
Salsa menatap tenang ke arah punggung Leon, gadis itu mengekor di belakang kekasihnya. Belum ada yang mengeluarkan suara, kedua masih sama-sama terdiam. Bahkan Salsa hanya menghela napasnya saat langkah kaki mungilnya tak mampu mengimbangi langkah kaki Leon yang terlalu lebar baginya. Hingga ia harus tertahan dengan tubuh sedikit membungkuk, napas yang ngos-ngosan mulai keluar dari bibir mungilnya.
"Aku nggak sanggup kalau harus ngikutin jalan kamu yang cepat itu." katanya mencoba mengatur napas yang naik turun.
Memutar lehernya. "Kenapa kamu bisa ada di sana? Kamu ngikutin aku?" kata Leon bertanya, laki-laki itu melepaskan genggaman tangannya. Memutar tubuhnya agar berbalik menghadap kekasihnya yang telah terengah-engah.
Salsa tak langsung menjawab pertanyaan Leon, ia memilih merapatkan mulutnya. Namun, ekor matanya masih kesana-kemari dan menatap wajah tampan kekasihnya dengan mata yang sedikit berbinar.
Berjongkok, sambil memasang ekspresi datarnya. Leon sengaja berekspresi sedemikian rupa agar kekasihnya tak melakukan tindakan yang membahayakan dirinya lagi.
Merasa raut wajah Leon tak mengenakkan, Salsa membuang muka, menjadi acuh tak acuh karena moodnya tiba-tiba menjadi rusak akibat ekspresi Leon saat menatapnya, begitu datar dan dingin, itu yang di rasakan oleh Salsa saat ini.
"Ih, jelek!" kesal Salsa menggigit bibir bawahnya. Gadis itu langsung menegakkan tubuhnya dan berlalu lalang.
Leon juga melakukan hal yang sama, kini ia yang harus mengekor di belakang kekasihnya itu.
"Sayang, bisa nggak kalau jalannya pelan sedikit? Katanya tadi kamu capek kenapa sekarang malah ninggalin aku?" kata Leon bertanya.
Memutar leher seraya melipat kedua tangannya di dada. Salsa menghentikan langkah kaki mungilnya sejenak. "Terserah aku." balasnya kesal seraya melangkahkan kakinya kembali.
Menghela napasnya secara kasar, dan mengusap wajahnya dengan perlahan, Lelaki itu menatap punggung kekasihnya dengan herdik mata begitu tajam. Walau Leon dapat mendengarkan setiap celotehan yang keluar dari bibir mungil itu, tapi Leon tak ada niatan untuk membalasnya, yang ada di pikiran laki-laki itu saat ini adalah kekhawatirannya terhadap Salsa yang begitu besar, takut akan terjadi hal buruk jika gadis bertubuh mungil itu masih saja berkeliaran di tempat seperti ini. Lelaki itu takut jika ada serigala yang menerkam gadis imutnya itu, karena Leon tak akan pernah rela.
Bergerak dengan langkah cepat dan memeluk erat tubuh mungil yang sejak tadi mencuri atensinya.
"Kamu jangan bikin aku takut." ucap Leon dengan dagu yang sudah ada di bahu Salsa.
Salsa sedikit terkejut dengan tindakan Leon kali ini, gadis itu memutar lehernya secara perlahan. Dapat di lihat jika Leon sedang memejamkan matanya di sana, wajahnya terlihat begitu sedih, padahal Salsa merasakan bahagia yang luar biasa akibat ucapan kekasihnya dengan teman-temannya tadi. Debaran jantung yang kini mulai tak terkontrol membuatnya mengelus pipi mulus laki-laki tersebut.
"Kamu takut kenapa?" kata Salsa bertanya.
"Jangan pernah pergi ketempat seperti ini tanpa adanya aku di samping kamu."
Mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa?" Salsa mulai bingung dengan tindakan kekasihnya.
