
Priska telah menekan Ayahnya untuk menjalankan rencananya dengan mempersulit keuangan orang tau Brayu. Gadis itu sangat picik, menggunakan kekuasaan orang tuanya untuk melancarkan segala rencana busuknya. Bahkan ia sangat tak memiliki hati nurani untuk menghancurkan orang yang ia benci.
"Ayah sudah mengaturnya semua yang kamu inginkan, jadi kamu jangan marah lagi ya sayang," ucap lelaki paruh baya itu dengan mencium kening sang anak.
Orang tua mana yang mampu melihat anaknya kalut dalam setiap pikiran yang membuatnya semakin depresi.
"Makasih Ayah, Priska tau kalau Ayah nggak akan pernah mengecewakan anaknya." Gadis itu memeluk Rio dengan eratnya, senyumnya menyeringai di kala mendapatkan dukungan dari orang tuanya.
"Jadi, kapan kamu mau pergi menemui Om Ridwan dan Tante Jeny?" tanya Rio.
"Secepatnya yah, Priska nggak sabar pengen liat ekspresi mereka seperti apa?"
"Sebenarnya ada masalah apa? Sampai kamu menyuruh Ayah untuk menekan mereka?"
Priska melepaskan pelukan-nya, gadis itu tersenyum sambil bersedekap dada. Ia belum menceritakan keinginan yang sebenarnya sangat diincarnya. Membalikan badan membelakangi Rio dan melangkah maju beberapa meter dari Ayahnya. "Priska pengen rebut apa yang menjadi kebahagiaan Bella, Priska nggak akan rela kalau ngeliat cewek sialan itu terus bahagia."
Rio mengernyitkan keningnya, lelaki itu sungguh bingung dengan tindakan anaknya , ia pikir ada masalah apa? Sampai anak gadisnya itu terus menekan keuangan keluarga Ridwan. Pasalnya mereka sudah bekerja selama bertahun-tahun dan tak pernah ada masalah sebelumnya. Namun entah mengapa Priska menginginkan, agar keluarga Ridwan tergantung dengan Ayahnya, bahkan sampai harus menekannya agar berhutang kepada perusahaan Ayahnya.
"Bukannya kalian sahabat lama? Kenapa harus sepeti ini? Dan apa hubungannya dengan Om Ridwan?" tanya Rio dengan pikiran yang di penuhi oleh tanda tanya.
"Ck.... lupain masalah sahabat! Bahkan Priska nggak pernah menganggap kalau dia itu sahabat aku, Ayah! Jadi jangan ingatkan aku lagi!" serunya yang dengan tangan membanting vas bunga yang ada di sampingnya, gadis itu mulai tersulut emosi lagi. Setelah membantingnya, ia pun pergi meninggalkan Rio.
Entah mengapa Rio menjadi sangat khawatir melihat perubahan sang anak yang semakin berubah drastis.
...°•°Cinta Untuk Fella°•°...
Di rumah Brayu. Terdapat dua remaja yang telah selesai menghabiskan makanan di piring mereka, namun tiba-tiba topik pembicaraan berubah saat mereka sudah berada di ruang keluarga.
__ADS_1
"Sampai kapan sih Bel, lo mau gantungin gue kaya gini?" tanya Brayu dengan kepala menyandar di sandaran sofa.
Gadis itu menatap Brayu dengan mata menyipit sambil menatap kearah Brayu. "Lo duduk kaya gini? Siapa yang ngegantungin elo? Lagian mana kuat gue, kalau suruh ngangkat elo yang beratnya segede gaban kaya gini."
Brayu menghela napasnya dengan sangat panjang, lelaki itu benar-benar di buat gelisah oleh gadis yang sekarang ada di sampingnya itu. "Gantungin perasaan gue Bel?"
"Ck... mana bisa perasaan di gantungin Bray, orang kasap mata gitu, lo tuh aneh tau!"
Brayu mendongakkan kepalanya, menatap lurus kearah Bella yang sejak tadi terus selalu memplesetkan setiap ucapnya. "Lo bilang gue aneh? Elo itu baru aneh, sejak tadi gue selalu bahas isi hati gue ke elo. Tapi apa? Ujung-ujungnya elo melesetin ucapan gue."
"Uw.... kalau kepleset emang sakit loh Bray." Bella terus saja membolak-balikan setiap ucapan lelaki itu, mungkin kalau orang yang tak tau sifat asli Bella, bisa jadi rambutnya gundul karena pusing mikirin setiap kalimat yang Bella ucapkan.
