
Arska bukanlah tipe lelaki yang meskipun sudah menikah, mengabaikan begitu saja penampilannya. Rapi, wangi dan tentu saja menawan, tak jarang pegawai yang di pekerjakan-nya sering sekali mengagumi lelaki yang sudah beristri itu secara diam-diam bahkan membicarakannya.
Karena itulah, Fella tak jarang untuk tak mengomeli karyawan suaminya itu. Fella bisa menjadi mak-mak rempong jika tau suaminya menjadi topik pembicaraan. Istri Arska itu memang tak hanya sekali mendengar mereka terpekik kagum ketika melihat Arska.
Kesal tentu saja, dan apakah papa mertuanya tak mengetahui aksi Fella? Maka jawabannya tentu saja Papa mertuanya itu tau. Tapi, lelaki paruh baya itu membiarkan saja menantunya berbuat ulah.
Dan siang itu, setelah Fella menemani Arska makan siang di ruangnya. Perempuan itu mengerucutkan bibirnya lantaran sang suami memintanya untuk segera pulang.
"Aku nggak mau yang!" begitu tolaknya ketika Arska 'Mengusir' dirinya untuk meninggalkan ruangannya. "Aku mau disini!" katanya keras kepala.
Bukannya apa-apa, Arska hanya tak ingin melihat istrinya itu kelelahan. Karena jika itu sampai terjadi, Fella pasti akan merecokinya untuk meminta pijat kepadanya.
"Ya udah. Kalau nggak mau kamu baringan di sofa aja, aku masih sibuk sayang." katanya mengalah. Fella memang keras kepala sekali sejak ada bayi di dalam perutnya. Tapi ucapan Arska pun tak di indahkan-nya, terlihat dari bibir Fella yang masih mengerucut.
"Nggak mau!" serunya melipat kedua tangannya di dada.
Sepertinya, Arska benci mendengar dua kata yang baru saja keluar dari mulut bibir istrinya itu. Lelaki itu beranjak dari sofa dan kembali ke kursi kerjanya untuk duduk di sana.
"Ya udah, terserah kamu mau apa sekarang." balasnya. Lelaki itu kembali berkonsentrasi dengan laptop yang ada di depannya.
Tak butuh waktu lama Fella mendekat ke arah sang suami dan memeluk lelaki itu dari belakang. Meletakkan dagunya di atas kepala Arska yang sedang membaca dokumen yang ada pada layar laptopnya. Fella sesekali mencium rambut suaminya.
"Kangen kamu yang." begitu katanya dengan suara manja khas Fella. Arska menyeringai tapi tak bereaksi. Kangen katanya, padahal mereka setiap hari bertemu. Saat di rumah, tidur pun satu ranjang. Aneh memang jika di dengar, mungkin istri Arska itu memiliki tingkat kebucinan paling tinggi.
"Mau di peluk," lanjutnya lagi.
Perut Fella yang memang sudah membesar, tak menghalangi perempuan itu memeluk suaminya dari belakang.
Mengelus lengan Fella lembut, Arska sesekali mengecupnya. Membalikkan kursinya, Fella dengan otomatis melepaskan pelukan-nya dari leher sang suami.
"Manja kamu kapan hilangnya sih, yang?" seraya menarik tangan Fella untuk bisa duduk di pangkuannya.
Fella, tentu saja senang bukan kepalang. Langsung saja ia menempelkan kepalanya di dada bidang sang suami dan melingkarkan lengannya di leher lelaki itu setelah bokongnya mendarat di bokong Arska.
"Ayang cinta aku nggak, sih?" pertanyaan konyol yang sudah pasti tau jawabannya.
Tak menjawab, dia mendongakkan kepala Fella agar bisa mencium pipi perempuan itu. Arska menenggelamkan hidungnya di sana dan mengecupnya berkali-kali.
"Kalau kamu nggak tau jawabannya berarti kamu bodoh." begitu katanya dengan menatap intens ke arah mata istrinya.
"Tapi aku mau, kamu kasih tau jawabannya lagi." pinta Fella.
Mendekatkan wajahnya perempuan itu membalas mengecup bibir suaminya.
"Karena aku, ingin selalu mendengar jawaban yang sama setiap harinya." lanjutnya dengan senyum menyeringai.
Mata mereka saling menatap, jantung mereka saling berdetak dengan kencang, dan darah mereka berdesir, seolah mereka adalah pasangan baru yang masih hangat-hangatnya.
Semoga saja aksi mereka berdua tak ada yang mengetahuinya, sebab jika ada yang mengetahui pasti akan berujung ke baperan bagi karyawan yang masih setia menjomblo.
