Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Sorak Sorai di Pagi Hari


__ADS_3

Menjelang subuh, Arska terbangun dari tidurnya yang sungguh melelahkan, ia mengamati sekelilingnya ternyata dirinya masih tertidur di sofa dengan Fella yang masih tidur di pangkuannya. Arska mengusap matanya agar tidak buram, sambil sesekali mengelus rambut Fella dengan lembut, tak lupa ia mendaratkan sebuah kecupan di kening kekasihnya itu. Tapi karena mata yang masih mengantuk Arska melirik ke arah jam tangan yang masih melekat di tangan kirinya pukul 04:05. "Lima belas menit lagi mungkin bisa ngilangin ngantuk nya, sambil bangun buat subuh," gerutu Arska yang langsung memejamkan matanya kembali.


Pukul 05:15 Aldy yang sudah selesai mandi dan akan menonton acara tv, ia terkejut di dapati Arska dan Fella yang terbaring di atas sofa dengan sweet nya. "Anjir.... ini anak pada ngapain tidur disini?, kalau masih kangen kan bisa besok lagi nggak harus ngerusak mata indah gue ini kan," ucapnya minder. "Bangun ka, udah pagi nggak pada subuh lo pada," lanjut Aldy sambil menepuk-nepuk pundak Arska pelan.


Arska yang terkejut, segera membuka mata dengan sangat lebar sambil berteriak. "Astaghfirullah setan lewat!"


"Setan pala lu, gue Aldy, buruan bangun!!, emangnya elo nggak mau subuh dulu apa?, keburu siang ini," Aldy mengingatkan kembali.


"Astaghfirullah gue kesiangan," gerutu Arska yang masih mengusap-usap wajahnya pelan.


"Belom kesiangan ka, masih ada waktu buat lo subuh. Buruan bangunin Fella sebelum semua orang pada kemari," Aldy mencoba mengingatkan.


"Lagian kenapa kalau yang lain pada kemari, toh kita nggak ngapa-ngapain," ucap Fella dengan mata sayu nya, ia mencoba mensejajarkan duduknya di samping Arska, Fella merasa terganggu dengan kecerewetan Aldy pagi ini.


"Nggak usah pada kabur.... kita juga udah liat kok," ucap Regina sambil menuruni anak tangga di ikuti Bella dan Faya di belakangnya.


"Cie....cie... semalam ada yang tidur berduaan. Aduh.... bikin iri aja ni," celoteh Faya yang langsung duduk di samping Fella.


"Iya ni berduaan terus, udah kaya prangko sama amplop aja nggak mau lepas," lanjut Bella.


"Pantesan pas gue bangun, Fella udah nggak ada di kamar, taunya di sini sama pangerannya," timpal Regina.


Karena masih mengantuk Fella hanya mendengarkan ledekan-ledekan yang keluar dari mulut ketiga cewek tersebut tanpa ada niatan untuk membalas celotehan mereka.


"Lo kalau tidur udah kaya kebo Gin, ngorok nggak beraturan," ucap Arska sambil melirik ke arah Regina.


Mulut Regina terbuka lebar, ia mendekati tempat duduk Arska dan Fella sambil menimpuk sebuah majalah yang ia pegang dari kamar tadi. "Sialan lo! gue nggak ngorok," elaknya karena malu.


"Hahaha... gue denger elo ngorok kok semalam, kenceng banget. Sampai ada yang ketakutan tapi lo nggak tau. Saking pulesnya lo tidur semalem," jelas Arska.


Ketiga cewek itu membuka matanya dengan lebar, sambil melihat ke arah Arska. Begitu pula dengan Aldy yang juga melihat ke arah lelaki tersebut, mereka begitu penasaran siapa yang di maksud oleh Arska.


"Kalian ngapain ngeliatin gue sampai segitunya?" cecer Arska.


"Yang ketakutan siapa Ka?" tanya Bella, Faya dan Regina hampir bersamaan, tatapan mereka begitu menyelidik.


Arska melirik ke arah sampingnya, memberi isyarat kepada mereka berempat kalau Fella lah yang semalam habis ketakutan.

__ADS_1


"Ow... iya semalem kan hujan petir. Fella kan paling takut sama petir," celoteh Bella pelan.


"Kenapa lo nggak bangunin gue sih Fel, kalau lo takut, gue kan bisa temenin elo," jelas Regina.


"Gue nggak mau ganggu tidur lo Gin. Lagian elo kelihatannya kecapekan banget las gue liatin," ucap Fella pelan.


Regina sedikit malu, pasti yang di bilang Arska benar kalau dirinya mengorok semalaman. "Tadinya nggak papa kalau elo bangunin gue. Gue jadi ngerasa jahat. Gue enak-enakan tidur, sementara elo ketakutan gara-gara petir."


Fella hanya tersenyum tipis. "Ya lain kali kalau gue takut gue bakalan bangunin elo kok Gin. Nggak usah nyalahin diri sendiri, OKe!"


"Terus, elo semalem nyamperin Arska, apa gimana?" timbrung Faya memastikan.


Fella melirik ke arah Arska, sesaat sebelum akhirnya dia membuka suara. "Arska yang nyamperin gue, kaki gue udah gemetar saking takutnya gue. Berdiri aja gue udah nggak sanggup."


"Firasat gue nggak enak, jadinya gue samperin Aya ke kamarnya. Pengen ngecek, Aya udah tidur apa belom? Sampai di kamar ternyata Aya nangis ketakutan," jelas Arska.