Brayu menarik pergelangan tangan Bella, menatap gadis itu dengan tatapan seriusnya. Bella tak mau kalah, gadis itu melotot, tak terima dengan perlakuan Brayu. Ia pun memukul kepala lelaki itu berkali-kali.
Plak... plak... plak...
"Siapa suruh elo ngeselin, gue nggak suka!"
"Tapi gue suka!" lelaki itu melirik Bella dengan tatapan menggoda.
Duk.. Duk...Dukk..
Bella menendang kaki Brayu, hingga lelaki itu mengaduh kembali. "Lo kerasukan apa sih Bel? Dari tadi lo terus menganiaya gue kaya gini. Ini namanya KDTM tau!"
"KDTM? Apa tuh... gue baru denger?" tanya Bella dengan segala ke penasaran-nya.
"Kekerasan dalam Teman mesra!" Lelaki itu buru-buru menutupi wajahnya dengan bantal yang ada di atas sofa, takut akan terkena tampolan dari Bella lagi.
__ADS_1
"Ck... sejak kapan gue mesra sama elo!"
"Sejak elo terus-terusan numpang makan di rumah gue! Sampai beras gue habis!" serunya dengan wajah yang masih tertutup oleh bantal, namun suaranya masih terdengar sangat jelas di telinga Bella.
Bella membuka mulutnya lebar-lebar, benar-benar kejujuran dalam mulut pedas Brayu itu memang dahsyat. Tanpa nanti-nanti Bella langsung menarik bantal yang sejak tadi menjadi tameng untuk Brayu itu. Namun sayang seribu sayang, tarikannya itu justru membuatnya harus menindih tubuh Brayu yang memang posisinya telah berbaring di atas sofa tersebut.
Kedua remaja itu sama-sama saling menatap dengan jarak lima cm. Napas Bella dan Brayu kini beradu, karena memang keduanya terengah-engah karena Bella berusaha menarik batal itu terlalu kuat, sedangkan Brayu tetap menahannya.
Bella masih pada posisinya, sedangkan Brayu masih menatap lurus kearahnya tanpa berkedip. Mereka tak mengetahui jika Jasmin hari ini tidak lembur, membuat gadis itu pulang lebih awal. Saat sudah memasuki ruang kelurga ia melihat pemandangan abstrak. Membuat pikirannya terbang melayang karena posisi mereka sama sekali tak berubah. Jasmin berteriak cukup keras, membuat mereka menoleh ke sumber suara secara bersamaan.
"Astaga! Kalian pada ngapain?" tanya Jasmin dengan kedua telapak tangan menutupi seluruh mulut bibirnya.
"Kak Jasmin? Sejak kapan kak Jasmin ada di ramah?" tanya mereka hampir bersamaan. Mereka masih di posisinya yang sama, dan entah sampai kapan mereka akan merubah posisinya tersebut.
"Kakak akan nikahin kalian cepet-cepet kalau kalian masih kaya gini!" serunya dengan menunjuk kearah kedua remaja yang tak peka tersebut.
Mereka saling menatap, dan baru menyadari jika posisi mereka memang salah. Dengan wajah memerah karena malu dengan posisinya di atas, gadis itu segera turun dari tubuh Brayu dan menganti tempat duduk yang dekat dengan Jasmin.
"Kalau kakak sampai ngelihat kalian kaya gini, kakak nggak akan segan-segan buat nikahin kalian!" seru Jasmin dengan jari telunjuk mengarah kepada kedua remaja itu secara bergantian.
"Tapi kak, itu bukan seperti apa yang kakak pikirin dan lihat, Bella bisa jelasin kak."
"Di nikahin, Brayu dangan suka rela menerimanya kak," ucapnya pasrah, karena memang itu yang ia harapkan sejak dulu
"Menerima gundul lo itu Bray!" kata Bella yang langsung melempar majalah ke depan wajah lelaki tersebut.
Brayu menangkapnya, dengan sikap menggoda, lelaki itu semakin membuat Bella kesal dengan segala tindakannya. Jasmin menggelengkan kepalanya, melihat keributan yang tampil di hadapannya saat ini. Membuatnya harus rela memijat pelipis kepalnya dengan pelan. Gadis itu memilih berlalu lalang, di banding mendengarkan celotehan dari kedua remaja tersebut.
__ADS_1