"Aku nggak mau kalau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu." Leon membuka matanya. Wajah mereka terlalu dekat, bahkan Salsa dapat merasakan hembusan napas Leon yang terasa panas saat sampai di wajahnya. Membuat Salsa semakin tak bisa mengontrol debaran jantungnya, ia merasa terbang ke awang-awang karena tindakan kekasihnya yang menurutnya romantis itu.
"Aku nggak mau ada serigala yang tiba-tiba nerkam kamu."
Tiba-tiba Leon mengucapkan kata-kata yang membuat Salsa mengerucutkan bibirnya lagi. Ia melepaskan tangan Leon yang ada di pinggangnya.
"Ngeselin! Aku pikir mau ngomong hal romantis apa!" kesal Salsa yang langsung mendorong tubuh Leon.
"Lah, kamu mikirin apaan?" Leon melongo.
"Mikirin di makan buaya!" ekspresi Salsa berubah menjadi datar.
"Oh, buaya. Aku pikir apa."
Salsa nampak menghentakkan kakinya beberapa kali. Gadis itu kesal karena Leon tak peka.
"Terserah," cibirnya.
"Ya udah, mau kamu apa sekarang?" finalnya karena tak ingin memperpanjang masalah.
Salsa tak bergeming dan hanya mengulurkan tangannya sembari menarik tangan besar Leon dan meninggalkan tempat itu sekarang juga.
Di sebuah kafe, Salsa dan Leon mendudukkan diri, mereka duduk saling berhadapan. Namun, terlihat jika Leon tak menikmati hidangannya saat ini, pikirannya masih traveling kemana-mana.
"Kamu kenapa sih yang? Dari tadi makanannya cuma di aduk-aduk terus?" Salsa mulai membuka suara setelah kesal melihat pacarnya yang nampak tak enak di lihat itu.
Menghentikan aktifitas mengaduknya, atensi Leon berpindah menatap Salsa. Lelaki itu kini menopang dagunya menggunakan tangan.
"Nggak papa, cuma lagi mikirin pacar aku yang imut ini."
"Aku?" kata Salsa menunjuk dirinya.
Anggukan kecil di berikan Leon.
__ADS_1
"Kenapa aku?"
"Kenapa kamu bisa sampai di sana?" pertanyaan Leon terlihat mengintimidasi.
"Ow, aku pikir karena apa," balasnya dengan tangan meletakkan sendok.
"Tadi pagi kemana? Kenapa nggak angkat telpon sam chat aku?" kata Salsa bertanya, nampaknya gadis itu tak mau kalah dengan laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Menelan saliva-nya secara perlahan, Kenapa jadi Salsa yang balikin pertanyaan gue? pikir Leon sesaat.
"Kenapa, hah? Nggak mau jawab apa nggak bisa jawab!" final Salsa yang langsung melipat kedua tangannya di dada.
"Ponsel aku mati sayang."
"Ow... mati, kalau mati kenapa di bawa kemana-mana ya?" Salsa mengangkat sedikit dagunya, gadis itu mengisyaratkan jika Leon telah berbohong melihat sejak tadi ponselnya terus menyala.
"Iya maaf, aku ada keperluan." finalnya.
"Jujur kan lebih baik! Daripada bohong!" ketus Salsa
Memasang ekspresi bersalah. "Iya sayang, aku kan udah minta maaf, lagian aku kan nggak selingkuh." lelaki itu nampak pasrah.
Netra mata Salsa sedikit menyipit, gadis itu menghela napas cukup berat. "Kalau kamu masih kabar, aku juga nggak bakalan ngikutin kamu sampai di sana."
Menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. "Aku buru-buru sayang, lagian aku cuma ketemu sama mereka bentar, sisanya kan banyak di kamu."
"Iya, sisanya banyak di aku. Tapi kamu udah bikin kesal duluan." cicitnya.
Leon hanya nyengir kuda hingga menampilkan deretan giginya yang putih. Lelaki itu terlihat manja ketika berekspresi seperti itu.