"Fella Anastasya Cantika. Aku, Arska Aregan, mengakui jika aku, begitu mencintai istriku dengan sepenuh jiwa dan raga."
Kepuasan tercetak jelas di wajah Fella. Perempuan itu kembali memeluk leher suaminya,dan menyadarkan kepalanya di leher lelaki itu.
__ADS_1
"Puas?" kata Arska bertanya pada sang istri.
"Puas." balas Fella seperti mendapatkan harta karuan miliyaran dolar.
"Kepuasan anda adalah motto kami." jawaban ngawur Arska membuat Fella mengetatkan pelukannya.
Tapi sayangnya ketika romantisme itu berlangsung, tiba-tiba rasa nyeri di perutnya tak bisa ditahan lagi. "Yang sakit." adu-nya sambil mengelus perutnya sendiri.
Arska bereaksi cepat. "Kram?"
Fella memang kadang merasakan kram di perutnya namun hanya sebentar. Tapi sekarang, sakit itu lebih sakit dari biasanya.
"Yang air ketuban ku pecah."
Arska melihat kebawah, ke paha Fella yang terlihat basah.
"Kamu mau melahirkan." Kepanikan itu merambat di hati Arska begitu cepat. Diangkatnya tubuh Fella seolah bobot badan perempuan itu tak berpengaruh sama sekali.
Membuka pintu ruangan, membuat Damar terkaget.
"Siapkan mobil!" perintah Arska yang tak bisa berpikir lagi rasanya.
Damar kalang kabut mendengar suara tinggi Arska. Dengan serampangan, lelaki itu mengambil kunci mobilnya dan menekan tombol lift untuk mereka.
"Tahan ya sayang," suara Arska terdengar merendah namun masih di selimuti kepanikan.
Sampai di lantai dasar, semua orang di buat heboh oleh teriakan Damar. "Awas-awas." begitu katanya pada orang-orang yang berlalu lalang. Sedangkan Arska hanya fokus kepada keadaan Fella.
Fella yang ada di gendongannya semakin menenggelamkan wajahnya di dada sang suami ketika rasa nyeri kembali menyerangnya.
Kerumunan di lantai dasar, seolah mereka sedang menonton pertunjukan seru. 'Mbak Fella mau melahirkan ya? Atau cucu Pak Daka mau melahirkan?' terdengar antusias dari bibir mereka.
Mereka hanya ingin tahu bagaimana rupa anak dari atasannya itu. Karena jika melihat rupa Fella dan Arska, pasti menghasilkan anak yang jempolan.
...~Cinta Untuk Fella~...
Penuh perjuangan, itulah yang dialami ketika mereka ingin segera sampai di rumah sakit. Kemacetan, menghadang jalannya seakan tak tahu ampun.
Keluarga Arska dan Fella sudah berada di rumah sakit ketika Damar menghubungi mereka. Hendry bahkan meninggalkan dokumen yang baru saja diperiksanya, dan meninggalkan sekolah dengan sesegera mungkin.
Kedua keluarga yang menunggu kelahiran cucu pertama mereka, bahkan terus menunduk untuk berdoa agar proses kelahiran cucu mereka bisa berjalan dengan selamat dan lancar. Baik itu ibunya dan bayinya.
Sedangkan Fella yang ada di ruangan bersalin, sedang berjuang untuk bisa segera bertemu dengan bayinya. Arska yang menemani istrinya selalu membisikan kalimat-kalimat penyemangat. Bahkan ribuan kata cinta juga lelaki itu utarakan kepada sang istri.
Tangisan bayi, menandakan proses kelahiran telah berakhir. Seorang bayi laki-laki tampan menunjukkan keberadaannya dengan suara nyaringnya.
Tangan Arska bergetar ketika menerima bayi yang masih merah itu untuk di azani. Tangis tak bisa di cegah karena perasaan haru yang teramat sangat.
Arska memberikan kembali kepada suster untuk di bersihkan, lelaki itu kembali mendekatkan dirinya ke samping Fella yang masih berbaring karena kelelahan.
"Terimakasih sayang." Awalnya. "Kamu benar-benar memberi kelengkapan dan kebahagiaan untuk ku." katanya seraya mengecup wajah Fella penuh kasih sayang. Meskipun wajah sang istri masih di penuhi oleh keringat.
"Aku mencintai mu," imbuhnya dengan tulus.
__ADS_1
Lelaki itu kemudian membiarkan sang istri di bersihkan oleh suster juga. Sedangkan dirinya keluar dan di sambut pelukan oleh kedua ayahnya.
