
Hari sudah menjelang sore, Salsa buru-buru pulang untuk berganti pakaiannya. Namun, di dalam taksi, gadis itu merasa canggung, lantaran sopir tersebut terus saja melirik ke arah spion dan sesekali menutupi hidungnya, Salsa hanya bisa tertunduk dan tak berani bersuara. Sesampainya di rumah, Salsa menceritakan kejadian yang di alaminya hari ini, kepada Hendry dan Violla dengan harapan Om dan Tantenya itu akan merasa simpati saat mendengarkan ceritanya. Tapi, bukannya merasa iba atau simpati, Hendry dan Violla justru menertawakan keponakannya itu. Salsa begitu sebal, tahu endingnya akan seperti ini lebih baik dia tak menceritakannya. Namun, berbeda dengan pasangan suami istri itu, mereka justru merasa terhibur dengan ucapan Salsa, mereka sampai tertawa terpingkal-pingkal.
"Tante sama Om mah, gitu. Malah di ketawain bukannya kasihan sama keponakan sendiri." keluh Salsa dengan ekspresi wajah masamnya.
Sesaat Violla menghentikan tawanya, perempuan setengah baya itu mencoba mengatur napasnya. "Habisnya, kamu ini lucu banget tau, Sal. Kalau Arska tau, kamu pasti akan di bully habis-habisan sama dia."
"Ya jangan di kasih tau lah, Tan. Muka aku yang imut ini mau di taruh mana?"
"Ya, di taruh di tempatnya dong, Sal. Nggak mungkin pindah kemana-mana." sahut Violla.
Hendry masih memegangi perutnya, lelaki itu mungkin akan berkata hal yang sama seperti istrinya. "Tapi, Om makasih sama kamu, berkat kamu. Om jadi merasa terhibur." sambungnya.
"Ah, Tante sama Om mah kaya gitu, ngeledek terus." gadis itu segera meletakkan sendok-nya.
Sementara Clara, ia justru paling bahagia melihat kakak sepupunya itu menjadi bahan bullyan. "Clara aja yang masih kecil nggak pernah ngompol, masa kak Salsa udah segede itu masih ngompol sih." sindirnya dengan raut wajah tak jauh berbeda dengan Hendry dan Violla.
"Huft, tau kaya gini. Mending, aku nggak cerita tadi." keluhnya dengan bibir mengerucut.
Membuat Hendry, Violla dan Clara semakin terpingkal. Gadis itu akhirnya pamit untuk pergi ke kamarnya lebih awal, rasa kesal kini menyelimuti hatinya. 'Bodoh, bodoh, bodoh!' bayinya dengan tangan kanan memukul pelan kepalanya.
Sampai di kamar, Salsa merebahkan tubuh mungilnya di atas kasur yang empuk dan nyaman. Salsa menatap ke atas, memandangi lampu tidur warna-warni yang menggantung di langit-langit kamarnya, sambil menerawang kembali kejadian hari ini.
"Haizhhht! Gara-gara ngompol doang! Harus diketawain cowok ganteng tapi ngeselin banget itu! Kedua malah diketawain Tante sama Om, udah gitu si tuyul juga ikut-ikutan segala lagi! Untung aja kak Arska baru liburan, coba kalau dia ada di rumah, mau jadi apa aku ini." ucapnya pada diri sendiri, gadis itu terus mengomel tanpa henti, mengerutuki dirinya yang begitu sial hari ini.
Sejenak ia bisa melupakan Dimas kekasihnya yang tidak tau bagaimana kabarnya. Sejak pertemuannya dengan Dimas beberapa hari yang lalu, karena lelaki itu berpamitan, dan sampai detik ini lelaki itu tak kembali memberinya kabar. Salsa, mengetahui kebenaranya sendiri jika kekasihnya itu sedang ada urusan keluarga yang begitu penting.
Salsa menghela napasnya kembali, gadis itu menutup matanya secara perlahan, bibirnya terlihat membentuk simpul yang menandakan dia sedikit menikmati hari ini, ya meskipun harus menanggung malu. Tapi, gadis itu yakin akan ada kisah dan cerita baru dalam hidupnya yang di sara terlalu tenang dan datar ini.
Pada akhirnya, Salsa jatuh tertidur, seraya mendekap guling kesayangannya dan terbalut dalam selimut yang melindungi dirinya dari dekapan dinginnya malam. Menyisakan semacam tragedi memalukan di antara dirinya dan seorang lelaki di gang sempit. Meskipun hanya di alami oleh salah satu pihak saja, tetap saja itu adalah hal yang sangat memalukan untuk di ingat.