"Nggak usah sok manis, walau pun emang udah manis." Gadis itu menopang dagunya dengan satu tangan, dan memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia sedikit malu untuk mengutarakan ucapannya itu, namun yang ia bilang memang benar kenyataannya.
"Dih, cowok ku nggak maco." cibir Salsa yang tak merubah posisinya.
"Ekspresi aku ketika kaya gini, nggak semua orang bisa lihat, ini cuma bisa di lihat sama orang yang emang spesial. Harusnya kamu itu bersyukur."
Leon mengarahkan kedua tangannya, memegang kedua pipi Salsa secara perlahan dan mengarahkannya agar gadis itu menatap kearahnya, saat tatapan mereka mulai bertemu senyum mengembang mulai tercipta dari wajah lelaki tersebut. Membuat hati Salsa tak karuan karena tindakan pacarnya itu, sempat terlintas dalam pikiran Salsa jika kekasihnya itu akan melakukan tindakan yang romantis seperti di drama-drama yang sering ia tonton. Namun, seketika pikiran kesal pun mulai menyelimuti dirinya, saat tangan besar Leon mencubit pipinya dengan sangat kencang, membuat si pemiliknya terpekik dan mengaduh.
"Aaagghh! Leon! Ini menyakitkan." cicitnya hingga refleks memukul kelapa Leon dengan kuat.
Makanan dan minuman yang semula masih berada di dalam tempatnya, seketika berserakan kemana-mana. Membuat atensi mereka menatap meja yang sudah tak berupa lagi.
"Sayang!" ucap mereka kompak dengan mata yang saling melotot.
"Ini jadi berantakan gara-gara kamu!" seru Salsa menyalahkan.
"Kalau kamu nggak pukul kepala aku, nggak akan jadi kaya gini!" sahut Leon yang juga tak terima jika di salahkan secara sepihak.
"Tapi kamu yang mulai duluan. Kamu pikir pipi aku ini apa? Main tarik-tarik nggak jelas!"
"Aku kan cuma pengen nunjukin rasa sayang aku ke kamu. Emangnya aku salah." protes Leon yang masih tak terima.
"Tetep aja ini semua salah kamu!" cicit Salsa yang semakin kesal.
"Enggak mau, kamu juga salah!"
"Udah tua nggak mau ngalah. Dasar om-om ngeselin."
"Siapa yang om-om? Umur aku baru dua puluh empat tahun."
"Sama aja! Kamu kan pacaran sama anak di bawah umur!"
Keduanya sibuk berdebat hingga tak memperhatikan sekelilingnya yang sibuk menatap kearah mereka. Pengunjung lainnya merasa terganggu dengan adanya kegaduhan yang di timbulkan oleh kedua remaja tersebut, hingga meminta salah seorang pelayan untuk memanggil manager mereka agar melerai sepasang kekasih tersebut, guna mendapatkan ketenangan saat menikmati hidangan yang mereka santap.
Tak butuh waktu lama untuk membereskan kegaduhan tersebut, seorang manager menghampiri meja mereka dengan tampang tegasnya.
Ehem...
__ADS_1
Ehem...
Suara deheman nampak mengarah kepada Leon dan Salsa, ya seorang manager sudah berdiri tepat di sebelah mereka dengan tangan yang sudah terlipat di depan dada. Atensi mereka segera berpindah haluan, menatap suara yang tengah membuyarkan perdebatan yang sempat tercipta beberapa saat yang lalu.
"Bisakah kalian sedikit tenang!" perintah Manager itu dengan tatapan datar.
Kedua remaja itu masih terdiam dan belum ada yang bergeming. Mereka masih memperhatikan setiap gerakan yang di perlihatkan oleh Manager tersebut.
"Bisakah kalian keluar sekarang juga!" serunya.
"Hah! Kita di usir?" mereka kompak berucap hingga keduanya nampak melongo.
