suara angin siang itu. Seluruh siswa-siswi SMA Gabriel Sanjaya berhamburan keluar dari ruang kelas masih-masih. Terlihat berbagai ekspresi yang mereka tunjukan siang itu, lemah, lesu dan lelah. Adapun yang masih menunjukan ekspresi senang meskipun hanya sebagian kecil. Entahlah, mungkin hati mereka sedang berbunga-bunga atau mungkin mereka adalah golongan para siswa yang berhasil melewati zona horor dalam pelajaran mereka saat itu.


Terlihat Salsa dan kedua temanya keluar dari ruang kelas. Mereka berjalan berdampingan seperti biasa, namun berbeda suasana. Atmosfir yang sangat berat masih terasa hingga saat ini. Begitulah yang di rasakan oleh Salsa, berjalan di antara dua gunung es yang terus memancarkan hawa dingin dan beku belum ada tanda-tanda akan mencair karena kehangatan yang di pancarkan oleh Salsa.


Gadis itu merasa dihimpit dan sesak berada di antara dua temannya yang tengah mengalami musim dingin itu. Namun, yang membuatnya tercekat dan terbebani hanyalah dia seorang yang tidak tau apa penyebab kedua temannya terasa canggung dan hampir bertabrakan seperti itu. Tak ada seorang pun yang mau memberitahunya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Sampai pada suatu masa Salsa berada dimasa sedih, dan seolah tak di anggap oleh kedua temannya itu. Seperti terasingkan sampai dia benar-benar memikirkan apa yang telah ia perbuat sehingga masing-masing dari kedua temannya itu menyimpan rahasia yang begitu rapat dan tidak ada satupun dari mereka yang mau berbagi dengannya.


'Hem... Sebenernya, aku tuh temen mereka apa bukan, sih? Atau aku cuma di anggap orang asing buat mereka? Bahkan sikap mereka berubah tanpa bilang dulu! Harusnya kalau mau berubah sikap itu bilang dulu, biar aku bisa mempersiapkan diri juga!' begitulah yang ia katakan dalam hatinya sebagai bentuk protes atas ketidak tahuannya. Walaupun sebenarnya ia sangat kepo, namun bertanya pun rasanya percuma dari keduanya tidak ada yang pernah mau jujur.


Mereka saling diam dan berjalan menuju gerbang sekolah. Lagi dan lagi, Salsa menghembuskan napasnya dengan berat. Gadis itu ingin bertanya namun hasilnya pasti akan sama saja. Hingga mereka pun memutuskan untuk berpisah di depan pintu gerbang, karena dari keduanya sudah ada yang di jemput oleh orang tuanya.


"Bye, sampai ketemu besok ya!" kata Rey, yang langsung meninggalkan Salsa dan Maya.


Salsa membalas dengan lambaian tangan sedangkan Maya membalasnya dengan senyum yang terlihat sedikit di paksakan. Salsa terus memandangi punggung Rey yang kian menjauh dari pandangannya.


Maya mengeluarkan ponselnya, nampak ia begitu serius memainkan ponselnya, dan nampak tidak menghiraukan kehadirannya. Jempolnya begitu lihay dan cepat seperti sedang membalas pesan masuk untuknya. Salsa berpikir Maya sedang menghubungi ayahnya untuk segera menjemputnya. Tapi, yang membuat Salsa heran, ketika Maya terus tersenyum sendiri dengan ponselnya dan dengan senyum yang berbeda, terlihat seperti senyum remaja yang sedang kasmaran dengan kekasihnya melewati ponsel.


Sebenarnya, Salsa ingin sekali menggoda temannya itu. Bibir mungilnya seperti tidak bisa tahan melihat sikap Maya yang terus mengembangkan senyumnya sejak tadi karena ponsel yang di genggamnya itu. Karena, seharian ini gadis itu terus berdiam, dan baru kali ini Salsa melihat Maya bisa tersenyum meskipun bukan dengannya.


"Huh, sama ponsel aja bisa senyum! Sama temen sendiri yang tadi ngacir di sebelahnya nggak di kasih senyum! Sebenernya salah aku itu apa sih?" protesnya.


Maya hanya melirik sekilas ke arah Salsa, gadis itu menunjukan muka datarnya lagi. Membuat Salsa menghela napasnya kembali, gadis itu memilih beranjak dari tempat duduknya.


"Ya udah, deh. Kalau nggak mau ngomong sama aku, aku nggak jadi bareng sama kamu aja." kata Salsa seraya melangkahkan kakinya.


Gadis itu begitu kesal melihat perubahan sikap temannya itu, daripada melihat wajahnya yang kusut itu mending di pulang sendiri menggunakan kedua kakinya untuk menuju ke tempat halte bus.


Dengan wajah tertekuk, Salsa melangkahkan kakinya. Ia berjalan melewati jalan raya dan masuk ke gang, pikirnya melewati jalan itu ada hal yang tepat, karena jarak halte lebih cepat dan tak memutar arah jika ia melewati gang tersebut.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba terdengar suara....