Tapi mungkin, bagi sebagian orang itu juga merupakan hal yang sayang untuk di lupakan. Bisa saja itu menjadi salah satu hari dalam hidup mu menjadi lebih berwarna. Terkadang, akan membuat kita tersenyum sendiri, saat mengingat hal-hal yang memalukan itu terjadi pada diri kita.
Ketika berada di hari dimana kalian mengalami kejadian itu, mungkin kalian akan benar-benar merasa malu atau seperti di rendahkan oleh seseorang. Tapi, saat kalian telah melewati hari itu yang tak lain telah menjadi sebuah kenangan. Percayalah, itu akan menjadi hiburan tersendiri untuk di kenang dan ada pula yang berani menceritakan sebagai hal yang lucu nan menghibur.
Tidak ada kisah yang tidak layak di dalam hidup ini, tidak ada kisah yang tidak memberikan hikmah setelahnya. Kita semua pernah mengalami kisah yang menyenangkan, menyedihkan, memalukan dan bahkan mengerikan sekaligus menimbulkan luka dan trauma yang mendalam.
Tidak akan ada yang merasa bahagia tanpa merasakan kesedihan sebelumnya.
Tidak akan ada yang punya keberanian tanpa pernah memilliki ketakutan sebelumnya.
Tidak adan ada yang bisa sukses tanpa mengalami kegagalan sebelumnya.
Tidak akan ada yang pernah menjadi terhebat tanpa pernah menjadi pecundang sebelumnya.
Semua kisah dan tragedi selalu punya hikmah di baliknya. Kebaikan akan terus tersembunyi di balik keburukan, sampai adanya tekad yang berusaha untuk terus berjuang membebaskan kebaikan yang terbelenggu oleh keburukan. Ya! Hal yang baik akan selalu ada setelah hal yang buruk, selama kau terus berusaha.
__ADS_1
Tapi, itu semua juga tergantung pada manusianya itu sendiri, ingin terus berjuang dan bangkit dan membuat nasib menjadi lebih baik atau terus terpuruk dan terbelenggu dengan menyalahkan takdir yang tanpa kalian ketahui bahwa ada takdir yang bisa di ubah oleh manusianya itu sendiri. Dan satu hal lagi yang amat sangat penting. Ingatlah! Tuhan tidak pernah tidur dan tidak akan pernah salah dalam hal memberikan kejutan terindah untuk hamba-Nya yang mau terus berusaha dan berjuang.
SEMANGAT!! NEVER GIVE UP ON YOURSELF 😉😉
...~Cinta Untuk Fella~...
Fella menghela napasnya beberapa kali, perempuan itu belum puas dengan liburannya. Bahkan masih banyak tempat wisata yang belum ia kunjungi, dan besok sudah harus balik ke Jakarta untuk urusan kuliah dan tentu saja, Distro milik Arska mengalami sedikit masalah di cabang, oleh karena itu lelaki itu memutuskan untuk lebih awal balik ke kota asalnya itu.
"Astaga, kenapa? Seminggu itu cepat banget sih, padahal aku belum puas keliling Jogja-nya. Mana Distro Asrka baru ada masalah lagi," ucap Fella dengan mengerucutkan bibirnya.
Bella juga merasakan hal yang sama, perempuan itu sebenarnya belom rela jika harus kembali lebih awal dari bulan madunya. "Nggak cuma elo, gue juga sedih. Padahal masih banyak lagi wisata yang belom gue kunjungi," balasnya seraya menghela napasnya beberapa kali.
Kedua perempuan itu memasang wajah masamnya, sedangkan Arska dan Brayu menjadi penonton. Mereka tak berani berkomentar, saat mendengar kedua perempuan itu terus mengeluh.
"Daripada kita ngeluh, mending kita nikmatin sisi liburannya sekarang aja gimana?" tanya Arska dengan tiba-tiba.
Fella menoleh kearah suaminya, di ikuti Bella yang mendongak ke arah Arska. Kedua perempuan itu sama-sama terdiam.
"Kalau kalian kaya gini, yang ada waktunya makin muter dan tiba-tiba udah besok." sambung Brayu.
Kini Bella melirik ke arah suaminya, dan memeluk lengang lelaki itu cukup erat. "Oke kita jalan," balasnya.
Fella dan Arska kompak mengernyitkan keningnya, melihat tindakan Bella yang tumben sekali mau memeluk lengan suaminya.
"Tumben, di gandeng?" tanya Fella dengan menunjuk kearah pasangan suami istri tersebut.
"Hahaha, nggak sekalian aja, lo ikat kaki laki lo biar nggak kemana-mana," canda Arska.
Bella memajukan bibirnya. "Ya jangan dong kasihan," ucapnya.
