
Fella merasa kakinya hampir patah karena menyapa banyak tamu yang datang ke pesta pernikahannya. Kalau tau begini, dia pasti akan memilih untuk menikah di KUA saja dan tanpa ada pesta-pesta seperti ini.
Relasi bisnis keluarganya, para mantan guru-guru yang pernah memberikan ilmu kepadanya semasa SMA, karena memang Hendry yang mengundang mereka untuk datang, teman-teman semasa SMA dan juga teman-teman kuliahnya yang turut hadir memeriahkan pesta pernikahannya tersebut. Arska juga mengundang beberapa teman kuliahnya, mereka benar-benar 'berkomplot' untuk membuat Fella kelelahan.
Tapi, untungnya semua sudah berakhir dan menyisakan kelelahan yang luar biasa bagi tubuhnya.
Namun, sebuah kejadian di pesta tadi membuatnya tersenyum. Mengingat tindakan, Arska yang dengan gagahnya mempersembahkan sebuah lagu untuk dirinya di atas panggung.
"Untuk Fella Anastasia Cantika, istri ku. Terimakasih sudah menerima ku untuk menjadi imam mu. Terimakasih, sudah mau menjadi pelengkap kebahagiaan ku, dan terimakasih sudah menjadi wanita hebat dengan menunggu ku ketika aku tak memberi mu kabar. Lagu ini aku persembahkan untuk kamu. Aku mencintai mu."
Itu adalah kalimat Arska ketika dia sudah berada di atas panggung, dengan Brayu yang sudah duduk di kursi sambil memegang gitar, yang siap untuk mengiringi Arska bernyanyi kali ini.
Suara Arska ketika mengalun, begitu sangat merdu, beruntung Hendry menurunkan bakat tersebut kepada anak laki-lakinya itu, ya meskipun Hendry tak pernah menunjukan bakatnya tersebut di muka umum, tapi dia selalu memperlihatkan bakatnya tersebut hanya untuk Violla, istri tercintanya dan tentu saja kedua anaknya.
"Ya Allah. Kenapa wajah ku jadi panas kaya gini sih?" ucapnya ketika berkaca di cermin kamar mandi. Fella langsung membersihkan diri ketika sampai di kamarnya. Badannya terasa sangat lengket, setelah seharian berdiri di atas pelaminan dengan trik matahari yang selalu menyorot ke arahnya.
Ketukan pintu menyadarkannya dari kegilaannya sesaat, karena tersenyum seorang diri akibat mengingat kejadian di pesta tadi.
"Kamu di dalam semedi ya? Lama banget." Khas Arska sekali jika urusan menyindir.
Fella memajukan bibirnya setelah mendengar hal tersebut.
"Nggak romantis," katanya pelan.
Masih dengan memanyunkan bibirnya, gadis itu membuka pintu kamar mandi dengan pelan. Dan seketika matanya bisa melihat Arska yang sudah bersedekap dada di depannya.
"Kenapa?" begitu tanya Fella dengan sebal.
"Lama, aku udah nungguin kamu dari tadi. Tuh...." Arska menunjuk makanan yang sudah terhidang di meja dekat ranjang yang sudah di taburi kelopak mawar. "Hampir dingin," lanjutnya.
Untung saja Fella sudah berpakaian rapi, jika belum, harus menunggu berapa jam lagi Arska untuk segera mengisi perutnya yang sudah sangat lapar.
Mata Fella berbinar saat melihat makanan-makanan yang terhidang di sana. Gadis itu langsung menggandeng tangan kiri Arska untuk memulai acara makan malam mereka.
Memulai peran sebagai seorang istri, Fella mengambilkan nasi untuk Arska, tak lupa lauknya yang menggugah selera itu. "Makan yang banyak ya suami ku." Begitu katanya sambil mengedipkan sebelah matanya, gadis itu terlihat genit dengan tingkahnya sekarang ini.
Arska hanya bisa menyeringai saja dan langsung menyantap makanannya. Biarkan godaan istrinya itu di balasnya nanti saja, yang penting adalah dirinya kenyang terlebih dahulu.
Setelah acara makan malam pengantin baru itu selesai, keduanya menatap kearah ranjang dalam diam. Arska berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya, sedangkan Fella bersedekap saja. Mereka sama-sama berdiri.
__ADS_1
Jangan berpikir ke arah yang tidak-tidak dulu, karena mereka sedang memikirkan sesuatu yang akan mereka lakukan di atas ranjang itu nanti.
Maksudnya, dengan bunga-bunga yang mengisi ruang di atas ranjang tersebut. Arska berpikir, bagaimana cara menyingkirkan bunga-bunga mawar itu, sedangkan Fella membayangkan betapa indahnya jika dia tidur di atas kelopak bunga mawar yang mengeluarkan wangi segar itu. Ahh.... ia pasti seperti putri keraton. Begitu pikirnya.