"Wah... firasatnya tepat banget sih. Jadi iri gue!" celoteh Faya dengan memegangi kedua pipinya, gadis itu tak mengalihkan pandangannya dari kedua pasangan yang sekarang berada di depannya itu.


"Iri... iri...terus yang lo ucapin, sana gih... buruan jadian," ucap Bella dan Regina kompak, kedua gadis itu mendorong Faya ke samping Aldy. Sampai Faya menubruk lelaki itu, dan untung saja tak sampai jatuh.


Aldy yang mendengar hal tersebut hanya mangut-mangut sambil menarik tangan Faya agar duduk di sampingnya. "Btw kalian nggak subuh," Aldy mulai mengingatkan kembali.


"Mana ada setan ngingetin sholat Ka. Lagian kan gue udah ngingetin elo dari tadi," teriaknya merasa rak terima di panggil setan oleh Arska.


Gelak tawa terdengar dari mulut bibir ketiga gadis yang berada di samping Aldy. Mungkin cukup lucu kalau ada setan yang bentuknya menyerupai Aldy.


...••Cinta Untuk Fella°°...


Di teras depan mereka menikmati pemandangan yang tak pernah mereka lihat sewaktu di jakarta. Embun yang menetes dari dedaunan sangatlah terlihat indah sewaktu pagi hari, menikmati hawa di puncak yang sangat sejuk dan dingin membuat otak mereka menjadi lebih fresh, dan ingin segera melepas rasa suntuk dengan berjalan-jalan di sekitar Villa.


"Jalan-jalan yuk! Mumpung masih pagi," ucap Faya yang memecah keheningan.


"Jauh-jauh ke puncak cuma mau rebahan kan nggak asyik," celoteh Regina.


"Lagian tuan rumahnya kemana lagi? Lama banget nggak keluar-keluar," protes Bella dengan kepala celingukan melihat ke dalam rumah.


"Masih kepikiran tidur berdua kali. Makanya nggak keluar-keluar," ucap Dilan cekikikan.

__ADS_1


"Huw.... dasar cowok ngeres! Pikirannya nggak karuan," celoteh Regina, dengan kaki menendang betis Dilan pelan.


"Ngeres apanya sih sayang? Aku udah wangi gini kok. Masih di bilang ngeres, emang aku pasir" goda Dilan dengan alis naik turun.


"Otak lo! Yang ngeres Lan," tukas Bella dan Faya kompak.


"Hehehe dikit..." Dilan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Beberapa menit kemudian Arska dan Fella keluar, mereka bergandengan tangan. Brayu yang melihat ke hadiran kedua sejoli itu langsung membuka suara. "Pemeran utamanya udah dateng ni."


"Semalem kalian abis ngapain? Hayo jujur," celetuk Dilan.


"Yang ada di otak lo! Ngeres terus isinya Lan. Pantesan aja Regina nggak mau nerima elo!" seru Araka.


"Abisnya, gue iri sama kalian. Gue nggak ada yang mau di gandeng. Ayang baby aja belom nerima cinta gue," ucapnya dengan wajah yang sengaja di buat memelas.


"Kalau lo iri! Buruan jadian, biar nggak jadi obat nyamuk terus, kalau liat orang pacaran," ucap Fella sambil mengembangkan senyumnya.


Mata Dilan kini beralih menatap ke arah Regina. Tangan Dilan bergerak mendekati tangan Regina yang tak jauh dari dirinya berdiri. Jantung Dilan berdebar hebat. Dan, ini diyakininya sebagai pertanda baik bahwa ia tidak salah memilih. Regina mulai mengulurkan tangannya tak mau lagi malu-malu kucing, yang ada dia makin baper kalau ngeliat kemesraan yang ditunjukin oleh Arska dan Fella saat ada dihadapannya.


Senyum Dilan perlahan melebar, menyadari tangan Regina menyambutnya tanpa ada penolakan untuk kedua kalinya. Dan, ketika ujung jari Regina bertemu dengan ujung jarinya, cepat-cepat Dilan menangkap tangan itu. Menggenggamnya erat, seolah takut Regina akan berubah pikiran pada detik berikutnya.


"Akan gue pastiin! Kalau keputusan lo ini tepat," ucap Dilan tanpa bisa membendung kebahagiaan yang dirasakannya saat ini. Senyumnya terukir begitu sempurna. "Gue nggak akan pernah lepasin lo! Sampai kapan pun." Dilan semakin erat menggenggam tangan Regina.


Semua mata mengarah kepada Dilan dan Regina, sontak bersorak sorai terdengar dari mulut bibir mereka.


"Akhirnya... usaha lo nggak sia-sia Lan," Brayu menepuk pundak Dilan pelan.


"Selamat nyet! Lo udah nggak jomblo lagi, tinggal gue sama Brayu yang masih jomblo," lanjut Aldy.


"Makin iri," celoteh Faya memajukan bibirnya.


"Akhirnya satu jomblo laku," ceplos Arska.


"Yang dua lagi kapan?" ledek Fella.


"Besok abis lebaran monyet," ucap Bella ngawur, gadis itu hanya bersedekap dada sambil menatap ke arah pasangan baru itu.

__ADS_1


Mereka semua kompak tertawa saat mendengar jawaban asal Bella. Namun tak sedikit dari merka yang memasang wajah kusutnya.


__ADS_2