
Salsa memasuki pintu gerbang dengan detak jantung yang tak karuan. Bahkan, sejak ia berangkat dari rumah, ia terus menghela napasnya. Berharap tak menemui Leon hari ini.
"Semoga dia nggak ada di kantin, dan aku terbebas dari hukuman yang dia maksud semalam." Salsa segera melangkahkan kakinya dengan cepat agar sampai kedalam kelas dengan keadaan selamat.
Beberapa langkah Salsa terhenti saat tepukan tangan mendarat di bahunya. 'Astaga, jangan bilang ini Leon,' pikirnya sedikit parno.
"Buru-buru amat, sih lo Sal." ucapnya dengan nada keras, suara lelaki yang tak lain adalah Rey.
Memegang dadanya cukup erat karena sejak tadi jantungnya tak bisa terkontrol, bahkan Rey malah membuatnya jantungnya semakin berdetak tak karuan.
"Sial! Kamu Rey, aku pikir cowok itu!" seru Salsa dengan nada menyentak.
"Cowok itu, siapa? Apa Dimas yang elo maksud." jelas Rey yang langsung merangkul bahu Salsa.
Menyukut perut Rey pelan, gadis itu kesal dengan ucapan Rey yang menyebalkan itu. Bisa tidak lelaki itu kalau tak membahas Dimas, sehari saja. "Nggak usah bahas cowok penghianat itu!" seru Salsa kesal.
"Ya sorry, lagian jalan elo cepat banget. Udah gitu kepala lo clingukan mulu, ya gue mikirnya ke arah situ lah," balas Rey nyengir.
Memasang tampak masam, Salsa benar-benar ingin menggigit leher Rey agar terputus dari tubuhnya.
"Hehehe... Jangan pasang tampang masam kaya gitu, Sal. Sorry gue bener-bener khilaf sama ucapan gue barusan." menyatukan kedua tangannya, Rey memohon agar Salsa memaafkannya.
Namun saat melakukan aksi memohon-nya, Rey justru menangkap sosok yang barusan ia bahas dengan Salsa. Mata lelaki itu melebar dengan seketika. 'Bener-bener deh tuh orang, langsung mesra-an di depan umum. Dasar makhluk nggak tau di untung.' pikir lelaki itu dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Sal, nggak usah nengok ke depan. Entar mata lo sakit gara-gara ngeliat pasangan nggak tau diri itu." cibir Rey dengan mulut cabe-ny.
Menelan saliva-nya beberapa kali, Salsa sudah tau maksud dari ucapan Rey. 'Biarin aja pasangan penghianat itu bahagia, toh aku tetap nggak peduli!' gumam Salsa dalam hati.
Maya sengaja memperlihatkan keromantisannya di depan umum. Bahkan, ia sengaja memamerkannya di depan Salsa yang jarak berdirinya tak jauh dari dirinya saat ini. Menggelayut manja di lengan Dimas, gadis tak tahu malu itu menarik lengan Dimas secara paksa.
"Dih, Salsa. Pagi-pagi tampang lo udah kusut kaya gini. Apa jangan-jangan elo masih ada rasa sama Dimas, makanya elo nggak terima waktu ngeliat gue lengket sama Dia kaya gini." cibir Maya dengan nada sombongnya.
Menarik sudut bibirnya, "Untuk apa aku iri sama pasangan memalukan seperti kalian. Bahkan kalau aku jadi kamu, aku udah malu. Mereka semua kan tau, kalau Dimas itu pacar aku, dan mereka juga tau kalau kamu itu sahabat aku. Tapi, justru kalian malah mengumbar kemesraan di depan umum. Asal kamu tau ya. Mereka pasti akan mikir kalau kamu itu tukang nikung sahabat sendiri." sahut Salsa seraya melipat kedua tangannya dan menaruhnya di depan dada.
Maya menarik tangannya yang ada di lengan Dimas, gadis itu sangat kesal dengan sikap Salsa yang justru menjatuhkannya ke kubangan lumpur.
"Nggak usah marah kaya gitu lah May, yang Salsa omongin itu semuanya bener. Lagian, elo terlalu berani nunjukin kemesraan di depan umum. Sama aja lo itu tolol!" caci Ray dengan mulut pedasnya.
Menggigit bibir bawahnya secara pelan, dengan kening mengernyit. Maya berusaha agar otaknya mampu berpikir dengan jernih, gadis itu ingin melihat Salsa kalah, atau bahkan terpuruk seperti yang pernah ia alami, saat gagal mendapatkan hati seorang Dimas.
"Ck... daripada lo sibuk nyaci maki gue, mending elo urusin pacar lo yang miskin itu!" seru Maya saat mengingat jika ia melihat Leon di kantin tadi.
Mengernyitkan keningnya dengan mata menyipit. "Maksud kamu?" tanya Salsa bernada rendah.
"Hahaha... lo malu ya, ketahuan sama gue kalau pacar lo itu cuma pembantu di kantin. Upstt .... kerjaan yang rendahan banget ya." Maya memperjelas ucapannya. Gadis itu mengibas-ibas-kan tangannya seakan merendahkan Salsa di depan umum.
