
Di kantin Arska dan ketiga sahabatnya sibuk memakan makanan yang mereka pesan. Brayu yang masih galau, sibuk mengaduk-aduk makanannya tanpa memakannya sedikit pun.
"Anjay.... lo bray, udah kaya cewek aja, makanan nggak di makan, cuma di aduk-aduk terus, empet gue liatnya" ucap Dilan yang memulai membuka suara, sejak tadi ia telah mengamati sikap Brayu yang aneh.
"Iya lo, ngeselin banget, dari pada cuma lo aduk-aduk terus, kan mubazir, mending buat gue" lanjut Aldy seraya mengambil semangkuk bakso yang ada di hadapan Brayu.
"Lo juga anjay.... dy, maunya makan gratisan muluk" celetuk Dilan.
"Hahaha.... gratis itu lebih nikmat lan, dari pada bergaya sok-sokan punya duit, mending ya kaya gue ini aja, blak-blakan, urusan malu-maluin pikir belakangan, yang penting perut kenyang" ucap Aldy nyengir kuda, seraya memakan bakso yang ia rebut dari tangan Brayu barusan.
"Kalian nggak pernah ngalamin, kaya apa yang gue rasain sih" ucap Brayu seraya menyandarkan badannya ke tembok, raut mukanya masam.
"Lo masih galau, karena Bella belom maafin lo" celetuk Arska.
Brayu mengangguk pelan, "Gue belom pernah, ngalamin yang kaya gini ka, gue merasa bersalah"
"Lo merasa bersalah, apa karena lo, yang mulai jatuh cinta sama Bella" tukas Arska.
"Ya... mungkin karena gue udah jatuh cinta sama si cewek tomboy itu. Buat deket sama dia aja, udah susah banget, sekarang dia malah makin benci sama gue" jujur Brayu.
Aldy yang mendengar pengakuan Brayu sontak menertawakan Brayu, "Hahaha.... anjay play boy, galau, mana ada sejarahnya nyet" ejek Aldy.
"Hahaha.... bener kata lo dy, gue setuju, play boy galau cuma gara-gara satu cewek, ampun deh.... biasanya tiap hari gonta-ganti cewek, sampai kita nggak kebagian tempat, buat milih cewek, karena di embat semua sama Brayu" ucap Dilan makin ngakak.
"Diem... nyet....kalian para jomblo, mana ngerti perasaan cowok ganteng kaya gue" ucap Brayu sombong.
"Sombong aja terus, yang lebih ganteng aja, diem kok dari tadi" ucap Dilan seraya menyenggol siku Arska.
"Iya, Arska yang lebih ganteng dari pada lo, cuma diem aja, lah lo sombong banget" lanjut Aldy.
Brayu melihat ke arah Arska, "Ya.... ya... menang banyak si Arska, di banding gue" celetuk Brayu nyinyir. "Ow... iya ka, sempet lupa gue, kemarin, lo ada urusan apa, tumben banget, lo izin nggak ikut les?, biasanya kan lo anti izin, lebih mentingin les daripada apa pun" selidik Brayu.
Arska segera menghentikan makannya, ia melihat ke arah ke tiga sahabatnya itu. "Fella di keroyok sama preman, jadi gue milih izin, karena itu lebih penting bagi gue".
__ADS_1
"Anjay.... preman sialan mana, yang berani ngelakuin itu ke bidadari lo ka" ucap Aldy.
"Gue nggak tau dy, yang ada gue emosi kemarin" Arska menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya. "Terus gue sempet mikir, siapa dalang di balik ini semua, pengen gue hajar rasanya orang yang udah nyelakain Fella" ucap Arska kesal.
"Ada orang, yang nggak suka sama hubungan kalian?" tanya Brayu.
"Bisa dibilang gitu, soalnya waktu gue hajar, salah satu preman itu bilang, dia cuma di suruh seseorang. Untung aja ada Bella, kalau nggak ada Bella, nggak tau lagi, Fella kaya apa, meski dia sempet ngelawan, tapi tenaga dia nggak sebanding sama ke tiga preman itu".
"Tapi Fella baik-baik aja kan?" tanya Dilan memastikan.
"Lutut luka sama bibirnya sobek" jelas Arska.
"Anjay.... pengen gue hajar, preman nggak tau di untung itu, tega banget sama cewek cantik kasar kaya gitu" celetuk Aldy.
Brayu tak langsung bersuara, matanya membulat, ketika ia mendengar nama Bella di sebut. Dilan yang iseng langsung saja mengagetkannya, "Woy... pak play boy yang terhormat, lagi mikirin apa sih, kita dari tadi nanyain ke adaan tunangannya Arska, lah lo kok malah sibuk bengong".
Brayu yang kaget dengan ucapan Dilan langsung saja bersuara "Bella yang ngehajar semua preman itu" ucapnya masih tak percaya.
Tiba-tiba saja, Brayu senyam-senyum nggak jelas, sesekali ia memejamkan matanya.
