
Arska mulai melakukan aktifis seperti biasanya, bergabung dengan ke tiga sahabatnya dan juga Regina sebelum memasuki kelas.
Sapaan demi sapaan terus menyapa Arska, pesona cowok tampan itu selalu menjadi incaran mahasiswi lain, entah karena beberapa hari ini Arska yang terlihat cukup ramah dan selalu mengembangkan senyumnya di setiap ia berpapasan dengan orang lain.
"Anjir... dari tadi perasaan yang lewat nyapa elo semua ka," ujar Aldy dengan bibir khas nyinyir-nya.
"Tau ni... dapet jimat apaan ini anak? Sampai satu kampus balik lagi kaya dulu awal masuk kuliah, dia selalu jadi sorotan mahasiswi lain," timpal Dilan.
"Biarin aja lah yang, emang kamu mau juga kaya Arska?" tanya Regina memasang wajah cemberutnya.
"Aduh.... sayang bukannya gitu. Cuma heran aja sama Arska."
"Dari dulu kan Arska emang selalu jadi pusat perhatian, jadi gue nggak terlalu heran," kata Brayu dengan tangan yang masih aktif memainkan ponselnya.
"Ya jadi trending topiknya malah nggak jawab, dia sibuk ketawa-tawa sama ponselnya," sindir Aldy. Dia mengamati tingkah Arska yang tak merespon ucapannya.
"Buat apa gue ngerspon kata-kata kalian, kalau ujung-ujungnya nggak terima sama jawaban gue," balas Arska dengan tangan sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. "Minggu depan kalian dateng ke acara peresmian pertunangan gue," ucap Arska sekilas. "Dan nggak boleh ada yang absen," lanjutnya.
"Elo bilang apa ka? Elo mau resmi-in pertunangan elo sama Fella minggu depan?" tanya Regina sedikit terkejut.
"Gue baru paham sekarang, ternyata elo murah senyum kaya gini karena lo udah mau resmi tunangan sama Fella," tiba-tiba Aldy mendadak lancar dalam berpikir.
"Tumben otak lo encer dy," ledek Regina.
"Ya elah... gin, gini-gini gue pawangnya Faya jadi rada paham waktu Arska bilang gitu."
"Syukur deh kalau emang tuh otak bisa berfungsi, kan kasihan Emak sama Babe lo udah biayain kuliah lo tepi nggak ada kemajuannya," tukas Brayu.
"Anjir... lo bray, bawaannya ngehina gue mulu, dasar sahabat ngesilin."
"Wkwkwk... kenyataannya emang gitu, dulu sewaktu SMA juga, nilai lo paling rata-rata, bahakan ulangan harian pernah dapat ceplok," Brayu makin menjadi saat menghina Aldy.
"Anjir... elo ngerjainnya sambil molor apa gimana itu dy? Sampai dapet nilai nol," sahut Regina.
Andy menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal karena mendengar ucapan Regina yang tiba-tiba mengingatkannya akan ulangan hariannya.
"Udah ah... bahas yang lain aja beb, jangan bahas Aldy muluk, kalau bahas Aldy terus yang ada sampai subuh nggak kelar-kelar," kata Dilan yang kini merangkul pundak Regina.
__ADS_1
"Rese lo lan, emang gue seburuk itu apa sampai nggak ada ujungnya," nada bicara Aldy di buat sedramatis mungkin.
"Emang kenyataannya gitu.... elo kan emang nggak selalu sinkron sama ke adaan."
"Iye....iye... gue kan emang selalu jadi bahan bullyan kalian."
"Ck...ck.. kekanak-kanakan banget sih.. capek dengernya," kata Brayu mengolok.
Arska masih tak mempedulikannya, ia masih terlihat asyik memainkan ponselnya dengan senyum yang terus mengembang.
Tak berselang lama, canda mereka tiba-tiba terganggu dengan kehadiran Cherry yang tidak tahu malunya mendadak duduk di sebelah Arska tanpa permisi terlebih dahulu.
"Kali ini lo nggak boleh nolak gue lagi!" seru Cherry yang langsung memandang kearah Arska, tak mempedulikan pandangan tak bersahabat dari teman-teman Arska.
Arska masih saja sibuk dengan ponselnya tak menghiraukan celotehan Cherry yang tak berarti itu.
"Arska gue tuh ngomong sama elo!" tangan Cherry menggoyang-ngoyangkan lengan Arska cukup kencang.
