
Brayu tak menemukan keberadaan Bella di kampus. Membuat lelaki itu memutuskan untuk menemuinya di kediaman Moregan. Baginya berkunjung ke rumah orang nomor satu di kotanya itu, adalah hal yang sangat sering ia lakukan, selama Rahendra tidak berada di rumah. Bahkan lelaki itu belum pernah bertatap muka dengan Rahendra meskipun hanya sekali. Lelaki separuh baya itu, sangat sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri. Hanya dengan Ranita ia mencurahkan segala keluh kesahnya mengenai Bella, bahkan keduanya sangat terlihat dekat saat mengobrol.
Dengan napas ngos-ngosan Brayu menghampiri Bella. "Lo kemana aja? Dari tadi gue terus nyariin elo di kampus," katanya sembari duduk di sebelah Bella.
Bella yang masih mengunyah kripik kentangnya pun, tak langsung mengindahkan pertanyaan lelaki tersebut, gadis itu hanya memandang ke arah Brayu dengan tatapan kesalnya sambil melayangkan snack cemilan ringan yang ada di depannya.
"Gara-gara lo! Sama Leon! Gue hampir mati kelaparan!" seru Bella.
"Emangnya lo nggak sempat makan tadi?" tanya Brayu yang langsung membuka snack yang sudah berada di tangannya itu.
"Gimana mau makan! Gue ngeliat tingkah kalian aja, selera makan gue aja udah hilang. Udah gitu di lihatin sama mahasiswa lain lagi, malu banget tau rasanya." jelas Bella dengan mulut yang sudah di penuhi oleh kripik lagi.
"Lo saking laparan? Apa gimana sih Bel, sampai bungkusnya udah berserakan kemana-mana kaya gini?" tanyanya dengan mata mengamati sekelilingnya. Gadis itu sudah memakan banyak snack makanan ringan hampir sepuluh bungkus lebih.
"Hem... gue lapar banget, saking laparnya gue tadi ngutang roti di kantinnya mbok Ani," ucapnya dengan mata melirik ke arah Brayu.
Bukannya iba, lelaki itu justru tertawa tanpa dosa. "Lo ngutang roti di kantinnya mbok Ani? Hahaha... ya ampun Bel, kok bisa? Kalau mereka tau lo itu siapa? Biasa kena bully lo!" Brayu memegangi perutnya, merasa kram akibat tawanya terlalu kencang.
Bella melirik ke arah Brayu sekali lagi. Tatapannya begitu ingin membunuh, terlihat jelas dari wajah Bella. "Lo ketawain gue lagi! Gue nggak segan-segan buat masak elo jadi daging cincang!"
"Becanda Bel, jangan marah lagi ya," ucap Brayu yang langsung mengusap tenggorokannya yang tiba-tiba mengering itu.
"Ini semua juga gara-gara lo! Sama si senior ngeselin itu. Sikap kalian tuh kaya anak kecil, gue jadi pusat perhatian waktu di kantin tadi." jelas gadis itu.
"Ya maaf, habisnya gue kesal ngeliat lo deket sama tuh cowok," katanya dengan bibir sedikit lebih maju.
"Dia cuma bantuin gue, ngajarin soal buat kuis besok, Brayu!"
"Sama aja Bel, gue kan nggak ikhlas kalau ngeliat lo duduk berduaan sama cowok lain," ucapnya jujur.
"Ck.... terserah lo aja lah! Gue capek ngeladenin elo debat terus!" Bella lebih memilih fokus kepada cemilannya, sesekali matanya melirik ke acara televisi.
Hening terasa beberapa menit yang lalu, mereka saling terdiam dan menatap lurus ke layar televisi yang sejak tadi di tonton oleh Bella. Hingga suara memalukan keluar dari perut Bella, membuat gadis itu salah tingkah karena tatapan Brayu yang lurus ke arahnya.
"Ngapain lo ngeliatin gue kaya gitu?" tanya Bella dengan wajah yang sudah memerah.
"Lo lapar?" tanya Brayu santai.
"L-lo salah denger kali." elaknya.
"Kalau lapar, bilang aja. Biar gue masakin." tawar Brayu.
Tanpa menolaknya, Bella langsung mengangguk tanda setu. "Udah lama banget gue nggak makan masakan elo, buatin yang enak ya, Bray," ucapnya dengan mata berbinar.
"Oke! Gue bikinin. Tapi dengan satu syarat. Lo harus beresin sisa cemilan lo yang berantakan ini!" seru Brayu sedikit memerintah.
Bella mengamati sekelilingnya, astaga kelakuannya memang tak beraturan. Gadis itu menelan saliva-nya berkali-kali.
"Kalau nggak mau ya udah, gue nggak jadi masakin." ancamnya.
"Tapi kan ada pelayan yang biasanya beresin ini semua."
__ADS_1
"Jangan apa-apa tergantung dengan orang lain, kalau kamu sendiri bisa kerjain, kenapa harus nyuruh orang lain buat kerjain. Lagian ini semua kan ulah elo. Jadi yang wajib beresin elo!"
