Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Rey Kampret !


__ADS_3

Salsa terbangun dari tidurnya yang lelap, ia menuju kedalam kamar mandi dengan mata yang masih sedikit tertutup. Kemudian ia bersolek dan merapikan pakaiannya, dan bergegas menuju ruang makan. Di sana sudah terlihat dengan sangat jelas keberadaan Arska dan Fella. Muka Salsa tiba-tiba berubah bersemu memerah saat melihat sepasang suami istri tersebut.


"Muka lo kenapa? Merah kaya gitu," ucap Arska seraya memakan roti tawar yang ada di hadapannya.


Salsa menghela napasnya. "Enggak papa, kakak kapan balik?" tanyanya balik.


"Semalam." balasnya singkat.


"Kamu, tumben agak bagian berangkatnya?" sambung Fella.


Salsa menggaruk kepalanya yang tak gatal. "M-mau kerjain PR kak, semalam ketiduran," elaknya.


"Dih, bilang aja mau pacaran. Sampai bohong segala." sindir Arska.


"Ck, kak Arska mah gitu. Ngeselin!" seru Salsa dengan bibir terangkat sebelah. "Om, Tante. Salsa berangkat duluan ya." gadis itu segera berpamitan setelah mencium tangan kedua orang tua separuh baya tersebut.


"Kamu, nggak sarapan dulu?" tanya Hendry.


"Sambil jalan aja Om," balasnya yang langsung mengambil roti tawar yang berada di piring Arska.


"Punya gue itu!"


"Bagi!" sahutnya yang langsung ngacir.


Lelaki itu tak membalas, ia memilih fokus kembali dengan roti yang ada di tangannya. Seraya melihat istrinya yang sejak tadi terus memperhatikan kelakuannya itu.


'Huft, dasar kak Arska ngeselin. Untung aja aku langsung pamit, coba masih ada di sana. Bisa diintrogasi habis-habisan sama Tante.' pikirnya sejenak, gadis itu langsung melajukan motornya.


Dua puluh menit, ia sudah sampai di sekolahan. Ia menengok kanan dan kiri, entah mencari siapa yang jelas ia melakukannya. Sampai Ray, datang dan menepuk bahunya pelan.


"Ngapain, elo celingukan nggak jelas. Nyariin Dimas?" tanyanya.


Salsa yang masih berdiam diri di atas motornya hampir saja terjatuh karena Rey mengagetkannya.

__ADS_1


"Enggak. Ngapain, nyariin dia." balasnya seraya melepas helm dan meletakkannya.


"Lo, lagi marahan sama dia? Nggak biasa-biasanya elo kaya gitu?"


"Aku malas aja, bahas cowok yang super ngeselin itu."


"Dia, masih nggak kasih kabar ke kamu?"


"Hem..."


"Aduh, kasihan amat di kacangin sama pacar sendiri. Mending lo jadian aja sama gue," tawar Rey dengan menaik turunkan kedua alisnya.


Salsa menatap tajam ke arah Rey, gadis itu memilih untuk diam. Tak ada satupun ucapan Rey yang di responnya.


Membuat teman sebangku Salsa itu, menjadi terdiam dan tak kembali mengoloknya. Melihat Rey tak lagi beracun, Salsa kembali celingukan, dan itu membuat Rey semakin penasaran dengan tingkah lagu temannya itu.


"Sal, lo kenapa sih? Gue perhatiin dari tadi lo celingukan mulu. Kaya ngehindarin tukang nagih utang gitu. Apa ada stalker lagi?" tanya Rey penasaran.


Karena Salsa memang murid populer di sekolahannya. Maka tak heran jika ada pengemar terselubung yang selalu memperhatikannya secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi.


"Dih! Apaan sih, pakai bisik-bisik segala. Emang se-bahaya apa sih, orangnya? Sampai bikin seorang Salsa yang selalu berwajah datar dan nggak asyik ini celingukan?"


"Kemarin ada sebuah tragedi yang mengerikan, dan gue juga lupa nggak tepatin janji gue." kata Salsa serius seraya berbisik ke telinga Rey. Gadis itu berharap jika tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka berdua.