Salsa mengernyitkan keningnya sesaat, gadis itu mengingat jika orang tua Leon memang pemilik kantin di sekolahannya, tak heran jika lelaki itu sesekali membantu orang tuanya.
Menyeringai kecil. "Kamu nggak perlu rendahin pacar aku di depan umum, toh aku bangga sama dia, selain di mau bantuin orang tuanya. Dia juga tipikal orang yang memang pekerja keras, bahkan dia nggak perlu repot-repot ngehamburin uang orang tuanya." sindir Salsa yang tak mau kalah.
"Lo udah punya cowok?" tanya Rey pelan.
__ADS_1
"Udah, kenapa emangnya?" gadis itu balik bertanya.
"Yah, gue kalah cepat dong, Sal." gumam Rey serasa tak terima.
Salsa mendengus mendengar peryataan Rey yang terlalu blak-blakan itu. Gadis itu tak habis pikir dengan pemikiran teman semeja-nya itu.
"Woy, di sini masih ada manusia. Kalian nggak perlu bisik-bisik. Karena gue udah denger semuanya."
"Dih, jadi orang sensi banget, sih." Salsa mencebirkan bibirnya.
"Lo tadi bilang, tipikal orang yang nggak suka ngehamburin uang orang tuanya. Ya... ya... mungkin maksud lo biar pas itu, karena dia anaknya orang miskin." ejek Maya semakin tak karuan.
Melirik sekilas ke arah Dimas. "Model cewek kaya gini ternyata yang kamu suka. Astaga, aku nggak habis pikir sama pilihan kamu."
Dimas memalingkan wajahnya, merasa malu dengan tindakan Maya yang sangat memalukan itu.
Mencengkram lengan Salsa dengan sangat kuat. "Jangan pernah bawa-bawa Dimas, urusan elo itu sama gue! Kalau lo iri, wajarlah, hubungan gue sama Dimas itu jauh lebih baik di banding saat Dimas masih sama elo!"
Menepis kasar tangan Maya. "Dan aku ingetin sama kamu juga! Jangan jelek-jelekin pacar aku dengan mulut rese kamu ini!Dan kamu nggak perlu ngelakuin cara ini buat bikin panas hati aku, karena apa? Karena aku nggak pernah peduli sama hubungan kalian, doa ku cuma satu. Semoga aja kalian langgeng dan nggak ada orang ketiga, bisa bahayakan kalau sampai terulang lagi. Karena karma itu selalu ada." Salsa mengembangkan senyumnya saat melihat wajah pucat Maya terpampang nyata di hadapannya.
"Daripada itu semua, mending elo mikirin cowok lo yang miskin itu!" serunya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kamu selalu ingin membahas pacar ku?" tanya Salsa dengan raut wajah tak senang.
"Karena dia tak sebanding dengan Dimas." katanya dengan percaya diri, kali ini Maya yakin jika Salsa akan merendah saat mendengar ucapannya itu.
Mendorong pelan bahu Maya, gadis itu tersenyum tipis. "Kamu pikir, pacar aku nggak sebanding dengan Dimas. Kamu salah. Kamu pernah mendengar tentang pepatah yang mengatakan 'Bukan tentang siapa dirinya, tapi tentang bagaimana dia membuat ku nyaman, setiap kali aku ada disisinya' Dan kayaknya kamu nggak pernah dengar pepatah itu karena apa? Karena kita nggak sebanding, bahkan di lihat dari sisi mana pun, aku tetap paling unggul daripada kamu!" seru Salsa yang tak terima dengan ucapan pedas Maya. Gadis itu merasa kesal jika mendengar Leon terus di rendahkan seperti itu.
"Munafik? Siapa yang munafik, bahkan aku lebih bangga kok punya cowok kaya dia."
"Ganteng doang lo banggain!"
Rey menggelengkan kepalanya pelan, "Apa kasta lebih penting di bandingan kebahagian, dasar cewek nggak bermoral!" lelaki itu geram melihat tingkah menjijikan Maya yang keterlaluan itu.
Salsa menghela napasnya berkali-kali. "Terlebih dari hal itu semua, aku ngerasaain bahagia waktu sama dia. Dan asal kamu tau, mungkin dia terlihat buruk di mata kamu. Tapi dia spesial di mata aku!"
Tatapan mata Maya terlihat tajam, gadis menyebalkan itu langsung menarik rambut Salsa yang tergerai, membuat Salsa terhuyuk hingga kebawah.
"Dasar perempuan ngeselin, dari dulu gue nggak pernah suka sama elo!" teriak Maya. Ia begitu kesal melihat sikap Dimas yang berdiam diri dan tak ada niatan untuk membantunya itu. Bahkan, lelaki itu hanya mematung saja sejak tadi.
Rey segera mendorong tubuh Maya agar menjauh dari Salsa. "Elo nggak papa?" tanya Rey yang masih setia memegangi lengan Salsa.