Arska melirik ke arah Cherry tatapannya begitu tajam, muka datarnya kini terlihat sangat jelas.
"Bisa singkirin tangan lo dari lengan gue nggak! Gue benar-benar nggak nyaman sama tingkah lo!" seru Arska.
"Nggak mau! Pokoknya gue nggak mau lepasin tangan gue kalau elo nggak mau dengerin gue ngomong," kata Cherry yang tak henti-hentinya mengoceh.
Arska tak lagi membuka suaranya, ia menggeser tubuhnya agar menjauh dari cewek rese tersebut.
"Gue bener-bener nggak nyaman!" Arska meninggikan nada bicaranya.
"Lo belom nikah kan, lo bohongi gue waktu itu kan."
Regina yang menyaksikan aksi memalukan tersebut segera membuka suara. "Aduh... kenapa di dunia ini ada ya orang yang nggak tahu malu, masih aja suka gangguin tunangan orang," Regina sengaja menyindir Cherry agar dia tak terus menganggu Arska.
"Tau... ini buah ceri nemplok terus kaya cicak," sahut Aldy.
"Diem lo... gue nggak ngomong sama lo!" nampak Cherry mulai tak suka dengan ucap Regina dan Aldy.
"Gue nggak percaya kalau Arska udah punya tunangan," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Arska menatap datar ke arah Cherry, ia benar-benar malas dengan pengganggu yang satu ini.
"Gue nggak harus laporan sama lo buat semua urusan gue! Karena lo buka orang tua gue! Dan bukan orang spesial di mata gue!" seru Arska nampak kesal.
Tapi Cherry justru semakin terpikat dengan tatapan Arska yang begitu tajam terhadapnya. Tampang yang serius membuatnya semakin terlihat keren.
"OMG ternyata bener kata orang, elo makin keren kau sikap lo kaya gini," Cherry memegangi kedua pipinya, mengagumi cowok yang sekarang berada di hadapannya.
"Buah ceri yang tak tau malu," sindir Aldy sekali lagi.
"Tau ni... kesel gue denger dia ngomong muluk, nggak tau malu lagi," Regina sengaja meninggikan nada bicaranya.
"Mending lo pergi deh, kaya nggak ada harga dirinya, masak primadona kampus godain tunangan orang lain muluk," Dilan mulai membuka suaranya.
"Kalian bisa diem nggak, ganggu aja dari tadi," celoteh Cherry yang mulai geram dengan sindiran yang terus di tunjukan untuk dirinya.
"Elo yang harusnya diem... di sini yang pengganggu itu elo bukan temen-temen gue!" ucap Arska dengan tegas.
"Kok lo berubah dengan hitungan waktu, tadi gue liat lo senyum terus sama yang lain, kenapa sekarang berubah," Cherry mengernyitkan dahinya.
"Lo nggak takut pamor lo sebagai primadona kampus hilang gitu aja, mohon-mohon sama tunangan orang lain buat sikap lo yang enggak ini, bikin bulu kudu gue merinding," Regina kembali mencibir Cherry.
"Arska tersenyum punya alasan tersendiri, dan itu bukan untuk tebar persona atau ngasih peluang buat lo untuk terus deketin dia seenak jidat lo," Brayu kini mulai membuka suaranya, setelah ia terdiam cukup lama.
Cherry emosi setengah mati menahan kekesalan yang sejak tadi ia pendam. Menelan saliva-nya beberapa kali, menatap lurus ke sembarang arah, entah apa yang ia cari tapi Cherry tetap pada posisi duduknya tanpa menggesernya sedikit pun.
"Gue cabut duluan, Aya mungkin akan bunuh gue kalau tau ada cewek yang nempel kaya gini," serunya dengan langkah kaki melebar.
"Oke... hati-hati banyak, banyak siluman ular," Regina sengaja mengeraskan suaranya seraya melirik ke arah Regina.
Cherry mengepalkan tangannya, menatap kepergian Arska dengan tak rela, dia semakin gila jika terlalu berlama-lama di sini karena cibiran yang di terimanya semakin pedas.
"Awas ya kalian," ucapnya seraya berlalu lalang, ia pergi dengan tangan yang masih mengepal, kaki yang menghentak begitu kencang. Kesal yang semakin merasuk ke dalam hati.
Tawa mereka berempat pecah dengan seketika, melihat kepergian Cherry dengan segudang kekesalan yang menumpuk di dalam pikiran dan hatinya karena mulut rese yang sengaja mereka ciptakan.
__ADS_1