Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Hadirnya Musuh di Keluarga Moregan


__ADS_3

Saat sudah di luar kafe, Bella buru-buru melepaskan tangan Brayu dengan kasar, ia kesal setengah mati dengan tindakan Brayu yang menurutnya sudah sangat keterlaluan itu.


"Nyesel gue bantuin lo," ucapnya dengan nada ketus.


"Ya elah bel, kalau niat mau nolongin jangan setengah-setengah. Nanggung amat."


"Ck.... elo yang nggak tau diri, udah tau gue bantuin lo buat lolos dari cewek cabe itu. Malah cari kesempatan, pakai cium kening gue segala lagi," katanya dengan bersedekap dada, bibir Bella kali ini benar-benar maju.


"Iya bel, gue minta maaf, gue ngaku salah. Tapi gue cuma mau ngajarin lo buat akting, biar mereka yakin kalau lo itu beneran cewek gue." Brayu mencoba menjelaskan alasannya, padahal ia sengaja melakukan hal tersebut karena gemas dengan tindakan Bella yang berinisiatif untuk membantunya itu. 'Kapan lagi ada kesempatan seperti itu, kalau hari-hari biasa yang ada lo malah nonjok gue Bel,' pikir Brayu.


"Alasan aja."


"Bukan alasan Bel...." Brayu tak melanjutkan ucapnya kembali, ia menarik tangan Bella agar berdiri tepat di sampingnya, Karena Ara dan kedua temannya itu baru saja keluar dari kafe tersebut dengan ekspresi cemberutnya.


"Ck.... nggak usah mesra-mesran di depan umum juga kali, norak banget," ucap Ara ketus saat dia melintas di depan Brayu dan Bella.


Ara benar-benar kesal melihat pemandangan tersebut, ia kalah telak dan harus menanggung malu karena ulahnya sendiri. Kedua temannya itu pasti akan segera mencacinya atau lebih tepatnya menertawakannya.


Tapi Ara justru menghentikan langkahnya, padahal ia tau kalau dirinya tak mungkin ada cela untuk berada di sisi Brayu lagi. Mata sinis-nya menatap tajam ke arah Bella, bola matanya naik turun melihat penampilan Bella yang sama sekali tidak ada kata feminimnya sama sekali, jauh dari kata tipe Brayu.


Brayu yang melihat tingkah Ara yang semakin aneh, merasa ilfil 'ada apa dengan gadis ini, udah lama nggak ketemu sikapnya makin aneh aja,' pikir Brayu sejenak. Ia tidak menghiraukan perkataan Ara sebelumnya, ia justru menuntun Bella agar mengikuti kemana arah kakinya akan pergi. Tak di sangka Brayu mengajak gadis itu naik keatas motornya, berating total layaknya tokoh handal dalam sebuah sinetron. 'Satu satunya cara buat gue bisa terhindar dari Ara ya cuma Bella,' batin Brayu.


"Gue bawa mobil kesini-nya, kenapa lo jadi narik gue buat nangkring di atas motor lo sih...." bisik Bella dengan badan yang sedikit membungkuk. Mereka berdua sudah sama-sama di atas motor.


"Bantuin gue-nya jangan cuma setengah-setengah, nanggung banget, udah lo turutin aja kemauan gue. Please gue mohon," Brayu membalikkan badannya hingga jarak di antara mereka sangat dekat, manik mata mereka pun bertemu.


"Ok! Abis itu lo anterin gue balik kesini."


Brayu tak mau membuang waktunya lagi, ia segera menyalakan mesin motor sportnya. "Pegangan bel, biar lebih sweet biar mereka makin yakin kalau kita itu emang pasangan," pinta Brayu yang kini tangannya mulai meraih tangan milik Bella dan meletakkannya di bagian pinggang miliknya.


Ara semakin mendengus melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini.


"Ara, lo beneran masih kuat ngeliat mereka terusan romantisan kaya gitu," ucap teman Ara yang berambut sebahu itu.


Ara masih saja terfokus oleh Brayu yang kini tengah memacu kuda besinya, melewatinya tanpa mengucapkan sepatah katapun, Ara masih mematung di sana, melihat kepergian Brayu yang kian menjauh dari pandangannya. Ara benar-benar di buat kesal dengan tindakan mantan kekasihnya itu. Menghentak-hentakan kaki dan mengepalkan tangannya, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Ia pikir dengan tindakan memohon-nya bisa membuat Brayu kembali kesamping-nya lagi, tapi nyatanya tidak, Ara harus menelan kenyataan kepahitan yang sudah ia tanam sendiri.


Lain halnya Brayu yang semakin girang dengan adanya Bella yang berada di jok bagian belakang, kesempatan langka mana mungkin di sia-siakan oleh cowok itu.