Salsa merapikan rambutnya yang berantakan itu, gadis bertubuh mungil itu hanya tersenyum ringan. Ia tak ingin membalas perlakuan yang di berikan oleh Maya, membalas perlakuan dengan cara yang sama, baginya sama saja dia terlihat seperti gadis liar.
"Rey! Kenapa lo selalu ikut campur! Bahkan elo selalu belain dia! Elo nggak pernah belain gue!" Maya menunjuk dirinya sendiri.
"Buat apa gue belain cabe kaya elo! Yang jelas-jelas, lo itu ngelakuin kesalahan fatal!"
Saat Rey membela Salsa, dari arah berlawan muncul sosok Leon yang segera memegangi kepala Salsa pelan.
"Akhirnya, gue nemuin elo juga." ucapnya dengan senyum menggoda.
__ADS_1
Salsa memundurkan tubuhnya, hingga mengumpat di belakang Rey. "Rey, aku mohon jangan pergi dari hadapan aku," ucap Salsa dengan suara yang sengaja di buat merendah.
Leon menarik sudut bibirnya. Sepertinya Salsa ketakutan karena ucapannya semalam. "Sayang." ucap Leon lembut dan penuh penekanan.
"Dia, manggil lo sayang. Berarti dia cowok lo?" tanya Rey mencoba menoleh kebalik punggungnya.
Salsa mencoba merendahkan tubuhnya kembali, untung saja tubuhnya mungil. Jadi tubuh jangkung Rey dapat melindunginya dari tatapan Leon.
'Kenapa harus ketemu Leon, sih. Astaga, ucapan aku tadi keterlaluan nggak ya buat dia.' batin Salsa yang justru tak segera menjawab ucapan Rey.
"Dia cowok elo, Sal?" tanya Rey sekali lagi.
"Shut.... jangan keras-keras. Dia makin ngeliatin kesini." balas Salsa yang masih merunduk. Gadis itu benar-benar memelankan suaranya.
"Katanya gue spesial di mata elo, kenapa sekarang lo nggak mau tatap gue?" tanya Leon dengan kepala menyerong.
"Dia malu kali punya pacar kaya lo!" sahut Maya.
Leon tak menggubris ucapan Maya, lelaki itu masih terfokus kepada Salsa yang masih setengah mengumpat di belakang Rey.
"Loh, bukanya itu anaknya Bu Tantin, pemilik kantin itu ya?" ucap salah seorang siswi.
"Dia masih muda, tapi peduli banget sama orang tua, bahkan dia sempat nolak waktu dapet tawaran buat masuk ke perusahan ternama." sahut teman yang satunya.
"Dia bukannya udah punya usaha sendiri? Kalau nggak salah udah punya empat cabang, deh."
"Dih, mati kutu tuh si Maya. Mulutnya pedes banget kalau ngatain orang, dia nggak tau aja anaknya Bu Tantin itu pengusaha muda."
"Cowoknya Salsa lebih keren, udah gitu masih muda udah punya usaha sendiri."
Beberapa ucapan siswi-siswi lain tertangkap oleh pendengaran Maya. Gadis itu begitu kesal, ternyata banyak yang tak ia ketahui mengenai kekasih Salsa itu, bahkan ia hanya asal berucap, karena tak ingin mempermalukan diri terlalu jauh, gadis itu langsung pergi tanpa mengatakan satu patah kata pun.
"Lo masih takut sama hukuman yang bakalan gue kasih nanti?" tanya Leon dengan tubuh membungkuk.
Salsa menggigit giginya sendiri, gadis itu mengepalkan tangannya. 'Kenapa Leon harus bahas masalah hukuman itu lagi, sih.' batinnya semakin kesal.
"Nggak mau ngeliat gue juga? Hukuman bakalan gue tambah." ucapnya lagi.
"Leon!" sentak Salsa di iringi hentakan kaki, ia sudah memasang tampang masamnya, bahkan mimik wajahnya sudah terlihat sangat memelas.
Lelaki itu begitu bahagia saat ucapannya benar-benar di dengarkan oleh Salsa. Mendekati Salsa dan mengacak rambutnya pelan.
"Berhubung lo berhasil bikin hati gue bahagia karena ucapan lo tadi, gue nggak akan kasih hukuman buat lo hari ini." katanya dengan senyum mengembang.
Merasa ucapan Leon dapat di percaya, Salsa menerbitkan senyumnya. Bahkan tanpa sadar gadis itu mencium pipi sebelah kiri Leon. "Makasih ya sayang," ucapnya pelan, dengan ekspresi malu-malu. Setelah tindakannya itu Salsa langsung berlari meninggalkan tempatnya. Hingga membuat Leon mematung sesaat
"Astaga, mereka manis banget, sih." teriak salah seorang siswi yang nampak heboh sejak tadi.
"Aduh Salsa bikin iri aja."
Teriakan para siswi-siswi lain memenuhi koridor, mereka sangat gemas melihat pasangan manis yang begitu mengemaskan.
__ADS_1