Dan ketika Arska melangkah untuk menyingkirkan bunga bertuliskan A❤F itu, Fella menghentikannya.
"Jangan di buang." Cegahnya.
"Kamu mau tidur di atas bunga?" tanya Arska dengan mengerutkan keningnya.
"Iya," jawabnya singkat.
"Gimana kalau gatal?"
Fella tak menjawab pertanyaan suaminya itu, gadis itu langsung mendekati ranjang dan melemparkan tubuhnya di atas bunga-bunga mawar tersebut, yang seketika membuat tatanannya berubah menjadi berantakan.
"Ini bunga sayang, bukan semak-semak. Jadi nggak mungkin gatal," ucap Fella sambil melempar-lemparkan bunga tersebut ke atas. Dalam bayangannya bunga-bunga tersebut seperti hujan, yang telah ia ciptakan sendiri.
Arska masih setia berdiri, menatap lurus ke arah istrinya yang bertingkah seperti bocah kemarin sore itu.
"Sini," kata Fella lagi. Gadis itu menggapai-gapai tangan Arska sepeti anak kecil yang minta di gendong. "Nggak gatal kok sayang," kata Fella lagi, setelah melihat Arska bergeming.
"Astaga, Sayang kamu tuh....." Refleks Fella, ketika merasa kegelian. Mulut bibirnya mengeluarkan suara tawa yang membuat Arska semakin bersemangat melakukan aksinya.
"Geli....." katanya dengan bercampur tawa.
Arska tak peduli, jari-jarinya masih begitu aktif menggelitiki punggung Fella. Sampai tubuh gadis itu meliuk-liuk tak karuan.
Lelah dengan tindakannya itu, Arska tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar. Melihat itu, Fella yang masih mengatur napasnya karena banyak tertawa, langsung meletakkan kepalanya di lengan kiri Arska yang bebas.
"Kamu kira, kepala kamu itu nggak berat apa Cinta?" komentar Arska saat merasakan ada beben di lengannya.
Fella mendengar kata 'Asing' dalam kalimat yang baru saja di ucapkan oleh suaminya itu. Fella, yang semakin penasaran dengan kata-kata tersebut pun segera mendekat ke tubuh Arska.
"Apa?" tanya Fella.
"Apa? Kepala kamu berat?"
"Bukan-bukan, panggilan yang kamu ucapin ke aku tadi. Ulangi." perintah Fella.
__ADS_1
Arska mengernyit dan menatap istrinya yang tak lagi tidur dengan berbantal-kan lengannya. Fella malah tidur tengkurap dan menatap Arska antusias.
"Cinta?"
Fella langsung mencium pipi Arska tanpa malu-malu, gadis itu langsung melebarkan bibirnya dengan lebar.
"Kenapa sih? Panggilannya bikin baper orang?" tanya Fella dengan mata berbinar, kedua tangannya sibuk menyangga dagunya.
"Berlebihan!" Arska langsung meraup wajah Fella yang berbinar itu. Bukannya sebal, perempuan yang sebentar lagi, mungkin tidak gadis lagi itu, malah menumpukkan dagunya di dada suaminya.
"Cinta. Itu panggilan manis banget loh...menurut aku, Sayang." katanya sambil memainkan telinga Arska. Mungkin kuping Arska menyerupai rumah-rumahan monopoli, sampai Fella memainkan seperti itu.
"Memang biasanya aku panggil kamu dengan sebutan apa?" tanya Arska dengan kening berkerut.
"Aya."
"Lainnya?"
"Sayang."
"Terus?"
"Terus apanya?"
"Sayang sama Cinta apa bendanya? Nggak ada yang beda kan? Lalu dari mananya, aku panggil kamu cinta, adalah panggilan manis? Toh artinya sama aja kan." Jelas Arska.
Merasa sebal dengan jawaban sang suami, Fella menarik telinga Arska dan membuat lelaki itu melotot, buru-buru gadis itu menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Fella memilih bersedekap dada dan enggan menatap ke arah Arska.
"Sini kamu!" perintah Arska dengan wajah seriusnya.
Dengan wajah kesal, Fella pun mendekati Arska.
"Apa?" tanyanya dengan wajah jutek.
"Lebih deket." perintahnya sekali lagi.
Fella semakin mendekat. Setelah semakin dekat, tangan kanan Arska menarik kepala Fella dan mencium istrinya dalam.
Jangan tanya kelanjutannya. Karena hanya mereka berdua yang tahu. Mungkin mereka sedang bermain monopoli, gundu, congklak atau lompat tali.
__ADS_1