
Fella nampak bersalah mengingat kejadian tadi, kenapa dirinya tak memukul Andy saja agar Andy menjauh darinya. Arska juga tak akan se marah ini jika dirinya sedikit melawan, di sepanjang jalan tangan Arska setia mengandeng tangannya. Bahkan ia tetap setia tersenyum meski Fella selalu membuat hatinya kacau.
"Ayang...." panggil Fella dengan suara lirih.
"Hemm..."
"Maafin aku ya,"
"Buat?" tanya Arska seraya menolehkan kepala tapi kakinya masih saja melangkah.
"Maaf buat semuanya, seharusnya aku lebih peka sama perasaan kamu."
"Berati kamu nggak peka?" tanya Arska pelan dengan mata yang terus menatap kesamping.
Fella menjawab pertanyaan Arska dengan anggukan, ia merasa bersalah.
"Aku nggak nyalahin kamu sepenuhnya. Ya walaupun sebenernya kalau pun aku boleh jujur, aku ngerasa kesel, emosi mungkin. Tapi kamu nggak boleh nyalahin diri kamu sampai berlarut, kamu harus tetap konsekuen sama satu hati. Cuma aku yang boleh miliki hati kamu!" seru Arska mengacak rambut Fella pelan.
"Hem.... cukup lucu dengar kata-kata kamu yang, penuh penghayatan," Fella terus mengembangkan senyumnya, mungkin saat ini ia merasa berbunga-bunga. "Akhirnya aku bisa berduaan dengan Arska," pikir Fella seraya melepaskan tangannya dari genggaman tangan milik Arska. Kakinya malai melangkah cukup lebar, membiarkan Arska mengekor di belakangnya
"Lucu? bagian mana yang terdengar lucu ay? apa aku nggak pernah menghayati setiap perkataan ku waktu ngomong sama kamu?" tanya Arska dengan tatapan menatap punggung gadis yang meninggalkannya itu.
"Perkataan mu selalu penuh dengan penekanan dan penghayatan makanya aku selalu nyaman waktu di dekat kamu. Dan Kamu tau nggak yang? hari ini tuh.... aku seneng banget!" seru Fella dengan kedua tangan berada di belakang.
"Seneng karena.. tadi di tolongin sama Andy?" tanya Arska sedikit menyindir.
__ADS_1
"Andy? apa hubungannya sama dia yang tadi jadi pahlawan kesiangan karena nolongin aku dengan tiba-tiba."
Fella bergeming karena sindiran yang di lontarkan Arska cukup panas di telinganya.
"Ya mungkin aja... lama nggak saling tatap jadi tumbuh benih-benih racun," ketus Arska tak bersemangat.
Fella menghentikan langkahnya, ia menoleh dengan tatapan sedikit sinis. "Apa yang perlu kamu takutkan dari seorang Andy? kamu jauh lebih di banding dia, dia hanya masalalu ku yang perlu aku lupakan."
"Tapi kamu tidak menolaknya saat dia memandang mu dengan tatapan lekatnya. Dan itu membuat ku semakin emosi."
"Aku terkejut... kenapa dia yang menolongku, padahal mata ku terus fokus ke kamu!" seru Fella. "Tau nggak? kalau tunangan kamu ini nahan cemburu dari tadi?"
"Cemburu? kenapa cemburu?" tanya Arska mengerutkan dahinya.
Fella menatap Arska dengan angkuhnya, bersedekap dada dengan dagu yang sedikit terangkat, seperti menantang cowok yang berada di hadapannya saat ini.
"Kamu bisa cemburu," balas Arska santai.
"Menurut kamu? aku nggak punya hati, sampai nggak boleh cemburu sama tunangan sendiri?"
"Tapi kamu membuat hati ku panas saat Andy terus mendekat, tapi kamu tak pernah menolaknya."
"Kalau cara itu ampuh kenapa enggak? buat kamu cemburu dan bawa aku pergi seperti saat ini! aku suka dengan sikap kamu yang merasa takut jika aku akan kembali ke masalalu ku dan meninggalkan mu."
"Maksud kamu? kamu suka ngeliat aku cemburu setengah mati ngeliat kamu dekat sama mantan kamu itu?" rahang Arska seketika mengeras mendengar kata-kata itu keluar dari mulut kekasihnya, padahal baru saja Fella meminta maaf, tapi sedetik kemudian ia justru membahas hal itu kembali.