...~Cinta Untuk Fella~...
Kamar inap VVIP yang di tempati oleh Fella dan bayinya terlihat ramai. Arska yang melihat bayi di gendongannya tak beraksi apapun ketika suara obralan-nya mengudara. Satu hal yang di rasakan oleh Arska adalah kekaguman yang luar biasa terhadap putra pertamanya itu.
Jika dilihat semua, rupa bayi itu akan terlihat sama saja. Masih keriput dan kemerahan. Tapi bagi Arska bayi yang ada dalam gendongan benar-benar seperti malaikat kecil yang sanggup meluluh lantakan hatinya karena kebahagiaan.
"Arska!" suara sang Papa terdengar membuat Arska mengalihkan netra-nya dari putranya itu dan menatap ke arah lelaki paruh baya tersebut.
"Kamu sudah memiliki nama untuk cucu kami?" pertanyaan itu tak hanya menimbulkan rasa penasaran di hati dua pasangan nenek dan kakek baru yang ada di hadapan mereka saat ini, dan juga perempuan yang baru saja melahirkan si bayi yang kini masih berbaring dengan keadaan yang sedikit kelelahan.
Arska tersenyum, berdiri dan menggendong putranya di tangan kirinya. Matanya menatap satu persatu orang yang ada di sana.
"Arsfel Zayan Aregan," jawabnya dengan mengembangkan senyumnya. "Arsfel, gabungan dari nama ku dan Fella. Zayan yang artinya keramahan atau keindahan." imbuhnya.
Arska sudah mempersiapkan nama tersebut tiga bulan yang lalu. Bahkan, ia sudah menulis di dalam buku agendanya. Tak ada yang bersuara, membuat lelaki itu menunggu tanggapan yang mungkin akan di berikan oleh mereka mengenai nama tersebut. Tapi, sayang mereka hanya diam.
"Bagaimana, sayang?" matanya menatap sang istri untuk meminta pendapat. Arska memang tak merundingkan masalah nama kepada Fella. Menurutnya, Fella pasti akan menyetujui apapun nama yang di berikan untuk putra mereka. Tapi, melihat kebungkaman Fella, Arska merasa tak enak hati.
"Aku suka," jawaban itu keluar dari Salsa. Gadis itu tersenyum kemudian melanjutkan.
"Dengan ada 'Keramahan' di nama tengahnya, aku berharap dia tumbuh menjadi lelaki yang tak dingin semacam Ayahnya."
Arska memicing menatap adik sepupunya. Sedangkan yang di tatap merasa tak acuh.
Lelaki itu memilih untuk tak menanggapi ucapan adik sepupunya itu, Arska justru berjalan mendekati arah istrinya yang kini sedang menyandarkan punggungnya.
"Apa nggak papa, kalau aku memberikan nama itu kepada anak kita?" kata Arska bertanya, lelaki itu tak ingin Fella mengganggap-nya egois karena sebuah nama. Kalau memang Fella memiliki nama lain, mereka bisa mendiskusikannya sekarang.
"Apa nama panggilannya?" suara Fella mulai terdengar.
"Ar?" Arska tak yakin dengan panggilan anaknya itu.
"Atau, Arsf?" imbuhnya.
"Kenapa kedengarannya agak nggak nyambung, dan agak susah buat di ucapin." ucap Fella mengangkat sebelah alisnya.
Dari raut wajah Arska ia nampak kebingungan sendiri dengan nama yang telah ia berikan.
"Arza." timberung Salsa. "Dengan begitu, bibir tantenya yang cantik ini nggak akan kelu, karena manggil keponakan yang nama agak sulit di hapal."
"Setuju." Fella kembali membuka suara. "Za, diambil dari nama Zayan. Bener begitu kan Sal?"
Salsa mengangguk cepat. "Yaps. Bener banget kak, selain lebih enak di denger. Nama panggilan yang aku kasih kan keren."
Semuanya menyetujui dengan senyum yang mengembang di bibir mereka. Arza, bayi kecil yang melengkapi kebahagiaan dua keluarga. Cucu pertama dari perusahaan ternama dan tentu saja akan menjadi penerusnya kelak.
...SELESAI...
Terimakasih untuk para pembaca setia CINTA UNTUK FELLA, maaf jika masih banyak kurangnya. Saya selaku author masih harus banyak belajar lagi, terimakasih untuk dukungannya selama ini. Salam manis dari Author 🥰🥰
Mampir juga ke karya ku yang lain ya kak.
__ADS_1