"Badan lo nggak anget bray, tapi kok, lo kayak orang sinting gini sih, senyam-senyum sendirian" ledek Aldy sambil memegangi dahi Brayu.
"Anjay... lo..., gue lagi seneng-seneng, lo ganggu lamunan gue terus!!" ketus Brayu seraya menyingkirkan tangan Aldy dari dahinya.
"Hahaha... lo ngelamunin apaan sih nyet, serius amat keliatannya" sindir Dilan.
"Gue lagi ngelamunin, calon cewek gue, ternyata jago bela diri juga, salut gue" puji Brayu.
Mereka bertiga saling lirik, sebelum melepas tawanya. "Ngimpi aja terus...dapet maaf aja belom, dari mana calonnya" kompak Aldy dan Dilan bersuara. Arska tertawa jahat melihat Brayu di bully oleh kedua sahabatnya itu.
"Liat aja, suatu saat, gue bakalan bikin Bella suka sama gue, sampai dia mikir, nggak mau kehilangan gue" tegas Brayu dengan PDnya.
"Udah lah, nggak usah banyak ngimpi, Bella itu tipe cewek yang sulit buat di deketin, apa lagi sama play boy kaya lo, nggak mungkin deh kayaknya" ucap Dilan.
__ADS_1
"Anjay lo..., bukannya ngedukung sahabat sendiri, malah ngejatohin seenak jidat lo" ucap Brayu seraya melempari kacang atom ke arah Dilan.
"Hahaha... kenyataan coy, gue ngomongnya, saran gue, lo jangan terlalu berharap, karena berharap itu sakit, mending lo tetep jadi play boy aja deh, kalau lo tobat susah.... susah pokoknya" canda Dilan.
"Terserah lo pada, susah kalau ngomong sama orang yang belom pernah punya pacar!!!!" ucapnya sewot, seraya membanting kan tubuhnya ke atas meja dengan pelan.
Arska, Aldy dan Dilan makin tertawa terbahak setelah melihat kenyataan, kalau Brayu tak punya harapan lagi, untuk meluluhkan hati Bella. Di sisi lain Mona sedang asyik mengamati meja Arska dan ke tiga sahabatnya. Segera Mona mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya dan mengirimkan vidio yang kemarin telah dia rekam, serta menulis pesan singkat, yang berisikan "JAUHI TUNANGAN LO !!!, KALAU ENGGAK MAU HAL YANG LEBIH BURUK MENIMPA TUNANGAN LO, KAYA YANG KEMARIN LAGI !!". Senyum sinis terukir di wajah Mona, segera ia mengobrol dengan ketiga sahabatnya agar tak ada yang mencurigainya. Ponsel Arska berbunyi tanda pesan masuk, segera ia meraih ponsel yang berada di depannya, ia berfikir kalau kekasihnya yang pasti mengirim pesan tersebut. Tapi setelah ia membukanya, ternyata dari nomor tak di kenal, mata Arska menyipit, dahinya berkerut, wajahnya berubah menjadi tegang. Melihat ekspresi wajah Arska yang berubah, ketiga sahabatnya langsung saja mengintip ke layar ponsel milik Arska.
"Anjay.... siapa yang berani neror lo ka" ucap Dilan memecah keheningan.
"Anjir.... tangan gue udah gatal, pengen nonjok orang yang udah neror lo ka" timpal Brayu.
"Kalau ini mah udah kriminal namanya ka" lanjut Aldy.
Arska menggebrak meja dengan cukup keras, hingga seisi kantin melihat ke arahnya, termasuk Mona si biang kerok.
"Sabar ka, jangan di sini, kalau lo mau ngeluapin emosi lo" ucap Aldy mencoba menenangkan Arska.
"Gue nggak boleh tinggal diem, gue mau cabut" ucap Arska berdiri.
"Lo mau kemana?" ucap Dilan.
"Gue mau izin pulang lebih awal, gue mau mastiin keadaan Fella baik-baik aja".
"Lo jangan mudah kepancing sama teror yang nggak jelas ini ka, kita bisa nyari solusinya" ucap Brayu.
"Gimana kalau teror ini beneran, gue nggak mau, kalau orang yang gue sayangi, jadi sasaran mereka" ucap Arska yang segera meninggalkan kantin dengan langkah cepat.
"Gue pengen bantuin, masalahnya si Arska, kasihan gue, dia baru bisa ngebuka hatinya, malah ada orang lain yang pengen ngerusak kebahagiannya" ucap Dilan.
"Gue juga pengen bantuin, soalnya setiap gue ada masalah, Arska yang selalu ngasih solusi ke gue" lanjut Brayu.
"Gue juga, soalnya tiap gue makan selalu Arska yang bayarin" lanjut Aldy. Mereka bertiga, kompak menyusun rencana untuk membantu Arska keluar dari permasalahannya. Di sisi lain Mona yang merasa rencananya hampir berhasil, ia tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1