Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Kencan Yang Gagal.


__ADS_3

Di dalam restoran, mereka segera memesan makanan yang akan mereka nikmati malam ini. Leon begitu perhatian dengan gadis mungil yang ada di depannya itu. Ya, meskipun ia hanya menggunakan Salsa sebagai alat untuk meredam hatinya yang sedang terluka, namun sebisa mungkin ia tak menunjukannya di depan gadis tersebut, ia tak ingin orang lain merasa terluka karena sikap egoisnya itu.


"Gue ke toilet dulu ya, lo jangan kemana-mana," ucap Leon saat ia sudah beranjak dari tempat duduknya.


Hanya anggukan yang di berikan oleh gadis itu, namun ekor matanya masih melihat ke arah Leon yang kini pergi meninggalkannya.


Helaan napas mulai menghembus dari mulut bibir gadis tersebut. Sambil menunggu menu yang di pesannya, Salsa mengeluarkan ponsel dari tas mini yang sejak tadi di bawanya.


Lima belas menit kemudian.


Meletakkan ponselnya karena merasa jenuh, ekor matanya melihat ke arah toilet, dengan mata menyipit. "Leon kenapa lama banget, udah kaya cewek aja kalau ke toilet lama," gumam gadis itu dengan mengerucutkan bibirnya, ia merasa kesepian jika tidak ada lelaki yang super cerewet itu. Salsa kembali meraih ponselnya, hingga sebuah suara mengalihkannya pandangannya dari benda pipih tersebut.


"Eh, Salsa. Lo di sini juga? Sama siapa?" tanya Maya yang sudah memeluk lengan Dimas dengan cukup erat.


Gadis itu hanya tersenyum kecu, sebisa mungkin ia tak ingin menunjukan kesedihannya di depan pasangan penghianat itu.


"Oh, kalian. Aku pikir siapa." katanya yang kembali fokus ke layar ponselnya kembali. Baginya, ponsel adalah yang terpenting daripada harus melihat mereka.


Gadis yang ada di depannya itu merasa kesal dengan sikap Salsa yang acuh tak acuh akan kehadirannya dan Dimas itu. "Dih, masih sombong aja. Jomblo aja belagu." sindir Maya dengan senyum sinis-nya, gadis itu langsung menarik kursi dan duduk tepat di depan Salsa dengan bibir siap mencibir.


Salsa meletakkan ponselnya kembali, ia menatap lurus kearah Maya yang sekarang sudah berada di hadapannya itu, sebisa mungkin Salsa masih menahan emosinya agar tak meluap. Gadis itu tersenyum dengan lebarnya. Bahkan membuat Dimas tercengang akan sikap yang di tunjukan mantan kekasihnya itu.


'Kenapa Salsa cantik banget hari ini, dulu pas jadi pacar gue. Dia bisa aja.' batin Dimas saat melihat tampilan Salsa sedikit berbeda.


"Seenggaknya, aku nggak ngerebut. Pacar sahabat aku sendiri!" seru Salsa dengan melirik ke arah Dimas dan Maya secara bergantian.


Mendengar ucapan Salsa yang memang benar, Maya semakin kesal bahkan mungkin kepalanya juga, ikut mendidih karena Dimas tak membantunya untuk berbicara. Bahkan, lelaki itu hanya menatap ke arah Salsa tanpa berkedip.

__ADS_1


"Y-ya, s-alahin Dimas lah, kenapa milih gue. Dan elo, kenapa elo ngebosenin dan nggak peka." ucapnya dengan bangganya.


Salsa semakin tersenyum dengan lebarnya. "Selamat ya, buat kalian. Semoga langgeng dan nggak ada orang ketiga diantara hubungan kalian." Salsa langsung membuang wajahnya ia enggan menatap pasangan munafik yang ada di depannya itu.


Maya mengigit ibu jarinya, gadis itu tak kembali membuka suaranya karena sindiran Salsa benar-benar sangat pedas ketika masuk kedalam telinganya.


"Sal, jangan kaya gitu. Elo boleh marah sama gue, tapi elo jangan marah sama Maya. Biar gimana pun, dia tetep sahabat elo kan," kata Dimas dengan nada pelan. Entah sadar atau tidak, lelaki itu justru meraih tangan Salsa dan menggenggamnya, membuat Maya semakin gerah dan kesal saat melihat adegan tersebut.


Menarik sudut bibirnya dengan kepala menggeleng, Salsa langsung menarik tangannya. "Nggak ada sejarahnya sahabat makan sahabatnya sendiri dari belakang, bahkan tega khianati sahabatnya sendiri demi cowok kaya kamu!" seru Salsa dengan mata yang sudah memerah.