Bruk!!!


Sontak saja, itu membuat Salsa menghentikan langkah kakinya. Gadis itu tersentak ketika mendengar seseorang seperti menabrak sesuatu, ia langsung menoleh kebelakang dan menengok kanan dan kirinya, tapi tak ada seorang pun di sana kecuali dirinya.


"Astaga, itu bunyi apa? Motor pakai masuk bengkel, kak Arska masih liburan di Jogja, dan tante masih sibuk di butik. Kalau gue di culik gimana," ucap Salsa pada dirinya sendiri, gadis itu menggigit ibu jarinya, bingung harus berbuat apa. Tau begitu, tadi dia memilih untuk tetap bersama Maya, meskipun tampang menyebalkan-nya terus di tunjukan di hadapannya.


Jantung Salsa berdebar sangat keras bahkan sampai terdengar di telinganya sendiri. Gadis itu langsung teringat tentang berita yang telah terjadi beberapa hari yang lalu di daerah tersebut. Memang saat itu rumor yang beredar adalah tentang kasus penculikan brutal dimana si penculik menculik targetnya dan membawanya ke suatu tempat yang tidak di ketahui oleh siapa pun. Dan si penculik itu menyiksa dan membabi buta korbannya hingga tewas. Kemudian si penculik mengambil organ dalam korbannya untuk di jual di pasar gelap dengan harga yang sangat mahal untuk setiap organ vital. Ya, mungkin rumor itu masih viral hingga saat ini.


Semua tubuhnya bergidik merinding tak karuan. Tapi, bukannya bergegas untuk pergi atau berlari, gadis itu hanya diam memaku di tempatnya berdiri. Ia merasa tubuhnya tiba-tiba kaku dan membeku sehingga tidak dapat di gerakkan sama sekali.


Beruntung pita suaranya masih berfungsi dan tidak ikut membeku, kemudian ia mencoba memberanikan diri untuk bersuara barang kali si penculik bisa di ajak untuk bernegosiasi.


"O-Om, atau T-tante penculik. A-a-aku masih pengen hidup! A-a-aku, masih punya dua orang tua yang belum aku bahagiain. T-t-tol-long kita nego aja ya?" ucap Salsa setengah berteriak dengan suara gagap dan gemetar. Ia tidak berani menoleh sama sekaki, terus berdiri memaku di tempatnya dan hanya bisa melirik-kan bola matanya ke samping kanan dan kirinya dengan kepala yang kaku dan tak bergerak sama sekali.


Ucapannya tak berpengaruh karena tidak ada suara yang menjawab. Salsa hanya bisa menelan saliva-nya karena setelah itu suasana yang dirasakannya terasa semakin berat dan mencekam. Gadis itu masih berdiri mematung dan mulai memejamkan matanya.


'Apa, sih! Yang aku lakuin ini? Bukannya langsung lari cari tempat rame malah nge-bug disini!' gumamnya dalam hati dengan mata yang masih terpejam. Tubuhnya masih terus gemetar.


Tak...


Tak...


Tak...


Suara langkah yang terdengar ringan namun terasa menakutkan itu semakin mendekat ke arah Salsa, wajahnya semakin pucat pasi dan juga tubuhnya mulai berkeringat dingin. Ia semakin gemetaran dan tubuhnya berguncang dengan sangat hebat. Saat ini juga gadis itu mati-matian menahan hasrat yang tak tertahankan.


'Huhuhu... kenapa di saat seperti ini, aku malah kebelet pipis, sih! Mana aku nggak tahan.' ungkapnya dalam hati.


Bibirnya perlahan mulai bergetar dan lidahnya menjadi sangat kelu untuk mengucapkan satu patah kata pun. Matanya masih tertutup sangat rapat.


"......"

__ADS_1


Salsa berusaha menahan rasa takutnya dan ingin segera membuang hasrat yang tak bisa terbendung itu. Pikirannya semakin kacau dan tak terkendali terlebih dari serangan fisiknya yang menuntut untuk segera di keluarkan. Salsa masih bergulat dengan mental dan fisiknya sampai pada akhirnya ia sadar bahwa suara langkah kaki itu tidak terdengar.


Hening dan sunyi.


Masih dengan keadaan terpaku dan membisu, Salsa mencoba mencerna keadaannya saat itu. Ia mencoba menenangkan diri. Memperbaiki suara detak jantungnya agar berdetak normal kembali. Gadis itu menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskan-nya perlahan untuk membuang rasa paniknya. Perlahan mulai membuka matanya dan mencoba mengamati kondisi sekitarnya. Tapi, belum juga sempat menoleh.


Tep!


Deg! Jantung Salsa berdetak tak karuan saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Kali ini lebih tak terkendali lagi, rasanya jantungnya akan copot dari tempatnya. Matanya terbelalak sangat lebar, keringat dingin mulai mengucur dari segala titik epidermis-nya. Tubuhnya terguncang sangat hebat, bahkan si penculik itu ikut merasakan getaran dari tubuhnya yang sudah di pastikan menjalar.