__ADS_1
"Bukan itu, karena aku, cuma ingin berdua aja sama kamu, tanpa ada yang ganggu. Aku pengen yang ada di dekat aku itu kamu! bukan yang lain," Fella mengepalkan kedua tangannya, menahan perasaan yang sejak kemarin ia pendam.
"Kamu pancing rasa cemburu aku, karena kamu cuma pengen berduaan dengan aku?" tanya Arska mulai mendekati tempat berdiri Fella. "Sikap kamu terlalu kekanak-kanakan, tapi... aku suka."
Fella menggigit bibir bawahnya, ucapannya begitu formal tak seperti biasanya. "Sikap kekanak-kanakan seperti ini yang kamu suka?" tanya Fella dengan menunjuk dirinya sendiri.
Arska semakin mendekat, hingga Fella terpojok di antara pohon besar dan Arska saat ini. "Coba kamu bilang lebih lantang, waktu jarak kita sedekat ini," perintah Arska menaikan satu alisnya.
"Maksud kamu?" Fella benar-benar tak mengetahui maksud dari ucapan Arska.
Posisi mereka saat ini saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Tatapan mereka saling bertemu, bahakan pertanyaan Fella barusan tak di hiraukan oleh Arska. Keduanya dapat merasakan hembusan nafas masing-masing. Untuk saat ini, keduanya saling terdiam dengan mata saling memandang.
Tiba-tiba, Arska mendekatkan wajahnya hingga keduanya semakin dekat seperti tak ada jarak di antara mereka lagi. Dengan lembut Arska mencium bibir Fella. Fella tak menolaknya ia seperti terbuai dengan tindakan yang di lakukan oleh kekasihnya itu, beberapa menit Arska mencium lembut bibir Fella. Hingga kini Fella tersadar dengan posisi dan tempat yang cukup terbuka, takut ada yang melihat dengan apa yang mereka lakukan saat ini, Fella berusaha mendorong dada bidang milik Arska. Tapi sayang dorongannya justru membuat Arska semakin menggila hingga ciumannya berubah menjadi memanas tangannya begitu kuat mencengkram kedua bahu milik Fella.
Puas dengan tindakannya saat ini Arska segera melepas ciumannya, dengan penuh kemenangan Arska tersenyum sinis. "Jangan harap kamu bisa lolos, itu hukuman buat kamu karena kamu udah bikin aku cemburu tadi!" bisik Arska dengan suara sedikit tersengal. Ia mencoba mengatur nafasnya kembali agar bisa kembali normal.
Fella tak langsung menjawab ucapan Arska, nafas yang terdengar naik turun itu sedikit membuatnya susah nafas, ciuman yang begitu sulit di ungkap dengan kata-kata, karena Fella baru pertama kali merasakan ciuman Arska yang begitu panas baginya.
"Jahat! aku hampir mati karena nggak bisa nafas," ucap Fella seraya mengatur detak jantungnya yang kini masih terasa cukup kencang, tangan kanannya mengepal di bagian dada berharap debaran jantungnya akan kembali normal.
"Bukan jahat! itu hukuman untuk tunangan aku yang nakal. Karena udah berani bikin hati aku kebakar api cemburu!" seru Arska seraya mengusap pelan bibir Fella, karena ciumannya tadi membuatnya sungguh menggila, ini kali pertama Arska melakukannya. "Lain kali boleh di coba lagi kalau Aya nakal lagi!" pikirnya dengan tersenyum sinis.
"Jangan berpikir kamu bisa menindas aku kaya yang kamu lakuin tadi! Aku menolak," ucap Fella seakan tau dengan pikiran kekasihnya itu.
Arska mengerutkan dahinya, setelah mendengar ucapan kekasihnya itu, niat hati ingin mengulangnya kembali, tapi Fella terlebih dahulu menginjak kaki Arska dengan keras dan berlari. Wajahnya sudah merah padam karena tindakan Arska. Arska meringis kesakitan karena ulah Fella, buru-buru ia tersadar dan segera mengejar Fella agar bisa memberikan hukuman yang lebih berat lagi untuk tunangan nakalnya itu.
__ADS_1