"Suara kalian terlalu berisik dan mengganggu pengunjung lain. Ini restoran bukan kebun binatang!" ucapan mencibir.
Brak!
"Tanpa Anda usir pun kita juga akan pergi!" kesal Leon yang langsung menarik tangan Salsa agar beranjak dari tempat duduknya.
"Ya. Itu lebih bagus daripada saya harus memanggil scurity." oloknya.
Leon menendang kursi yang tepat ada di sebelahnya. Lelaki itu begitu kesal melihat tindakan Manager yang begitu merendahkan dirinya dan Salsa, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Leon segera menuntun kekasihnya, meninggalkan kafe tersebut dengan segera tanpa menoleh kembali.
"Maaf pak, mereka belum bayar semuanya. Kenapa sudah di suruh pergi?" tanya seorang kasir yang tak jauh dari tempat Manager itu berdiri.
Mendengar hal tersebut, Manager itu segera berlari kearah pintu keluar, hendak mengejar Leon dan Salsa.
"Kalian belum baya!" teriaknya melengking hingga ke telinga keduanya.
Leon yang sudah tak mau menggubris atau pun mendengarkan perkataan orang itu, segera melajukan motornya. Tentu saja dengan imbuhan mengejeknya.
Brem...
Brem...
Brem..
Lelaki itu segera memacu kuda besinya untuk meninggalkan kafe dengan senyum sinis tentunya.
"Sayang, kita kan emang belum bayar? Apa nggak sebaiknya kita bayar dulu baru balik." cicit Salsa sedikit mendongak dan tentu saja sedikit berteriak.
Menyunggingkan senyumnya. "Siapa suruh dia sok! Sok ngusir kita dan sok berlagak! Itu akibatnya. Dan kamu juga jangan terlalu polos, sayang. Ingat dia udah mempermaluin kita," balas Leon.
Manager itu mengusap wajahnya secara kasar, baru beberapa hari yang lalu ia di angkat sebagai Manager, tapi ia sudah melakukan kesalahan. Bahkan harga makanan di kafe tersebut tergolong malah, mau tak mau ia harus merelakan gajinya terpotong untung menganti semuanya.
"Dasar kalian bocah sialan!" teriaknya yang tak terdengar oleh sepasang kekasih itu.
"Baru naik gaji sebulan yang lalu udah harus dapet potongan," keluh Manager itu seraya masuk kedalam Restoran.
Leon nampak bahagia karena melihat orang yang mempermalukannya dan Salsa di depan umum mendapatkan masalah, hingga cicit-an Salsa membuatnya harus menginjak rem dalam-dalam.
"Sayang motor ku masih di sana." kepala Salsa membentur helm Leon cukup keras.
"Aw..." pekiknya mengusap kepala pelan. "Kenapa kalau ngerem nggak kasih aba-aba dulu sih. Kamu tuh kebiasaan tau!" kesalnya.
Membuka helm full face-nya seraya memutar sedikit lehernya. "Kenapa kamu baru ingetin aku sih yang," ucap Leon dengan nada yang terdengar santai
"Aku lupa yang."
"Ya udah biarin aja," balasnya tanpa ekspresi.
"Kok biarin aja sih! Kalau sampai tante tau motornya ilang, aku bisa kena omelan-nya." Salsa menggigit jari telunjuknya.
Menghela napas pelan, "Nanti biar aku nyuruh orang yang ambil, kamu nggak perlu sepanik itu, apa lagi nunjukin muka masam kamu itu di depan aku."
Cengiran di perlihatkan oleh Salsa, gadis itu memeluk perut rata Leon, "Kamu emang bisa di andalin."
"Iya." balasnya singkat seraya kembali melajukan motornya. Lelaki itu enggan jika harus kembali ketempat semula, biarlah lelaki menjengkelkan itu mendapatkan masalah dan itu akibatnya karena berani menghinanya di depan umum.
__ADS_1