Terkadang Salsa memang terlihat sangat tenang dan berekspresi datar saat menjalani harinya dengan biasa, seakan tidak ada reaksi yang akan ia tunjukkan saat ada seseorang yang sedang mengalami masalah, asalkan itu bukan dirinya sendiri yang mengalami, jadi ia akan menanggapi sewajarnya saja. Bukan berarti dia tak peduli, tapi memang itu sudah bawaan sifatnya yang cuek. Sampai Salsa benar-benar merasakan pengalaman mengerikan seperti ini, sehingga membuatnya bereaksi panik yang sangat berlebihan.


Gadis itu juga merasakan bahwa tangan itu perlahan mulai mencengkram pundaknya dengan sangat kuat. Salsa semakin kelimpungan dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, pikirannya sudah terlanjur kacau balau dan bibirnya tidak lagi sanggup mengeluarkan suara untuk sekedar minta tolong.


Tapi sayangnya, di gang se-sempit itu siapa juga yang akan mendengar dan segera datang menolongnya. Terlebih lagi kalau dia bisa berteriak, suaranya pasti akan sangat tercekat dan tidak bisa lantang. Ia sudah terlanjur jatuh kedalam cengkeraman si penculik dan hanya bisa berdoa jika hari ini adalah ajalnya, ia berharap itu adalah ajal yang baik dan menyenangkan. Begitu yang ada di pikirannya.


"Ya Allah, tolong. Kalau memang hari ini adalah hari terakhir ku melihat dunia, tolong beri aku kematian yang indah dan menyenangkan. Tapi, sepertinya. Jangan kau ambil nyawaku dulu, ya Allah. Aku masih banyak hutang kepada sahabatku Ray, aku juga belum mencuci baju tante Violla kemarin, aku belum mengerjakan PR matematika, aku juga belum minta maaf sama guru kimia gara-gara ngatain dia, soalnya aku di kasih nilai jelek ya Allah. O... iya kemarin aku juga nggak sengaja bilang beli gorengan dua biji padahal aku ambil lima biji pas di kantin. Habis ini aku juga mau anniversary sama pacar aku ya Allah. Nggak papa deh, habis ini aku putus aja, nggak mau pacaran lagi, nggak mau bohongin tante Violla lagi. Aku takut dosa ya Allah, aku udah mengakui semuanya, ya meskipun belum semuanya juga, sih ya Allah. Tapi, please banget ya Allah tolong hamba-Mu ini huhuhu...." celotehnya panjang lebar tak karuan dengan nada suara yang paruh, pelan dan sedikit tercekat, namun samar-samar masih bisa di dengar dari jarak dekat. Dan hanya ada si penculik yang berada di dekat Salsa dan berdiri di belakangnya sejak tadi.


Tidak ada lagi yang bisa Salsa lakukan. Ia hanya bisa pasrah, tapi ia juga berkeinginan untuk tidak menyerah dengan keadaan. Pikirannya sangat kalut dan tidak bisa lagi berkembang hanya untuk sekedar mencari pencerahan bagaimana cara agar bisa lepas dari situasi yang di alaminya saat ini. Tubuhnya yang beraksi sangat hebat dengan keadaannya, perlahan berubah menjadi lemas dan tidak berdaya. Dengan penuh kesadaran, Salsa merasakan sesuatu yang sangat hangat dan nyaman merembes dari kedua kakinya.


Basah dan hangat sangat lega sekali.


Jistt! Salsa sangat kaget sekali.


'Mampus deh! Kelepasan!' ucapnya dalam hati.


Matanya kembali terbelalak, kali ini amat sangat lebar dari sebelumnya. Sekian lama terpaku dan bergelut dalam pikiran dan rasa takutnya, ia sampai lupa dengan fisiknya juga menuntut sesuatu darinya. Sampai akhirnya menuntut untuk di keluarkan tanpa sengaja dan tanpa sepengetahuan Salsa.


Dan sekarang ia lebih merasakan malu dari pada rasa takut dan sedihnya. Salsa berpikir penculik itu akan mengolok-olok dan menertawakannya karena ia ngompol. Hatinya seakan tidak karuan, dilema karena memikirkan antara image dan kelangsungan hidupnya di depan mata sang penculik. Bahkan hingga saat ini, Salsa belum sekalipun menoleh kebelakang karena merasa masih ketakutan dan dia juga tidak tahu bagaimana rupa si penculik yang sepertinya sejak tadi tidak berniat melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu Salsa.


"Hay! Tukang ngompol sembarangan! Mati elo habis ini!" suara seorang lelaki yang tiba-tiba berbicara di belakang Salsa.


Hening...

__ADS_1


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!" teriak Salsa sekeras-kerasnya.


__ADS_2