"Tapi kan gue nggak terbiasa beres-beres," ucapnya dengan kening berkerut.
"Mulai sekarang di biasain."
Gadis itu menghela napasnya berkali-kali menyetujui semua perkataan Brayu, membuat semua pengawal dan pelayan yang ada di rumah itu terkejut akan sikap Bella yang begitu penurut kali ini.
"Ya udah.... sana masakin gue yang enak, awas aja kalau sampai nggak enak!" katanya dengan tangan mulai memunguti semua cemilan dan sisa cemilan yang berada di lantai.
Dua puluh menit kemudian, Bella sudah selesai dengan aktifitasnya. Gadis itu tak banyak mengeluh ketika mengerjakan pekerjaan tersebut. "Akhirnya selesai juga," katanya dengan mengangkat kedua tangannya yang sejak tadi memegang sapu.
"Brayu kira-kira udah selesai belum ya, gue lapar banget," gumamnya pelan. Gadis itu memutuskan untuk pergi ke dapur, melihat apakah Brayu sudah selesai memasak.
Aroma sedap tercium saat Bella memasuki area dapur, gadis itu mengusap-usap perutnya yang sudah sangat keroncongan. "Ya ampun Bray, masakan elo emang selalu bikin gue ngiler. Dari baunya aja udah menggiyurkan kaya gini, masakan koki gue aja udah kalah," celoteh gadis itu saat sudah berada di sebelah Brayu.
Brayu menyunggingkan sebelah bibirnya, lelaki itu sangat senang mendengar pujian yang di berikan oleh Bella. "Kalau lo jadi suami gue beneran. Tiap hari gue ngerasa bahagia," ucapnya tanpa sadar.
Brayu menghentikan aktifitasnya sesaat, lelaki itu semakin mengembangkan senyumnya. "Lo tadi bilang apa?" tanya Brayu memastikan bahwa telinganya benar-benar tak bermasalah atau salah mendengar.
"Suami, emangnya kenapa?" tanya Bella masih belum sadar akan ucapannya tersebut.
Hingga ia pun menyadari jika ekspresi wajah Brayu semakin berbeda, lelaki itu terlihat sangat bahagia. "Astaga...." Mata Belal pun membulat sempurna ketika menyadari ucapannya yang begitu natural meluncur dari mulut bibirnya sendiri, gadis itu langsung membungkam mulutnya.
"Gue tarik kata-kata gue barusan!" seru Bella dengan tangan yang masih membungkam mulutnya.
Menggeleng pelan. "Ucapan itu. Nggak bisa di tarik lagi, malaikat yang lewat aja udah meng-Aamiin," kata Brayu yang mulai menggoda Bella.
Merasa tanggapan Bella tak terlalu buruk, lelaki itu segera mematikan kompornya, menata makan yang sudah selesai ia masak tadi. Hingga Ranita pun menghampiri mereka berdua, dengan senyum yang mengembang.
"Dari tadi, Mommy denger ribut-ribut nggak taunya ada yang minta makan. Sampai harus masakin segala. Padahal tadi ada yang bilang nggak mau makan, karena nggak selera," sindir Ranita saat mengetahui tindakan konyol anaknya itu.
Bella menoleh ke arah Mommy-nya dengan bibir yang terangkat sebelah. "Kalau ini Bella beneran lapar Mom," ucapnya yang langsung merebut piring yang sudah berisikan lauk itu. Dengan langkah cukup lebar, Bella langsung berlari ke arah meja makan, seperti orang yang tak punya dosa saja gadis itu kalau sudah lapar.
"Maafin ya Bray, sikapnya terlalu kekanak-kanakan."
"Nggak papa Tante, lagian Brayu udah terbiasa dengan sikap Bella yang seperti itu. Oh... ya, tante nggak makan? Nggak mau cicipi masakan Brayu?"
"Mau banget dong Bray, dari luar dapur aja. Masakan kamu udah kecium sampai hidung tante. Bikin tante nggak sabar icipin," balas Ranita.
Di meja makan.
"Pelan-pelan sayang, nggak akan ada yang minta makanan kamu," ucap Ranita mencoba mengingatkan. "Makanan Brayu memang enak, pantas saja kamu makannya habis banyak," lanjutnya.
Bella mendengarkan setiap ucap Ranita, gadis itu langsung memelankan makannya yang sedikit berantakan. Ia mengakui kalau masakan Brayu memang sangat enak dan cocok di lidahnya.
Brayu sempat tak percaya dengan apa yang di lihatnya, namun ia merasa memiliki kebahagian tersendiri setelah melihat sisi lain dari seorang Bella. Berbeda saat sedang menghadapi masa genting, gadis itu bisa berbicara dengan sangat serius dan tegas, bahkan tindakannya pun bisa membahayakan dirinya sendiri, saat menghadapi para musuhnya.
Mata Brayu terus saja fokus kepada gadis yang sekarang duduk di sebelahnya, cara makan yang tergesa-gesa membuatnya terlihat sangat belepotan. "Makan lo kok belepotan kaya gini sih Bel," kata Brayu dengan jari menyingkirkan sisa nasi yang ada di pipi gadis itu. Bella begitu tercengang melihat hal tersebut, menghentikan aktifitas makannya dan memutar kepalanya ke samping, gadis itu melihat dalam-dalam ke arah Brayu.