"Kayaknya, istri gue ini mulai sayang sama gue," sambung Brayu seraya mengelus pucuk kepala istrinya.
Perlakuan Brayu itu membuat Bella menjadi salah tingkah, dan segera menarik tubuh lelaki itu agar menjauh dari Arska dan Fella.
"Ya ampun, hari gini masih malu-malu kucing aja, sih tuh anak." cecer Fella seraya mengikuti langkah Bella dan Brayu yang sudah mengeluyur duluan.
Mereka menikmati suasana malam di Malioboro, walaupun tadi sempat mengeluh namun mereka tetap menikmati sisi liburan yang masih mereka miliki. Mereka mencoba mengabadikan moments tersebut menggunakan ponsel. Bella mengambil beberapa foto di setiap jalan yang di lewatinya.
__ADS_1
"Coba aja, jakarta suasananya masih kaya gini, betah banget pastinya," kata Bella seraya menatap layar ponselnya, gadis itu melihat hasil jepretan dari kamera ponselnya, ia juga menggeser-geser layarnya.
Fella juga ikut melihatnya, "Lain kali, kita balik kesini. Tapi harus kompak, kalau perlu si Faya harus ikut," ucap Fella.
Arska tersenyum tipis lelaki itu mulai merangkul pundak istrinya. "Tenang aja, lain kali kita bakalan balik kesini. Sekalian ngajak Aldy, dia kan asli orang Jogja, sekalian kan silahturahmi sama neneknya," sambung Arska.
Kedua perempuan itu menoleh kearah Arska, saat mendengar nama Aldy di sebut.
"Ck, malas ah, gue sama Aldy sekarang," komentar Bella.
"Sama, dia ngeselin banget sekarang, suka marah-marah nggak jelas, kalaupun dia masih suka sama Faya. Harusnya dia berusaha ngejar lah, nggak kaya gitu caranya." kata Fella dengan ekspresi datar.
Brayu mulai membuka suaranya saat mendengar ucapan dari kedua perempuan yang sama-sama kesal terhadap sikap Aldy.
"Itu semua, nggak kaya apa yang kalian pikirin, sebenernya Aldy itu masih sayang sama Faya."
"Ck, dasar laki. Nggak tau apa kalau istri lo ini kesel setengah mati sama kelakuan tuh cowok!" kata Bella dengan nada sewot, istri Brayu itu nampak melipat kedua tangannya dan menaruhnya tepat di depan dada.
Tatapan dingin mulai menyeruak, saat Bella tak kembali membuka suaranya, baik Brayu atau pun Bella keduanya sama-sama terdiam. Padahal baru beberapa detik yang lalu mereka terlihat rukun dan romantis. Arska yang tak ingin melihat sepasang suami istri itu marahan, langsung mengubah topik pembicaraan.
"Woy, nikmatin sisa liburan kalian malam ini, jangan bikin moments terakhir kalian di Jogja jadi jelek karena mikirin masalahnya orang."
Fella membenarkan ucapan suaminya itu, "Iya, kita kan kesini buat liburan, bukan buat berantem," sambung Fella.
Tak ada respon dari keduanya Fella dan Arska memilih meninggalkan pasangan suami istri yang sejak tadi terus bertatapan namun dengan ekspresi kesal dari keduanya.
"Bisa sampai subuh itu, Hubby." kata Fella yang kembali menoleh kebelakang.
"Biarin aja, lagian mereka juga udah gede, bisa urus masalah mereka sendiri." balas Arska.
Perempuan itu hanya manggut-manggut, namun manik matanya masih melirik kearah kebelakang. Membuat Arska harus menarik kepala istrinya dan mengapitnya di antara ketiaknya itu.
"Hubby!!!" teriaknya.
"Iya, sayang. Kenapa?" tanyanya pura-pura tak mengetahui apa-apa.
"Ini maksudnya apa?" tanya Fella sambil menunjuk dirinya yang berada di bawah ketiak suaminya itu.
"Nggak ada maksud apa-apa, suami mu ini cuma mikir, kenapa kamu kelihatan pendek banget kali ini," ledeknya.
Fella langsung mengerucutkan bibirnya saat mendengar kejujuran suaminya itu, "Bawaan dari lahir, mau di tarik juga nggak bakalan bisa tinggi lagi!" ucap Fella masih dengan ekspresi cemberutnya.
__ADS_1
Lelaki itu semakin mempermainkan istrinya, dengan mengacak-acak rambut Fella. Rasa bahagianya tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata saat melihat ekspresi istrinya yang seperti itu. Mereka melewati malam terakhir di Jogja, sebelum esok mengharuskan mereka untuk kembali ke ibu kota.