"Oh ya? Kejadian apa?" tanya Rey balik sembari berbisik juga.


Dengan sigap Salsa memundurkan tubuhnya sambil memincingkan matanya dengan tajam ke arah Rey. Salsa ragu untuk menceritakan kejadian kemarin kepada temannya itu. Karena Salsa tau jika Rey akan menertawakannya.


"Weeh, kenapa nggak mau cerita, nih?" tanya Rey keheranan dengan sikap dan pandangan Salsa terhadapnya.


"Aku, nggak yakin deh, mau cerita ke kamu!" jawab Salsa dengan tatapan meragu dengan teman sebangkunya itu.


"Eh, sorry ya! Gue tim anti comber-comber club!" kata Rey ketus seraya melengoskan wajahnya.

__ADS_1


Salsa berpikir sejenak, ia masih ragu untuk menceritakannya kepada Rey. Karena ia sangat paham, terkadang yang yang di katakan temannya itu lain di ekspektasi dan lain di realita. Tapi sayangnya ia terlanjur memberikan spoiler kepada Rey dan membangkitkan rasa penasarannya yang tadinya masih tertidur itu.


"Iya deh, iya. Aku cerita, tapi kamu harus janji nggak boleh ngetawain apa yang kamu denger! Paham!" ujar Salsa.


"Oke," sahut Rey dengan mengangguk kecil.


Pada akhirnya Salsa memilih untuk menceritakannya kepada Rey, ia juga rak tega membuat temannya itu penasaran semakin lama. Kebetulan saat itu jam pertama, tidak ada guru dan jam kosong, jadi mereka bisa bergosip sepuasnya. Hah! Dasar laki-laki kepo!


"Hemm, jadi gini kemarin..." Salsa mulai menceritakan dengan nada pelan dan serius, dan memastikan tidak ada yang mendengar ceritanya. Rey mendengarkan dengan seksama.


".....Gitu ceritanya, nyebelin banget kan?" kata Salsa ngedumel sambil menyudahi ceritanya.


"....." no respon.


"....." wait.


"...." oke, almost there!


"HUAAAAAAAAAAAA!!!" Rey tertawa dengan sangat lebar dan lepas.


Sontak, seisi kelas langsung mengalihkan pandangannya ke arah mereka berdua. Salsa terkejut karena tebakannya memang benar. Rey tak pernah sesuai ekspektasi.


'Tuh kan! Apa juga yang kubilang! Dasar Rey kamprettt!' gumam Salsa dalam hati, gadis itu mengerucutkan bibirnya.


Tak tanggung-tanggung, Salsa langsung mencubit lengan Rey sekuat-kuatnya. Lelaki itu langsung mengaduh.


"Heh! Anti comber klub apaan! Dosa kamu ya! Udah janji nggak bakalan ketawa, tapi malah ketawa sekeras itu! Kamu malah seenaknya jidat. Yang malu itu bukan kamu, tapi aku!" omel Salsa seraya melotot.


"Hahaha... ya sorry, habisnya lucu hahaha! Lagian nggak ada yang bakalan tau, gue ngetawain apa? Tapi serius, ini tangan gue sakit banget, Sal." keluh Rey meringis.


Salsa melepaskannya dengan kasar, gadis itu langsung merengut. "Tau bakalan di ketawain malas banget aku cerita!"


Rey menoleh dan mengusap pucuk kepala Salsa beberapa kali. "Sorry, gue nggak akan ketawain elo lagi."

__ADS_1


Salsa hanya mendengus, hingga beberapa jam terlewatkan begitu saja. Sampai akhirnya bel menandakan pulang, Salsa buru-buru meninggalkan kedua temannya dengan berlari. Bahkan, gadis itu tak berpamitan terlebih dahulu.


Di belakang sekolah, Salsa mulai mencari keberadaan Leon, ia ingin minta maaf tentang kejadian kemarin, karena dia benar-benar lupa.


__ADS_2