"Udah terlalu jauh ni Brya, balik yok. Paling mantan rese lo itu udah balik," kata Bella dengan berteriak, angin yang cukup kencang membuatnya harus berteriak-teriak agar Brayu dapat mendengarkan ucapnya.


Tapi sayangnya Brayu masih saja diam, ia masih terfokus oleh jalanan yang cukup berlubang. Tak ada reaksi sama sekali, itu tandanya Brayu memang tak mendengarkan kata-kata Bella barusan.


"Brayu..... lo budeg ya!" seru Bella dengan nada yang semakin keras, sambil menepuk pundak Brayu dengan keras pula.

__ADS_1


Membuat cowok itu mengerem motor sportnya secara mendadak. Hingga kepala Bella harus terelakan karena terpentok oleh helm yang di pakai Brayu.


"Bella.... lo nggak papa kan?" tanya Brayu sambil menoleh.


"Nggak papa kepala lo! Kepala gue sakit ni, gara-gara lo injak remnya dadakan," ucap Bella sewot seraya mengusap-usap kepalanya.


"Sorry....habisnya elo ngagetin gue, gue kan baru fokus sama jalannya," kata Brayu yang langsung melepas helm full face-nya.


"Lagi fokus sama jalan, apa lo baru mikirin sesuatu, sampai gue nanya beberapa kali nggak ada jawaban dari lo sama sekali." kini Bella menatap ke arah Brayu dengan muka datarnya.


Brayu hanya bisa tersenyum, cowok itu menjadi salah tingkah, karena Bella bisa menebak apa yang ada di dalam otaknya saat ini.


"Gue mau balik! Anterin gue!" seru Bella dengan ekspresi tegasnya.


"Ok..... tuan putri," jawab Brayu dengan nada suara yang sengaja di buat-buat.


Saat akan memutar balikan motornya, tiba-tiba ada sebuah mobil yang nyaris menabrak mereka dari arah berlawanan, dan itu membuat Bella dan Brayu sedikit syok.


"Anjir itu orang bisa bawa mobil nggak sih," kata Bella dengan suara lantangnya. Tangan kirinya memegangi dadanya karena jantungnya serasa mau copot.


"Lo nggak ada yang luka kan bel?" tanya Brayu dengan ekspresi wajah cemasnya, buru-buru ia menepikan motornya, menuntun Bella agar turun dari motornya. Brayu tak memikirkan keadaannya sendiri yang sebenarnya juga terkejut dengan kejadian barusan.


"Gue nggak papa Bray, gue cuma syok aja."


"Bukan lo yang salah, tapi orang di dalam mobil itu yang nggak punya mata."


Mobil itu ternyata juga menepi sesaat sebelum Bella dan Brayu menepikan motor mereka. Tak berselang lama suatu gerombolan pun mengepung Bella. "Marko!" seru Bella dengan mata membulat.


"Hay.... Nona Moregan! Masih ingatkan sama saya," ucap Marko dengan senyum sinis-nya.


"Brengsek.... seharusnya Daddy penjarain lo sampai mati!" teriak Bella dengan emosi yang meluap-luap.


Marko dan gerombolannya pun tertawa mengejek. "Dimana pengawal kebanggan keluarga Moregan? Kenapa saya sejak tadi tidak melihatnya."


"Bukan urusan lo!"


"Ow.... saya tau, mungkin kematian Ferdy belum cukup untuk membuat Nona Moregan tersadar akan kesalahan beberapa tahun yang lalu." Marko mencoba mengingatkan kejadian beberapa tahun yang lalu, yang membuat Ferdy meredam nyawanya hanya untuk menyelamatkan Bella dari serangan Marko, musuh terbesar keluarga Moregan.


"Cukup!! Gue nggak mau denger kata-kata lo yang udah bikin Ferdy meninggal." Bella berteriak tapi tangannya mencoba menutup telinganya agar ia tak mendengar kata-kata itu lagi, ia semakin merasa bersalah jika mengingat kejadian itu.


"Hahaha.... Nona Moregan ternyata tempramental-nya masih sangat tinggi."


"Liat tuan... dia saja sudah berhasil melupakan Ferdy, buktinya dia sudah ada penggantinya," kata salah satu anak buah Marko.

__ADS_1


Bella pun baru menyadari jika dirinya telah terkepung bersama dengan Brayu, mata Bella buru-buru melihat ke arah Brayu. "Mending lo cabut! Gue nggak mau sesuatu hal terjadi sama lo," ucap Bella saat sudah menyadari keberadaan Brayu.


Brayu yang merasa syok akan identitas Bella yang tak pernah ia ketahui selama ini, mencoba menguatkan hatinya. Ia tau jika kemampuan bela dirinya sangat payah, tapi ia tak mungkin membiarkan gadis yang sekarang berada di dalam hatinya itu terluka, apa pun yang terjadi ia harus tetap melindunginya.