Dan pemandangan itu membuat Ranita harus memegangi kedua pipinya dengan senyum yang mengembang lebar. "Sejak kapan kalian sedekat ini? Mommy senang ngeliat kalian rukun kaya gini," ucap Ranita masih dengan tatapan fokusnya.
__ADS_1
Perkataan Ranita ,seketika membuat Bella kelabakan dan memutar bola matanya ke arah wanita separuh baya itu. "Apa sih Mom?" tanyanya.
"Mommy bilang, sejak kapan kalian sedekat ini?" ulang Ranita.
Hembusan demi hembusan keluar dari mulut bibir gadis itu. "Bella udah kenyang banget ini Mom, Bella duluan ya." Gadis itu sengaja mengatakan akan hal itu, ia tak mau jika Ranita terus bertanya yang tidak-tidak.
Lain halnya dengan Brayu yang ikut berpamitan dan menyusul Bella.
"Dasar, anak muda. Di tanya orang tua, selalu saja menghindar," gumam Ranita pelan.
Bella melangkahkan kakinya ke taman Belakang, gadis itu terlihat sangat kenyang karena sejak tadi ia terus mengelus-elus perutnya.
"Hem.... Mommy ngeselin banget sih! Kalau Brayu sampai kepedean kan bahaya," gumamnya pelan. Bella menyandarkan kepalannya di sandaran kursi yang cukup empuk, matanya terpejam dengan napas yang masih naik turun.
"Habis makan, jangan langsung tiduran. Nggak baik buat kesehatan," kata Brayu yang sudah duduk di sebelahnya.
"Kenapa lo ngikutin gue sih? Padahal gue pengen santai sedikit, tanpa di gangguin sama elo," balasnya masih dengan mata terpejam.
Lelaki itu tersenyum, mendengar ucapan ketus dari Bella. "Seenggaknya, ada yang bilang pengen jadi istri gue. Gue nggak bakalan lupa sama ucapan lo tadi di dapur." Brayu mencoba mengingatkan tentang ucap Bella sewaktu di dapur tadi.
Bella membuka matanya, gadis itu terperanjat dan langsung menatap ke arah Brayu. "Gue nggak sadar ngomongnya, jangan kepedean dulu dong!"
"Buat gue! Kata-kata yang nggak sadar itu, justru adalah ungkapan dari isi hati lo yang sebenarnya ke gue."
"Perumpamaan darimana? Ngasal aja lo." Bella melayangkan tangannya ke arah Brayu pelan.
Lelaki itu hanya membalasnya dengan sebuah senyuman, menarik tangan Bella sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah gadis itu.
"Lo apa-apaan sih!" sentak-nya dengan mata yang semakin melebar.
Brayu membungkam mulut Bella pelan, dengan wajah yang hanya tersisa seinci. "Gue nggak bakalan ngapa-ngapain elo kok," ucapnya.
Dalam bekapan tangan Brayu, gadis itu hanya melotot. Membuat lelaki itu semakin bersemangat untuk terus mengusili-nya.
"Gue bakalan jaga calon istri gue sampai waktunya tiba," lelaki itu mencium tangannya sendiri, tangan yang untuk membekap mulut Bella tadi, cukup lama ia melakukan hal tersebut. Manik mata mereka saling beradu meskipun Bella ingin sekali berteriak.
Namun jantung Bella berdesir dengan sangat kencang, tindakan lelaki itu sungguh saat gila baginya. Lima menit Brayu melakukan hal itu, lelaki itu menyudahi aktifitasnya.
"Sorry, gue terlalu terbawa suasana. Gue hanya berani sebatas itu."
Bella melayangkan pukulan kearah kepala Brayu dengan cukup keras. "Gue hampir mati gara-gara nggak bisa napas! Lo ngeselin banget udah curi ciuman nggak langsung gue!" seru Bella dengan suara meninggi.
"Baru ciuman nggak langsungkan, belum yang langsungnya." goda Brayu dengan mengedipkan satu matanya.
"GILA!"
"Ini semua juga gara-gara elo! Semakin lo nolak gue. Semakin gila keinginan gue buat ngejar elo." jelasnya. "Seenggaknya gue nggak maksa buat cium elo, keberanian gue cuma sebatas itu. Karena gue pengen ngelakuin itu setelah lo bener-bener jatuh cinta sama gue. Dari lubuk hati lo."
Bella menghela napasnya berkali-kali, gadis itu menjadi merasakan kepalanya sudah mendidih sampai ke ubun-ubun. "Lain kali! Awas aja kalau sampai lo berani ngelakuin hal itu lagi!" seru Bella dengan tangan melayang kembali ke arah Brayu.
Brayu tetap tak peduli, lelaki itu masih bertahan di posisinya, justru tawanya semakin menjadi saat melihat wajah Bella yang merah merona itu.
__ADS_1