Dimas masih mencoba mengelak-nya dengan kata-kata konyol yang keluar dari mulut bibirnya, namun Salsa tak ingin mendengarnya lagi. Hingga suara Leon tiba-tiba menyela diantara ucapan Dimas.


"Sayang, maaf aku l-ama.." suara Leon sedikit ter-jeda saat melihat sosok mahkluk yang ada di depan Salsa saat ini. "Di toiletnya." lanjutnya.


Lelaki itu langsung manarik kursi yang ada di sebelah Salsa, ia menjadi bingung karena Salsa hanya duduk tertunduk tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Bahkan, kedua orang itu juga ikut terdiam lantaran kehadiran Leon yang tiba-tiba.


"S-sayang? Elo udah punya cowok lain?" tanya Dimas tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Bahkan Maya sempat menutup mulutnya, lantaran lelaki yang ada di sebelah Salsa itu terlihat keren dan cool. Ia tak percaya, ada yang lebih keren di bandingkan dengan Dimas, bahkan lelaki itu memanggil Salsa dengan sebutan sayang.


Salsa masih tak meresponnya, gadis itu sudah memegang jari-jari Leon dengan sangat erat, bahkan langkah kakinya sudah sedikit menjauh dari meja yang di duduki kedua makhluk itu.


"Sal. Lo udah punya cowok lagi?" tanya Dimas sekali lagi. Lelaki itu sengaja berteriak, agar suaranya sampai kedalam pendengaran mantan kekasihnya itu.


Gadis itu menghentikan langkahnya, bahkan sesekali ia menghela napasnya. Baru juga bisa merasakan kebebasan dan kelegaan lantaran Leon menghiburnya tadi siang, kenapa lelaki itu malam ini justru ada di hadapannya.


"Kamu udah punya pacar baru kan? Kenapa aku nggak bisa, kalau kamu aja bisa!" balas Salsa sedikit menoleh.

__ADS_1


"Apa kenangan kita selama ini nggak membekas di hati elo, sampai elo tega nyari yang baru!" teriak Dimas merasa tak terima dengan apa yang di lihatnya.


Leon tersenyum sinis, melihat lelaki itu begitu mengotot saat mengucapkan perkataanya.


"Jangan di dengerin, kalau elo nggak nyaman disini, kita cari tempat yang bisa bikin kamu nyaman," ucap Leon pelan. Lelaki itu memegangi kedua pipi Salsa, ia mengangkat kedua sudut bibirnya.


Terlihat jangut Salsa yang naik turun, akibat menelan saliva-nya. Gadis itu segera mengangguk, karena tak ingin membuang waktunya terlalu lama.


Leon merasa puas dengan jawaban yang di berikan oleh Salsa, ya meskipun hanya sebuah anggukan, setidaknya ia merasa lega ada respon yang di berikan untuknya. Leon segera meraih tangan kanan Salsa dan menariknya keluar restoran tanpa mempedulikan kedua pasangan yang sedang kebakaran jenggot itu.


Di parkiran.


"Dia, mantan? Yang sempet elo tangisi tadi siang itu?" tanya Leon dengan tiba-tiba.


"Udah, nggak usah di ingatin lagi. Hati aku udah capek seharian ini. Jangan di tambahin lagi, please." balasnya dengan ekspresi wajah melasnya.


Leon menarik tubuh Salsa agar mendekat dengannya. Lelaki itu mengelus pelan lengan Salsa.


"Oke, gue nggak bakalan bahas lagi, gue minta maaf sama ucapan gue barusan."


Salsa hanya menundukkan wajahnya, mata yang sejak tadi sudah memanas mulai mengalir butiran air mata yang membasahi kedua pipinya. Isakan tangisnya mulai terdengar serak dari mulut bibir gadis itu.


Buru-buru Leon menarik tubuh Salsa agar masuk kedalam pelukannya. Bahkan ia juga mengelus pucuk rambut Salsa dengan lembutnya. Lelaki itu tak ada niatan untuk melarang Salsa agar tidak menangis.


"Nangis yang kenceng, biar hati elo lega Sal, jangan lo tahan." katanya.


Seakan mendapat lampu hijau dari Leon, Salsa menangis dengan bibir terkatum, ia tak peduli dengan semua orang yang berlalu lalang dan menatap kearahnya dan juga Leon, ia hanya berpikir bagaimana cara menghilangkan rasa sesak yang menjalar di dalam hatinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2