"Gue nggak akan kemana-mana, gue bakalan jagain lo," ucap Brayu dengan mata yang masih melihat ke arah Bella.


"Mereka semua kejam Bray, elo nggak akan sanggup ngadepin mereka."


"Kita pasti bisa keluar dari sini," Brayu sangat yakin akan kemampuan otaknya yang pandai mensiasati lawannya.


Hingga terdengar sebuah tepuk tangan dari seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobilnya, membuat Bella dan Brayu harus menoleh ke sumber suara tersebut dan menghentikan percakapan mereka sesaat. "Priska!" kata Bella mengernyitkan keningnya, otaknya seakan berhenti sesaat mengetahui sahabat lamanya menjadi komplotan yang akan ikut menghancurkannya.


"Harusnya gue tabrak kalian aja tadi, biar lo nyusul Ferdy sekalian di alam baka," kata gadis itu dengan langkah kaki mulai mendekat kepada Bella dan Brayu.


"Lo nggak perlu bawa-bawa nama Ferdy, karena lo nggak layak buat manggil nama dia!" seru Bella, kini rahangnya mulai mengeras, Bella benar-benar kesulitan untuk bernafas.


"Di saat situasi seperti ini, lo masih bisa bersikap sombong, lo nggak takut nyawa lo melayang seperti Ferdy!"


"Cukup! Gue pikir lo sahabat gue! Ternyata lo musuh dalam selimut yang selama ini nyamar buat mata-matain keberadaan gue." Bella mulai mengepalkan tangannya.


"Ding dong..." seulas senyuman muncul di sudut bibirnya. "Lo nggak tau seberapa keselnya gue waktu tau Ferdy milih lo di banding gue! Dan lo selalu dapet puji sama semua orang. Lo pikir gue bahagia!"


Bella semakin mengernyitkan keningnya, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut bibir Priska. Dan akhirnya ia sadar jika Priska sudah sangat lama membencinya.


Melihat Bella yang sedang cekcok dengan Priska. Marko mencoba memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membuat Bella tunduk terhadapnya, ia akan memaksa tuan Moregan untuk menyerahkan semua aset kepemilikan perusahaan dan mengembalikan nama baiknya di kalangan bos mafia, Marko sangat tau jika kelemahan terbesar tuan Moregan adalah anak semata wayangnya itu.


Saat tangan Marko akan mengarah kepada Bella, Brayu segera menghalanginya, mencoba melindungi gadis itu dari bahaya yang mengancamnya saat ini.


Mata Bella membuat saat sebuah pistol mengarah kepadanya dan Brayu mencoba menghalanginya dengan memegang pistol tersebut.


Tanpa berpikir lama otak Bella mulai bekerja, ia melayangkan sebuah pukulan tepat di kepala Marko, dan menendangnya cukup kuat di bagian perutnya, membuat Marko tersungkur menahan sakit. "Jangan pernah lo sentuh dia!" suara Bella terdengar lantang, ia menunjuk ke arah Marko dengan tatapan sadis. Bella takut akan kejadian beberapa tahun yang lalu terulang kembali, ia masih sangat mengingat bagaimana Ferdy meninggal di depan mata kepalanya, dan ia tak akan mengulang kesalahan yang sama dengan membiarkan Brayu terluka karena ulah Marko.


Anak buah Marko mulai menyerang, tapi Bella yang sekarang sungguh berbeda, kemapuan bela dirinya sungguh luar biasa. Ia selalu mengasah kemampuannya setiap waktu luang. Beberapa anak buah Marko sudah tergeletak tak berdaya menghadapinya, di bantu dengan Brayu yang memang memiliki kemampuan bela diri yang payah, namun terbilang cukup Oke di kalangan anak muda yang sering berkelahi.


"Gue nggak sanggup kalau harus ngalahin mereka semua bel," ucap Brayu dengan napas yang mulai terengah-engah, di berada di belakang gadis tersebut.


"Gue juga nggak sanggup Bray, kalau sebanyak ini," balas Bella dengan napas yang juga terengah. "Apa rencana lo selanjutnya?"


"Kabur."


"Hah..... bagaimana bisa?"


"Bisa, cukup kita kalahin beberapa orang ini, dan kita kabur."

__ADS_1


Bella menghela nafasnya untuk kesekian kali, ia juga tak mungkin meladeni begitu banyaknya orang yang terus menyerangnya secara berturut-turut. Saat di lihat hanya beberapa orang yang masih bertahan, Brayu mengambil kesempatan itu untuk menarik tangan Bella dan mengajaknya kabur, untung saja motornya tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri jadi kesempatan untuk kabur pun sangat besar. Tanpa menunggu nanti-nanti Brayu segera melajukan motornya di atas rata-rata, meninggalkan banyak orang yang sudah tergeletak tak berdaya.


__ADS_2